
Kontraksi rahim dan rasa lapar yang semakin menjadi-jadi kadang menyulitkan untuk tidur. Bahkan saat malam tiba dan semua orang terlelap aku masih sering berkeliaran di dalam rumah. Bagai parasit di kediaman bunda Sasmita. Aku sering masuk ke dalam kamar Nakula dan Sadewa. Menatap mereka penuh suka cita dan bersyukur mereka terlahir dengan sifat yang berbeda, kadang diam-diam, aku sering meminjam telapak tangan mereka untuk mengusap perutku, bermaksud untuk meredakan Dalilah yang semakin aktif. Semoga saja mereka tidak marah apalagi pacarnya.
Aku membetulkan selimut Sadewa, "Teruslah menjadi matahari."
Aku keluar dari kamarnya, dan kini aku beralih ke kamar Nakula. Adikku yang tidak lagi jomlo dan kesepian ini sungguh tidur saja terlihat kalem, wajahnya benar-benar teduh seperti rembulan malam.
"Sebentar lagi Mbak akan menjadi ibu, dan tambah merepotkan mu. Semoga saja masih ada kesabaran dari hatimu untuk menjaga Dalilah, seperti saat kamu menjaga Mbak." Aku menaruh tangan Nakula di perutku.
"Putriku akan memiliki sifat seperti kalian berdua, kalem sepertimu, dan ceria seperti Sadewa. Ah! Aku dan mas Kaysan pasti banyak-banyak bersabar untuk menghadapinya, tapi tidak jika ada kalian berdua." ucapku lirik dan bersedih hati.
Entah kenapa, mendekati hari-hari menuju HPL. Aku sering mengalami dimana aku merasa sedih yang tidak tahu sebabnya.
Nakula sedikit bergerak, ia menggeliat pelan. "Besok jika kamu dewasa, pasti akan seperti mas Kaysan. Kalem, berwibawa, gagah, dan satu lagi perkasa." Sudut mataku berair, ku betulkah posisi selimutnya dan keluar kamar.
Ruang home teater adalah tujuanku setelah mengambil beberapa makanan dari dapur.
Ada beberapa film yang ingin aku tonton, berhubungan ruang ini kedap suara aku bisa puas melihat film genre komedi romantis.
Love for sale, adalah pilihanku. Film yang dibintangi Gading Marten dan Della Dartyan.
Aku duduk di sofa, memilih posisi yang nyaman. Sesekali aku cekikikan sendiri dengan adegan film tersebut. Sambil mengunyah ceriping pisang, aku berjalan-jalan diseputaran ruang home teater.
Exhale.
Inhale.
Huh...,
Aku mengelus perutku, "Belum waktunya lahir Dalilah. Tunggu baba pulang." ucapku lirih, Dalilah terus menendang hebat. Punggungku mulai sakit, dan aku tak bisa menguasainya. Aku keluar untuk menunju kamar Nakula atau Sadewa untuk meminjam telapak tangan mereka.
Tapi Dewi Fortuna berkata lain, pacar Anisa terlihat ada di rumah ini.
"Nanang, elus perutku." kataku sambil menghela nafas panjang. Dahi Nanang berkerut.
"Kenapa belum tidur dan untuk apa?"
"Sakit punggungku, Nang. Sering kontraksi palsu." Aku menarik tangan Nanang dan menaruhnya pada gerakan Dalilah.
"Elus saja... Aku tidak marah." kataku meyakinkan Nanang.
"Kamu tidak marah, yang marah mas Kaysan jika tahu." kata Nanang sambil mengelus setiap gerakan dari Dalilah.
"Abaikan saja dulu mas Kaysan, aku sedang tidak baik-baik saja sekarang."
__ADS_1
Aku menyandarkan tubuhku di tembok. Membiarkan Nanang mengelus perutku, terlebih sekarang kakiku terlihat bengkak.
"Duduklah." Nanang menarik kursi dari ruang makan.
"Akhirnya kamu paham juga." Aku memutuskan untuk duduk sembari mengatur nafas. Gerakan Dalilah mulai terasa berkurang.
"Tumben sekali tengah malam pulang?" tanyaku.
"Ini rumahku, aku bebas dong mau pulang kapan." seru Nanang, ia menarik kursi dan meletakkan di hadapanku, "Susah ya hamil?" Lanjutnya lagi.
"Hamil tidak susah, yang susah mengurusnya nanti." jawabku.
"Sedih? Matamu sembab."
Sedih bukan hal yang tepat, hanya saja aku tidak tahu harus mengartikan dengan kata apa kondisiku sekarang.
"Nang, bagaimana hubunganmu dengan Anisa?"
Nanang menarik sudut bibirnya, "Jalanin aja..."
"Haha..., Kasian banget dia, udah pura-pura pingsan, kita tinggal makan. Eh, waktu keluar kamar mukanya kucel banget, gak berani lihat kita."
"Haha... Dia malu sendiri kalau ingat kejadian itu. Anisa memang unik."
Aku tersenyum, "Baguslah, baik-baik sama anak dalang. Jika tidak rumahmu akan dijadikan tempat pagelaran wayang satu bulan suntuk." Aku beranjak dari kursi, "Aku tidur ya, Nang. Terimakasih."
"Apa? Gak usah minta peluk!"
Nanang tertawa.
"Enggak, tapi sungguh kamu terlihat menggemaskan saat hamil."
"Dari dulu aku memang menggemaskan, baru sadar? Salah sendiri kamu putusin aku. Sekarang nyesel kan?"
Nanang melengos, "Iya nyesel, tapi lebih nyesel lagi kalau kamu jadi istriku. Huaaa, ribet, cerewet, banyak maunya."
Aku mengangguk dan memberi bogem mentah di perut Nanang.
"Pantas Tuhan mengizinkan kita putus. Karena Tuhan tahu mana yang kita harapkan dan menerima kita apa adanya. Seperti mas Kaysan yang menyukaiku jika aku cerewet." Aku menjulurkan lidahku.
"Sudah mau jadi ibu masih aja bertingkah seperti bocah!" ejek Nanang.
Aku sebel, ku tinggalkan Nanang untuk kembali lagi ke ruang home teater.
__ADS_1
... semakin bulat seperti ikan buntal.
"Aku mendengar suaramu!!!"
Nanang semakin tersenyum mendengar racauan dari mulutku.
Waktu masih pukul dua dini hari, dan aku belum mengantuk. Ku putar lagi film yang belum aku tonton sepenuhnya sambil melahap kue-kue kering dalam toples. Setiap weekend Nanang pasti akan pulang ke rumah, katanya Quality time with bunda Sasmita. Memang tidak salah, salahnya aku yang tidak mau tinggal sendiri di rumah utama. Belum lagi menghadapi anak-anak Ayahanda yang lainnya. Hanya pada keluarga bunda Sasmita aku berani meminta kehangatan dan perhatian layaknya sebuah 'rumah'.
Lama-lama mataku terasa berat, aku mulai mengantuk.
*
Pagi harinya aku terbangun saat mendengar riuh suara. Mataku mengerjap sesaat dan kembali terpejam. Nakula, Nanang, dan Sadewa berdiri di depanku.
"Brisik!" Aku menutup telingaku dengan bantal sofa, dan bermaksud menyuruh mereka untuk diam.
"Tuan putri sudah bangun."
"Hmm..., brisik. Keluar sana."
"Tuan putri, paduka raja menunggu di ruang tamu."
Aku menguap. Baru jam tiga dini hari aku terpejam, sekarang jam tujuh pagi aku sudah dibangunkan oleh mereka bertiga.
"Ayahanda datang?" tanyaku masih menundukkan wajah. Mataku masih berat untuk terbuka.
Ketiga saudara itu tertawa kecil.
"Ayahanda datang dan meminta tuan putri untuk menemani sarapan."
Sepertinya hari ini aku akan menjalani hari yang berat. Menemani Ayahanda, menuruti semua titahnya, dan membuatnya senang.
"Selamat bersenang-senang tuan putri Rinjani dan Dalilah Sekar Kinasih. Kami sendiri juga akan bersenang-senang dengan kekasih kami."
"Pamer." ujarku, lalu keluar dari ruang home teater.
Di ruang makan, Ayahanda sudah duduk tegap dan tersenyum. Rambutnya klimis, harum minyak nyong-nyong memenuhi seisi ruangan, pakaian tak resmi seperti biasanya. Ayahanda menggunakan celana kain, dan baju polo shirt.
Aku membungkuk hormat, "Maaf Ayahanda, tuan putri baru bangun."
"Tidak apa-apa tuan putri Rinjani, mandilah dan temani Ayahanda sarapan."
Aku mengangguk dan menyunggingkan senyum lebar.
__ADS_1
Tuan putri adalah panggilan baru yang Ayahanda berikan. Ketiga anak bunda Sasmita sering menggunakan kesempatan ini untuk mengodaku karena diwaktu inilah aku tak bisa berulah atau cerewet. Aku hanya akan mengangguk pasrah saat Ayahanda mencurahkan kasih sayangnya untukku dan Dalilah.
Happy Reading ππ