
Dalam perjalanan menuju Ambarukmo Plaza, aku mencoba untuk menghubungi mas Kaysan. Namun, berkali-kali panggilanku tidak di angkat.
Aku menghela nafas kesal, dan si kembar berbalik dan berkata, "Sabar."
Aku yang terjadi, disana? Tak biasanya Kaysan menghiraukan panggilan telepon. Ku lirik jam tangan yang aku kenakan. Kembali lagi aku menghela nafas. Disini sudah sore hari, yang berarti disana sudah malam. Ingin sekali aku meneror Kaysan dengan berbagi pertanyaan, tapi pemandangan kota yang sudah lama aku rindukan membuatku berpaling sejenak dari ponselku yang kini menjadi candu lain selain Kaysan.
Ku pincingkan mata dengan harapan bisa membuat kenanganku dan Kaysan bangkit kembali. Saat pdkt, saat jalan-jalan, saat berkencan, dan saat-saat kejadian yang mengharu biru.
"Mbak, sudah sampai." Suara Nakula membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap sesaat.
"Cepet banget." kataku. Kemudian aku memakai masker dan topi milik Kaysan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak main petak umpet. Terakhir saat aku dan Kaysan menginap di hotel dan berujung di marahi Ayahanda dan Ibunda. Dan, hotel itu kini terlihat tak jauh dari tempatku berdiri.
"Jadi belanja tidak? Aku akan terus di hantui perasaan bersalah dan tidak gentleman karena tidak melunasi taruhan ku." ujar Sadewa, ia melenggang terlebih dahulu.
Aku dan Nakula, dan... Anak buah Ayahanda ikut mengekori langkah Sadewa. Entah, apakah dia tahu kemana harus membeli baju-baju baby Newborn dan perlengkapannya.
Aku saja yang hamil belum mencari-cari store yang cocok untuk aku kunjungi. Terlebih Mall ini besar, dan aku sudah mulai lelah.
Tiba di salah satu store bernama Zania Baby, Sadewa masuk dengan berlagak seperti seorang calon Bapak yang sangat paham apa saja yang harus di beli.
"Tadi malam aku sudah cek perlengkapan bayi baru lahir." kata Sadewa dengan semangat. Tangannya sudah sibuk berkutat dengan baju-baju anak perempuan yang memiliki bentuk dan desain-desain baju yang lucu dan menggemaskan.
"Ayo Mbak, lucu-lucu ini. Ah, jadi gak sabar punya anak sendiri."
Nakula menggeleng, ia memberiku air mineral. "Kalau capek bilang, jangan sampai mas Kaysan datang-datang ke rumah membawa pedang." Aku menerimanya , ku buka penutup botol dan meminumnya.
"Kenapa kembaranmu yang excited? Sepertinya dia memang pengen nikah muda, tapi nyalinya ciut seperti kaleng rombeng."
Nakula mengangguk, "Biarkan saja, kan dia yang bayar." Nakula terkekeh kecil. Ia membantuku berdiri.
"Makasih om Nakula, Dalilah mau belanja."
Aku mengambil tas belanja transparan.
Langkah kakiku berjalan menuju rak dimana kain bedong tertumpuk rapi.
Semalam Bunda Sasmita memberitahuku apa saja yang harus beli, terutama perlengkapan bayi paling penting.
Aku mengambilnya satu lusin kain bedong, dengan motif yang berbeda-beda dan tentunya tidak semua motif untuk anak perempuan.
Selanjutnya aku mengambil gurita dan sarung tangan dan kaki.
Aku memegang punggungku, semakin besar kandunganku, semakin cepat sekali aku merasa lelah. Aku kembali duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Sedangkan riuh suara Sadewa dan Nakula yang asyik melihat-lihat baju bayi membuatku terkikik sendiri. Mereka berkata jika Dalilah akan seperti penyanyi dangdut jika memakai kostum macan tutul. Ditambah lagi, mereka membayangkan Dalilah juga akan meraung keras.
Konyol sekali mereka berdua. Bahkan Sadewa tak malu saat menggedong boneka berbentuk bayi, dan memperagakan menjadi Kaysan jika sedang bersama Dalilah.
"Cup... Cup... Cup... Anak baba yang cantik. Baba tidak galak... Baba hanya iri melihatmu mengambil bagian bubu yang baba sukai." Sadewa menimang-nimang boneka bayi sambil menepuk-nepuk pantatnya. Mulutnya bersiul menyanyikan lagu Nina Bobo.
Aku melempar bola mainan ke arahnya, "Sumpah, kamu membuatku malu..."
Gimana tidak malu, tingkah Sadewa di lihat banyak pengunjung lainnya. Ada yang tersenyum, tertawa, adapula yang menganggapnya bapak gila.
Nakula berpaling, ia menutup kepalanya dengan tudung Hoodie yang ia kenakan.
"Untung dulu bukan aku yang mewarisi sifat seperti itu." ucapnya lirih. Aku tersenyum kecil, untung pakai masker jika tidak. Wajahku pasti yang akan menjadi pusat perhatian mereka.
"Gimana, Mbak udah belum belanjanya. Waktu kita hanya dua jam, setelah ini kita makan di food court terus pulang." Matanya menunjuk pengawal yang sudah memberikan arahan untuk segera menyelesaikan perihal belanja baju bayi.
Aku menyerah, belanja saat hamil dan tidak ada Kaysan terasa tidak menyenangkan. Tapi aku bersyukur ada Nakula dan Sadewa yang cekatan memilih baju baby Newborn dengan bantuan karyawan yang sudah ahli di bidangnya.
Tiba di kasir, rahang Sadewa jatuh. Ia melongo melihat semua total belanja yang sangat melebihi budget uang yang ia miliki.
"Piye iki, Mbak?" Sadewa menatap penjaga kasir dan menyengir kuda.
Aku mengangkat bahu. Itu bukan urusanku. He-he-he... Lagian cek dari Kaysan belum aku cairkan.
Aku menepuk dahiku, "Nakula, bawa uang gak?"
"Tiga juta aja, La. Besok aku ganti." timpal Sadewa dengan memohon.
"Yakin? Kasih jaminan dulu."
"Semprul...," Sadewa menyengir kuda saat penjaga kasir menanyakan kekurangan uang pembayaran.
Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk mendekati pengawal yang disuruh Ayahanda.
"Pinjam uang..." katanya lirih. Matanya mengedar mengamati sekeliling.
"Ayahanda pasti memberikan uang lebih, ayo keluarkan. Biar cepat urusannya."
"Berapa den bagus?" ucap si pengawal tersenyum dan membungkuk.
"Tiga juta."
Si pengawal mengambil dompet dan mengeluarkan kartu debit card.
__ADS_1
"Hanya untuk keperluan pribadi Raden Ayu Dalilah."
Sadewa melengos, posisinya dan Nakula yang menjadi anak bontot akan segera tergantikan dengan cucu kesayangannya.
Ia menyerahkan kartu debit tersebut dan mengambil kembali uang dua juta yang tadi ia serahkan. "Sekalian saja Ayahanda yang membayarnya."
Sadewa tersenyum, ia memasukkan kembali uangnya ke dalam dompet, "Isi dompet aman..., kembali."
Tepat setelah urusan packing rapi, Sadewa mengembalikan kartu ajaib itu ke tangan sang pengawal. Ia juga memintanya untuk membawa perlengkapan Dalilah ke dalam mobil.
*
Bulu kudukku refleks meremang saat mendengar panggilan dari seorang wanita. Wanita yang sangat ingin aku hindari selama ini...
Ia menyapa Nakula dan Sadewa. Si kembar tersenyum dan masih menghormati sebagai Mbak dan kerabat dekat. Lalu tatapan matanya kini beralih kepadaku.
"Congrats..." Ia memelukku singkat.
Sebisa mungkin aku menyembunyikan kegugupan yang aku rasakan saat melihat Nurmala Sari berdiri di hadapanku.
Ia tersenyum, seakan tidak ada dendam yang masih tertinggal di benaknya.
Takut-takut ku angkat wajahku. Aku mengulurkan tangan dan di sambut jabatan erat dari Nurmala Sari.
"Aku tidak akan mengenalimu jika tadi tidak melihat si kembar."
Aku mengangguk. Situasi ini membuatku bingung. Terakhir kali bertemu dengan Nurmala Sari dulu saat melakukan sayembara. Setelah itu, semua menghilang dari pandanganku. Aku sama sekali tidak tahu kabar dari Nurmala Sari.
"Maafkan aku Rinjani, waktu itu aku hanya menuruti egoku untuk bersaing denganmu. Sekarang, setelah apa yang mas Kaysan lakukan untukmu, aku tahu, mas Kaysan sudah bahagia dengan pilihannya." Nurmala Sari memelukku lagi,
"Aku turut bahagia atas kehamilan mu. Akhirnya keinginan mas Kaysan akan segera terwujud."
Tanganku yang sedaritadi masih setia berada di samping tubuhku. Akhirnya membalas juga pelukan itu.
"Terimakasih, Mbak."
"Kamu akan berada di penjara mewah sang pangeran, Rinjani. Nikmatilah hidupmu." Nurmala Sari tersenyum misterius kepadaku.
Namanya juga penjara, mau mewah ataupun tidak, pasti semua kegiatan akan dibatasi dan diawasi. Termasuk sekarang ini. gerutuku di dalam hati.
Nurmala Sari berlalu setelah ia mewanti-wanti si kembar agar tidak lengah menjagaku. Sedangkan, si kembar sudah jengah melakukan hal itu.
Lepas bertemu dengan Nurmala Sari yang tak terduga datangnya, kami melanjutkan lagi niatan untuk makan malam yang sempat tertunda. Bukan makan malam mewah. Hanya nasi liwet yang disajikan di atas meja dengan alas daun pisang. Tersaji dengan sederhana namun bagi lidahku yang lama tak menikmati masakan khas rumahan, ini begitu nikmat rasanya.
__ADS_1
Happy Reading dan terimakasih untuk dukungannya reader ππ