Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 103. [ Saat kau 'aleman' denganku ]


__ADS_3

"Angel tenan tuturanmu, mas. Angel!" [ Susah sekali bilangin kamu, mas. Susah! ]


"Angel piye to, dik?" [ Susah gimana to, dik? ]


Dengan langkah lebar aku menjauhi Kaysan, terpogoh-pogoh dia mengejarku. Otot-otot tangannya lalu merangkul bahuku, "Jangan jauh-jauh, Dik. Nanti hilang. Nanti aku rindu."


"Bilang rindu tapi mata jelalatan. Oh! Jadi ini alasan kenapa mas memilih Sydney menjadi tempat berlibur, mau lihat sumur, punya Rinjani gak cukup?" Aku menunjuk dadaku, Kaysan tersenyum lebar, "Aku tidak sengaja, bukan salah gadis-gadis itu ataupun mataku, semua terjadi begitu saja."


"Kenapa gak merem?"


"Sudah aku coba tapi tidak bisa." katanya tanpa merasa bersalah.


"Apa!"


Aku mengepal tanganku, dan memberi bogem mentah ke perut Kaysan. "Rasain... rasain, kenapa mata mas gak pake kacamata kuda sekalian, baru tadi malam cemburu, takut kehilangan, sekarang sudah berulah. Suka bikin Jani nangis, suka bikin Jani cemburu. Hah! Ini semuanya gak sebanding dengan apa yang aku rasain mas, aku diam bukan berarti tidak tahu apa-apa!!!"


Selesai menonjok perut Kaysan berkali-kali, aku mendekati pohon dan berteduh di bawahnya. Marah-marah ditambah cuaca panas membuat tengorokanku semakin mengering. "Jauh-jauh piknik cuma dikasih kejutan, kalau kejutannya bikin hati melambung sampai ke angkasa tidak apa-apa, ini kejutannya cuma bikin ulu hati semakin tercekik." gumamku sendiri. Nafasku naik-turun, dari kejauhan banyak orang yang melihat drama picisan yang aku lakukan. Masa bodoh dengan tatapan mereka, mereka jahat sudah membuat mata suamiku ternodai, atau memang ini akal-akalan Kaysan dan ketiga adiknya! Parah, mereka mempermainkan gadis yang tidak berdosa sepertiku.


"Haus dik, mau mas belikan minum?" Kaysan duduk di sampingku, sedangkan Nakula dan Nanang melanjutkan pengamatan mengenai bentuk-bentuk bikini berserta ukuran-ukurannya. Aku sumpahi, mata mereka akan beleken sepulang dari Sydney.


"Sudah tahu istrinya haus masih tanya, mas sebenernya perhatian dengan Rinjani gak sih? Dulu ya, Nanang adikmu itu. Rinjani tidak haus saja udah dibelikan minuman, sampai segalon-galonnya. Tuh, sekarang galonnya masih ketinggalan di toko Bu Rosmini." ucapku mengebu-gebu, tak peduli jika Kaysan nanti akan cemburu lagi, tujuannya kesini pasti juga sama. Membuatku cemburu.


"Aku belikan minuman dulu, tunggu, jangan kemana-mana." Kaysan berjalan ke kedai penjual berbagai macam minuman dan makanan.


"Minumlah." Kaysan menyerahkan air mineral dingin, "Terimakasih mas." Aku menenggaknya dengan cepat, "Besok kita ke Melbourne, aku akan mengajakmu ke tempat dimana aku menghabiskan waktu saat kuliah dulu."


"Baiklah, kita akan disini berapa hari mas?"


"Kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Kaysan sambil menghapus keringat di dahinya.


"Mau ke kebun binatang, Rinjani sudah berjanji untuk membelikan cucunya 'mbah Atmoe oleh-oleh."


"Memang mau kamu bawakan apa cucunya 'mbah Atmoe?" tanya Kaysan menyelidiki.


"Boyo, mas. Boyo, men nyokot sampean." [ Buaya, mas. Buaya, biar gigit kamu. ]


"Kamu sudah kembali, setelah berkelana menjadi Rinjani yang berubah menjadi Cinderella. Aku suka Rinjani seperti ini."


Aku berdicih, "Aku punya pertanyaan bodoh untukmu, mas?"

__ADS_1


"Apa katakan?"


"Emang enak!"


Aku beranjak berdiri meninggalkan Kaysan yang melongo mendengar ocehanku.


Langkah kakiku mendekati Nakula dan Nanang. "Kalian mau kemana?" tanyaku sambil duduk di sebelah Nanang, mantan kekasihku hanya melirikku dengan ekor matanya, sambil merangkulkan tangannya di bahuku. "Apa yang kamu lakukan, Nang?" tanyaku jengah dengan kelakuan satu keluarga ini. "Ke hatimu lagi boleh?"


Aku menepis tangan Nanang, "Jangan kebablasan, aku kakakmu sekarang. Panggil aku Mbak! Seperti adik-adik mas Kaysan yang lain."


"Mbak Jani, aku akan menjagamu seperti Nakula menjagamu."


"Nang! Kamu jangan macam-macam, dan jangan menambah masalah baru. Kalian ini bisanya cuma menyusahkan hatiku."


Aku menarik tangan Nakula, mengajaknya pulang ke hotel. Di belakangku Kaysan memiting leher Nanang, entah apa yang mereka bicarakan aku tidak mau tahu. Biar saja mereka bertengkar sekalian.


"Nakul gak mau cari pacar bule?" Kami berjalan melewati trotoar jalan, terik matahari sungguh luar biasa. Kepalaku menjadi tambah pening di buatnya.


"Tidak, bagiku Narnia masih ada."


"Nakula, ikhlaskan Narnia. Carilah teman baru untuk mengisi hatimu."


"Hati Mbak saja udah gak karuan, bisa-bisanya ngasih nasihat percintaan. Ngaca Mbak." Aku terkekeh kecil, "Kamu benar juga ya." Aku merangkul lengan Nakula, "Terimakasih sudah ada, terimakasih sudah menjadi adik yang baik sejak dulu. Aku tahu kamu yang sering mengembalikan sepatuku yang sering di umpetkan kembaran mu."


Aku tersenyum jenaka, "yang harus dikasihani itu kalian berdua, jomblo."


"Jomblo bahagia, lebih terhormat. Daripada menikah adanya cuma nangis setiap hari." Celetuk Nakula sambil memutar bola matanya.


*


Firescreek Fruit Winery 


Dari rahim mana saja laki-laki berasal sepertinya tak mengubah tabiatnya jika sudah berurusan dengan wine. Apalagi di perkebunan Firescreek Fruit Winery menyajikan wine dengan cita rasa yang unik. Wajah mereka berbinar-binar, senang tak akang kepalang saat memasuki cafe dengan botol-botol wine yang berjajar.


"Surga..." ucap Sadewa, tangannya sudah menunjukkan berbagai jenis wine yang sudah ingin dia beli.


"Kenapa mas ikut-ikutan, bukannya disini kita menjaga mereka. Ini tidak baik buat kesehatan." Kaysan sudah mengambil satu botol wine, ia peluk, senyumnya mengembang. "Ini wine yang aku rindukan jika berada disini." Aku menatap Kaysan dengan mata galak. "Boleh-boleh, Rinjani akan ikut mencicipinya."


Kaysan mengangkat tinggi-tinggi botol wine yang ia genggam, "Coba saja sentuh, kalau bisa. Nanti aku beri satu sloki untukmu."

__ADS_1


Aku menghela nafas, "Aku minum air putih saja sudah cukup. Tidak perlu anggur merah, anggur merah hanya untuk orang tua seperti kamu mas." Kaysan mencubit hidungku, ini adalah hal yang aku rindukan darinya, setelah berbulan-bulan dia jarang mencubit hidungku karena gemas.


"Memang ada baiknya kamu minum air putih saja, aku takut jika kamu kebanyakan wine ocehanmu semakin melantur."


"Take your time, mas. Rinjani mau ke kebun, siapa tahu bertemu jodoh idaman, pria bule yang lebih besar dan menggiyurkan." Kaysan dengan cepat menarik telingaku, "Jangan macam-macam, ajak Nakula untuk menemanimu."


"Suamiku Nakula atau Kaysan? Jawab?" Kaysan tampak berpikir sejenak, "Kaysan suamimu, tapi ada beberapa jenis wine yang harus aku pilih untuk oleh-oleh nanti."


"Egois." kataku sambil keluar dari cafe.


Udara di perkebunan anggur ini sangat sejuk, kontras sekali dengan keadaan di pantai tadi. Banyak pepohonan rindang dan taman bunga yang ditata dengan apik. Aku berjalan menyusuri jalan setapak, banyak sekali tanaman anggur yang tumbuh subur dan berbuah, hingga terbesit keinginan untuk memetiknya. Sungguh ini lebih indah dari yang aku duga, kapan lagi bisa memetik buah dari pohonnya. Tidak bisa minum olahannya, tapi bisa makan buahnya. Aku tertawa cekikikan, "What makes you happy, it's raw grape, don't eat, it tastes sour." [ Apa yang membuatmu senang, itu anggur mentah, jangan dimakan, rasanya asam. ]


Aku menoleh, benar saja pria idaman datang, ia bertubuh tegap, berhidung bangir, kulit putih berdiri di belakangku.


"Sorry I don't know, it's my first time to a vineyard."


[ Maaf saya tidak tahu, ini kali pertama saya ke kebun anggur ]


"Where are you come from?" [ Darimana kamu berasal? ]


"Ehm... Indonesia." jawabku sambil tersenyum, tapi laki-laki yang berjalan mendekati kami membuat jantungku berdetak kencang. Tubuh mereka berdua sama besarnya, jika berduel pasti seru.


"Marchel." Laki-laki bule ini mengulurkan tangannya, "Rinjani." Aku menggapainya.


"Rinjani is like the name of a mountain in Lombok. [ Rinjani seperti nama gunung di Lombok. ]


Aku manggut-manggut, "Nice to meet you, Marchel. Have a good time." [ Senang bertemu denganmu, Marchel. Selamat bersenang-senang. ]


Aku bergeming, meninggalkan Marchel yang hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya, langkahku kini mendekati laki-laki yang sedaritadi mengamatiku. Konyol, pasti dia berpikir yang tidak-tidak.


"Mas..."


"Sudah bertemu pria idaman yang lebih besar?"


"Rinjani tidak tahu mas besar atau tidak, 'kan Rinjani tidak memiliki jurus tembus pandang."


Kaysan sejenak melepas pandangannya ke Marchel, lalu menatapku sejenak. "Bibir kamu memang harus di hukum, suka bicara seenaknya."


Kaysan membungkukkan punggungnya, lalu menciumku di tengah perkebunan anggur.

__ADS_1


Happy Reading 💚


[ Aleman \= Manja. 😁 ]


__ADS_2