Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 73. [ Fakta mengejutkan ]


__ADS_3

Baru dua hari aku menjejakkan kakiku di ranah perkuliahan, dosen yang terkenal killer seantero kampus sudah dengan suka rela memberiku tugas yang belum pernah ku dapatkan modul pembelajarannya. Sungguh ironis, aku yang ingin pintar justru terjebak pada situasi yang getir, IQ sedang yang aku miliki sungguh menyusahkan.


Sejujurnya berada di kelas ini, membuatku bingung. Mereka seakan memandangku dengan sebelah mata. Apa karena penampilanku, atau karena aku berteman dengan si kembar Nakula dan Sadewa. Segitukah cara mereka menyanjungi keluarga Ningrat.


Kalau dipikir-pikir akan menyulitkan jika tidak ada teman sekelas.


Tidak punya teman artinya aku akan kesusahan untuk mencari jawaban. Bukan masalah contek mencontek, tapi aku yang sudah tertinggal satu semester sudah jelas tertinggal banyak pelajaran.


Ku pikir keputusan Kaysan untuk menyekolahkanku ke jenjang perguruan tinggi terlalu tergesa-gesa. Akupun juga harus memaksa otakku bekerja dengan lebih giat. Supaya lekas pintar dan disayang-sayang Kaysan.


Semoga waktu bayi ibuku Lastri slalu memberi ASI, makanan yang sehat dan imunisasi. Agar tubuhku kuat mengarungi riak-riak ombak yang semakin besar. Agar kapalku tidak oleng kapten!


"Aku lihat kamu kemarin turun dari mobil salah satu rektor di kampus ini." jelas salah satu teman yang duduk berjarak tiga bangku dari tempatku berdiri.


Aku menghela nafas, dan tersenyum simpul. Hari ini aku catat dalam buku harianku, jika aku mulai berbohong.


"Oh itu, iya. hehehe, saya hanya anak babu yang disekolahkan majikan. Dari kampung, jadi diantara sampai kesini biar gak kesasar." jelasku, setengah mungkin.


"Jadi kamu kerja dirumah rektor itu?" tanyanya dengan mata tanda tanya.


Aku sedikit gelagapan, "Tidak aku ngekos, nenek ku yang bekerja di rumah rektor itu." Mbok Darmi masuk dalam sebagian kebohonganku.


"Oh, lalu kenapa kamu bisa berteman akrab dengan Nakula dan Sadewa? Mereka anak dari selir Sultan agung."


"Selir? Maksudnya?" Aku dibuat bingung dengan penjelasan temanku ini yang aku tahu namanya adalah Anisa.


"Iya, setiap raja pasti memiliki selir, dan mereka anak-anak dari selir terakhir. Setahuku sih, karena ayahku seorang budayawan. Aku terjebak disini juga karena ayahku menginginkanku menjadi penerusnya." kata Anisa mantap, dia tidak tahu berbicara dengan siapa.


Aku mengetuk-ngetuk mejaku dengan pulpen, "Seperti itu ya, aku belum banyak tahu tentang sejarah di kerajaan. Mungkin kita bisa menjadi teman akrab. Kalau kamu mau, hehe." aku tersenyum cerah untuk menutupi kegundahan hatiku, kejujuran Anisa seperti mengungkap jawaban atas rasa penasaranku, kenapa dari kesembilan adik Kaysan terlahir berbeda-beda dan hanyalah Rama yang memiliki kesamaan dengan Kaysan. Tidak mungkin juga Ibunda melahirkan anak setiap tahun, kecuali jika Ibunda titisan dari gen halilintar.


"Mungkin lain kali aku bisa mampir ke kostmu, rumahku tidak jauh dari sini kalau kamu mau main." Anisa merapikan buku bawaannya, "Nanti aku akan print out modul pelatihan satu semester yang lalu, aku rasa kamu kesulitan mengikuti pelajaran pak Rahmat barusan."


Aku mengangguk, "Aku rasa bukan kesulitan lagi, tapi teraniaya."


Anisa terkekeh, dengan mengendong tas ranselnya ia beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Kerjakan sebisa mungkin tugas pak Rahmat. Kalau enggak, dia akan memberimu hadiah. Aku duluan." Anisa melambaikan tangannya, seulas senyum manis menghiasi wajahnya.


Di depan pintu kelas, aku melihat Nakula yang sudah berdiri di ambang pintu.


Dengan cepat-cepat aku merapikan buku dan bawaanku.


Melihat Nakula, pikiranku terbang ke pernyataan Anisa tentang selir Ayahanda. Bagaimana bisa aku lupa kalau raja pasti memiliki banyak istri, lalu bagaimana dengan Kaysan nanti. Apa aku akan dimadu, apa aku akan berbagi tusuk dengan wanita lain.


Dadaku bergemuruh dan sesak, tapi melihat Nakula yang sudah menunjukkan wajah masam membuatku tergesa-gesa menghampirinya.


"Tugasku banyak, ke toko bukunya di batalin aja."


"Jangan seenaknya, aku sudah membatalkan rencanaku untuk menemanimu."

__ADS_1


Aku menghela nafas, ku lihat mata Nakula. Manik matanya seperti mata yang selama dua tahun menemani kisah cintaku.


"Oke... Nakula." Aku berjalan mendahului Nakula, dengan cepat ia menarik tanganku.


"Jalan turun ke arah kanan, Mbak."


Aku menyeringai, "Lupa."


"Pikun jangan dipelihara."


Ini adik ipar kalau ngomong suka asal ya, heran, batinku.


"Katanya punya pacar, dimana?"


Kami berdua berjalan melewati koridor kampus. Nakula sudah seperti primadona kampus, banyak mata yang menyoroti gerak tubuhnya.


"Kamu banyak yang ngefans ya, adik?"


"Sudah biasa, aku tidak peduli."


Aku berdecih, "Pacarmu siapa?"


"Tidak penting, jangan cerewet. Suaramu tidak enak di dengar."


Aku mengepalkan tangannya dan meninju udara. Aku kesal berdekatan dengan Nakula, sungguh ingin ku cubit ginjalnya.


"Jangan banyak tingkah, seorang putri harus terlihat anggun dan menawan. Tidak pecicilan sepertimu."


"Mbak Indy bukan pecicilan."


"Lalu?"


"Dia sedang berlatih peran. Jadi dia harus pecicilan untuk membentuk karakter."


Aku mengangguk, tidak mau berdebat lagi dengan Nakula.


Tiba di parkiran mobil, kami lalu bergegas pergi menuju mall di pusat kota. "Nakul, kamu belum jawab dimana pacarmu."


"Disurga."


"Jangan bercanda." kataku lirih, ku lihat wajah Nakula berubah. Wajahnya tidak terlihat dingin, wajah itu menunjukkan mimik wajah yang sedih.


"Pacarku ada di dalam hatiku, tidak pernah mati."


Tanpa sadar aku menepuk bahu Nakula, merasa iba, "Maaf."


"Yang datang sudah pasti akan pergi, hanya saja slalu ada bagian yang masih tertinggal."

__ADS_1


"Apa bagian itu?"


"Rasa."


Tangan Nakula mencengkeram kemudi erat-erat, sepertinya ia cukup terusik dengan percakapan kali ini.


"Mas Kaysan rektor ya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Tanyakan sendiri pada suamimu."


Mataku terpejam, "Banyak yang kalian sembunyikan dariku. Aku tahu, tapi aku akan mencari jawabannya sendiri atas semua pertanyaanku."


"Semakin banyak yang kamu tahu, semakin cepat membuatmu tua! Kejarlah apa yang menjadi tujuanmu sekarang, tanpa perlu mencampur adukkan masalah rumah tanggamu."


"Memang apa yang harus dicampur adukkan, jika apa yang aku kerjakan sekarang adalah salah satu tujuan keharmonisan rumah tanggaku."


Nakula tidak memperdebatkan lagi, dia bungkam.


Tiba di halaman depan Mall, mobil kodok ini menjadi pusat perhatian. Hujan yang tiba-tiba turun, menjadikan pengunjung Mall itu untuk hanya berduduk santai di anak tangga sambil menunggu hujan reda.


"Turunlah, tunggu aku di pintu masuk toko buku." titah Nakula sambil menyerahkan masker kain dari balik tas selempangnya, "Pakai."


Aku menurutinya, dengan hanya membawa dompet berisi kartu debit. Aku berjalan menuju pintu masuk utama ke dalam Mall. Entah karena mobil kodok itu terlihat nyentrik, atau hanya rasa penasaran mereka saja, mata mereka terus mengawasi setiap gerak-gerikku.


Pintu otomatis terbuka, aku ingat toko buku ada dilantai 3, berdekatan dengan game center. Dengan langkah riang gembira, aku berjalan menyusuri eskalator, tidak sabar untuk mencium aroma buku baru.


Sampai dilantai 3, aku menunggu Nakula sesuai perjanjian tadi sebelum berpisah.


Aku menunggunya dengan harap-harap cemas. Anak itu kenapa lama sekali, bahkan waktu belum 15 menit berlalu. Aku tersenyum kecut, mungkin mobil kodoknya masih ingin bermain hujan sambil ngorek ria.


"Hanya ada waktu satu jam untuk mencari buku, setelah itu gantian."


Suara laki-laki menyebalkan itu berada dibelakangku, aku berbalik. Nakula sama sepertiku, menggunakan masker kain dan memakai topi hitam.


"Gantian, maksudmu?"


"Aku juga ada perlu, Mbak."


Dia sudah berjalan mendahuluiku.


Di dalam toko buku, aku dan Nakula berpencar. Aku menuju rak novel-novel non fiksi, dia menuju rak buku tentang ekonomi dan bisnis.


Sudah ada beberapa buku yang menarik perhatianku, kini aku menuju rak buku tentang sejarah dan budaya yang sedang populer dan best seller. Dahiku mengernyit, bingung mau pilih yang mana. Semua terlihat bagus dan menggiyurkan. Tapi soal isinya aku tidak tahu mana yang lebih penting untuk aku sekarang.


"Masih ada 20 menit lagi." Nakula berdiri disampingku, ditangannya sudah ada buku berjudul, 'Cara melupakan mantan.'


"Lepaskan perlahan-lahan. Jika kamu ikhlas, dia akan tenang. Sesuatu yang tertinggal darinya, akan menyulitkan sukmanya untuk kembali pada Tuhan. Berdoalah, dan kembalikan buku itu."

__ADS_1


*


Terimakasih untuk yang sudah mampir, sehat slalu dan salam Rahayu ๐Ÿ™


__ADS_2