
Waktu seminggu rasanya tak cukup bagi Ibunda untuk melepas rindu. Ibunda masih bersikukuh mengajak kami kembali, sedangkan kami masih bersikukuh untuk tetap disini.
Udara pagi masih bersih, burung-burung masih terdengar bertengger di ranting pohon, suaranya masih terdengar bercicit-cicit. "Harus bagaimana lagi Ibunda membujuk kalian untuk ikut pulang?" Ibunda nelangsa, Ibunda terus memegangi tangan Kaysan.
"Jangan berkeras hati, anakku. Nanti jika Rinjani lahir, cucu Ibunda harus mendapat perhatian ekstra. Sedangkan disini tidak ada yang membantu kalian. Punya bayi merah itu repot, Jani. Kamu butuh orang tua untuk membantumu dan mengajarimu." Ibunda beralih merayuku saat rayuan pada Kaysan tak juga mempan.
"Ada Tante Laura yang membantuku, Ibunda. Ibunda tenang saja."
Bukan karena hormon ibu hamil yang membuatku sensitif. Tapi, anak ini memang anak istimewa. Ia harus di perlakukan layaknya cucu dari seorang Ningrat.
"Maaf Ibunda, tapi keputusan ada di tangan mas Kaysan. Ibunda tahu, kan. Jika mas Kaysan akan berkeras hati. Terlebih, hubungannya dengan Ayahanda masih memanas." Aku menaruh kepalaku di paha Ibunda.
"Jani juga masih kangen Ibunda. Jani suka Ibunda datang."
Ibunda mengelus rambutku. "Jaga kesehatan, jaga pola makan. Teruskan meditasinya, agar anakmu kelak memiliki jiwa yang tenang." Aku mengangguk.
"Ibunda yakin pulang hari ini? Liburan musim panas masih lama Ibunda."
Ibunda tersenyum, "Ayahanda akan curiga jika Ibunda pergi terlalu lama. Besok saat tujuh bulanan, Ibunda akan datang lagi." kata Ibunda.
Kaysan masuk ke dalam kamar. "Semua koper sudah siap Ibunda. Pesawat dua jam lagi akan take off." kata Kaysan, ia ikut duduk di tepi ranjang.
"Ibunda jangan risau. Jika semua sudah membaik, Kaysan dan Rinjani akan pulang. Hidup bersama Ibunda lagi." Kaysan mencium punggung tangan Ibunda.
"Kay, putraku. Kamu sudah dewasa, tidak seperti remaja puber yang maunya diperhatikan dan manja-manja dengan istrimu terus." ucap Ibunda, Kaysan tertawa kecil.
"Tapi laki-laki juga mengalami puber kedua Ibunda." kata Kaysan membela diri.
"Dasar! Ibunda slalu kalah jika urusannya dengan perkawinan. Kamu harus ingat, cucu Ibunda ada di dalam perut istrimu. Jangan sampai kelakuan nakal mu menyakitinya. Ibunda adalah orang pertama yang protes, jika nafsumu membuat cucu Ibunda kenapa-kenapa!"
Ibunda mencubit Kaysan.
"Kay, jangan lupa dengan laku prihatin meskipun kamu tidak tinggal lagi di dalam istana. Ingat nasihat Ibunda." Kaysan mengangguk, ia meminta kami berdua untuk bersiap menuju bandara.
Hari ini, hanya Ibunda dan bunda Sasmita yang pulang ke tanah Jawa. Nakula dan Sadewa menunduk kepulangan mereka ke tanah Jawa dengan alasan masih ingin menikmati liburan.
Perpisahan diantara Kaysan dan Ibunda terjadi begitu dramatis. Ibunda menangis, sedangkan Kaysan sedaritadi melingkarkan tangannya di perutku. Aku memegang tangan Kaysan.
"Peluk Ibunda dan katakan jika Rinjani nanti akan melahirkan di tanah Jawa." Mata Kaysan membulat saat mendengar permintaanku.
"Jangan membuat keputusan sendiri, kita belum membicarakannya!" Nada Kaysan meninggi.
"Mas... sudah, Rinjani hanya ingin semua bahagia dengan kelahiran anak ini. Bukan kita saja yang menanti kehadirannya." Aku melepas tangan Kaysan.
"Rinjani akan menunggu di dalam mobil. Mas jangan lupa pesan Rinjani."
Aku memeluk bunda Sasmita, "Bunda, titip salam untuk Nanang dan Anisa. Katakan saja, Jani sudah ikhlas mereka berpacaran." Aku tersenyum. Aku sudah membaca surat dari Anisa yang mengatakan padaku jika ia memiliki rasa dengan Nanang.
"Terimakasih cantik. Anisa kelak akan menjadi dayangmu. Ohya, bunda meninggalkan sedikit uang yang bunda taruh di atas kulkas. Pakailah." kata bunda Sasmita.
__ADS_1
"Bunda merepotkan saja." Aku melepaskan pelukanku.
"Bunda titip si kembar, jangan diberi izin jika mereka berdua ingin keluar malam."
Nakula dan Sadewa yang mendengar suara Bunda Sasmita akhirnya ikut menyuarakan pendapatnya.
"Bunda kami sudah dewasa. Kami juga butuh waktu untuk mengerti kedewasaan yang kami lalui." seru Sadewa.
"Bunda, hati-hati." seru Nakula.
Bunda Sasmita mencium kening si kembar secara bergantian. "Jangan merepotkan mas Kaysan dan Mbak Jani."
Aku dan si kembar menuju tempat parkir. Membiarkan Kaysan menenangkan hati Ibunda.
Selang satu jam. Pesawat Garuda Indonesia dari bandar udara internasional Melbourne dengan tujuan NYA sudah mengudara di langit Australia.
Kami juga sudah kembali ke rumah.
Nuansa sepi kembali terasa di rumah ini. Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya tak ada di rumah. Terkadang jika ada waktu luang, mereka menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di sekitaran Rathdowne village.
Bias cahaya matahari yang sangat terik membuatku semakin kepanasan.
"Gerah banget mas. Jani pakai celana pendek boleh?" tanyaku pada Kaysan. Ia sedang membuat jus alpukat di dapur.
"Jangan pakai celana jeans, itu akan menekan perutmu. Tidak bagus untuk perkembangan janinnya." kata Kaysan.
"Aku mau mas." seru Sadewa, ia keluar dari kamar.
"Ambil sendiri." kata Kaysan. Sadewa mengambil gelas dan menuangkan sisa jus alpukat ke dalam gelas.
"Mas kapan kita jalan-jalan?" Sadewa ikut duduk di ruang makan.
Kaysan menatapku sekilas.
"Mau jalan-jalan, dik? Setelah liburan musim panas nanti aku akan kembali sibuk mengajar. Katakan, kamu mau pergi kemana?"
Aku masih diam memikirkan mau liburan kemana, karena bagiku liburan atau tidak sama saja. Waktuku lebih banyak untuk santai.
Sadewa yang tak sabar akhirnya menjawab pertanyaan tersebut.
"Kemana saja mas, yang penting jalan-jalan." seru Sadewa, Kaysan mengangguk.
"Kalau begitu jalan-jalan saja di depan rumah seperti Mbah Atmoe dan eyang." jelas Kaysan, ia tersenyum melihat Sadewa yang memasamkan wajahnya.
"Kita ajak Keenan saja mas. Dia bilang banyak tempat keren di sini, kita butuh petualangan." Aku meminum habis jus alpukat. Pikiranku teringat pada uang peninggalan bunda Sasmita di atas kulkas.
"Wa, ambillah uang diatas kulkas." pintaku.
"Untuk apa Mbak? Belanja?" tanya Sadewa, ia berdiri dan meraba bagian atas kulkas. Terlihat beberapa lembar uang AUD- dollar Australia di tangan Sadewa.
__ADS_1
"170 AUD." kata Sadewa.
"Yasudah bisa kita gunakan itu untuk jalan-jalan." kataku pada Sadewa, ia memincingkan matanya seolah mencari penjelasan lengkap.
Kaysan pergi ke kamar, ku ikuti dia sambil tersenyum lebar.
"Kehamilan ini membuatku tambah gerah." Aku membuka jendela kamar, membiarkan udara memberi sedikit kesejukan.
"Kapan dia bergerak?" Kaysan mengusap-usap perutku.
"Entah, bisa jadi satu bulan lagi saat perut Jani sudah lebih membesar." Aku menahan tangan Kaysan yang masih melingkar di pinggangku.
"Mas ingin tahu jenis kelaminnya tidak? Kata dokter eliza, USG bulan depan sudah bisa di lihat jenis kelaminnya." Kaysan hanya menaruh dagunya di bahuku.
"Apa saja, yang penting kamu dan adik bayinya sehat. Sudah cukup membuatku senang."
"Tau gak mas. Jenis kelamin anak kita di buat taruhan adik-adikmu dan Keenan. Mereka bilang yang kalah akan membelikan perlengkapan bayi. Jadi apa gak perlu tahu sekalian jenis kelaminnya?" Kaysan terkekeh.
"Jadi kamu mau mengerjai balik mereka?"
Aku mengangguk.
"Jangan, kita butuh perlengkapan bayi sesuai dengan jenis kelaminnya. Tidak mungkin jika anak kita laki-laki pakainya warna pink."
Aku mencubit punggung tangan Kaysan.
"Kita beli baju baby Newborn dengan warna yang random, Mas. Omong-omong masih tiga bulan lagi kita bisa belanjanya. Jadi apa mas Kaysan sudah siap untuk itu?"
"Untuk apa?"
"Untuk mengeluarkan uang."
Kaysan mengangguk, "Masih lama, kita bisa memikirkan nanti. Sekarang, apa kamu masih gerah?"
Aku menggeleng cepat. "Awas saja minta jatah. Mas bukan lagi puber kedua, kan?"
Kaysan melepas pelukannya. Ia melepas baju dan membuangnya ke sembarang arah.
"Aku tidak puber, memang beginilah adanya. Kamu harus terbiasa."
Aku berdecih dan mengambil baju Kaysan.
"Jangan pamer otot, nanti Jani repot."
"Kamu tidak rindu satu Minggu tidak tidur denganku, kemarilah temani aku."
Aku tidak menghiraukan ucapan Kaysan. Siang-siang begini dengan cuaca panas, berduaan. Huft, hanya akan membuat suasana semakin panas tak terelakkan.
Happy Reading ๐
__ADS_1