
"Jani... Jani." teriakan seorang Anisa.
Namanya hari Senin, kadang menyebalkan. Tapi aku suka, inilah waktunya aku bisa bernafas lega. Aku bisa menjejakkan kakiku lagi di tanah perkampusan, "Nis, gimana. Bapakmu bisa menjawabnya?" tanyaku setelah aku menyejajari langkahnya.
"Kamu dapet dari mana tulisan itu?" tanya Anisa.
Aku menoleh dan mengangkat bahu. "Oleh-oleh kemarin gak cukup buat tutup mulut?"
"Kata Bapak hanya orang-orang tertentu yang bisa menulis sastra jawa kuno." Anisa berhenti, matanya melihat sekeliling, "Ada apa?" tanyanya penuh curiga.
Senyum hilang dari wajahku, "Tidak bisa aku katakan, tapi aku butuh itu untuk sesuatu yang penting." Aku menghela nafas pelan, "Hidup dan matiku ada di secarik kertas itu." lanjutku lagi setelah bersandar di tembok dan menyilangkan kedua tangan di depan dada, "Kamu tahu aku sedang tidak baik-baik saja."
Anisa menggeleng, menatapku sedih, "Semakin kamu jelaskan, semakin kamu menyebalkan Jani. Wajahmu itu ngenes." Anisa merogoh tas ranselnya, "Baca saja, kalau kamu tahu tulisan bapakku, kamu hebat Jani."
Aku menyaut secarik kertas itu, aku buka dan melongo, "Apa-apaan ini!"
Anisa terkekeh, "Tulisan Bapak ku anti mainstream, Jani." Anisa kembali menyusuri koridor kampus, "Jadi aku harus menerjemahkan sendiri tulisan Bapakmu?" tanyaku sembari mengejarnya. Anisa mengangguk dan tersenyum jahil.
Harus kepada siapa aku bertanya tentang tulisan yang seperti tulisan resep dokter ini. Ruwet sekali urusannya, jika aku harus pura-pura sakit dan bertanya kepada dokter spesialis jawa kuno, mustahil. Apa aku perlu ke dokter spesialis klenik. Hih! Membayangkan batu akiknya saja aku sudah merinding. Tanpa sadar aku menggeleng cepat. Aku tersenyum simpul saat teman-teman ku menatapku heran.
Desas-desus jika ada dosen baru yang akan mengajar di kelasku membuat semua mahasiswa bersiap-siap menanti kedatangan dosen itu. Kalau bagiku semua dosen sama saja, pemberi tugas dan harapan yang semakin membuat otakku menjerit kesal.
Dua puluh menit menunggu, dosen baru tak kunjung datang. Hingga suara ketukan pintu mengalihkan atensi para mahasiswa.
"Selamat pagi anak-anak." Suara itu tak asing di telingaku, hingga aku terpaksa menoleh ke arah pintu, bibirku mengatup rapat. Suamiku, aduh! Jangan bilang kamu jadi dosen di kelasku, bisa berabe jika kamu tahu kegoblokan yang aku miliki.
"Gusti Pangeran Haryo." Salah-satu teman kelasku memanggilnya. "Panggil saja Bapak seperti kalian memanggil dosen lainnya."
Aku tertawa. Suamiku seorang bapak-bapak, Tuhan kenapa ini lucu sekali. Jangan salahkan aku jika tertawa sendiri di ruangan ini.
Kaysan dengan wajah datarnya menghampiriku, aku dengan cepat menutup mulutku. Tuhan, andai teman-teman ku tahu. Aku sudah menikah dan kawin dengan laki-laki yang menjadi dosen baru sekarang, pasti mereka menganggap ku memakai pelet untuk menggapai cintanya.
"Ada yang lucu?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Ini bukan waktunya komedi, perkenalkan dirimu di depan kelas sebagai hukumanmu."
"Hah..." Aku berlagak tak mengenalnya, "Saya Rinjani, Pak." Kata 'Bapak' membuat ku kembali tertawa, tanpa sadar sudut mataku berair karena kedatangan Kaysan cukup menghiburku.
"Jan... dia pangeran, jangan ngawur!"
"Jan, di hukum kamu nanti!" celetuk teman-temanku membuat ku menghapus air mataku, sedangkan sesuatu ingin mengalir di bawah sana.
"Bapak pangeran, izinkan Rinjani pipis sejenak."
Kaysan mengiyakan, dia kembali ke depan ruangan, memulai percakapan dan modul pembelajaran.
__ADS_1
Puasa yang masih aku jalani, semakin hari semakin membuat tubuhku kekurangan glukosa. Aku lemas setelah tertawa karena Kaysan yang keterlaluan menyebutnya bapak-bapak.
Kaysan berlagak layaknya dosen. Dia tersenyum saat tahu aku sudah kembali ke kelas.
"Terimakasih Bapak pangeran, saranghaeyo."
Semua teman-teman ku tercekat, sedangkan dosen baruku hanya mengangguk. Seulas senyum terukir di bibirnya.
"Berani banget, lu."
Aku tidak menghiraukan ucapan Slamet. Mahasiswa paling tua di kelas ini. Aku lebih memilih mengambil buku dan mencatat pelajaran sejarah agraria. Aku mulai paham kenapa Kaysan yang menghandle pabrik gula dan pabrik teh keluarganya, jadi inilah yang di pelajari Kaysan sampai ke luar negeri.
"Bapak pangeran, sejarah apa yang tidak bisa bapak lupa kan?" Aku mengangkat tangan kananku saat Kaysan membuka sesi tanya jawab.
"Itu diluar modul pembelajaran Dik Rinjani."
Wajahku tersipu, "Bapak bagaimana kiat-kiat menanam benih agar tumbuh subur? Di beri dengan pupuk organik atau di pupuk dengan cinta?"
Kaysan mengelus dadanya, "Kamu ke ruangan saya, yang lain ambillah buku di perpustakaan dengan judul hukum agraria karya Prof. Boedi Harsono."
Aku bersorak riang, akhirnya aku bisa keruangan Kaysan di gedung rektorat. "Siap pak, diajak jalan-jalan juga mau saya."
"Somplak kamu, Jan."
"Dik Rinjani, ayo." ajak Kaysan, aku membereskan buku-bukuku dan mengikuti langkah Kaysan.
Sepanjang koridor kampus, layaknya dosen dan mahasiswa umumnya, kami berjalan tanpa saling bergandengan tangan. Tanganku hampa, sudah lama tak ku sentuh tubuhnya. Ya Tuhan... Maafkan hamba mu ini. Hasrat ini sungguh menyusahkan diri.
"Pak, masih jauh ruangannya?"
"Suka sekali kamu memanggilku Bapak."
"Karena Bapak memang cocok jadi Bapak dari anak-anak ku."
Suara pantulan sepatu fantofel yang mengema sepanjang koridor kampus perlahan menghilang saat Kaysan menghentikan langkahnya, "Apa dengan semua dosen pembimbing kamu seperti tadi?"
"Hanya dengan Bapak saya berani, yang lain tidak. Karena mereka sudah layak jadi kakek untuk anakku nanti, hanya Bapak yang cocok jadi pelindung anak-anak ku nanti."
"Apa aku benar-benar terlihat tua?"
"Sekiranya Bapak butuh kejujuran, jawabnya iya." Aku menahan tawa.
"Jika bukan di kampus dan sedang tidak berpuasa, kamu sudah aku jadikan uyel-uyel."
"Aku kangen mas, kangenku sudah mendarah daging."
__ADS_1
"Istirahatlah di ruangan ku. Kamu pucat."
"Enggak mas, nanti dikira aneh-aneh."
"Ini perintah!"
Kami melanjutkan perjalanan menuju gedung rektorat. Letak ruangan Kaysan ada di lantai tiga, berkali-kali ia disapa sesama rekan dosen dan rektor lainnya. Namun Kaysan hanya tersenyum dan membungkuk, "Bapak, pasti menjadi kegemaran mereka ya?"
Kaysan membuka pintu dan menyuruhku masuk, mataku menatap sekeliling.
"Yakin gakpapa, jangan bikin Rinjani seperti anak nakal."
"Aku akan memberimu pembelajaran secara pribadi."
"Kalau gini kenapa Rinjani harus kuliah, kan dirumah bisa." kataku sudah berada di dalam ruangan Kaysan, mataku mengamati setiap pernak-pernik dan buku-buku yang berjajar rapi di salah satu rak di sudut ruangan. Sebuah foto Kaysan memakai atribut rektornya membuat ku terkagum-kagum.
"Mas kuliah sampai statra berapa?"
"Hanya S2."
"Bukannya kalau dosen dan rektor itu harus sampai gelar doktor ya?"
"Karena aku Istimewa." jawab Kaysan sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Mas butuh pujian ya?" Aku duduk di depan meja kerjanya.
"Butuh tiga Minggu lagi untuk bisa memelukmu."
"Biarkan seperti ini dulu mas, terlalu sering bersama akan terasa membosankan."
"Ini berat, aku kesulitan tidur." Adunya padaku, "Bukannya mas ditemani Kitty, badannya lebih besar dan empuk."
"Kitty tidak bisa mengajakku bercanda, aku sepi, aku rindu gelak tawa mu."
"Mas kira Rinjani ini pelawak!"
Tangan Kaysan terulur menggapai tanganku, ia menempelkan bibirnya di punggung tanganku. "Jika kamu tidak bisa menemaniku tidur, temanilah aku berdansa."
Aku mengelak dengan alasan jika kita sedang sama-sama berpuasa, namun Kaysan dengan keras kepalanya sudah menghidupkan lagu dari HP miliknya, instrumental piano dari Yimura berjudul Kiss The Rain mengiringi langkah kaki yang selaras dan penuh penghayatan.
"Aku tertatih."
"Menepilah."
Happy Reading ๐
__ADS_1