
Dua bulan kemudian aku merasa bahagia. Beban yang aku rasakan menghilang dari tengkukku, langkahku lebih ringan, senyumku lebih lebar.
Aku bisa bernafas lega, bahkan aku bisa menyelesaikan skripsi bersamaan dengan Sadewa.
Kami berdua sama-sama merasakan kepuasan. Gelar sarjana yang akan kami sandang membuat Rinjani cemburu, ibu dua anak itu merengek minta bantuan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Aku dan Sadewa lalu tertawa.
"Makanya jangan nikah muda, begini hasilnya. Repot ngurusin anak, suami, tugas kuliah, belum urusan dalam istana." ledek Sadewa.
"Aku tidak bisa menolak takdir." jawab Rinjani sembari mengetik tugas di laptop.
Kami bertiga sedang berada di pendopo belakang. Tempat kumpul keluarga paling nyaman sembari menikmati semilir angin sepoi-sepoi.
"Terus kapan kalian wisuda?" tanya Rinjani.
"Dua hari lagi. Mbak temenin aku!"
Rinjani menatapku, lalu ia mengangguk.
"Boleh. Tapi janji, jangan ke Jerman. Di sini aja, Bunda pasti sedih kedua anaknya pengen ke luar negeri cuma buat move on."
Aku dan Sadewa saling melempar pandang.
"Kenapa gak boleh? Gak ada yang menemanimu di rumah? Gak ada yang bantuin jagain Dalilah dan Suryawijaya kalau Mbak Nindy lagi jalan sama Mas Santosa. Iya?" ledek Sadewa yang membuat Rinjani tertawa.
Ia mengangguk, "Capek ya jadi kalian? Maaf ya Dalilah memang merepotkan sepertiku."
Gemes... itu yang aku lihat saat Rinjani berkata dengan manja dan mengatakan bahwa dirinya memang merepotkan.
"Dari dulu! Waktu kalian pacaran juga aku yang repot. Aku dan Nakula harus masuk lewat pintu belakang. Aku harus memastikan jadwal berkencan kalian tidak berbarengan dengan jadwal Ayahanda berkunjung ke rumah." Sadewa mendesah lelah, ia membaringkan tubuhnya di atas karpet sembari menerawang masa lalu antara aku dan Rinjani.
"Kalian ingat kan masa-masa itu? Dunia berasa milik berdua. Aku, Nakula dan Bunda kalau di rumah berasa orang ngontrak. Sama mas Nanang kami disuruh diam." Sadewa membeberkan rahasia dibalik rumitnya hubunganku dan Rinjani dulu. Bertumpu pada rasa bahagia yang membuat orang lain harus mengalah, aku egois, dan akhirnya harus berakhir.
"Terimakasih sudah membuatku mengenal perih yang menjadikan aku, kamu, kita, mengambil pelajaran yang berharga bagi hidup ini. Tak melulu soal kebahagiaan, perih sudah memberiku kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Dan, sekarang. Aku sedang berusaha mencintai diriku sendiri sebelum mencintai orang lain."
Kalimat itu membuat Rinjani tersenyum, "Bentuk kasih yang paling indah dan akhir adalah mendoakanmu. Aku pengen kamu bahagia, aku pengen kamu memiliki pasangan yang menerimaku sebagai kakak iparmu sekaligus mantanmu. Ini memang sulit, tapi dari kesulitan itu membuat kita kuat. Seperti batu karang!"
__ADS_1
Kami bertiga lalu tertawa, bahagia.
Dua hari kemudian.
"Anak-anak bunda emang ganteng semua. Lihat mas! Cowok-cowok ini harus patah hati dulu sebelum fokus skripsi dan lulus kuliah!" ujar Bunda kepada Ayahanda. Ayahanda tersenyum, "Ada yang menjadikan patah hati untuk memberi semangat menyongsong masa depan, ada pula yang justru terpuruk. Beruntung, anak-anak kita memilih menyongsong masa depannya."
Bunda mengangguk dan merapikan kemeja batik yang Ayahanda kenakan.
Kami sedang bersiap-siap untuk pergi ke GOR tempat wisuda nanti. Tapi Mbak Jani tergesa-gesa mendekati kami berempat.
"Susah banget ninggalin Suryawijaya." Adunya pada kami.
Ayahanda tersenyum, "Cucuku mirip dengan putraku Kaysan."
Rinjani mendesis, lalu ikut mematut dirinya di depan cermin. Hari ini dia berjanji untuk menjadi gandenganku saat wisuda, seperti janjinya dulu saat kami pacaran.
"Cantik sudah izin sama Kaysan?" tanya Bunda.
"Sudah, Bunda. Katanya boleh pergi, asal setelah pulang wisuda nanti aku harus menemaninya pergi ke hotel, katanya bosen di rumah." Bunda tersenyum, "Kalian emang suka banget bikin kami iri. Mas, mau cucu lagi?" Goda Bunda. Ayahanda mengangguk.
"Ayahanda minta kak Rahma sama Nakula saja cucunya!" sergah Rinjani cepat dengan nada memelas.
"Mohon dengan sangat, hormati kami kaum jomblo!" celetuk Sadewa. Aku mengangguk setuju.
Matahari memang sudah menyingsing tinggi saat kami berlima datang ke GOR yang sudah ramai didatangi oleh mahasiswa dan sanak keluarga mereka. Kami bersuka cita, hari ini adalah pembuktian dari kami yang sudah mati-matian menggarap skripsi hingga larut malam, tak doyan makan dan sekaligus baperan.
Kedatangan Ayahanda tentu menyita atensi seluruh manusia yang ada di dalam GOR. Begitu juga Rinjani yang menjadi pusat perhatian karena sedaritadi ia berada di dekatku. Tersenyum manis dan mengangguk saat beberapa orang menyapanya.
Ada beberapa teman yang mengenalnya sebagai mantan kekasihku sekaligus kakak ipar ku. Dan merekapun menggeleng tak percaya dengan keakraban kami berdua.
"Jangan nyesel kalau setelah ini banyak gosip yang beredar." kataku lirih.
"No matter what, we are family." jawab Rinjani santai.
"Mas... Anisa, Mas." seru Sadewa seraya menunjuk arah selatan. Tempat dimana mahasiswa lain bisa mengikuti acara wisuda.
__ADS_1
Aku menoleh sesaat. Tak ada yang berubah dari dandannya, dan caranya mengikat rambut. Anisa masih sama, mungkin juga hatinya. Entahlah, aku enggan menerka.
Rinjani tersenyum, ia menepuk pundakku. "Jangan sedih di hari bahagia mu."
Aku tersenyum sambil memamerkan gigiku yang putih dan rapi.
"Aku benci melihat senyuman mu!" kata Rinjani.
"Aku lebih benci lihat kalian, aku gak di anggap!" timpal Sadewa.
Kami bertiga cekikikan lalu menikmati setiap detik acara wisuda hari ini. Hingga waktunya tiba namaku di panggil untuk menerima ijazah. Aku naik ke panggung dengan bangga.
Gak ada kata-kata sambutan yang istimewa hari ini. Aku hanya mengucap syukur atas semua kejadian yang terjadi dalam hidupku sampai detik ini.
Bunda dan Ayahanda menyambutku dengan gembira di bawah panggung. Mereka bergantian memelukku dengan erat. Do'a-do'a baik meracau dengan indahnya. Hingga Rinjani merentangkan kedua tangannya.
Aku mencubit hidungnya, "Mas Kaysan bakal marah besar padaku."
Rinjani tersenyum tipis, "Ayolah, kesempatan terakhir."
Bunda dan Ayahanda mengangguk, setuju jika aku memeluk Rinjani.
"Baiklah. Tapi kalau mas Kaysan marah. Jangan bawa-bawa aku!"
Rinjani mengangguk, ku lepas toga wisuda dan memeluk Rinjani dengan erat.
"Aku merelakanmu bahagia meskipun bukan aku yang menjadi tempat tinggal mu. Menyaksikan mu tetap tersenyum adalah kemauanku. Berbahagialah karena aku tahu, bahagiamu adalah bagian penting dari hidupku."
Rinjani menepuk-nepuk punggungku, "Sepertinya kamu salah orang, Nang. Ada Anisa yang menunggu giliran untuk mendapat pelukanmu." kata Rinjani.
Aku melepas pelukanku dan menoleh. Gadis itu tersenyum manis dan memberiku bingkisan yang berisi beng-beng. Camilan favoritku.
"Selamat atas prestasimu. Maafin aku."
"Kamu gak salah, aku saja yang belum paham arti hakikat cinta sesungguhnya. Terimakasih atas bingkisan. Aku pergi dulu ya." Ku akhiri tepukan di pundaknya saat Anisa hanya terpaku menatapku pergi dari hadapannya.
__ADS_1
..."Kisah ku adalah tentang memaafkan, merelakan dan melupakan."...
...πππ...