
Dapur seperti kapal pecah. Banyak bahan masakan yang masih berserakan di atas meja. Semua alat masak keluar dari dalam lemari, dan sekarang menengadah berisi makanan yang di masak Ibunda Ratu.
"Benar-benar pesta." kata Ibunda. Celemek yang beliau pakai sudah tidak bisa dibilang bersih. Banyak sekali noda masakan yang tertempel di celemek dan bajunya.
"Ibunda, mandi. Biar Jani yang beresin ini." kataku sambil mengumpulkan perkakas masak ke dapur kotor.
"Hati-hati, jangan sampai terpeleset!"
"Iya Ibunda."
Ibunda pergi ke dalam kamar. Aku yang hendak mencuci piring, urung melakukannya karena mendapati Kaysan duduk dengan wajah yang di tekuk.
"Cemberut aja, Mas. Ada apa?" Aku menghampiri Kaysan. Ia menepuk pahanya, memintaku untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa? Cerita?" pintaku tulus.
"Sudah harus diperpanjang, masuknya masih harus setengah. Itu tidak adil."
Aku menghela nafas panjang. Ku pikir ini masalah soal kepulangan kami ke tanah Jawa, tapi ternyata ini hanya masalah ujung kejantanannya yang tidak leluasa untuk bergerak maju mundur.
"Biar Rinjani cuci piring dulu dan membersihkan rumah." Aku sudah berdiri, kembali ke perkakas yang kotor.
"Katanya aku harus berbagi keluh kesah, sekarang kamu tidak memberi solusinya malah abai terhadap ku." sindir Kaysan.
"Mas Kaysan yang tersayang. Lebih baik mas membantuku, terus nanti Rinjani temani mandi. Rinjani bantu lagi seperti waktu itu. Mau?" Aku mengambil busa dan mulai membersihkan perkakas.
Kaysan berdiri di belakangku. Letak dapur kotor yang jarang dipakai dan terbilang tersembunyi membuat ruangan ini sedikit sunyi.
"Tidak perlu menunggu nanti, sekarang saja bisa." Kaysan menyusupkan tangannya ke dalam bajuku. Ia memegang erat payudaraku.
"Sudah sedikit berbeda, agak besar dan kenyal." bisik Kaysan di telingaku.
"Benar-benar tidak punya malu kamu, mas."
Gerak tangannya mulai beralih ke dalam celana dalamku. Sedangkan tubuh bagian bawahnya ia tempelkan di bokongku. Ia mengusap-usapkan tonjolan kejantanannya di cela bokongku.
"Sebentar juga boleh, Dik." Bisiknya lirih di cuping telingaku.
Aku membasuh tanganku di pancuran air. Geram dengan tingkah laku Kaysan yang tidak tahu tempat.
Aku berbalik. "Mas ngebet banget?"
Kaysan mengangguk, kabut gairah terlihat dari sorot matanya.
"Sebentar saja, jangan sampai kita menjadi bulan-bulanan satu keluarga kalau ada yang tahu kita bercinta di dapur kotor."
Kaysan melepas celana santainya, sedangkan aku menutup pintunya.
Senyum semringah terlihat menghiasi wajah Kaysan. Ia sudah tidak sabar untuk melakukan penyatuan.
"Boleh masuk semua, tapi pelan-pelan." kataku.
"Sssttt..." Kaysan membalikkan tubuhku.
"Pegangan yang kuat." bisiknya. Mau tak mau aku berpegang pada pinggiran tempat cuci piring.
Kaysan melepas celanaku. Ia mengusap bokongku sebentar lalu menyusupkan tangannya ke dalam celah kenikmatanku.
"Hmm... enak, Dik?"
Aku menggigit bibir bawahku, tidak bisa mendesah panjang.
__ADS_1
Kaysan yang paham aku hanya diam akhirnya mengecup leherku, "Gak enak, kan kalau di tahan." Cih! Benar juga. Pantas saja Kaysan suka cemberut jika aku menyuruhnya diam saat ia melenguh panjang.
"Udah mas, ayo cepat. Masih banyak yang diselesaikan." kataku. Terlebih aku takut terciduk bercinta di sore hari.
Kaysan tak membuang waktu, ia lantas memasukkan organ intimnya ke dalam organ intimku.
Rasa ingin mendesah mulai tak bisa aku tahan. Melakukan itu dalam keadaan genting dan cepat-cepat lebih nikmat dari yang aku bayangkan.
"Enak banget, Dik." kata Kaysan.
"Enak, Mas. Enak banget. Cepat sedikit."
Kaysan terkekeh, "Katanya pelan-pelan, sekarang disuruh cepat. Kamu ini." Kaysan meremas payudara dengan cepat.
Ia kembali memacu tubuhnya hingga keluarlah benih-benih cinta.
Aku tersenyum. Kaysan bukan lagi.
"Bagaimana, apa aku menyakiti kalian berdua?" tanya Kaysan. Ia mengambil handuk dari jemuran. Dan membelitnya pada pinggangnya.
"Kalau aku bilang sakit, mas mau apa? Minta maaf?" Godaku pada Kaysan.
"Ha-ha-ha. Pakai celanamu, dan selesaikan cuci piringnya."
Aku berdecih, "Enak banget kamu mas!"
*
Malam harinya, semua anak didik Kaysan yang mengikuti sandiwara kisah cinta Rahwana datang. Kebanyakan remaja gadisnya menggunakan celana pendek dan crop tee. Sedangkan remaja laki-laki lebih menggunakan baju santai.
Taman belakang disulap menjadi arena party. Semua sajian yang dimasak Ibunda dan bunda Sasmita tersaji dengan raoi. Begitu juga alat barbeque disiapkan untuk bersenang-senang. Sadewa tetap mengambil alih sebagai koki amatiran. Nakula menjadi bartender. Kehadiran si kembar membuat gadis-gadis cantik itu berbisik-bisik, mereka mengagumi katampan kulit sawo matang si kembar.
"Mr. Kay. Apa mereka jomlo?" tanya salah satu gadis yang memakai tangtop berwarna merah.
"Jomlo, Anna."
Nakula yang mendengar pengakuan kangmas Kaysan menajamkan matanya.
Aku berbisik di telinga Kaysan.
"Anna, makanlah yang banyak. Ini semua yang masak ibuku dari Jawa." Kaysan menghampiri anak didiknya. Tidak ada batasan dalam pesta ini, semua berbaur layaknya teman dan keluarga.
"Mr. Kay, istrimu hamil muda?" tanya Anna, ia memiliki rambut pirang sebahu. Dan, badan yang ideal.
"Iya, namanya Rinjani. Dia cantik, kan?"
"Dia cantik, tapi seperti adik untuk Mr.Kay." Anna tersenyum ke arahku. Aku membalasnya dengan senyuman, dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Kaysan berbaur dengan anak didik lainnya.
"Apa Kaysan sering mengadakan pesta seperti ini?" Ibunda duduk di sampingku.
"Tidak Ibunda. Ini pesta karena mereka sudah menyelesaikan tugas teaterikal wayang orang. Kenapa Ibunda?" tanyaku.
Ibunda justru memberiku segelas susu coklat hangat.
"Cah ayu, apa Kaysan tidak menyakitimu selama dia bekerja di sekolah?"
Aku mengangkat bahu.
"Mas Kaysan dijaga eyang dan Mbah Atmoe secara bergantian Ibunda. Jadi Jani percaya kalau mas Kaysan tidak macam-macam." jelasku.
__ADS_1
"Cah ayu yakin tidak mau pulang ke Jawa? Ibunda akan membelikan rumah untuk kalian tinggal, rahasia. Ibunda tidak akan memberitahu Ayahanda." Ibunda merayuku disaat segala hal bisa membuatku melankolis. Terlebih Ibunda memintanya dengan wajah yang memelas.
"Ibunda sudah tahu, Jani hanya bisa menurut dengan mas Kaysan. Rinjani tahu, kalau Rinjani dan mas Kaysan pulang keadaan sudah berubah. Ayahanda pasti masih membenciku dan mas Kaysan."
"Tidakkah kalian memberi kesempatan untuk Ayahanda berbicara dengan kalian. Agar semua bisa di luruskan?" Ibunda menatapku dalam-dalam.
"Kaysan tetap menjadi prioritas utama kami, cah ayu."
Aku tersenyum kecut. Menghadapi Ayahanda tidak semudah itu, terlebih masalah terakhir sebelum kejadian ini sudah memicu banyak perselisihan.
"Ibunda, apa Ayahanda membenciku?"
"Ayahanda tidak membenci kalian, Ayahanda hanya membenci dirinya sendiri karena tidak mampu berbuat banyak untuk meyakinkan pihak dalam. Sudah-sudah, percuma Ibunda merayumu. Kamu dan Kaysan sama saja, tidak bisa di manipulasi dengan mudah." Ibunda geram sendiri. Aku cekikikan.
"Ibunda sabar ya." Aku mengecup pipi Ibunda dan beranjak berdiri.
"Kata mas Kaysan ada dansa. Ayo Ibunda ikut dansa." Anakku sambil mengukur tangan.
Instrumental piano Yimura kembali mengiringi langkah kaki yang selaras. Aku tidak berdansa dengan Kaysan, tapi dengan biang kerok yang sedaritadi tersenyum lebar.
"Mbak, punya saingan berat." kata Nakula.
Aku menoleh ke belakang, Kaysan sedang berdansa dengan Ibunda. Sedangkan anak didiknya yang lain asik berdansa dengan gerak cepat dan asal-asalan. Mereka terlihat bersenang-senang layaknya pesta musim panas yang biasa mereka lakukan.
"Kamu gak pilih salah satu dari mereka?" tanyaku, karena banyak gadis-gadis yang mencuri perhatian kepada Nakula saat ia menyuguhkan minuman ke anak didik Kaysan.
"Aku sudah pacaran dengan kak Rahma." Aku terkekeh, "Ku pikir kamu tetep akan jomlo sampai hatimu benar-benar sembuh."
"Mbak tahu, awalnya sulit untuk mengatakan cinta kepada kak Rahma. Karena aku pikir kak Rahma akan mengira aku hanya main-main saja, tapi ternyata kak Rahma membalasnya." Nakula mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku istri kakakmu, bukan kak Rahma."
Nakula terkekeh.
"Iya istri mas Kaysan, bucin tingkat Ningrat!"
Aku dan Nakula tertawa.
*
Pesta berakhir menyisakan tumpukan piring dan gelas kotor. Aku menghela nafas, masih ada tugas yang aku selesaikan sebelum bisa tidur nyenyak.
"Aku bantu, Dik." Kaysan ikut menumpuk piring kotor.
"Terimakasih mas. Tapi ini sudah tanggung jawabku." Aku mengulum senyum. Langkah kakinya menuju dapur kotor.
"Kita pesta bersama, itu artinya ini juga tanggung jawabku untuk membantumu."
Aku mengangguk, "Kalau gitu, ajak si kembar juga untuk mencuci piring bersama. Enak saja mereka sudah santai-santai padahal sedaritadi mereka ikut menghabiskan banyak makanan."
"Sudah kita berdua saja." ucap Kaysan, ia menggerlingkan matanya nakal.
"Jangan minta jatah malam, Jani lelah!"
Kaysan mengangguk pasrah.
"Baiklah, aku juga tidak mau dikasih hati minta ampela." Kaysan mencium pipiku.
"Terimakasih untuk hari ini, mama."
Happy Reading ๐
__ADS_1