Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 70. [ Har-Pet-Kul ]


__ADS_3

Setelah menyisir rambut lurus Kaysan yang terpotong pendek dan sudah rapi. Aku dan Kaysan berjalan keluar kamar menuju pelataran parkir mobil, sebuah mobil BMW seri X2 berwarna hitam sudah disiapkan oleh Parto. Mesinnya sudah panas, sudah siap untuk dipacu dijalanan kota.


Sedangkan Nakula dan Sadewa sudah pergi sejak lima belas menit yang lalu. Mobil kodok berwarna kuning itu sudah lenyap di telan riuhnya jalanan kota. Tampak mencolok diantara kendaraan lainnya, bagaimana tidak, mobil itu di tempeli dengan beragam stiker mobil dengan desain-desain yang tak kalah nyentriknya. Sepertinya memang si kembar itu memiliki selera humor yang kocak.


*


Mobil melesat cepat ke arah kampus yang tidak tahu dimana letaknya, aku gelisah, seluruh tanganku basah, terlebih-lebih jika kampus itu adalah kampus mahal. Benar kata Kaysan, aku seperti si udik yang naik kelas. Jika menikah memang bisa menaikkan derajat seorang perempuan, maka akulah bukti perempuan yang beruntung itu.


Ku remas tas ranselku sambil harap-harap cemas, bahkan aku tak mau melihat wajah Kaysan yang semakin tampan jika mengenakan setelan kemeja kerja dan jas hitam yang membalut tubuh kekarnya.


"Tarik nafas, keluarkan, tarik nafas, keluarkan."


Aku menoleh, Kaysan tersenyum jenaka. Barangkali dia sedang mengejekku karena terlalu takut untuk menghadapi sesuatu yang baru.


"Gak lucu, mas."


"Kamu slalu lucu dimataku, Rinjani."


"Terserah mas saja."


"Apa yang kamu takutkan, Rinjani? Aku lebih seram dari dosen pengajarmu."


"Mas memang seram seperti monster tapi hanya diatas ranjang."


Kaysan tersenyum lebar, "Dosen sejarah biasanya sudah tua, tidak mungkin akan marah-marah, jika iya, mereka akan terkena serangan jantung."


Barangkali ini adalah candaan Kaysan yang diluar akal sehatnya. Aku menggeleng sambil tersenyum simpul.


Tak sampai tiga puluh menit, mobil Kaysan sampai di perguruan tinggi negeri terkenal di kotaku, rimbunan pepohonan yang tertata rapi, gedung-gedung bertingkat mulai terlihat, bangku-bangku taman yang sudah di duduki mahasiswa, dan banyaknya tukang gerobak penjualan makanan di pinggir jalan. Mataku tertuju pada gerobak bertuliskan 'Cilok rasa rindu'.


Aku menghela nafas, jantungku semakin menderu, saat mobil Kaysan banyak dilihat oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang berjalan dari arah parkiran menuju gedung perkampusan.


"Mas, apa gakpapa kita gak parkir disana?" tanyaku sambil menunggu Kaysan menghentikan mobilnya. Ini sudah di dalam arena perkampusan dan sudah jauh dari lahan parkir khusus mahasiswa. Hanya tersisa parkir khusus dosen dan rektor universitas.

__ADS_1


Mobil benar-benar berhenti tepat di parkiran yang aku maksud tadi, aku menatap tajam ke arah Kaysan. "Apa kamu dosen mas? Apa lagi yang aku tidak tahu tentangmu?"


Kaysan mencubit hidungku, lalu ia mengambil salah satu kartu di balik dompet kulitnya. "Aku memiliki kartu khusus parkir VIP, sekarang turunlah."


Akhirnya aku mengikuti ide gila Kaysan untuk menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Laki-laki disampingku menyeringai, "Tidak apa-apa, rilex saja. Jika tidak segera turun, kamu akan tertinggal jam pertama mata kuliahmu."


Aku mengangguk, setalah mencium punggung tangan Kaysan dan berpamitan, aku keluar dari dalam mobil.


Sesekali dalam langkahku menoleh ke belakang, melihat Kaysan yang tak bergeming dari tempatnya. Seulas senyum terus menghiasi wajahnya, sambil mengibaskan tangannya menyuruhku untuk tetap berjalan.


"Mbak Rinjani..."


Aku menoleh pada sumber suara yang memanggilku, si kembar Nakula dan Sadewa. Sadewa yang berlari kecil, Nakula yang berjalan layaknya peragawan, tangannya ia masukan ke dalam kantong jaketnya, wajahnya datar tanpa berselera. Berbeda dengan wajah Sadewa yang tersenyum cerah seperti matahari pagi ini yang mulai menghangat bumi.


Sadewa tiba-tiba mengandeng tanganku, "Sebenarnya jam kuliah Mbak masih lama, dosen pembimbingnya sedang ada rapat di gedung pusat. Jadi, hari ini kita bisa ospek sebentar."


"Ospek?" Dahiku mengerenyit sesaat, lalu suara Nakula yang tak pernah aku dengar akhirnya menyusup ke dalam gendang telingaku, "Kami akan menemanimu untuk melihat dimana ruang kelasmu, ruang dosen, perpustakaan, kantin dan tempat bolos paling aman di kampus ini. Kami juga akan menemanimu untuk mencari buku-buku panduan belajar."


"Wa? Apa Nakula salah makan, tumben dia bicara padaku."


Nakula mengangkat bahunya, "Jika bukan karena Ibunda aku juga tidak mau bicara denganmu."


"Kenapa?"


Memang ada apa denganku, salah apa memangnya aku hingga Nakula enggan berbicara denganku.


Kami berjalan melewati banyaknya mahasiswa yang melihat ke arahku, aku tersenyum kecut, lebih-lebih banyak mahasiswa perempuan yang melihatku seperti melihat seorang pesaing. Mata mereka sinis menatapku, ditambah mata yang melirikku dipenuhi tanda tanya besar dikepalanya.


"Kalian punya pacar?" tanyaku untuk mengurangi rasa gugup.


"Sudah." jawab Nakula


"Belum, hehehe. Belum dua." Sadewa dengan wajah jenakanya masih asik menggandeng tanganku.

__ADS_1


"Terus masih mau gandeng tanganku, kalau nanti pacarmu tahu kamu menggandeng seorang gadis, pacarmu bisa marah dan aku disebut pelakor." Alisku bertemu, dengan cepat menarik tanganku dari tangan Sadewa. Ia terkekeh melihat Nakula yang mengangkat bahunya, wajahnya tak terima aku menyebut diriku seorang perawan tingting.


"Gadis darimana, Mbak? Berita tentang Mbak Jani yang pingsan aja sudah santer tersebar dikalangan keluarga. Ngaku-ngaku masih gadis."


Aku menepuk bahu Sadewa dengan keras, "Kalau dirumah memang aku bukan seorang gadis, kalau dikampus iya, dasar!" Bibirku mengerucut, sambil menendang udara.


*


Kami bertiga memasuki gedung perkampusan, riuh rendah suara dari segerombolan mahasiswa mulai terdengar. Bisik-bisik tetangga, mulai terdengar slalu di telinga. Hingga menusuk hatiku... Loh, kenapa jadi nyanyi sih. Mungkin ini efek dari mendengar lagu dangdut seminggu ini. Jika sedang menunggu Parto makan siang dirumah belakang ia akan slalu mendengarkan lagu dangdut. Berbeda denganku, lagu dangdut adalah lagu paling anti yang aku dengar. Karena anak metal sukanya joget mental-mental.


Kami mulai melewati lorong demi lorong koridor gedung bertingkat. Mulut Sadewa lebih aktif berbicara dibandingkan mulut Nakula, ia lebih antipati, tapi tatapan matanya tak pernah lepas dariku.


"Beib..."


Suara nyaring seperti kaleng rombeng terdengar dari jarak lima meter dari tempat kami bertiga berdiri, seorang gadis berambut coklat, bergaya bak seorang model seksi berjalan melenggak-lenggok ke arah kami.


"Guten Morgen, Liebe." [ Selamat pagi, cinta ; bahasa Jerman ]


Tangannya menyaut tangan Sadewa, matanya menatap tajam ke arahku. Sorot matanya membuat tubuhku berangsur mundur, "Siapa kamu? Ada apa dekat-dekat dengan pacarku?"


Lengkingan suaranya benar-benar menusuk telingaku, rasanya panas dan berdenging.


Aku menatap Sadewa dan Nakula secara bergantian, sekelebat perjanjian dengan Kaysan datang mengisi kepalaku.


"Aaa-ku, mahasiswa baru." jawabku terbata-bata, "Rinjani."


"Rinjani! Beib, nama dari mana itu?" tanyanya pada Sadewa yang menyengir kuda. Sungguh wajahnya ingin aku tampol dengan sandal jepit di rumah.


"Beib, dia mahasiswa baru yang dititipkan padaku dan Nakula. Namanya memang Rinjani, dari bumi tentunya."


Gadis berambut cokelat ini mencubit perut Sadewa dengan gemas, "Kamu slalu membuatku tertawa beib, temani aku ke perpus yuk. Ada buku yang mau aku cari nih, Pak Samsul ngasih tugas gak kira-kira, Bete." Keluhannya sambil bergelayut manja dilengan Sadewa.


"Yuk perpus yuk, biar pinter." Alis Sadewa naik turun, seperti membujukku dan Nakula untuk mengikuti sepasang kekasih yang sudah melenggangkan kakinya melewati koridor kampus menuju perpustakaan.

__ADS_1


Setibanya di perpustakaan, aku terperangah, mataku membulat tak percaya. Ruangan ini besar sekali, lebih besar dari rumah kontrakanku, bahkan interior design perpustakaan ini tidak terbilang jadul. Susunan bukunya seperti kue lapis, rapi. Harumnya wangi, khas buku-buku baru yang baru saja di buka plastiknya. Aromanya begitu memikatku untuk beranjak dari ambang pintu.


Like n favorit, terimakasih atas dukungannya. ๐Ÿ’š


__ADS_2