Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 77. [ Kepulanganmu ]


__ADS_3

Malam harinya hanya aku habiskan dengan kebisuan di dalam kamar, hanya berteman kesunyian dan setumpuk buku pelajaran. Bahkan, aku tadi cukup terkejut lemari kaca berisi benda-benda keramat itu sudah tidak ada di tempatnya. Begitu takutnya aku akan menyentuhnya lagi, meski sejujurnya aku masih penasaran. Dimana letak lemari itu, sekarang.


*


Pagi menjelang, aku merasa ada yang aneh di samping tidurku. Sesuatu yang hangat dan berdetak seperti jantung.


"Buka matamu." ucapnya lirih.


Aku bergeming, masih dengan memejamkan mata, ku benamkan wajahku die pelukannya.


Hening...


Kami membiarkan deru nafas kami yang beradu. Cukup lama, aku masih enggan untuk membuka mata, menatap manik matanya yang membuatku ragu. Manik mata yang slalu menunjukkan ketulusan, namun kadang mata itu slalu memandangiku dengan getir seperti masih ada yang di pendam.


"Apa kabarmu, Rinjani?" tanyanya sambil mengelus bahuku.


"Aku merasa kecil di dekatmu, aku merasa tidak berarti saat kamu tidak ada disisiku."


Aku bangkit dari tidurku. Duduk, lalu mengikat rambutku.


"Aku?" dahi Kaysan berkerut.


"Jelek, lihatlah dikaca." Aku mengelus kerutan di dahinya.


"Kabarku baik, Mas. Bukankah mas memberiku banyak orang baik di dekatku."


"Aku lebih suka, kamu menyebut dirimu dengan namamu." Kaysan memegang tanganku.


"Kenapa, ada sesuatu?" tanyanya lagi dengan nada menelisik.


"Bagaimana kabarmu, Mas?" tanyaku sambil mengeratkan genggaman tangannya. Tangan ini slalu membuatku tenang. Membuatku melayang dengan sentuhannya.


"Aku merindukanmu, Rinjani." katanya dengan mencium keningku.


Seulas senyum aku balas untuknya.


"Aku juga rindu sama kamu, Mas. Rinduku sudah berdarah-darah." Ku cium punggung tangannya.


"Maafkan aku, Rinjani. Biarkan hari ini aku menebus kesalahanku."


"Maksudnya?" Heran dengan arah pembicaraan Kaysan, dia tidak memintaku untuk bolos kuliah, 'kan. Hari ini ada mata pelajaran yang aku tunggu-tunggu, karena dosen ini adalah salah satu budayawan yang pasti tahu seluk beluk keluarga Hadiningrat. Aku bisa bertanya dan mengulik jawaban darinya. Licik memang, tapi tak apalah. Sedia payung sebelum hujan membanjiri wajahku.


"Jam berapa kamu selesai kuliah?"


"Ehm, jam satu."


"Baik, setelah jam satu aku akan menemanimu. Kamu ingin kemana, Rinjani?"


Aku menganggat bahu, "Gak tahu, Mas."


"Yakin?" tanyanya lagi.


"Dirumah denganmu saja aku sudah senang, Mas. Tidak perlu kemana-mana."


Aku memang tidak tahu harus pergi kemana, tidak mungkin ke Mall atau ke tempat hiburan lain. Rumah adalah tempat paling aman dan nyaman untuk saat ini.


*


Tuhan, aku ingin sekali tuli dengan kata-kata yang diucapkan oleh semua orang, tentangnya. Kata-kata yang mencacah hatiku menjadi hati yang hancur seperti daging cincang.


Tuhan, ajari aku menjadi penipu ulung. Agar aku masih bisa melangkah dengan pasti, tanpa memiliki praduga buruk yang merasuki pikiranku, tentangnya.


Tuhan, aku hanya ingin cinta yang sederhana. Seperti cinta matahari kepada rembulan.

__ADS_1


*


"Mas, kerja hari ini?" tanyaku sambil memasukan buku dan laptop ke dalam tas ranselku.


"Hanya sebentar, sampai kamu pulang kuliah nanti." Aku mengangguk,


"Aku berangkat dulu, Mas."


"Aku antar!"


Bibirku mengerucut, "Kalau diantara mas sampai ke parkiran. Nanti teman-temanku curiga, aku bawa motor saja."


"Siapa yang mengizinkanmu membawa motor sendiri?" Kaysan sudah siap dengan pakaian resminya, kini ia berjalan mendekatiku.


"Kamu tidak izin denganku, Rinjani?" Matanya menatap tajam ke arahku, "Pergi kemana saja kamu kemarin?"


Aku menunduk, "Hanya pergi ke kampus dan... bertemu Nina."


"Kembalikan kuncinya!"


Aku mengangguk, ku ambil kuncinya di dalam kantong celana.


"Ini, maaf." ucapku menyesal.


"Aku sudah kembali. Jangan melakukan apapun tanpa seizinku, Rinjani!" Nadanya sudah diatas volume rata-rata.


"Hanya ingin bertemu dengan Nina, Maaf."


"Aku tidak menghalangimu, aku hanya ingin menjagamu."


Kepalaku mendongkak, "Melindungi dari apa, Mas? Aku sudah dewasa, aku tahu apa yang harus aku lakukan."


"Semua yang kamu lakukan, aku tahu, Rinjani."


Aku sudah menyaut tas ranselku. Dan, keluar dari kamar.


Kaysan tak mengejarku, atau menahan tanganku. Dia hanya diam di tempatnya.


Terkadang aku bosan diam, aku ingin berteriak lantang. Agar dunia tahu, aku mencintainya, mencintai ketidakpastian.


*


Di pelataran parkir, Parto sudah menahan pintu gerbang.


"Buka, aku harus pergi ke kampus."


"Tidak ada yang diizinkan keluar!"


Aku berdecih, "Aku bisa terlambat! Aku bisa dihukum dosen, pak Parto yang terhormat tolong buka pintunya!"


Parto berkelit. Ku tendang gerbang, jika ujung gerbang ini tak setajam samurai, pasti aku sudah memanjatnya. Paling tidak hobi memanjat pohon rambutan saat kecil dulu masih bisa aku salurkan.


Aku berbalik, Kaysan berjalan ke arahku. Aku menghela nafas panjang. Aku rindu tapi aku juga tak mau harus dikekang lagi.


"Masuk ke mobil!" Sudah ditarik tanganku, jika aku punya jurus teleportasi, aku pasti sudah menghilang dari tadi. Tapi sayang, yang aku punya hanya jurus ngambek. Menjengkelkan.


*


Sepanjang perjalanan menuju kampus, aku hanya diam. Kaysan jangan tanya, bibirnya terkatup rapat sedaritadi.


Laki-laki ini memang curang, tapi aku sudah cinta. Harusnya aku yang marah, 'kan. Kenapa malah sebaliknya


"Turunkan aku dipinggir jalan!"

__ADS_1


Kaysan menoleh, lalu kembali fokus menatap jalanan.


Dengan mengepalkan tangan, aku menonjok bahu Kaysan. "Sebel, egois, jahat!"


Bugh, bugh, bugh. "Aku benci kamu, Mas."


"Lakukan sepuasmu." Kaysan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Aku semakin membabi buta memukulnya.


"Semua ini mencari arti, Rinjani."


Aku memukul lengan Kaysan untuk terakhir kalinya. Sebelum akhirnya aku menunduk, sesuatu sudah basah di wajahku.


"Aku tidak tahu apa-apa, lalu kamu membawaku dengan tergesa-gesa ke duniamu. Aku yang tidak tahu apa-apa harus menerima dirimu yang bisa saja mencari istri lagi saat bosan denganku. Aku yang tidak tahu apa-apa harus dengan bersusah payah menekan egoku untuk hanya sekedar menjadi diriku sendiri!"


Kaysan mengambil tissue dan menghapus air mataku, "Sudah nangisnya, sudah marah-marahnya?"


"Sudah!"


Kaysan tersenyum, "Berhentilah berpikir buruk tentangku, Rinjani. Semua yang ada dalam pikiranmu adalah ketakutanmu sendiri. Sedangkan, aku tak berbuat apa-apa."


"Adik-adikmu, lukisan itu, selendang hijau, rektor kampus? Lalu, setelah ini apa lagi yang harus aku ketahui tentangmu, Mas?"


"Perlu kamu tahu, aku mencintaimu segenap hatiku. Dan, jangan pernah meragukan cintaku padamu."


Aku melengos, "Bohong, tidak lucu! Bahkan mas tidak pernah bilang i love you."


"I love you, my empress, my cherry."


[ Aku mencintaimu, permaisuriku, ceriku ]


Tubuhku merinding mendengar kata-katanya.


"Terpaksa bilang cinta gak nih, atau hanya untuk menghiburku saja!" ucapku tak percaya.


"Dengarkan aku baik-baik, lihat mataku, Rinjani? Apa tersirat kebohongan? Harus aku buktikan dengan cara apa lagi, kalau kamu hanya satu-satunya untukku?" Suara Kaysan terdengar bergetar, "Aku mencintaimu, meski sejujurnya aku malu mengatakannya."


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Aku takut, kamu tidak membalas cintaku. Cinta pria matang yang butuh sentuhan sekarang."


"Prett! Mesum di pinggir jalan." Aku mendorong Kaysan saat wajahnya sudah mendekati wajahku.


"Sebentar saja, bisa?" katanya penuh harap.


"Aku tu lagi sedih, malah disuruh aneh-aneh."


"Aku lebur rasa sedihmu, sini deh." Matanya sudah mengerling nakal.


"Emoh!" [ tidak mau ]


"Mau aku kutuk jadi sapi?"


"Emang mau kawin sama sapi?"


"Sudah tiga hari aku gak ngawinin kamu, sepertinya boleh nanti ke hotel."


"Emoh!"


"Ku kutuk kamu jadi sapi yang bisa aku susui."


"Mesum, mesum, mesum. Gak ada calon Raja model beginian. Gak ada!"


*

__ADS_1


Hahaha, mohon ampun aku.... Jangan lupa like ya reader. Terimakasih ๐Ÿ™


__ADS_2