Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 89. [ Kembar sialan ]


__ADS_3

Cinta teramat penuh rahasia. Atau Kaysan memang sengaja merahasiakannya, agar aku tidak terlena dengan lubang dusta yang perlahan mengerogoti rasa percaya.


*


Pias mentari menyinari kaca jendela, cahayanya samar menerpa tubuhku yang meringkuk memeluk boneka.


Pagi yang hangat.


Mataku perlahan mengerjap, menyesuaikan dengan kondisi cahaya, seakan tertusuk dengan warna pink yang mencolok mata, aku memilih untuk memejamkan mata lagi sebentar saja.


Tadi malam, Sadewa dengan konyolnya mengambilkan baju ganti ku, termasuk pakaian dalamku. Ia mengernyit sambil berkata, 'model yang aneh', tentu wajahku tersipu malu. Hanya aku, Kaysan, Sadewa, dan abdi dalem bagian pencuci baju yang tahu model pakaian dalamku. Tapi, itu hanya aku gunakan saat bermalam dengan Kaysan. Entah kenapa bocah gemblung itu memilih pakaian dalam yang sedikit nakal.


"Model apa yang aneh?" tanya Nakula.


Aku menaruh jari telunjuk ku di depan mulut, sambil berkedip pada Sadewa. Dia mengangguk, "Mbak harus aman, aku serahkan padamu adik ku, terserah mau dibawa kemana Mbak Jani malam ini." titah Sadewa sudah selayaknya Patih kerajaan yang memberi wewenang.


"Sendiko Dhawuh, Kangmas." Nakula membungkuk.


"Sudah-sudah kalau mau wayangan jangan disini."


Kami bertiga berada di depan gerbang, disaksikan Parto yang tersenyum lebar. Dasar, dia pasti tahu aku sedang kelimpungan.


"Nakul, ayo. Mbak sudah kedinginan."


"Iya."


Jadilah aku disini sekarang, kost-kostan penuh Hello Kitty berwarna pink. Sangat kontras denganku yang menyukai warna hitam, tapi aku suka apalagi boneka ini. Sepertinya aku bawa pulang satu boleh, untuk menemani kegelisahanku. Aku mengeratkan pelukanku pada boneka. Hingga terdengar suara ketukan di pintu kamar.


Aku beranjak, mengikat rambutku dengan asal. Untuk apa Nakula datang sepagi ini, bahkan jam kuliah masih dua jam lagi.


Ku buka pintu kamar, dari bawah ku lihat sepatu fantofel resmi dengan celana kain yang ia kenakan. Semakin ke atas semakin jelas siapa yang berkunjung menemuiku sepagi ini.


Ia memakai masker dengan kacamata hitam yang membalut matanya. Diam, tak berbicara.


Aku mendengus kesal, ku buka lebar pintu dan duduk diatas permadani bergambar Hello Kitty. Sungguh, mata Hello Kitty ini seperti mengawasi gerak-gerik ku.


Kaysan menutup pintu dengan kencang. Ia melepas masker dan kacamata, membuangnya asal.


"Bukankah aku bilang untuk tetap dikamar. Tidak bisakah kamu menurutinnya."


Kaysan tak melepas sepatunya, aku kasian pada Hello Kitty yang terinjak oleh sepatu Kaysan.


"Maaf, Jani yang salah."


"Pulanglah." Kaysan mengelus rambutku. "Jangan sentuh! Belum mandi." Aku menepis tangan Kaysan.


Dia cukup kaget dengan balasanku.


"Mandilah, aku antar ke kampus."


"Mas berangkat kerja saja, jam kuliahku masih dua jam lagi. Ada tugas yang belum aku kerjakan. Lagipula bukankah mas memiliki banyak tanggung jawab dengan pekerjaan, Jani tidak mau dianggap menjadi penghambat."


Aku membuka tas ranselku, mengeluarkan laptop dan membukanya. Di kolom Microsoft word, sudah ada jawaban dari pertanyaan yang belum aku selesaikan semalam. Aku menoleh ke Kaysan, "Kamu yang jawab ini, mas?" Kaysan hanya mengangguk.

__ADS_1


"Lain kali biar Rinjani kerjakan sendiri."


"Bagiamana rasanya tidur sendiri, Jani?"


Astaga, apa yang ada dipikirannya.


"Aku tidak sendiri, aku bersama bayanganmu.


Bagaimana denganmu, Mas? Seatap dengan Nurmala Sari." tanyaku masih sibuk mengetik sesuatu di keyboard laptop.


"Berbalik dan tatap aku, Rinjani." Kaysan memegang bahuku. Aku menghela nafas dalam, lalu berbalik ke arah Kaysan.


"Bagaimana rasanya, Mas? Katakan." Aku beranikan menatap Kaysan, menyelami sorot matanya.


"Aku hanya memikirkanmu, aku sepi tanpamu."


Sarapan apa Kaysan, hingga bibirnya dengan fasih berkata sok romantis. Di fase ini aku masih belum percaya.


"Mas sepertinya kurang tidur, atau mas terlalu bahagia setelah bertemu dengan Nurmala Sari. Pergilah kerja, nanti Jani pergi naik ojek online."


Kaysan menggengam tanganku, "Marah."


"Tidak marah."


"Lalu kenapa wajahmu tertekuk?"


Aku mengambil masker dan kacamata Kaysan. Memakaikannya.


"Pergilah mas, nanti Jani pulang jika keadaan sudah tenang."


Aku tersenyum kecut, "Tidak ada yang salah dengan Nurmala Sari, disini hanyalah posisiku yang belum dianggap pasti. Tak mengapa, Jani suka seperti ini, paling tidak ada waktu untuk ku bernafas sejenak dari aturan di rumah."


Kaysan memelukku, "Bersabarlah kekasihku, aku tahu kamu tertekan dengan semua ini."


"Sudah sana pergi. Jani mau mandi, lagipula Jani harus menyapa tetangga baru di kost ini." Aku mendorong tubuhnya, tapi tak jua bergeming dari tempatnya.


"Sepertinya kebanyakan dosa, berat sekali." keluhku sambil membuka tas ranselku, ya, mengambil sepaket pakaian dalam dan baju ganti ku. Celana jeans, kaos putih dan blazer hitam.


"Aku menunggu." katanya sambil melepas sepatunya.


"Tidak perlu! Aku mandinya lama, satu jam."


"Buktikan."


Lelakiku memang menyebalkan. Dia malah asik membuka jasnya, menyampirkan pada gantungan dibalik pintu.


"Pergi sana, ini kost muslimah. Mas, mau menodai kesucianku, menodai harga diriku karena berada di dalam satu kamar dengan laki-laki." Aku melengos masuk ke dalam kamar mandi, bahkan keset kaki bergambar Hello Kitty. Astaga, handuknya juga. Nakula sebenarnya ada apa denganmu.


Akhirnya aku mandi menggunakan gayung lagi, jiwa katrok ku masih melekat, dan aku senang. Tapi tidak setelah aku menggunakan baju ganti ku, CD G-STRING ini begitu membuat sela-sela pantatku gatal. Apa lagi BHnya, renda-renda.


Aku ingin mengutuk Sadewa, bodohnya.


Aku keluar dari kamar mandi, terlihat Kaysan justru merebahkan dirinya diatas kasur.

__ADS_1


"Mau kerja atau tidur lagi?" tanyaku sambil merogoh tas ransel mencari bedak dan lipmatte.


"Hanya merasakan kasurmu, apa nyaman atau tidak. Sepertinya boleh tidur disini sebentar saja."


"Tidurlah, Rinjani akan pergi ke kampus. Jangan lupa kunci yang rapat."


"Temani sebentar." Kaysan menepuk bantal di dekatnya.


Dahiku mengerenyit, "Tidak usah macam-macam!"


"Tidak. Aku hanya ingin mengganti malam yang terlewatkan."


Aku menghela nafas, bagaimana bisa aku menuruti Nakula untuk marah secara elegan. Sungguh kata-katanya banyak mendoktrin otak ku.


Aku tidur disamping Kaysan. Memeluk tubuhnya yang dibalut kemeja batik motif lurik. Berkali-kali dia menguap, setelahnya memejamkan mata.


"Puk... puk." Lalu direngkuh tubuhku masuk ke dekapan hangat.


Aku menepuk-nepuk pundaknya, hingga terdengar suara dengkuran halus. Kaysan benar-benar tidur. Aku mengeluh.


Ku singkirkan tangannya, ku kecup juga pipinya. "Andai kamu tahu mas, aku tak hanya tertekan dengan aturan, tapi aku juga tertekan dengan perasaan. Aku harus membendung air mata, karena aku tahu, menjadi dirimu tak mudah, apalagi menjadi aku sekarang. Bukankah kita sama-sama berjuang mengolah perasaan yang kadang menjadikan kita seperti tak punya cara lain untuk bersandiwara dengan keadaan."


*


Aku sudah berada di kampus, ku lihat Nakula dan Sadewa berjalan beriringan.


"Kembar..." panggilku berteriak, meraka menoleh. Sadewa melihatku dari atas ke bawah, sambil terkekeh kecil.


"Diam!" Dia tahu apa yang aku kenakan, sedikit saru mungkin pikirnya.


"Apa mas Kaysan tidak tidur tadi malam?"


"Kenapa?"


"Mas Kaysan tidur di kost-kostan, aku tinggalkan dia disana."


Sadewa dan Nakula menepuk jidat secara bersamaan, "Mas Kaysan memang tidak tidur tadi malam, hanya bedagang main game sambil mengerjakan tugas kuliah, Mbak."


"Lalu bagaimana Nurmala Sari?"


"Tidur dirumah utama."


"Lalu apa hari ini Nurmala Sari akan berkunjung lagi ke rumah?"


"Tidak, tapi besok malam Minggu."


"Yes! Aku bisa tidur di kost-kostan dengan Anisa, aku juga bisa ketemu Nina." Aku bersorak gembira.


"Mbak yakin? Besok malam Minggu Nurmala Sari akan menari."


"Menari dengan mas Kaysan, seperti saat mereka kecil dulu."


Aku menepuk jidatku, dua kembar sialan ini memang tidak pandai menjaga rahasia atau menutupi sesuatu yang menyulut rasa cemburuku.

__ADS_1


Happy new year dear reader 🎉🎉🎉selamat menikmati malam dengan orang terkasih. Raharja tataning praja, berkah sagunging titah, Rahayu kang Sarwa tinemu.


__ADS_2