Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 42. [ Mau nikah ]


__ADS_3

Tiga hari sebelum upacara pernikahan, aku diboyong ke sebuah rumah, entah siapa tuan tanah ini. Rumah minimalis ini terlihat nyaman sekali untuk di tinggali. Banyak sekali tanaman hias yang ditata rapi di pekarangan rumah.


Ku langkahkan kakiku mengikuti abdi suruhan Kaysan.


Diruang utama rumah ini, aku terkejut bukan main, foto-fotoku tergantung di dinding rumah ini. Termasuk sketsa ibu dan ayah yang mendampingi piguraku.


Aku tahu pasti ini kerjaan Kaysan, hanya satu laki-laki yang membuatku terkesan dengan kejutan-kejutan yang dia berikan.


Aku maki Kaysan dari kejauhan, dia semakin membuatku merasa menjadi tuan putri dadakan. Membuatku merasa menjadi lebih berarti dan diharapkan.


Oh Kaysan... Kakandaku sayang. Tunggu aku di kediamanmu nanti malam.


*


Sewaktu fitting baju sepuluh hari yang lalu, kami berdebat alot di butik langganan keluarga Kaysan.


Aku bersikukuh ingin memakai kebaya putih biasa, dia bersikukuh memakai busana Basahan dengan banyak kain yang akan melilit tubuh. Satu kali mencobanya saja sudah cukup membuatku kesulitan bernafas.


Akhirnya aku mengalah, menurut saja dengan yang punya titah. Toh aku juga tidak mengeluarkan sepersen uang. Semua itu ditanggung Kaysan. Aku hanya perlu menyiapkan jiwa ragaku, jiwa yang akan berkelana di sesuatu yang baru. Jiwa yang harus siap dengan segala hal yang akan terjadi. Kalau dibilang nekat, jawabannya memang iya. Entah darimana nyali yang aku dapat, nyaliku sungguh berani sekali menerima pinangan dari anak Raja.


Nanti sore adalah tradisi sungkeman dan siraman yang akan aku lakukan. Setelah tadi pagi hampir menjelang siang, pemasang bleketepe, tarub, dan tuwuhan selesai dilakukan.


Bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa ini akan dipasangkan dengan tuwuhan. Tuwuhan dipasang di kiri dan kanan gerbang biasanya isinya adalah tumbuh-tumbuhan. Salah satu yang wajib ada adalah pisang raja, kelapa muda, batang padi, dan janur. Pemasangan bleketepe, tarub, dan tuwuhan selain menjadi tolak bala. Tradisi ini berisi harapan pasangan yang akan segera menikah. Diharapkan memperoleh keturuan yang sehat, berbudi baik, berkecukupan dan selalu bahagia.


Aku gelisah, hatiku tidak tenang. Bapak tak kunjung datang. Lalu siapa yang menemani aku nanti selama prosesi berlangsung, bahkan nanti malam juga aku akan menjalani prosesi tantingan dan midodareni.


Aku butuh teman untuk bercerita, tapi sayangnya aku dikurung di dalam kamar sendirian. Suara kesibukan terdengar diluar kamar, entah apa yang disiapkan oleh suruhan Kaysan. Aku sama sekali tidak bisa melihatnya. Katanya aku sedang di pingit, tak boleh kemana-mana sampai proses ijab kabul nantinya.


Kaysan hanya berpesan kepadaku sebelum perpisahan sepuluh hari yang lalu untuk menuruti semua yang dikatakan abdi yang menjaga di rumah ini. Sesepuh inilah yang menemaniku sejak kepindahanku dari kontrakan. Beliau yang mengatur semua prosesi yang akan terjadi di rumah ini.


Waktu merangkak naik, siang yang panas mulai digantikan dengan cahaya senja yang merona. Hari ini pukul tiga sore, pintu kamarku terbuka.


"Cah ayu, makan dulu." Satu nampan berisi jamuan makanan tersedia berbagai macam. Mataku berbinar saat sebongkah coklat berada di nampan itu.


"Mbok, bapak sudah datang?" Aku khawatir karena sedaritadi tak kudapati ketukan pintu dengan pria paruh baya menyebalkan itu berdiri di depanku. Bagaimana jika bapak tidak datang, sedangkan semua sudah tersiar.


"Makan dulu, setelah itu mandi. Tim perias sudah datang menunggumu." Mbok Darmi mengelus punggungku, "Sabar, tenanglah. Jangan grusa-grusu." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Tapi Bapak, Mbok."


"Nanti Bapak datang, sudah ayo makan. Apa perlu Mbok suapi?"


Kepalaku mengangguk, untuk mengangkat sendok saja tanganku sudah tidak kuat. Memikirkan kehadiran wali nikahku membuatku cemas dan lemas. Tanganku sudah basah dengan keringat dingin, wajahku masam tidak karuan.


"Buka mulutmu cah ayu." Satu suapan pertama mendarat ke mulutku.


"Den bagus juga sedang melakukan prosesi yang sama sepertimu." jelas Mbok Darmi.


Bagaimana wujud Kaysan sekarang, pasti sangatlah tampan. Bahkan gula yang berada dipabriknya tak mampu mengalahkan senyum manisnya. Ah!


"Mbok, ceritakan sewaktu mas Kaysan masih kecil." pintaku dengan penuh harap.


"Nanti kamu tahu sendiri cah ayu. Ayo habiskan makanmu, terus mandi, dan dirias biar tambah cantik. Pasti besok 'den bagus pangling melihatmu." Godanya sambil menguapiku lagi.


"Mbok..."


"Sudah, ayo banyak yang harus di lakukan."


Aku berdiri di sebelah pintu sebelah, terdengar ada empat perias yang sedang bergunjing. Apa lagi yang mereka gunjingan selain diriku, mengatakan jika aku memakai pelet untuk mendapatkan Kaysan. Sungguh persepsi yang salah. Mereka tidak tahu, jika aku terlalu naif untuk pernikahan ini.


Mbok Darmi membuka pintu itu dengan seketika mulut mereka langsung terbungkam rapat.


"Kerjakan semua yang sudah di titahkan kepada kalian untuk merias gadis itu. Jika kalian keberatan, lepaskan gelar dan siap-siap diasingkan." Mulutku ternganga, jadi hukuman dari pengkhianat kerajaan adalah benar-benar diasingkan.


"Cah ayu masuk." Aku bergeming dan masih menundukkan kepalaku.


"Angkat kepalamu dan tunjukkan wajahmu dengan orang-orang yang merendahkanmu, Rinjani." Leherku tercekik, Mbok Darmi adalah wanita sepuh dengan perangai tegas dan berani.


"Mbok..."


"Sudah duduk yang manis, biarkan orang-orang ini merias wajahmu. Mbok tunggu disini."


Aku mengangguk, dengan cepat duduk di kursi rias. Wajahku terpantul di cermin, wajah yang akan dihiasi dengan make up tebal yang jarang aku poleskan.


Selang sembilan puluh menit, tubuhku sudah dibalut dengan kebaya berwarna hijau muda dengan jarik yang membelit pinggangku. Kepalaku disanggul polos dengan hiasan melati putih.

__ADS_1


Aku dibantu Mbok Darmi untuk berjalan ke kamarku.


Tepat pukul 16.56, tiga mobil iringi-iringan datang di kediaman rumah tuan tanah. Dari balik jendela aku bisa melihat keluarga Nina, keluarga Bu Rosmini dan Mak'e datang dengan baju yang terkesan dibuat seragam. Apa ini kerjaan Kaysan, rasanya sukmaku ingin melayang memeluk tubuhnya dari belakang.


Aku terkesima, dia benar-benar melakukan semuanya dengan seksama. Tidak ada satupun detail yang ia tinggalkan.


Kini satu lagi mobil yang belum terbuka pintunya. Aku masih menunggu dari balik jendela. Tak lama, pria bernama Herman datang dengan setelan jas hitam dan kain jarik yang membelit pinggangnya, tak lupa blangkon gaya Jogja menghiasi kepalanya.


Ku lihat banyak perubahan yang terjadi di tubuh bapak. Matanya tak lagi hitam karena sering begadang dan mabuk-mabukan. Perut yang tambun sudah sedikit singset. Rambutnya cepak, rapi, jalannya sudah seperti peragawan.


Sejauh mana orang Kaysan mendidiknya, bapak yang dulu seperti menghilang. Ku tatap Herman yang tersenyum riang. Ah, bapak.


"Cittt cuittt..." Aku menoleh, Nina tersenyum dengan penuh maksud.


"Apa?" cecarku cepat.


"Uluh uluh calon manten, cantiknya." Goda Nina lagi sambil menghampiriku.


"Kamu juga cantik, Nin." Kami berpelukan sebentar.


"Hahaha, manten macam apa kamu ini."


"Manten jaman now dong."


"Tapi riasanmu old banget, Jani. Kamu seperti gadis jaman dulu yang dinikahi secara paksa."


Aku terkekeh, jelas bukan itu maksud Nina, aku tahu.


"Nanti malam temani aku ya, Nin."


"Pasti, disini banyak makan soalnya." Senyumnya sumringah. Ku tepuk lengannya yang sintal. "Aku bakal kangen kamu, Nina."


"Berbahagialah Rinjani. Sebentar lagi acara sungkeman dan siraman akan berlangsung, berdoalah."


*


Next. 💚

__ADS_1


__ADS_2