Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Sadewa I ]


__ADS_3

Petang ini aku tak ingin ke mana-mana. Dan, aku sudah kehilangan semangat untuk pergi ke kondangan. Bayangan Nakula bercinta sepanjang hari, sudah mampu menggoyahkan niatku untuk memilih Irene atau Isabelle. Keduanya sangat berarti untukku, atau sebenarnya aku belum siap melepas salah satunya.


Di sampingku, masih banyak tumpukan skripsi yang harus di revisi. Belum lagi editing foto untuk majalah clothing milik mas Nanang.


Aku menghela nafas, belum nikah aja udah ribet sama urusanku sendiri. Bagaimana jika aku menikahi keduanya. Makin ribet banget.


Pada saat aku membuka laptop, suara ketukan di depan pintu terdengar.


"Masuk." jawabku.


Bunda menatapku.


"Ada apa, Bun?" tanyaku sembari mencari file foto dan memindahkannya ke Corel draw.


"Kamu yakin mau membawa semua pacarmu dihadapan Ayahanda?" tanya Bunda, membuka almari dan mengambilkan baju kejawen yang harus aku kenakan nanti.


"Kalau pendapat Bunda gimana?"


"Irene dan keluarganya hanya dua Minggu di sini, Wa. Tidak bisakah kamu memberi kesan yang baik untuk Irene dan keluarganya. Kasian Irene. Dua tahun pacaran denganmu yang ia dapat hanyalah kejutan yang menyakitkan."


Bunda menaruh baju di atas keyboard.


"Mandi, dan siap-siap! Nakula dan Kaysan juga akan datang." kata Bunda, lalu mengambil blangkon dari lemari kaca.


Bertemu Nakula setelah satu hari berpisah sama seperti bertemu Irene. Hatiku berbinar senang. Banyak pertanyaan yang harus aku ajukan padanya.


"Bunda keluar, setengah jam lagi bertemu di parkiran."


Aku berdehem sambil menyaut handuk untuk mandi. Setelah selesai bersiap-siap dan memakai atribut lengkap baju kejawen, kadar ketampanan ku meningkat. Tak lupa ku semprotan cairan parfum di bajuku.


Seperti biasa, bukan hanya perempuan saja yang suka ribet jika menggunakan kain jarik. Laki-laki pun begitu, termasuk aku. Kalau tidak kencang membelitnya, nanti melorot. Kalau terlalu kencang, jalannya pun susah.


Aku keluar dari kamar sembari menyampirkan tas berukuran kecil untuk menaruh handphone dan dompet.


Di pelataran parkir aku masih menunggu Ayahanda dan Bunda datang. Jika mau kondangan, Bunda pasti dandannya lama. Apalagi nanti Bunda pasti menyempatkan diri untuk bernyanyi.


Sambil menunggu orangtuaku, aku memilih untuk bersandar di mobil dan menghubungi Irene.


Irene • Hai...


Aku • Sedang dimana?


Irene • Aku dan Papa di toko kue milik Laura. Kenapa?


Aku • Besok makan malam di rumah, Beb. Ajak Papa juga. Aku mau bicara.


Irene • Bicara apa? Aku sedang tidak mau patah hati Sadewa.


Aku • Enggak! Aku janji Beb. Aku jelasin semuanya. Besok datanglah. Lagipula Bunda akan mengajakmu jalan-jalan keliling kota.


Maaf Bunda, aku terpaksa menyeret bunda dalam urusan cinta ini.


Irene • Lalu kapan kita jalan berdua?


Ah ya... Aku lupa janjiku.


Aku • Malam ini aku harus ke kota sebelah untuk menemani orangtuaku kondangan. Bagaimana jika besok lusa? Lagipula besok kita ketemu.


Irene • Janji? Aku rasa semakin cepat semakin baik. Aku juga perlu bicara serius denganmu.


Jangan sampai Irene minta putus... Jangan...


Belum sempat aku merayu. Sambungan telepon sudah terputus.

__ADS_1


Irene...


Sontak aku ingin membanting ponselku. Tapi sayang, aku masih ingat. Ponselku masih baru.


Mas Santosa membuka pintu mobil, di ikuti Ayahanda yang tersenyum ke arahku.


"Kenapa dengan Irene?" tanya Ayahanda.


"Apa rencana Ayahanda besok?"


"Itu rahasia. Ayo segera berangkat, Nakula dan Kaysan sudah dalam perjalanan menuju rumah keluarga Tirtodiningrat."


"Mana Bunda?"


Aku menoleh ke belakang, saat Bunda meminta agar tidak meninggalkannya.


Tergesa-gesa Bunda berjalan sembari membubuhkan bedak di wajahnya.


"Bunda tadi kesusu, sekarang malah belum siap." ujarku, mengambil tas tenteng yang Bunda serahkan.


"Bunda kan harus menyiapkan keperluanmu dan Ayahanda. Baru Bunda bisa siap-siap."


Bunda kembali meniti wajahnya di kaca spion mobil.


"Lipstik, lipstik...!"


Buru-buru aku merogoh tas tenteng milik Bunda. Karena tak segera mendapati lipstik permintaan Bunda. Aku membuka tas itu lebar-lebar dan mengamati isinya.


"Mana, Wa!"


"Sebentar to, Bun!"


Ku ambil satu persatu isi tas tenteng Bunda.


"Bundaaaaaa..."


Bunda terperanjat.


"Apa sih, Wa?" tanya Bunda, lalu menyaut barang yang ada di tanganku.


Senyum Bunda malu-malu. Terlebih Ayahanda yang tahu hanya menggeleng sambil berdecak kagum.


"Benda ajaib ini. Kalau bocor, perut Bunda akan membesar seperti balon kalau ditiup."


Aku menyerahkan tas Bunda, dan masuk ke dalam mobil.


"Ayahanda."


"Iya putraku."


"Apa syarat yang harus aku penuhi jika memiliki istri dua?"


Mas Santosa menoleh setelah men-starter mobil.


"Apa? Jangan ikut campur, urus saja Mbak Nindy!" Gosip yang beredar memang begitu, Mbak Nindy sedang PDKT dengan mas Santosa. Tapi sayang, sepertinya cinta Mbak Nindy bertepuk sebelah tangan, karena mas Santosa hanya menganggap Mbak Nindy seseorang yang perlu ia hormati.


"Selesaikan kuliahmu dan carilah pekerjaan. Tidak bisa menikah jika kamu belum menyelesaikan tanggung jawabmu sebagai mahasiswa dan calon kepala rumah tangga."


Aku manggut-manggut pasrah, karena aku belum sanggup menyelesaikan tanggung jawabku. Lagipula, masih ada mas Nanang yang belum ada niatan untuk menikah.


Bunda masuk ke dalam mobil, dandannya sudah rapi dan terlihat menter.


Kamipun bergegas menuju kota sebelah. Tapi pikiranku bercabang seperti jalanan yang kami berempat lewati. Apa menikah dan kawin seasyik itu? Hingga Bunda dan Ayahanda yang sudah berusia lanjut masih berhubungan badan.

__ADS_1


Selama perjalanan tak kurang dari dua jam. Aku terus berpikir keras, tapi hasilnya nihil. Aku pusing sendiri.


"Sudah sampai, Wa. Ayo temui keluarga yang lain."


"Nakula udah sampai, Bun?"


"Cari saja mobil mas Kaysan."


"Kenapa Nakula sering bersama mas Kaysan sekarang!"


Aku sewot, marah, dongkol. Nakula baru menikah sehari saja sudah melupakan aku yang menemaninya sejak dulu.


"Nakula sedang belajar menjadi laki-laki dewasa. Dan, bagaimana memposisikan diri sebagai suami yang baik."


"Tapi, Bun! Nakula dan mas Kaysan itu beda. Beda banget." ujarku tidak terima.


"Makanya jadilah saudara kembar yang memberinya semangat. Bukan malah mau menganggu mereka malam pertama!" Bunda keluar dari mobil, disambut uluran tangan dari Ayahanda.


Suasana sudah sangat ramai. Begitu juga kedatangan Ayahanda yang memicu terjadinya keriuhan diantara tamu undangan.


Aku tersenyum sembari membalas sapaan akrab dari para tamu lainnya. Ngobrol ngalor-ngidul membahas hal-hal tidak penting.


Setelah memberi selamat kepada kedua mempelai. Mataku mencari dimana saudara-saudaraku. Sungguh, tidak ada Nakula di sisiku, membuatku linglung. Aku seperti berjalan tanpa arah, membisu tanpa sadar.


"Kenapa semua orang bertanya, aku kapan nikah, Bun?" tanyaku sembari mengambil es buah. Tepat setelah Bunda bernyanyi di atas panggung, Bunda menghampiriku yang duduk sendiri.


"Karena kembaranmu sudah nikah!" jawab Bunda.


"Memang kalau kembar harus apa-apa sama? Upin dan Ipin saja beda. Upin pakai baju kuning, Ipin pakai baju biru."


Bunda terkekeh, "Nakula... Lihatlah, saudaramu galau kamu tinggalkan seharian."


Aku berbalik, benar saja Nakula ada di belakangku. Ia tersenyum, meski wajahnya terlihat lelah. Disampingnya ada kak Rahma yang tersenyum lebar sambil menggandeng tangan Nakula.


"Nakula..." Aku berdiri, lalu meminta Nakula untuk membalas pelukanku.


"Kamu kenapa, Wa?" tanya Nakula, sungguh hatiku terluka. Apa dia tidak merasakan apa yang aku rasakan.


"Jahat..." kataku. Wajahku sudah seperti uang lima ribu yang terlipat lama di dalam kantong celana. Lecek.


Kak Rahma melepas genggaman tangannya. Ia mengantar Nakula ke hadapanku.


"Jangan lama-lama meluknya." kata kak Rahma.


Nakula mengangguk, lalu merentangkan kedua tangannya.


"Sadewa." panggilnya.


"Jangan lama-lama perginya!!!" Aku mendekap erat tubuhnya. Bodoh amat dengan sorak sorai yang mengatakan aku harus cepat nikah.


"Bagaimana malam pertama? Kamu sudah melakukan hal yang sering mas Kaysan dan Mbak Jani lakukan?" tanyaku.


Nakula melepas pelukannya. Kepalanya mengangguk pelan. Lalu kembali berdiri dibelakang kak Rahma.


"Kakak..." panggilnya.


"Apa?" jawab kak Rahma.


"Sadewa penasaran." Wajah merah Nakula ia sembunyikan di balik sanggul rambut kak Rahma. Sedangkan tangannya ia taruh di pinggang kak Rahma.


Selang berapa menit, anggota keluarga mas Kaysan datang. Membuat aku semakin tersudut. Aku bagai jomlo yang kesepian. Menyaksikan dua keluarga yang begitu bahagia dengan canda tawa yang mengambil topik permasalahan cintaku.


Happy reading 💚😂

__ADS_1


__ADS_2