
Layaknya di dalam gedung bioskop, pertunjukan teaterikal wayang orang yang di dalamnya terdapat suamiku, begitu memukau para penonton. Pertunjukan yang mengusung kisah cinta Rahwana membuat ku semakin mengerti jika cinta memang tidak memandang rupa.
Seperti cinta Dewi Setyawati terhadap Rahwana. Penguasa kegelapan dan Raja Alengkadireja. Semua hal buruk sudah dinisbatkan sejak ia lahir, bahkan ia disebut juga anak haram. Wajahnya carut-marut tak mempertontonkan keindahan bahkan tak sedap di pandang.
Rahwana tak lebih dari seorang raksasa pembuat onar yang beruntung dicintai Dewi Setyawati, begitupun Rahwana ia hanya mencintai satu wanita. Hingga Dewi Setyawati meninggal, dan titisannya menjadi Dewi Sinta.
Romansa Rahwana berawal dari sini. Cintanya yang masih tersimpan utuh terhadap Dewi Setyawati, membuatnya harus merelakan Dewi Sinta yang notabene sudah menjadi istri Rama dari raja Ayodya. Atau, merebutnya kembali dari Prabu Rama Wijaya, apapun taruhannya termasuk nyawa.
Rahwana gelap hati, ia memilih keduanya. Dengan ilmu yang ia miliki, Rahwana menculik Dewi Sinta dan menaruhnya di argosoka. Taman yang dikabarkan seperti surga di khayangan.
Bertahun-tahun ia menyekap Dewi Sinta, berkali-kali mengucapkan kata cinta yang tulus dari dalam hatinya, berkali-kali pula Dewi Sinta menolak Rahwana. Baginya dia hanya milik sang Prabu Rama Wijaya.
Hingga suatu hari, Rahwana menjerit keras. Ia patah hati, cintanya kandas. Ia mengajak berduel dan mengatakan kepada prabu Rama bahwa ia mencintai Sinta. Pertarunganpun tak terelakkan. Rahwana kalah telak atas prabu Rama Wijaya yang mengajak balatentara dan adik dari Rahwana untuk menewaskan Rahwana. Ia mati dengan cinta yang mendalam untuk Dewi Sinta.
*
Aku terharu melihat kinerja suamiku yang dibantu Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya. Kedua kakekku itu menjadi Anoman yang membantu menumbangkan Rahwana.
Rahwana tak selamanya buruk rupa ataupun buruk hati, ia memiliki ilmu sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu, yang mampu membuat kerajaan Alengkadireja menjadi tanah yang sejahtera, dan aman. Iapun tak pernah menyentuh dan menggoda Dewi Sinta. Rahwana benar-benar menghormati Dewi Sinta layaknya laki-laki yang menjaga martabat seorang wanita. Diam-diam tanpa sepengetahuan Rahwana, dewi Sinta juga mencintai Rahwana karena kegigihannya, namun ia tak mau menodai moral wanitanya dan berselingkuh dari Prabu Rama Wijaya.
Sambutan hangat dari Kaysan selaku ketua dan penggagas teaterikal wayang orang. Membuat anak didiknya yang ikut memerankan karakter-karakter dalam sandiwara kisah cinta Rahwana ini mencurahkan air matanya bahagia. Bagi mereka, kisah cinta Rahwana untuk Dewi Sinta ataupun Dewi Setyawati seperti kisah cinta, "Beauty and the beast" dengan kearifan lokal.
*
Hari sudah petang namun kehangatan masih terasa di studio teater milik sekolah swasta yang memiliki fasilitas lengkap. Banyak keluarga dari para anak didik Kaysan yang memilih untuk berswafoto dengannya. Kaysan yang seorang introvert hanya bisa tersenyum sambil menuruti keinginan mereka. Tak lupa banyak cenderamata yang keluarga mereka berikan, sebagai hadiah atas pencapaian sandiwara yang membuat nilai anak mereka terpenuhi dengan baik.
Hari ini aku ikut menyaksikan pertunjukan teaterikal karena Kaysan memberiku undangan khusus. Begitu juga Keenan, dan Bapak. Mereka mendapat undangan dari Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya.
Aku menunggu Kaysan keluar dari ruang tata rias. Menginjak trimester kedua aku semakin dibuat sering kelaparan oleh janin yang sudah di beri nafas kehidupan. Usianya sudah empat bulan. Kata eyang Dhanangjaya, dari sinilah peran orangtua dimulai. Janin kecil ini sudah bisa merasakan semua hal yang aku rasakan. Bahkan ia juga dapat mendengarnya. Lewat tali pusat ia akan menerima rangsangan apa saja yang aku rasakan. Aku gemas, apalagi perutku sudah tak sedatar dulu. Badanku sudah sedikit mengembang. Kata Kaysan aku seksi.
"Bagaimana tadi?" Kaysan datang, wajahnya sudah tak di tutupi makeup.
"Luar biasa. Tak sia-sia aku menunggumu dengan sabar." kataku sambil menghambur ke pelukannya.
"Ayo kita makan malam. Anakku pasti sudah lapar." Ajaknya, ia merangkul bahuku dan mengajakku ke arah parkiran.
__ADS_1
Sedangkan anak-anak didik Kaysan bersorak.
"Mr. Kay, we need more niece."
Mereka tertawa saat aku menoleh kearah mereka.
"Mas, apa mereka tahu aku lagi hamil."
Kaysan mengangguk, "Liburan musim panas nanti mereka akan datang ke rumah." jelas Kaysan yang membuat mataku mendelik.
"Semuanya?"
Kaysan mengangguk dan tersenyum, "Katanya mau party." Ia mengambil kunci mobil dan membukanya. Tak luput, semua cenderamata sudah Kaysan masukan ke dalam bagasi mobil.
Bapak, Keenan dan kedua kakekku sudah pulang terlebih dahulu.
"Mau makan malam dimana, mas? Jani pengen nasi goreng."
Mobil melesat keluar dari area parkir sekolah. "Kita cari tempat makan yang menyajikan makanan Indonesia."
"Boleh, tapi tidak gratis." Mobil berhenti di rambu lalu lintas. Kaysan menganggat daguku.
"Kasih cium dulu, nanti aku kasih semua yang kamu mau."
"Genit banget sih, mas." Aku mencibir Kaysan saat ia sudah memiringkan kepalanya.
"Kamu belum memberiku apa-apa, cepatlah. Rambu lalu lintas akan berubah warnanya."
Laki-laki tetaplah laki-laki. Aku melepas sabuk pengaman, dan merangkulkan tanganku di leher Kaysan.
"Sedikit saja, lanjutnya nanti dirumah." Bibir kami bertemu, kecupan lembut berlabuh pada bibir Kaysan. Kaysan mengulum sebentar lalu tangannya yang kekar seakan tidak mau diam. Ia meremas payudaraku hingga aku melepas ciumanku.
"Heiii! Itu curang." Aku mencubit tangannya.
"Cuma curi start saja tidak boleh, aku sudah menahannya selama 4 bulan. Aku butuh dessert malam ini." Kaysan menunjukkan wajah masam.
__ADS_1
"Iya-iya, tapi Jani lapar mas. Ayo makan dulu, kalau sudah banyak energinya nanti aku kasih jatah."
Kaysan tergelak, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju restoran Indonesia. Tepatnya di kawasan Central Business District (CBD) Melbourne, bersebelahan dekat dengan Queen Victoria Market. Kawasan yang tidak asing lagi bagiku.
Di restoran Pondok Rempah, aku benar-benar dimanjakan dengan olahan masakan Indonesia. Dari mulai nasi goreng kambing, rujak buah, hingga pisang goreng.
"Tidak perlu malu-malu, makanlah yang banyak." Kaysan memasang wajah mengejek, sedangkan aku tersenyum senang.
"Enak banget, kalau aku tambah gendut jangan protes."
"Kalau kamu tambah gendut, artinya kamu tambah besar." Kaysan menunjuk dadaku, "Baru makan juga mesum." Aku menaruh pisang goreng di mulut Kaysan.
"Mas juga harus makan yang banyak, biar kuat gendong kami berdua." Aku cekikikan saat Kaysan kesulitan mengunyah pisang goreng di mulutnya.
"Ditelan, awas kalau muntah!"
Mata Kaysan berair, ia dengan cepat-cepat pergi ke kamar mandi.
Aku tertawa, ku habiskan nasi gorengku sambil menunggu Kaysan datang.
"Sudah aku bilang, aku tidak suka gorengan."
Aku tersenyum lebar, Kaysan memang tidak suka gorengan. Ia lebih suka buah-buahan segar.
"Mau take away?" tanyanya, ia melihat semua piring habis tak bersisa.
"Enggak mas. Sudah cukup. Lihat ini perutku sudah besar."
"Itu ada isinya. Bukan karena kekenyangan." Kaysan mencubit hidungku.
"Aku pesankan beberapa menu untuk tengah malam nanti. Tunggu di mobil." Pinta Kaysan.
*
Sesampainya di rumah, keadaan benar-benar ramai. Bukan karena mobil Keenan masih ada di depan rumah, tapi suara dari dalam rumah yang membuatku penasaran. Bukan suara yang asing untukku dan Kaysan.
__ADS_1
Happy Reading 💚