
"Bagaimana hubunganmu dengan putriku?" tanya Kanjeng Sultan kepada saya. Di esok hari saat saya apel pagi sebelum berangkat menuju pabrik gula.
Ini adalah ritus saya setiap hari sebelum pergi menghadap GPH Kaysan.
"Tidak ada perkembangan, Gusti. Ngapunten." Saya mengatupkan kedua tangan di atas kepala. Tidak bermaksud untuk kurang ajar karena tidak bisa membalas cinta dari Raden Ayu Nindy.
Sultan Agung Adiguna Pangarep hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tidak masalah."
Bukan perkara mudah bagi saya menerka sendiri arti ucapan Kanjeng Sultan.
Tidak masalah artinya saya tidak perlu memakai perasaan saat dengan putrinya dan berlaku biasa-biasa saja.
Tidak masalah bisa juga bisa berarti saya yang akan terkena hukumannya, karena tidak bisa membalas cinta dari putrinya.
Saya bingung, tapi ya sudah. Kanjeng Sultan tidak pernah memaksa. Tapi kadang-kadang saya sering terintimidasi oleh tatapan matanya. Slalu syarat akan keseriusan.
Saya mengangguk pelan dan menunduk.
"Apa pesona ndoro ayu Rinjani belum memudar dari benakmu, Samudera?" tanya Kanjeng Sultan.
Mau berkata apa saya tidak bisa, toh saya masih mengaguminya. Mau jujur, tapi suaminya pasti cemburu.
Saya hanya mengatupkan kedua tangan---lagi tanpa bisa berkata apa-apa.
"Tidak keberatan setiap hari di sindir putraku, Kaysan?"
"Saya sudah biasa Gusti." jawabku.
Bagaimana tidak terbiasa, GPH Kaysan sering memberiku makan siang buatan istrinya kalau masakan itu tidak enak di makan, setiap hari hampir empat tahun lamanya. Entah apa yang salah dengan masakan yang di buat ndoro ayu Rinjani. Tapi memang kadang suka aneh-aneh rasanya.
Saya pun sering mendapat peringatan jika saya tidak boleh mencintai masakan istrinya, apalagi mencintai orangnya.
Sungguh saya tidak paham dengan jalan pintas yang GPH Kaysan lakukan. Ia ingin membuat istrinya senang, namun saya yang harus menjadi korban atas semua efek samping dari GPH Kaysan lakukan.
Rasanya tidak adil. Ia mencintai istrinya tapi tidak mau memakan hasil masakannya. Kalau begitu, apa bisa saya yang menggantikan posisinya? Hahaha, saya ingin tertawa... Suaminya pasti marah dan menggantung saya di pohon beringin untuk dijadikan sesembahan mereka yang tak kasat mata.
"Pergilah, biar Nindy menjadi urusanku." kata Kanjeng Sultan.
"Maaf Gusti. Biar saya bicarakan dengan Nindy terlebih dahulu. Selama ini saya belum bisa mengambil keputusan yang tepat dan tegas." jelas saya tidak berdaya.
Jujur, saya menginginkan pernikahan sekali seumur hidup dengan seorang gadis. Tidak perlu bangsawan, tidak perlu ningrat atau wanita kelas kakap. Saya hanya butuh gadis yang murni.
"Sudahlah Samudera. Nindy tetap akan bersikukuh mendekatimu jika kamu tidak segera mengambil keputusan. Putrimu memang bukan gadis lagi, kesalahanku karena dulu terlalu membebaskannya."
"Sendiko dhawuh, Gusti."
Hanya itu yang saya ucapkan sebelum Kanjeng Sultan keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Saya menghela nafas. Lalu melihat arloji di pergelangan tangan.
Rutinitas sehari-hari saya adalah menunggu GPH sarapan, kemudian mengantar R.A Dalilah sekolah, baru saya dan GPH Kaysan pergi ke pabrik gula atau ke istana.
Saya berjalan menuju pelataran parkir untuk memanaskan mesin mobil. Belum juga saya sampai, gadis yang menjadi sahabat ndoro ayu Rinjani berjalan menghampiri saya.
"Assalamualaikum, Om Santosa." sapanya.
"Om?" tanya saya lagi. Wajah saya masih muda loh, otot saya saja masih kekar dan sixpack. Saya masih pantas di panggil Mas.
"Jawab dulu salam saya!" tegasnya.
Hanya ada dua sahabat ndoro ayu Rinjani yaitu Nina dan Bu Rosmini.
Dua-duanya membuat saya suka senewen. Sama-sama galak.
"Waalaikumsalam Nina." jawab saya.
Dia malah tertawa, "Aku disuruh kesini karena dia meriang. Diminta jagain, sementara Mbak Nindy jagain Suryawijaya." jelasnya sekaligus laporan.
"Oh saya kira cari pangeran Nanang." ledek saya.
Gadis itu menajamkan matanya.
"Apa sih!!!" gumamnya.
Giliran saya yang tertawa... Meski tidak terang-terangan menyatakan cinta, tapi sepertinya persahabatan antara Nanang dan Nina sedang dalam masa renggang.
Entah cinta macam apa yang mereka jalani, tanpa status, tanpa ikatan, hanya bertumpu pada persahabatan.
Bukankah itu hal yang aneh dan sama-sama membuang waktu saja. Tidak pasti? Seperti hubungan saya dengan Nindy.
"Mari saya antar." kata saya mengajaknya menuju kamar ndoro ayu. Tapi gadis ini menukas.
"Aku sudah tahu dimana kamar Rinjani. Semua kamar di rumah ini aku sudah hafal. Termasuk kamarmu!"
"Ndoro ayu!" kata saya mengingatkan. Hanya kedua sahabat ndoro ayu yang berani memanggilnya tanpa gelar dan embel-embel. Tapi saya paham, kenapa ndoro ayu tidak mau di anggap berbeda.
"Sudah-sudah. Om Santosa membuang waktuku!"
"Hubungi saya kalau ndoro ayu demamnya semakin tinggi!"
Gadis itu hanya berdehem sambil lalu. Percuma saja saya mengingatkan, kedua sahabat lama itu kalau sudah ketemu lupa daratan. Yang satu lupa pulang, yang satunya lupa kalau sudah punya anak.
Tanpa sadar saya tersenyum dan menggeleng.
"Kenapa, Sam?" tanya GPH Kaysan, sudah di depan saya sambil menggandeng Dalilah.
"Tidak, Gusti." jawab saya.
__ADS_1
"Hari ini aku hanya ke sekolah Dalilah dan ke pasar. Istriku nyidam. Kamu di rumah saja, jaga-jaga kalau istriku dan Nina butuh apa-apa. Huft... hamil ketiga ini dia benar-benar kasian." kata GPH Kaysan, raut wajahnya khawatir tapi juga ada gurat senyum.
"Gala-gala baba, bubu jadi sakit!" timpal Dalilah.
"Baik... Saya akan menjaga di tempat biasa." ujar saya seraya membuka pintu mobil, GPH membantu Dalilah masuk ke dalam mobil dan memakaikan sabuk pengaman.
"Dalilah anak pintar. Duduk yang tenang." ujar baba Kaysan memperingati sebelum menutup pintu mobil.
Saya tersenyum, anak itu memang tidak bisa diam, dimana saja. Entah ibu dan bapaknya dulu makan apa dan nyidam apa.
"Nindy ada di taman belakang dengan Suryawijaya. Pergilah kesana." kata GPH Kaysan sebelum memutari mobil.
"Gusti... Saya ingin bicara, soal..."
"Beres, nanti malam temui aku di pendopo belakang. Ada Ayahanda dan Ibunda juga." Jawab GPH Kaysan sebelum saya menyelesaikan pembicaraan.
Sepertinya memang hubungan ini harus diperjelas. Nindy yang sudah menginginkan pernikahan dan saya yang sudah lebih jauh dari kata matang.
Saya berjalan ke taman belakang setelah mobil GPH Kaysan pergi.
Bunyi dencit ayunan yang bergerak membuat saya memastikan bahwa Nindy sedang mengajak Suryawijaya bermain. Sifatnya memang sudah keibu-ibuan, cantik, wajahnya khas orang Jawa. Sayang dia tidak menjaga kesuciannya hanya demi popularitas yang tinggi.
Menyesal karena itu, Nindy tidak pernah memaksa saya untuk menerimanya. Dia tahu kekurangannya, hanya saya yang tidak sanggup menerima itu.
"Sudah sarapan?" tanya Nindy setelah turun dari ayunan.
"Sudah. Bagaimana denganmu? Kalau belum biar saya gendong Suryawijayanya."
Nindy menggeleng, "Daritadi Suryawijaya rewel, nyari emaknya. Terpaksa harus ngajak dia main terus. Titip Suryawijaya sebentar, aku mau sarapan dan mandi."
Saya mengangguk, dan menggendong Suryawijaya. Nindy lantas pergi ke kamarnya dengan cepat.
Awalnya bocah dengan nama Raden Mas Suryawijaya anteng-anteng saja, karena dia sudah terbiasa melihat saya. Tapi lama-lama, dia menjadi tidak nyaman karena popoknya terlihat sangat penuh dengan ompol.
Saya terpaksa membawanya ke kamar ndoro ayu Rinjani untuk mengganti popoknya.
"Rinjani baru saja tidur. Ada apa?" tanya Nina lirih.
"Tolong gantikan popoknya sekalian mandi dan sarapan. Bisa?" tanya saya sopan.
"Bisa banget! Tunggu sebentar, aku siapkan air hangatnya." kata Nina. Ia mengambil handuk Suryawijaya yang bergambar Snoopy dan menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, gadis berjilbab hitam itu sudah menggulung lengan panjangnya. Ia mengambil Suryawijaya dari gendongan saya. Sedangkan saya di bolehkan untuk menunggu di luar.
Di pikir-pikir sambil ngopi, gadis itu juga memiliki wajah yang cantik.
Menjaga akidah. Seorang perawat.
Sangat disayangi keluarga Kanjeng Sultan. Paket lengkap untuk di peristri, tapi masak iya saya harus bersaing dengan pangeran Nanang.
__ADS_1
Tapi bukankah hubungan mereka tidak jelas? Saya tersenyum licik.
Happy reading ππ