Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Senangnya hatiku ]


__ADS_3

Aku terduduk malas di tepi ranjang, seperti biasanya hari-hari akan terasa menjemukan. Si kembar pergi kuliah, bunda Sasmita pergi kerja, dirumah hanya ada bibi dan ajudan yang sibuk mengerjakan tugasnya.


Aku menimbang-nimbang ponselku, tidak yakin akan menghubungi Kaysan atau tidak. Aku takut kecewa jika sambungan telepon dariku tak juga diangkat Kaysan. Dan, kecewa saat hamil itu terasa berlebihan.


Sesaat kemudian aku mulai resah, aku berdiri, berjalan mondar-mandir dengan tangan kiri yang mengelus punggungku. Sedangkan tangan kananku, berkelana mencari nomer suamiku.


...angkat mas... angkat. mulutku bergumam kecil, dengan harap-harap cemas menanti sebuah balasan.


Bubu...,


Suara itu terdengar menyengat lubang telingaku. Buru-buru aku mengalihkannya ke panggilan video. Aku senang sekali dan berseri-seri, wajah suami yang ku rindukan terpampang jelas di layar ponselku. Ia masih menggunakan setelan baju kerja. Senyumnya mengembang dan membalas lambaian tanganku.


Aku • Kangen ...


Kaysan • Enggak ...


Aku • Bohong!


...Kaysan tertawa kecil saat melihatku mengerucutkan bibir....


Aku • Baba kemana saja. Dalilah kangen, baba tidak merasakan intuisinya?


Kaysan • Dalilah atau Rinjani yang kangen?


...Kaysan tersenyum menggoda, membuatku tersipu malu dan mengucapkan keresahan yang mengendap di benakku....


Aku • Baba...


Kaysan • Jangan bersikap seperti itu!


Aku • Bubu kangen baba...


...Kaysan kembali tersenyum....


Aku • Baba besok pulang, kan?


...Kaysan mengangguk, dan senyum tak pernah lepas dari bibirnya....


Kaysan • Aku sudah membeli tiket pulang sehari sebelum kamu melahirkan. Berdoalah, agar tidak ada halangan.


...Aku mengangguk mantap, karena lelah berdiri sambil bersandar di almari. Aku berjalan menuju jendela sembari menikmati udara yang mendinginkan tubuhku. Aku duduk di kursi putar....


Kaysan • Jangan malas-malasan, buatlah kue dan ajaklah Dalilah berbicara.


...Ingin aku mendengus kesal, Kaysan pikir tidak lelah membawa putrinya yang sudah memiliki berat 2,8kg ini. Tapi jika ku ingat telah lama penantian panjang menunggu suara yang menyejukkan hatiku ini---kadang-kadang---aku hanya bisa mengangguk....


Aku • Baba belum bilang kangen, ayo katakan. Bubu ingin mendengarnya.


...Kaysan menggeleng sambil melengos. Cih, lagaknya kalau jauh saja pura-pura gak doyan....


Aku • Baba jahat, padahal aku disini kangen berat. Lihat, kangenku sudah melebihi berat badanku.


...Kaysan terkekeh kecil, ia mengarahkan ponselnya pada foto-foto yang ia pajang di meja kerjanya. Foto-foto ku saat melakukan mitoni dan foto USG Dalilah....


Kaysan • Sebentar lagi baba ada kelas. Rinjani sayang, Dalilah sayang, baba akan pulang, tunggu ya. Kalian berdua jangan nakal, jangan membuat Ayahanda pusing menuruti keinginan kalian.


...Aku cemberut, rasanya belum cukup berbincang-bincang dengan Kaysan. Tapi aku pasti tahu, merengek pun tak ada gunanya....


Kaysan • Jangan sedih ya, Endut. Kamu mahluk langka yang aku cintai dan rindukan. Nanti baba akan menelpon mu saat di rumah.


Aku • Perut Endut sudah banyak Stretch Marknya, baba pasti gak suka lihatnya.


...Aku menyingkap kaos yang aku kenakan, bermaksud menunjukkan urat-urat membayang dan denyut Dalilah yang menendang....


Kaysan • Jangan dibuka-buka! Berbahaya. Nanti malam saja.

__ADS_1


...Kaysan tersenyum, ia sudah beranjak dari tempat duduk, sambil membawa buku-buku pelajaran....


Kaysan • Jangan takut, jangan khawatir. Buatlah kue jika kamu kesepian. I love you my princess, Dalilah.


...Kaysan mengedipkan matanya genit....


Aku • I love you too, Baba... Kami menunggumu.


...Kaysan mengangkat tangannya, ia melambai sebentar sebelum layar ponsel berubah menjadi gelap....


Aku ingin mengutuk diriku sendiri saat aku merasa seperti gadis ABG yang habis di telepon kekasih hati. Wajahku berseri-seri, senyumku tiada henti, hatiku berbunga-bunga. Keromantisan macam apa ini padahal aku hanya melihat wajahnya dan suaranya. Beginipun aku sudah senang, nanti malam aku tinggal menunggu Kaysan menghubungiku.


"Ehm...," Deheman bibi mengganggu atensiku.


Aku menoleh, "Apa, Bi?" tanyaku.


"Sudah waktunya makan siang, Jani cantik istri mas Kaysan."


"Bibi ajak pak Santosa untuk makan bersama di dapur. Jani tidak mau makan sendiri."


Bibi membantuku berdiri, "Siap. Bibi akan panggilkan pak Santosa."


Aku terkekeh kecil, "Bibi dia bujang, bibi tidak tertarik dengan pak Santosa."


"Husshh.... Jangan ngawur." Bibi tersenyum kikuk dan menggeleng.


"Hahaha, bibi sudah punya pacar?"


"Sudah di kampung."


Bibi mengantarku sampai dapur, setelah memastikan aku duduk dengan tenang, bibi memanggil pak Santosa untuk bergabung bersama.


Makan siang bersama slalu membuatku senang. Aku bersyukur dengan seperti ini aku merasa baik-baik saja. Ada kehangatan lain yang tercipta untuk mengikis kesepian yang mendera ku.


"Rinjani cantik istri mas Kaysan baru senang ya?" Sedaritadi pak Santosa masih bergeming di tempatnya, menungguku membuat adonan kue di dapur. Bibi kembali melanjutkan menyetrika baju. Bahkan baju-baju yang dibelikan 'ayahanda' lewat tangan Sadewa dan Nakula sudah berada rapi di dalam box bayi berkat bantuan bibi yang mencuci dan menyetrikanya.


"Bagus itu, ibunya senang, bayinya juga senang."


Aku mengangguk-angguk saja.


"Pak Santosa, nanti kalau sudah matang tolong jangan di makan ya. Awas!" kataku bercanda. Pak Santosa mengernyit heran dan mengangguk saja.


"Baiklah, saya hanya akan kebagian melihatnya saja. Mencicipi tidak boleh."


Aku membereskan semua perkakas kotor, dan akan mencucinya.


"Eh ndoro putri jangan mencuci piring sendiri. Ayahanda melarangnya."


Aku mendengus kesal, "Ayahanda lebih posesif dari mas Kaysan pak Santosa, padahal dulu Ayahanda seperti tidak menganggap ku ada." Aku tetap mencuci perabotan yang aku kotori. Hari ini aku membuat brownies panggang, entah jadinya enak atau tidak. Biar pak Santosa saja yang mencicipinya.


"Saya tahu, tapi Ayahanda tidak sejahat yang ndoro putri pikirkan. Umumnya memang keluarga Ningrat menikahi setaranya. Tapi GPH memilih yang berbeda."


"Sudah ah, pak Santosa pasti membela Ayahanda. Karena pak Santosa takut di pecat." Aku cekikikan, "Tiga puluh menit lagi browniesnya matang, tapi Jani ngantuk. Pak Santosa tunggu ya, jangan gosong!"


Pak Santosa mengangguk, dan memastikan aku benar-benar masuk ke dalam kamar.


*


Aku terbangun saat semburat jingga belum hilang dari langit. Aku bergegas menuju dapur untuk melihat brownies buatanku.


Rasanya aku ingin marah, aku ingin murka, saat melihat brownies buatanku hanya tersisa satu potong di atas meja.


Dan, saat aku mengedar wajah-wajah mereka yang duduk tak jauh dari dapur pasti menjadi tersangkanya.


"Enak?" tanyaku bermurah hati.

__ADS_1


"Enak, Mbak." jawab Nakula. Ia menunjuk pak Santosa dan Sadewa yang berpura-pura tak melihatku. Sadewa bersiul, pak Santosa yang membaca koran.


"Sadewa dan pak Santosa yang habis banyak." jelas Nakula.


"Oh, gak papa, hari ini Mbak baru senang."


Suara Kaysan tadi bagikan suntikan energi. Aku tak ingin menganggu kesenangan hatiku.


"Mbak mau mandi, mau luluran. Nanti mas Kaysan akan menelepon ku lagi."


Aku menghampiri Sadewa dan Pak Santoso, "Hati-hati, perut kalian berdua mulas."


*


Aku mengabaikan makan malam, saat pesan yang aku kirim untuk Kaysan sudah di balas. Wajahku aku poles dengan riasan tipis dan membiarkan rambutku tergerai indah. Aku juga memakai lingerie yang masih di balut kimono jepang.


Tak mau menunggu lama, aku mengangkat telepon dari Kaysan.


Aku • Baba...


...Aku tersenyum malu-malu....


Kaysan • Bubu, cantik sekali.


...Astaga, hormon kehamilan ini membuatku berlonjak girang saat hanya di puji cantik. Huh..., aku menyelipkan rambutku....


Kaysan • Kenapa wajahmu seperti tomat.


...Kaysan menggeleng, ia sedang bersandar di tembok kamar. Sesekali mulutnya menyesap rokok....


Aku • Matikan rokoknya dulu! Kalau tidak baba tidak akan aku beri hadiah.


Kaysan • Iya, iya. Cerewet.


...Kaysan menaruh rokoknya di atas asbak, kini ia beralih ke tepi ranjang....


Kaysan • Hadiah apa?


...Aku tersenyum genit, menggoda....


Ku langkahkan kaki menuju pintu dan menguncinya.


Aku • Baba siap?


Kaysan • Jangan bersikap konyol, jangan buka kimono yang kamu kenakan!


...Aku mendesah....


Aku • Aku rindu, Baba. Pengen cium, pengen peluk.


...Kaysan terlihat mengusap wajahnya....


Aku • Baba...


Kaysan • Aku tidak mau meneleponmu lagi jika kamu bertingkah aneh!


...Segera saja aku menutup kimono yang baru saja aku turunkan dari bahuku....


Kaysan • Begitu cantik tidak nakal.


Aku • Gayamu, mas. Kalau dekat juga di lahap.


...Kaysan terkekeh kecil dan kamipun hanya mengobrol tanpa intrik yang memicu terjadinya gairah yang kami biarkan redup sementara....


Semenjak malam itu, Kaysan dan aku intens berkomunikasi lewat gawai. Ada waktu yang kami jadwalkan untuk bertemu dan melepas rindu.

__ADS_1


Happy Reading 💚


__ADS_2