
Tawa tertahan menyobek hati Nanang, "Tidak Ayahanda, Nanang tidak mau mobil baru." seru Nanang, wajah Ayahanda semakin memerah, keras memikirkan kata-kata untuk merayu Nanang. Sedangkan Nanang asik menyesap rokok ditangannya. Tidak ada pantangan bagi anak laki-laki Ayahanda untuk merokok, bagi Ayahanda rokok adalah citra diri seorang Ningrat.
"Putraku! Tidaklah penting bagimu jika Kaysan dan Rinjani pulang. Kamu bisa melihat Rinjani lagi."
Meledaklah tawa Nanang. "Ayahanda, aku sudah punya pacar, pacarku orang biasa seperti Rinjani. Jadi Ayahanda harus membuat pilihan. Nanang masih setia di rumah jika Ayahanda sudah memutuskan pilihan." Ingin sekali Nanang menyangkal kebodohannya bahwasanya ia juga memikirkan bagaimana cara mendapatkan restu dari Ayahanda.
Ayahanda menenggak kopi hitam dari cawan emasnya. Rasanya lebih pahit dari biasanya.
"Tidak bisakah kalian semua membuat semua ini lancar seperti sedia kala." Ayahanda tersenyum kecut. Pikirannya masih carut-marut tentang Kaysan, cucunya dan si kembar yang masih tertinggal di Australia.
"Sudah risikonya Ayahanda memiliki anak laki-laki yang tampan, apalagi tak memandang status sosial. Harusnya Ayahanda bangga. Memiliki anak-anak yang down to earth, mencintai gadis lokal yang bisa di ajak mencintai budaya leluhur kita." jelas Nanang.
Ayahanda semakin tersenyum kecut.
"Kamu tidak akan tampan jika ibumu tidak menikah denganku."
Nanang terkekeh mendengar penuturan Ayahanda, "Ayahanda lucu sekali, sudahlah... Nanang ada di rumah kalau Ayahanda sudah berubah pikiran. Ingat, Ayahanda akan memiliki cucu. Bisa jadi cucu Ayahanda akan mirip dengan Ayahanda, tampan!" seru Nanang. Ia sedikit meledek Ayahanda dengan sebutan tampan.
"Ayahanda benci kekalahan, tapi kalian pintar sekali membuat pilihan!"
Nanang mengatupkan kedua tangannya.
"Maafkan saya paduka raja, hamba hanyalah anak yang membutuhkan restu berpacaran dengan rakyat biasa."
"Duh Gusti! Dosa masa lalu apa yang belum orangtuaku selesaikan, hingga aku harus menghadapi karma yang di berikan oleh anak-anakku sendiri." Nanang yang mendengar gerutuan Ayahanda hanya bisa mengulum senyum.
Setelah berkata seperti itu Ayahanda beranjak berdiri. Hari ini jam sepuluh pagi, matahari tak menyurutkan niatnya untuk menemui seseorang.
*
"Mas..." Panggil seorang gadis yang sedaritadi menunggu Nanang di bawah pohon rindang. Di sebuah taman, dekat kampus mereka berdua.
"Hai, maaf lama." kata Nanang, ia tersenyum. Tangannya mengulur beng-beng, camilan yang sering ia berikan untuk Rinjani. Dulu.
"Kenapa ketemu siang-siang, Mas?" Anisa menerima beng-beng yang diberikan oleh Nanang. Entah sudah berapa bungkus beng-beng yang di terimanya dari Nanang.
"Rinjani hamil. Kata bunda, dia suka aku move on. Denganmu." Nanang terkekeh, ia ingat dulu Anisa sering menganggunya perihal keberadaan Rinjani. Hingga akhirnya Nanang sendirilah yang membuat Anisa terus-terusan berada di dekatnya.
Anisa membalasnya dengan senyuman.
"Kamu senang Jani hamil?" tanya Anisa, ia tahu masih ada sebagian hati Nanang yang tertinggal dihatinya.
"Tentu, itu artinya mereka berdua sama-sama bahagia. Sudah cukup mereka berdua sama-sama terluka." Nanang tersenyum, ia menoleh ke arah Anisa.
__ADS_1
"Cemburu?" tanya Nanang.
Anisa salah tingkah, siapa bilang ia tidak cemburu. Bagi Anisa Nanang memilih ketampanan yang natural, sedangkan Rinjani malah memilih laki-laki dewasa yang penuh misteri. Konyol batinnya.
"Nonton film mau, atau jalan-jalan ke Bonbin?" bujuk Nanang, tanpa Anisa jawab pun, ia tahu, Anisa kadang cemburu jika Nanang masih membahas Rinjani. Kakak iparnya yang sedang berkembang biak dengan Kaysan.
"Lalu kapan Jani pulang? Apa bunda membawa surat balasan dari Rinjani, untukku?"
Nanang mengangkat bahunya, "Si kembar masih di Australia, jika kamu memang mau surat balasan, aku bisa menyuruh mereka untuk meminta Jani membalas suratmu." jelas Nanang. Anisa adalah gadis yang malu-malu, berbeda dengan Rinjani dulu yang lebih cerewet dan mendominasi berbicara.
"Mau tidak? Aku tidak mau setiap kali bertemu hanya ada di taman, lama-lama kita jadi penunggu pohon beringin." seru Nanang, ia melihat Anisa mengangguk.
"Apa Jani tidak bisa di telepon?" tanya Anisa, ia benar-benar ingin memastikan jika berpacaran dengan Nanang bukanlah kesalahan.
Nanang menghela nafas, "Aku coba telepon si kembar, tapi ingat jangan membahas Rinjani akan pulang atau tidak." ucap Nanang, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Nakula. Anisa gugup sendiri, ia tidak mungkin membahas Nanang di hadapan orangnya langsung.
Berkali-kali panggilan hanya berdering, perbedaan waktu -+ 4 jam membuat Nakula yang ada di Melbourne sedang menghabiskan sore harinya di taman belakang rumah.
"Coba lagi." pinta Anisa, Nanang mengacak-acak rambut Anisa.
"Untung tidak di tolak, kalau iya. Sudah habis riwayatmu." Cela Nanang. Ia kembali menghubungi adiknya, tapi bukan Nakula yang mengangkat panggilan telepon yang sedaritadi membuat Kaysan yang mendengar suara telepon seluler adiknya berdering, berpikir jika panggilan itu penting.
Hallo, Nakul.
Panggilan berubah menjadi Videocall. Kaysan yang sedang bertelanjang dada memenuhi layar ponsel Nanang yang membuat Anisa membelalakkan matanya.
"Itu benar-benar asli?" bisik Anisa.
"Apanya?" tanya Nanang.
"Otot-ototnya mas Kaysan." Nanang mengangguk, "Awas saja kamu kepikiran dada mas Kaysan. Dia hanya milik Rinjani!" ancam Nanang. Ia sengaja menjauhkan ponselnya agar perbincangan tak di dengar oleh Kaysan.
Kaysan memilih pergi ke taman belakang. Disana istrinya dan adik kembarnya sedang asyik bermain air dengan selang. Cuaca masih panas, bahkan jam tujuh malam cahaya matahari masih terang benderang. Kaysan memanggil Rinjani dan si kembar. Wajah ke empat orang yang Nanang rindukan terpampang jelas dan sudah basah kuyup.
"Nanang...Anisa..." sorak Rinjani, ia mendapati Anisa malu-malu berada di belakang Nanang. Anisa tersenyum, sedangkan Nanang tersentak mendapati Rinjani hanya menggunakan tangtop dengan kondisi basah kuyup, aura keibuan membuat Rinjani semakin cantik dimata Nanang, tubuhnya terlebih semakin berisi, membuat Rinjani nampak seksi.
"Cie, pacaran cie..." goda Sadewa.
"Anisa, apa kabar? Betah pacaran dengan Nanang?" tanya Rinjani, ia bergelayut manja di lengan Kaysan.
"Jani balas suratku!" jawab Anisa, Nanang merangkul bahu Anisa.
"Jani, aku pacari sahabatmu. Jangan cemburu, dan aku tidak jadi ke Jerman untuk pelarian." ucap Nanang dengan bangganya. Ia tak mau kalah memamerkan kemesraan di hadapan mantan kekasihnya.
__ADS_1
Rinjani yang melihat mantan kekasihnya dan sahabatnya sudah tidak malu-malu lagi mengumbar kemesraan, ia yakin jika Nanang memang benar-benar move on darinya. "Coba cium Anisa, seperti ini." Rinjani berjinjit sambil mencium pipi Kaysan. Nakula dan Sadewa bersorak.
"Cium... cium... cium..." Goda si kembar pada Nanang. Wajah Anisa tersipu malu.
Ke tiga biang kerok itu tertawa. Berhasil menggoda pasangan muda yang sedang mabuk asmara, "Laki-laki akan menjaga kehormatan wanita. Jangan hiraukan ocehan mereka." Bela Kaysan, ia tidak mungkin ikut-ikutan istrinya dan adik kembarnya dalam mengerjai Nanang dan Anisa. Tapi Kaysan sendiri ikut senang melihat Nanang sudah tidak lagi memikirkan Rinjani.
Nanang tersenyum ia mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Anisa.
"Kalian berdua kapan pulang? Aku sedang mengerjai Ayahanda. Jika Ayahanda setuju, Ayahanda akan menjemput kalian." jelas Nanang. Alis Kaysan bertemu, "Jangan pernah memberitahu keberadaan kami disini!"
Nanang terkekeh, "Jangan marah mas, Ayahanda pengen di panggil Grandpa. Sudah ya, kalian jangan lama-lama main airnya. Bocah!" seru Nanang.
Anisa melambaikan tangannya. "Selamat untuk kehamilan mu, Jani. Aku senang. Jangan lupa balas suratku dan titipkan pada si kembar." Rinjani tersenyum, mereka berdua berpisah dengan memberi ciuman jarak jauh. Sedangkan si kembar kembali bermain air. Kebebasan sedang berada di pihak mereka.
"Mas apa mereka pacaran di kebon?" tanya Rinjani, Kaysan mengambil bathrobe dan menyampirkan pada bahu Rinjani.
"Mandi, sudah waktunya untuk masak makan malam."
Rinjani mengangguk, "Mereka serasi ya mas. Anisa malu-malu, Nanang gak tahu malu." Rinjani tertawa. Kaysan mencubit pipi Rinjani.
"Biarkan mereka bersenang-senang."
"Iya aku tahu. Nanti aku balas suratnya. Lagian untuk apa Anisa meminta izin dariku untuk merestui mereka berpacaran. Bukannya seharusnya Anisa minta izinnya dengan Ayahanda dan orang tuanya."
"Anisa hanya butuh kepastian. Sudah cepat mandi!"
*
Di taman Anisa tak habis pikir kenapa Nanang tidak mau menciumnya. Bukannya itu hal yang lumrah jika anak muda berpacaran.
"Apa aku tak secantik Rinjani, jadi kamu tidak mau menciumku?" Entah dapat keberanian darimana Anisa tanpa sadar bertanya kepada Nanang.
Nanang tersenyum, "Mas Kaysan tidak pernah mencium Rinjani saat berpacaran, kamu tahu kenapa? Karena mas Kaysan gentleman." jelas Nanang. Ia menatap lekat-lekat wajah Anisa.
"Jangan harap aku menciummu karena perasaan cemburumu terhadap Rinjani."
Anisa menghela nafas, "Maaf." Nanang terkekeh, "Jadi nonton, atau masih mau pacaran di taman?"
"Nonton, tapi aku juga lapar." kata Anisa.
Nanang tersenyum, ia menarik tangan Anisa menuju parkiran. Motor Vespanya kembali menjadi saksi bisu dari kisah perjalanan cintanya.
Nanang dengan beragam ambisinya.
__ADS_1
Happy Reading ๐