
Cintaku tumbuh laksana awan mendung yang menggumpal hitam, kapanpun siap mengguyurku dengan nestapa menyedihkan. Mengelegar laksana petir yang siap menyambar. Jika Kaysan mencintaiku tanpa memandang uang yang ia keluarkan. Lalu, apakah aku seperti perempuan malam yang dibeli untuk sebuah kepuasan. Tubuhku tidak semok, bahkan untuk memuaskan Kaysan saja aku masih belajar setiap hari. Lalu kenapa Kaysan memilihku. Tidaklah ini semakin pelik untuk aku rasakan, lalu kenapa aku masih berjuang untuk sebuah kepastian.
Aku mengepalkan tanganku erat-erat setelah melihat drama menyedihkan. Langkah kakiku lesu, semakin malam semakin membuncah amarah di dadaku. Tapi saat aku melewati kamar Nakula, ia datang menghadangku.
"Seorang putri harus marah dengan elegan, tidak serta-merta lalu menendang semua barang agar terlihat menakutkan."
"Sama saja, justru marah yang terlihat elegan itu sulit aku lakukan. Marah ya marah, elegan ya elegan, tidak bisa di satu padukan." Aku berbicara dengan tersungut-sungut.
"Marah yang elegan adalah marah yang masih bisa kamu sembunyikan, Mbak. Tidak perlu semua orang tahu jika Mbak sedang cemburu."
"Lalu aku harus gimana, mati rasa?"
"Buktikan jika Mbak memang layak bersanding dengan mas Kaysan."
"Aku sedang belajar, tidakkah semua butuh waktu. Nakul, kamu tidak membantu Mbak."
"Aku akan membantu."
Mataku menelisik mata Nakula.
"Caranya?" tanyaku penasaran.
"Buat mas Kaysan cemburu."
"yang benar saja, Mbak gakmau nambah masalah."
"Itukan hanya ide, Mbak bisa membuktikan mas Kaysan sudah cinta belum dengan Mbak. Karena setahuku, mas Kaysan akan berapi-api jika cemburu."
"Kamu pikir mudah memadamkan api cemburu? Jomblo, asal bicara!" kataku tidak terima dengan ide bodoh yang Nakula berikan.
"Kalian sedang apa?"
Kami berdua menoleh kearah sumber suara, terlihat Nurmala Sari datang dengan Kaysan dibelakangnya.
Aku gelagapan bingung harus menjawab apa. Sedangkan Kaysan menatapku tajam. Seolah-olah aku sudah melanggar peraturan.
Nakula menyadari kegentingan saat ini, "Kami sedang diskusi."
"Diskusi apa? Tidak sopan mengajak seorang gadis di selasar kamar, apalagi bertamu memakai baju tidur." kata Nurmala Sari sarkas.
"Hah." Ku pandangi pakaianku dari atas ke bawah, konyol, aku sudah memakai baju tidur berwarna putih. Kerahnya memiliki renda-renda dan aku suka.
"Rinjani sedang mengikuti trend sekarang, memakai baju tidur untuk jalan-jalan."
Aku ingin tertawa dengan jawaban Nakula, sungguh otaknya memang encer untuk berkilah.
"Bukankah Rinjani pacar mas Kaysan, kenapa kalian berduaan?" Nurmala Sari menoleh, "Mas, kalian masih berpacaran atau sudah putus?" tanya Nurmala Sari pada Kaysan, yang ditanya masih menatapku tajam.
"Masih." singkat jawabnya.
"Rinjani datang untuk menemuiku, bukan mas Kaysan." Apa ini salah satu drama yang dibuat Nakula, astaga aku harus berperan gimana.
"Ya, aku datang ke sini untuk bertemu Nakula. Ada beberapa tugas yang mau aku tanyakan. Maklum junior butuh bantuan."
"Lebih baik kamu pulang, ini sudah malam." kata Kaysan dengan nada yang terlihat datar.
"Iya ini sudah malam, bertamu juga ada waktunya." saut Nurmala Sari.
"Tapi di depan tulisannya bertamu sampai jam sembilan." kataku lirih, ya, di salah satu plakat kayu terpampang jadwal jam kunjungan tamu di keluarga Adiguna Pangarep.
Nakula melihatku, ia lantas masuk ke dalam kamarnya.
"Aku antar pulang, pakai jaketnya dan ini flashdiskmu. Sudah aku kirim modul pembelajaran tinggal kamu print out."
Aku mengangguk mantap, mengambil alih jaket yang diberikan Nakula dan memakainya, bodoh amatlah, mau dibawa kemana aku dengan Nakula, yang penting drama ini harus berjalan lancar.
__ADS_1
Aku pura-pura berpamitan dengan Kaysan, suamiku. "Sampai ketemu di kampus, pak rektor." kataku sambil tersenyum simpul.
Terlihat Nurmala Sari seperti tidak nyaman dengan ku. Entah apa yang akan dikerjakan Kaysan dan Nurmala Sari, aku sudah tidak peduli.
Di pelataran parkir, Nakula mengeluarkan motor bebeknya. "Mau kemana?" tanyaku heran.
"Mau akting, merepotkan saja."
"Dingin. Lebih baik kita ke rumah belakang saja lewat pintu belakang."
"Bodoh, Nurmala Sari pasti mengunjungi Mbok Darmi. Baginya Mbok Darmi sudah seperti neneknya."
"Oh."
"Pakai helmnya."
Aku manut saja, memakai helm dan naik ke atas motor. Parto seperti biasa, sukanya sewot jika melihatku, aku bersorak saat melewatinya. "Dangdut terussss sampai mampusss."
"Wow, cah edan!" katanya sambil menutup pintu gerbang.
Aku tertawa, seakan lupa dengan apa yang terjadi. Ku kumpulkan lagi semangatku, sambil menikmati udara malam yang sudah lama sekali tak ku rasakan.
Entah mau ke arah mana motor ini melaju, aku dan Nakula tak bercengkrama. Sudah berkali-kali kelokan dan rambu lalu lintas, aku tahu jalan ini jalan yang tidak asing buatku. Jalan ini menuju laundry Bu Rosmini.
"Mau kemana?" daripada bingung, aku memilih bertanya.
"Alfamart."
"Alfamart tadi disana banyak, kenapa harus jauh-jauh kesini."
Ya, kami sudah tiba di Alfamart langgananku dulu.
"Mbak gak bawa uang."
"Mau beli apa, pilih saja. Jangan banyak-banyak dan jangan norak."
Aku bertepuk tangan, bak seorang anak kecil yang mendapat hadiah.
"Mau es krim, mau beng-beng, mau itu." Ku tunjuk kemasan kecil berisi balon dengan aneka rasa, rasa sutra.
"Waton!" Cecar Nakula dengan cepat, aku terkekeh dibuatnya.
"Mbak bercanda."
"Apalagi?" tanyanya padaku.
"Sudah itu saja."
Aku hanya berdiri, yang bergeming adalah Nakula. Ia mengambil jajanan pilihanku lalu membayarnya ke kasir.
Sambil duduk diemperan Alfamart, aku menghabiskan es krim rasa jagung, sedangkan Nakula sibuk menyesap Vape dari tangannya, aromanya rasa nanas.
"Kamu dekat dengan Nurmala Sari?" tanyaku.
"Cukup dekat."
"Ceritakan padaku waktu mas Kaysan dan Nurmala Sari berpacaran."
"Nurmala Sari adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dia anak perempuan satu-satunya. Terlahir dari kerajaan Tirtodiningratan, ayahnya sama seperti Ayahanda memimpin kerajaannya. Keluarga kami sudah lama berhubungan layaknya keluarga, perjodohannya dengan mas Kaysan sudah terjadi sejak lama. Bahkan sebelum Nurmala Sari terlahirkan."
Aku mengangguk, mataku mendadak buram dengan air mata. Tapi mulutku asik mengunyah beng-beng. Rasa cemburu membuat perutku keroncongan.
"Kamu tahu semuanya?"
"Semua orang tahu dengan hubungan mereka, mereka tumbuh bersama. Tuniang Dewi adalah guru menari mereka, Tuniang Dewi adalah saksi tumbuhnya Mas Kaysan dan Mbak Nurmala Sari."
__ADS_1
"Lagi, katakan semuanya." pintaku sambil menundukkan kepala.
"Untuk apa tahu jika hanya membuatmu menangis, Mbak."
"Katakan saja."
"Semakin Mbak tahu, semakin mati rasa."
"Itu yang aku inginkan, jika mati rasa mampu membuatku terus berjalan seperti sedia kala. Tanpa perlu merasakan adanya rasa kecewa."
"Cinta sudah melekat erat dengan rasa kecewa, jika tidak kecewa tandanya tidak ada rasa cinta."
"Jomblo ngomongin cinta."
"Aku jomblo limited edition."
"Hmm, terimakasih untuk hari ini. Memang harusnya kamu jomblo, biar terus menemaniku."
"Ogah, Mbak merepotkan!"
"Terimakasih, sebaiknya kita pergi makan malam. Aku semakin lapar."
"Jelas-jelas merepotkan."
Nakula menyelipkan Vape si kantong celananya.
"Mau makan apa?" tanyanya.
"Ayam penyet pak gondrong."
"Apa itu makanan rakyat jelata."
"Gayamu selangit."
Nakula menyunggingkan senyum, senyum mengejek.
*
Aku dan Nakula akhirnya pergi ke lesehan ayam penyet pak gondrong, tempat yang menurutku cukup elite untuk dompetku kala itu.
Kami makan malam untuk kedua kalinya, tapi rasanya ayam ini lebih istimewa karena dimakan saat hati gundah gulana. Sambelnya nendang, bahkan ingusku naik turun dibuatnya.
*
Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam, apakah drama bisa berakhir.
Motor sudah melaju menuju rumah utama, kami pulang dengan perut kenyang.
Setibanya di gerbang rumah, terlihat mobil Nurmala Sari dengan plat nomer AD 3 NRS masih terparkir rapi di pelataran parkir.
"Dia belum pulang." kataku berbicara sendiri.
"Mungkin disuruh Ibunda untuk menginap." jelas Nakula yang membuat hatiku berdesir kalut.
"Mereka tidak tidur bersama, 'kan?"
"Waktu kecil katanya sering, entah waktu dewasa."
Dengan sekali hantaman aku memukul bahu Nakula.
"Jahat."
"Dasar sumbu pendek! mereka sudah dewasa tentu tahu mana yang baik dan tidak."
"Lalu aku tidur dimana?"
__ADS_1
Up lagi, biar tambah kesel sama Kaysan. Nanti lanjut lagi โ๏ธ๐