Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 69. [ Pendamping Gaib? ]


__ADS_3

Bangun pagi pukul 04.10. Mandi, sholat lalu bikin teh tawar hangat. Tapi ritus pagiku dengan teh tawar hangat aku ganti dengan secangkir kopi hitam, pekat dan lekat. Asam dan pahitnya kopi membuat mataku senantiasa akan membulat. Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah, bak mahasiswa baru aku sudah getir menanti datangnya hari ini. Hari dimana aku akan diantar suamiku untuk pergi ke sekolah! Lucu bukan. Dia ingin mengantarku seperti seorang bapak mengantar pertama kalinya putrinya sekolah. Aku tertegun dengan niat baiknya, hatiku senang, tentu saja karena dulu sejak aku masuk SMP bapakku tidak pernah mengantarku sekolah, bahkan di saat hari pertama masuk sekolah.


Aku sudah menyiapkan semuanya, termasuk tas ranselku yang sudah aku masuki laptop dan buku-buku lainnya. Sejujurnya, aku tidak tahu jika kuliah harus membawa apa, hingga Kaysan datang membantuku.


"Tidurlah, ini masih terlalu dini untuk ke pergi kampus."


Kaysan tersenyum jenaka, saat melihatku berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Dahiku mengerenyit sambil bibirku mengerucut, "Tidak bisa mas, Jani sudah minum kopi. Gak bisa merem lagi."


"Lalu kamu mau apa, Rinjani?" Kaysan menghampiriku, menahan tawanya saat tahu jika tanganku sudah basah dengan keringat dingin. "Tidak perlu takut."


"Tentu Jani takut, Mas. Hampir tiga tahun gak baca buku. Bahkan Jani sudah lupa caranya menulis di Microsoft."


"Yang penting yakin."


Aku bersorak sambil merebahkan diri di atas ranjang, "Dulu mas kuliah dimana?"


"University of Melbourne." Kaysan ikut merebahkan dirinya diatas ranjang, kami berdua saling menatap gypsum plafon dengan lampu yang sengaja dimatikan.


"Ceritakan pengalaman waktu mas kuliah di negeri kangguru? Apa susah? Lalu apa disana mas memiliki kekasih?" tanyaku penasaran.


"Aku lebih muda darimu saat kuliah di luar negeri, Rinjani. Bahkan saat itu usiaku belum genap 20 tahun."


"Hebat dong mas." Aku mengacungkan jempolku, sambil merubah posisi tubuhku. "Ayo cerita lagi, mas?" lanjutku.


"Hidup di negeri orang lebih sulit daripada hidup di negeri sendiri, Rinjani. Beruntung, aku bisa melewati masa-masa sulit itu hingga sekarang."


"Sulitnya apa mas? Bukannya semua yang mas inginkan bisa terwujud dalam jentikan jari." Aku semakin tertarik saat Kaysan mulai ikut merubah posisi tubuhnya, kami sama-sama tengkurap.


"Sangat sulit, Rinjani. Sulit sekali." Alis Kaysan bertemu, rahangnya mengeras, bibirnya menyeringai.


"Kenapa mas, apa disana mas dikejar kangguru? Atau dikejar buaya air tawar, katakan mas?"


"Bukan lagi, Rinjani."


"Lalu apa sulitnya kuliah diluar negeri?"


Kaysan menarik salah satu sudut bibirnya, "Sulitnya adalah melihat gadis-gadis cantik, berkulit putih, bibir yang seksi." Kaysan menggelengkan kepalanya, sambil berdecak kagum.


Mataku membulat sempurna, ku ambil guling dan memukul-mukul badan Kaysan berkali-kali.


"Kamu mempermainkanku, mas. Kamu mempermainkanku!" Aku turun dari atas ranjang dan berdecak kesal.


"Bercanda, sayang."


"Jangan merayuku!"

__ADS_1


"Sayang, kemarilah."


"Gak!"


"Sayangku, Rinjani."


"Jangan memanggilku seperti itu, mas genit."


"Sa...yang."


Aku menutup telingaku sambil menggeretakan kakiku diatas lantai. Kaysan terkekeh sambil mengelus rambutku, "Hanya bercanda, untuk menghiburmu."


"Bohong, pasti mas genit. Mas godain cewek-cewek bule."


"Kulit sawo matangku memang menarik perhatian gadis-gadis bule, Rinjani. Tapi, aku tidak tertarik dengan gadis-gadis disana. Aku lebih tertarik dengan alam liarnya."


"Sudah mas, aku tidak mau dengar lagi. Ayo, kita keluar kamar saja." ajakku sambil menggandeng tangan Kaysan, "Kemarin waktu mas pergi, jam segini Jani di rumah belakang sama Mbok Darmi. Disana ada lukisan yang mas buat, cantik. Mas seperti mempunyai satu frekuensi dengannya."


"Dia memang cantik."


"Dia?" Dahiku mengernyit heran.


"Wanita yang dilukisan itu memang cantik."


"Siapa dia, mas? Bukannya mantan kekasih mas hanya Nurmala Sari?"


"Dia adalah pendamping gaib'ku."


"Pendamping gaib?" Aku melepas tangan Kaysan. Mataku menatap penuh tanda tanya dan keragu-raguan. "Pasti mas masih mempermainkanku, seperti tadi." Aku menggeleng dan berjalan mendahului Kaysan. Mulutku masih menggerutu karena tingkah laku Kaysan, bisa-bisanya sepagi ini dia sudah membuatku hilang akal. Tak alang kepalang, apa lagi maksud Kaysan dengan pendamping gaibnya.


Aku duduk bersila di alas karpet yang masih di gelar di atas pendopo, masih tersungut-sungut dengan Kaysan yang duduk tak jauh dariku, ia hanya menoleh kearah ku sebentar lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bagaimana jika aku memiliki pendamping gaib, Rinjani? Apa kamu bisa menerimanya?" tanyanya tanpa menoleh ke arahku.


"Apa maksud mas seperti teman hantu, Risa Saraswati?"


Setauku hanya sebatas itu, sesuatu yang tak kasat mata. Hanya sebatas Sukma yang masih tertinggal di bumi.


"Bisa dibilang begitu, tapi dia dewasa, bukan teman kecil."


Aku menggeleng cepat, "Maksud mas, pendamping seperti Rinjani. Pendamping seperti seorang istri?"


Kaysan hanya diam, "Sepertinya, mas kurang tidur. Apa lebih baik kita ke kamar lagi?" tanyaku mengalihkan pembicaraan, jujur aku belum memahami tentang 'pendamping gaib' Kaysan.


"Lebih baik kamu tahu dari mulutku, Rinjani. Wanita itu adalah..."

__ADS_1


"Cukup, mas!" Nada suaraku sudah naik satu oktaf, aku menutup telingaku rapat-rapat, "Aku tidak mau mendengar lagi tentang pendamping gaib, aku tidak mau tahu jika itu hanya membuatku merasa tidak nyaman. Jika memang wanita itu benar-benar ada, aku hanya akan menganggap, Mas Kaysan Adiguna Pangarep sebatas mengaguminya saja."


Aku berlari kecil menjauh dari Kaysan, biarkan saja aku dianggap kuda liar. Aku sudah tidak peduli, ini lebih baik daripada harus melihat wajah Kaysan yang teramat serius dan meyakinkan.


*


Selang satu jam, setelah sarapan bersama keluarga besar. Aku dan Kaysan menuju ke arah kamar, hanya ada kebisuan diantara kami berdua. Hingga Sadewa merangkul bahuku, "Sudah siap kuliah, Mbak?"


"Siap gak siap, Wa. Tapi, aku lebih suka kerja."


Sadewa menggeleng, sedangkan Kaysan tak peduli denganku dan Sadewa yang berjalan layaknya sepasang kekasih. Nakula selebihnya, tak jauh dari Kaysan. Ia hanya mengikuti langkah kembarannya tanpa mengeluarkan suara.


"Mbak, siap-siap dulu aja. Mata kuliah pertama masih satu jam lagi." Aku mengangguk, kami berempat berpisah dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Di kamar, aku dan Kaysan sama-sama membisu. Aku sibuk menyiapkan diri, Kaysan sibuk memakai kemeja kerjanya.


Aku melihatnya dari pantulan kaca. Ia masih menunduk sambil merapikan bajunya. Sebentar lagi dia pasti akan menyisir rambutnya, dia melirik ke arahku. Tak biasanya dia memintaku untuk menyisir rambutnya. Aku dirundung rasa cemas, melihatnya membisu malah begitu menakutkan bagiku. Tanpa pikir panjang, aku mengambil sisir, pomade dan berjalan ke arah Kaysan.


"Ini hari pertamaku kuliah, harusnya ini menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Tapi melihat wajah mas yang ditekuk seperti uang jajan lima ribuan, aku sedikit kehilangan semangat."


Kaysan hanya diam saat aku sedang merapikan rambutnya, "Sudah, sekarang coba mas lihat gaya rambut baru mas di cermin."


Kaysan mendongkak dan melihat pantulan dirinya di dalam cermin, rahangnya mengeras. "Rinjani!"


Aku terkekeh nyaris terpingkal-pingkal, saat rambut Kaysan aku rubah menjadi gaya rambut seperti bulu landak. Aku menyembunyikan sisir dibalik punggungku, "Mas keren, awet muda seperti itu." ejekku sambil berangsur mundur saat Kaysan dengan tubuh besarnya berjalan sambil menentengkan kedua tangannya.


"Rinjani!"


"Apa?"


"Rinjani!"


Aku menyengir kuda, tangan Kaysan sudah berada dibahuku. Sedikit mencengkeramnya, "Kembalikan rambutku seperti biasanya, jika tidak kamu akan tahu akibatnya."


"Tidak takut."


"Kamu yakin?"


"Ya, Jani slalu yakin."


Kaysan menarik daguku, dengan sekali ******n bibirku yang sudah aku poles dengan gincu sudah basah dengan air liurnya. Kaysan terus menikmati setiap inci bibirku, menyesapnya tanpa memberi jeda.


Aku menggaruk pundak Kaysan dengan sisir yang aku pegang. Kaysan tak mengindahkan, dia masih terus menikmati bibir kami yang tertaut. Aku membiarkannya, tanpa melakukan perlawanan, biarkan ini menjadi sumber utama energi untuk mengawali hari Senin yang terkadang menyebalkan untuk sebagian orang.


Kaysan memberi kecupan di keningku sambil mendekapku dipeluknya. "Lipstikmu terlalu menor, aku tidak suka."

__ADS_1


Pembaca Yth akan meninggalkan nlike setelah baca, terimakasih πŸ™πŸ’šπŸ˜Š


__ADS_2