Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 115. [ Rasa lan Memayu ]


__ADS_3

Tansah gumawang ing netra


Tansah gumawang ing ati


[ Selalu terbayang-bayang di mata, selalu terbayang-bayang di hati ]


Aku cekikikan sendiri saat mengirim kalimat surat untuk sebuket bunga untuk Ayahanda. Itu adalah salah satu rayuan cinta Ayahanda untuk ibunya Nindy dan


Belum lagi gelagat Ayahanda akhir-akhir ini tampak lebih bersinar dan banyak tersenyum. Aaa... kelak bunga terakhir akan aku persembahkan sendiri untuk Ayahanda tercinta.


Kaysan tetap bersikukuh untuk melanjutkan tirakat Mutihan. Aku bisa apa, merayunya hingga ubun-ubun ku mengepul asap pun tak pernah dia hiraukan. Hingga puncaknya, hari ini seorang sesepuh datang bertandang ke rumah Ayahanda.


Tongkat sakti menjadi pusat perhatian ku sekarang. Ukiran kayu dengan motif naga itu membuat ku ingin menyentuhnya.


"Endi Kaysan?" [ Mana Kaysan ]


"Niku, nembe siram." [ Itu, baru mandi ]


"Ora tok adusi?" [ Tidak kamu mandiin? ]


"Mboten, mboten kerso niku mas Kaysan." [ Tidak, tidak mau itu mas Kaysan ]


Hening sejenak.


Hingga Kaysan datang sambil menundukkan kepalanya.


"Mas, aku tinggal ya. Katanya Simbah ini mau bicara empat mata."


"Duduk saja disini, temani aku." kata Kaysan, sebelum ia mencium punggung tangan Simbah yang memakai baju Surjan dan blangkon gaya Jogja.


Aku mengalihkan pandanganku pada Simbah-simbah yang mengiyakan permintaan Kaysan.


"Eyang, ada keperluan apa datang ke rumah?" tanya Kaysan.


"Aku ora perlu opo-opo putuku. Mung pingin reti awakmu." [ Aku tidak perlu apa-apa cucuku, cuma pengen tahu dirimu ]


"Inggih suwun eyang." [ Iya, terimakasih eyang. ]


"Kabeh iki wes Pesthi. Simbah tansah ndedonga tanpa kendat. Bismillah mugi Gusti tansah anganthi. Memayu Hayuning Kaluwarga." [ Semua ini sudah takdir. Kakek selalu berdoa tanpa henti. Bismillah semoga Tuhan senantiasa menyertai kamu. Rahmat bagi keluarga ]


Aku terkesima saat mendengar pitutur dari Simbah yang Kaysan panggil dengan sebutan eyang. Siapa Simbah ini sebenernya, kenapa begitu bisa membuat Kaysan menunduk pasrah.


"Tatag, teteg, tutug. Alon-alon mesti tekan le, rasah sumelang." [ tatag : keinginan kuat, teteg : tabah, tutug : sampai pada tujuan. Pelan-pelan pasti sampai 'Le, tidak usah khawatir. ]


"Nggih, sendiko dhawuh eyang." [ Iya, saya patuh kepada eyang ]


"Simbah siapa?" tanyaku saat suasana sudah sedikit rileks.


"Dhanangjaya." jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Saya Rinjani, Mbah. Salam kenal." Aku mengulurkan tangan, sedangkan Kaysan menggelengkan kepalanya.


"Jadi kamu yang membuat Sultan Agung kocar-kacir memikirkan nasib kepimpinan Kaysan." Aku mengangguk dan tersenyum lebar.


"Ayahanda hanya khawatir, Mbah."


"Panggil Simbah Eyang seperti suamimu." Eyang Dhanangjaya menggapai tanganku.


"Tentu eyang tahu siapa kamu Rinjani, kamu yang membuat eyang harus turun tangan menjadi tim pemburu cinta."


"Tim pemburu cinta?" tanyaku pada diri sendiri.


"Orang-orang yang membantuku mencari ibumu waktu itu. Eyang adalah ketuanya." jawab Kaysan yang mendengar suara ku.


"Oh, eyang tahu juga ibuku? Terimakasih eyang. Kalau bukan karena eyang mungkin sekarang mas Kaysan masih menjadi perjaka tua." ucap ku lirih sambil tersenyum-senyum.


"Dan kamu masih menjadi perawan?"


Aku menyetujui perkataan eyang Dhanangjaya.


"Dar... Darmi." Panggil Dhanangjaya saat melihat Mbok Darmi keluar dari rumah belakang. Eyang Dhanangjaya lalu beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Mbok Darmi.


"Eyang itu siapa, mas? Kenapa mas Kaysan terlihat lebih sopan dibandingkan dengan Ayahanda."


"Tempat curhatku."


"Hmm..."


"Rinjani izin mau pergi ke Mall boleh? Rinjani mau beli hadiah buat kakanda sayang."


"Boleh adinda, ajaklah Nanang atau si kembar."


"Emoh." [ tidak mau ]


"Baiklah, kalau itu pilihamu. Tidak perlu beli hadiah, di rumah saja!" Kaysan menyeringai.


"Bukannya beli hadiah buat mas, nanti uang jajanku habis buat traktir mereka bertiga."


"Mau sama siapa, Nakula atau Nanang?"


"Adik-adik yang lain gak pernah kesini mas? Kemana dan kenapa?" tanyaku heran, jika tidak ada acara keluarga, adik-adik Kaysan tidak akan berkumpul dirumah ini. Padahal aku suka keramaian.


"Hanya mereka bertiga yang aku izinkan untuk menjagamu. Ada pihak yang mendukung, ada pihak yang menjatuhkan. Ingat itu, berhati-hatilah."


"Sendiko dhawuh kangmas." Aku mengatupkan kedua tanganku.


"Pergilah, hanya saja tidak sampai larut malam. Aku masih ada urusan dengan Eyang dan Mbok Darmi."


"Urusan apa mas?"

__ADS_1


"Urusan rahasia."


"Ada sangkut pautnya dengan kita ya?"


"Iya Adinda." Kaysan menyelipkan anak rambutku. "Tidak perlu dandan."


"Kenapa?" Aku pura-pura tidak tahu alasannya, padahal sudah pasti dia akan bilang, k**amu cantik nanti banyak orang yang melirik, sungguh hafal betul aku dengan kalimatnya.


Selesai berpamitan dengan Kaysan, aku bergegas menuju Mall di pusat kota. Sendiri tanpa mengajak si kembar atau Nanang. Malas sekali jika harus bersama mereka, yang ada nantinya hanyalah aku yang harus menurut dengan ketiga laki-laki itu.


Tiga puluh menit kemudian, aku tiba di parkiran mall. Suasana nampak ramai, entah ada event apa di Mall ini, aku ingin melihatnya. Sekali-kali kan, apa salahnya? Pumpung kebebasan baru aku dapatkan.


Aku tersenyum senang dalam hati.


Aku melenggang masuk ke dalam Mall, sejujurnya aku bingung mau membeli kado apa. Karena semua yang Kaysan punya sudah ada di dalam almari miliknya.


Mendadak aku diselimuti rasa penyesalan. Harusnya memang aku mengajak salah satu dari we ware bare itu. Berkali-kali langkah ku hanya wira-wiri di antara toko ke toko, ingin masuk tapi tak bisa. Apalagi toko itu memiliki harga yang fantastis, uang jajanku pasti langsung menipis. Sedih...


Aku memilih untuk duduk di kursi yang tersedia, sambil memikirkan hadiah apa yang tepat untuk Kaysan.


Berada di keramaian tak mengubah hatiku yang gelisah, hingga akhirnya aku memilih untuk ke lantai atas. Perutku keroncongan, mungkin ini sebabnya aku bingung, setelah makan malam nanti aku akan siap mencari banyak kado untuk Kaysan. Aku tersenyum semringah, bak mendapatkan hidayah. Aku tiba di lantai food court. Beberapa makanan sudah aku pilih, sambil menunggu makanan siap, aku mengedarkan pandanganku.


Mataku menangkap sosok itu, laki-laki yang menjadi salah satu adik Kaysan.


"Dimas..." panggil ku sambil melambaikan tangan. Dimas berbalik dan memincingkan matanya. "Sini." Aku melambaikan tanganku.


Dimas menganggat bahu, lalu mendekati meja pesanan ku. "Ada apa?" tanyanya setelah duduk di depan ku.


"Sedang apa?" tanyaku basa-basi, apa begini anak-anak Ayahanda. Irit bicara semua. Dimas tidak menjawab, ia hanya mengangkat tas belanjanya.


"Belanja ya?"


"Sudah tau, jika tidak ada sesuatu yang penting aku harus kembali." Dimas sudah beranjak berdiri.


"Temani makan, bisa? Mbak tidak biasa makan sendirian. Tidak seru." kataku menahan tangannya.


"Umurku lebih tua darimu empat tahun."


Astaga! Nakula aku padamu, Dimas lebih kejam darimu, bahkan dia sama sekali tidak tersenyum.


"Baiklah, mas Dimas. Silahkan pulang ke rumah, takut nanti Ibunda mencarimu." Bersama dengan itu, makanan pesanan ku datang, semangkok bakso, jus melon, salad buah, belum ditambah pempek Palembang, semua tersaji di mejaku.


"Jangan lihat-lihat nanti pengen, sana pulang." Usirku mengibaskan tangan, jika tidak mau di kasih hati yasudah. Kan enak semua ini aku makan sendiri, tidak usah basa-basi.


"Apa mas Kaysan lupa menyuruhmu untuk minum obat cacing? Rakus sekali." ocehnya sambil menarik satu mangkok salad buahku. "Kalau mau dimakan juga boleh, yakin deh. Adik Rinjani ini baik hati dan tidak sombong." Dimas masih saja cuek, namun mulutnya sudah mengunyah salad buah.


Aku tersenyum kecut, "Selamat makan mas Dimas, tapi setelah ini. Temani adik Rinjani mencari kado buat mas Kaysan." Aku tersenyum jenaka, kena perangkap juga ini mas Dimas.


To all my Reader : Mugi Rahayu Sagung Dumadi. ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2