Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 48. [ Tendangan bebas ]


__ADS_3

Setibanya di villa, Kaysan membawa dua bungkus plastik berisi makanan. Tak lupa beng-beng satu box, katanya untukku biar aku semangat dan senang. Aku acungi ide gilanya, coklat itu memang menjadi moodboosterku.


"Mas, berapa banyak rumah yang keluarga mas miliki?" Sambil berjalan melalui selasar panjang dengan pilar-pilar kecil yang dicat berwarna putih. Mataku mengedar mengamati sekeliling. Aku berada di villa yang terletak diatas bukit, dengan pemandangan penuh dengan pepohonan yang ditata dengan apik, tak jauh berbeda dengan rumah Kaysan yang lain.


"Tidak perlu tahu, nanti kamu kaget." jawabnya sambil membuka pintu belakang.


Udara panas menyerbak tiba-tiba, halaman belakang rumah ini memiliki halaman kecil yang menjorok ke arah jurang, dipinggirnya diberi pembatas pagar. Dari kejauhan bisa terlihat hamparan laut yang indah tak terperikan.


Tak menunggu waktu lama kami berdua sarapan ditaman belakang, ditemani kicauan burung yang bertengger di atas dahan. Matahari mulai beranjak ke peraduan, ku lihat laki-laki disampingku menguap, matanya merah menahan kantuk.


"Tidur yuk mas, Jani juga ngantuk."


*


Menjelang sore aku sudah terjaga, ku dapati Kaysan masih tidur dengan lelapnya. Karena tak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku berkelana di dalam kamar. Melihat satu persatu pernak-pernik dan hiasan dinding. Bosan di kamar, akhirnya aku keluar sambil membawa HPku.


Tujuanku adalah dapur. Karena tak mungkin kita berdua akan puasa lagi semalaman.


Setibanya didapur, aku tersentak mendapati seseorang sedang duduk sambil tersenyum kaku ke arahku. Raut wajahnya seperti tak bersahabat, cukup tercengang juga dengan kedatanganku.


"Siapa kamu?" tanyanya dengan culas.


"A-ku, aku Rinjani." kataku gagu.


"Siapa kamu?" tanyanya lagi sambil menyorot tajam ke arahku.


"Rinjani, teman mas Kaysan."


"Teman? Teman tidur?"


Aku melongo, nyaris tak bersuara. Siapa sebenarnya gadis ini, tengil tapi memiliki wajah yang manis dengan alis yang simetris.


"Jadi gadis ini yang memikat hati Mas Kaysan, lumayan. Tidak terlalu udik."


Aku menggaruk tengkukku, merasa aneh dengan situasi ini. Bagaimana bisa tiba-tiba ada gadis yang terlihat seumuran denganku ada di villa keluarga Kaysan. Apa gadis yang mengataiku udik ini akan menjadi pengacau malam pertamaku. Ah! Menyebalkan.


"Aku sengaja kesini karena kata Ayahanda mas Kaysan akan menginap di villa tiga hari."


"Mas Kaysan masih tidur, disana." tunjukku ke arah kamar.


"Selain tidur kalian ngapain aja?"


Dahiku mengerenyit, ini gadis kenapa ya. Kepo sekali urusan orang dewasa. Tapi bagaimanapun jika dia adik Kaysan aku harus menghormatinya. Salah-salah dia akan mengadu pada Ibunda jika aku tidak menghormatinya.


"Tidur aja, tidak ngapa-ngapain."


Dia terbahak-bahak setelah mendengar jawabanku. Sambil menggeleng tidak percaya, dia melontarkan kata-kata yang membuatku terkejut , "Jangan-jangan kamu udah gak perawan, makanya mas Kaysan tidak mau menyentuhmu."


Darahku naik pitam, nafasku memburu. Jika bukan adik atau sedarah dengan Kaysan. Sudah ku sleeding tackel gadis tengil ini. Jelas-jelas aku masih perawan tingting.

__ADS_1


"Mas Kaysan belum menyentuhku karena kami memang belum melakukannya." jawabku sambil bermain HP.


"Jadi kalian tiga hari disini mau melakukan itu. Aku akan menganggu." jelasnya dengan bersemangat. Mau tak mau aku masih menggubrisnya.


"Gakpapa ganggu saja, tapi kalau mas Kaysan marah kepadamu aku tak mau tahu." Aku berjalan keluar membuka pintu belakang.


Berdiri dipinggir pagar, ku biarkan angin menerpa wajahku. Ingin ku mengadu pada lautan jika aku sedang muram. Dadaku sesak, belum satu hari menjadi keluarga Ningrat aku sudah diterpa masalah. Masalah ketidakpastian.


Aku berlama-lama dalam keheningan, memikirkan hal lain yang membuatku senang selain satu box beng-beng yang masih utuh didalam kamar. Ku buka HPkuku, banyak sekali notifikasi dari Nina dan Nanang?


Ku baca satu persatu pesan darinya, konyol. Dia sedang membuat masalah baru dalam hidupku.


Ku hapus satu persatu pesan darinya, hingga suara Kaysan membuyarkan konsentrasiku.


"Sedang apa, Rinjani?" Aku mengangkat HPku dan tersenyum.


Sang Surya mulai tenggelam, menyisakan pantulan cahaya merah di hamparan lautan.


"Mandi, ayo sholat dan makan malam."


"Tapi belum masak." jawabku.


"Indy yang masak. Dia bilang kalian sudah bertemu." Kaysan datang dengan wajah khas sehabis tidur. Menghampiriku yang masih bersandar dipinggir pagar.


"Katanya bulan madu, mas sengaja ya, undang Indy kesini, biar kita gak jadi jebol gawang." Aduku sambil memegang pinggangnya. Ku tekuk wajahku tak berselera.


"Nanti aku jebol gawangmu dengan tendangan pinalti atau tendangan bebas. Pilihlah Rinjani?" Dia tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku tahu, sudah tidak perlu dimasukkan hati ucapan Indy. Dia memang suka berbuat ulah."


"Mas..."


Disaksikan matahari yang tenggelam, Kaysan mencumbuku dengan pelan. Ku rasakan mangga tua ini benar-benar manis. Ku balas ciumannya meski kakiku harus berjinjit.


*


Malam hari di ruang keluarga, Kaysan dan Indy tampak bercerita panjang lebar. Bahkan Indy lebih mendominasi tubuh Kaysan daripada aku istrinya. Ia terus saja bergelayut dilengan Kaysan. Tapi Kaysan terlihat nyaman, apa ini yang dimaksud dengan hubungan darah. Bahkan aku disini terlihat seperti orang asing.


"Mas aku ke kamar dulu ya." Izinku yang diangguki Kaysan. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kamar. Mengunci pintu dan membaringkan tubuhku diatas ranjang. Penat melandaku, untung aku membawa headphone. Ku putar musik metal kencang-kencang. Memanggutkan kepala sambil berselancar di dunia Maya.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kaysan tak kunjung mengetuk pintu kamar. Hatiku bimbang, jika keluar yang kudapati hanya acuhan. Jika didalam kamar, aku mulai dilanda kehausan. Astaga, seperti ini saja sudah menjadi pilihan yang sulit.


Akhirnya aku memilih untuk keluar kamar, sebelum ke dapur harus melewati ruang keluarga. Kenapa rasanya malas sekali aku melewati kakak-beradik itu.


"Jani, belum tidur?" Kaysan melambaikan tangannya, dengan Indy yang masih bersandar di bahu Kaysan. Membuatku enggan untuk mendekati mereka.


"Jani haus, mas. Mau ambil minum."


"Minum yang banyak biar kembung." Celetuk Indy. Kaysan hanya diam sambil mengelus rambut adiknya, jadi yang dilakukan untukku hanyalah hal biasa. Bukan hal yang istimewa.

__ADS_1


"Tunggu mas sebentar lagi."


Aku mengangguk.


Setibanya di kamar ku dapati Kaysan yang sudah duduk disisi ranjang.


"Maaf, Rinjani. Indy adik perempuanku satu-satunya, dia sedikit over protective dan manja."


"Iya."


"Aku gak bermaksud batalin bulan madu kita." Kaysan menyelipkan anak rambutku.


"Besok kita pulang aja mas. Aku lebih suka dengan Mbok Darmi daripada harus disini tiga hari."


"Marah?"


"Dari kemarin mas emang gak niat kok. Buru-buru nikahi aku ujungnya cuma dianggurin, kalau gini kan Rinjani mending kerja daripada harus menanggung beban kewajiban." Aku melengos, sesuatu akhirnya terucap dari bibirku. Sesuatu yang harusnya tidak aku katakan yang akan memercik api permasalahan.


Kaysan menarik tanganku, mencium bibirku dengan ganasnya. Aku terkejut dengan kejadian yang begitu cepat, tanpa aba-aba. Tangannya mendorong tubuhku ke atas ranjang, menyingkap bajuku dan melepas penaut Bra yang aku gunakan. Bibirnya menyesap pucuk kenikmatanku seperti ia menyesap sebatang rokok.


Tubuhku menggeliat hebat, sensasinya luar biasa. Aku menegang, ku cumbui bibirnya tak kalah buasnya. Sudah kepalang tanggung, jika mahkotaku akan hilang malam inipun tak apa. Hilangnya sah diambil penerus tahta.


Aku mendesah panjang, Kaysan menggigit kecil pucuk kenikmatanku bergantian seperti takut jika mereka berdua akan iri jika tidak diperlakukan sama.


Nafasku tersengal-sengal, udara seperti hilang dari peredaran. Bisikan membuat telingaku panas, dadaku bergemuruh dan jantungku berdetak kencang.


"Ayo lakukan, Rinjani. Aku tidak akan melepasmu walau kamu menjerit atau menangis."


Aku sudah memancing singa dengan mangsa diriku sendiri.


Kaysan melepas semuanya. Tubuh kita sama-sama polos. Diatas ranjang, Kaysan masih melakukan hal yang sama. Dia tidak memberiku celah untuk bernafas atau hanya menggerakkan tubuhku.


Tangannya bergerilya menuju sumber mata air, memainkan jarinya. Rasa panas mulai menjalar di sekujur tubuhku. Aku kewalahan menghadapi tenaga Kaysan. Dia seperti kesetanan.


"Gantian." katanya sambil merangkulkan tangannya dileherku.


"Gantian apa mas?"


"Mainkan aku."


Rahangku hampir copot dibuatnya. "Maksudnya?"


"Lakukan semaumu dengan tubuhku."


"Hah..." Dicium lagi bibirku, sambil tangannya mengusap-usap bahuku.


Benda tak bertulang ini sudah mengeras, sesuatu sudah menggesek lubang mata airku. Basah. Dengan sekali dorongan, tubuhku sudah berada dibawah Kaysan.


"Aku menunggumu siap Rinjani. Tapi kamu memang gadis yang berani. Maaf jika nanti akan sedikit menyakitimu."

__ADS_1


"Mas... katakan pada adikmu jika aku masih perawan!"


Like ya reader πŸ™πŸ€˜


__ADS_2