
POV Kaysan.
Ketika aku melewati lobi, orang-orang mengamati kedatanganku. Mereka menunjukkan senyumnya, berbisik dengan kawan disebelahnya tanpa sedetikpun mengedipkan matanya. Aku tersenyum. Mereka seperti terpana melihat ketampanan pangeran yang sedang memakai atribut kerajaan lengkap dengan mahkotanya.
Detik-detik berlalu, mataku terpejam dengan helaan nafas panjang. Anne meletakkan sebelah tangannya di lenganku. Sungguh gimik murahan yang harus aku lakukan untuk menyita perhatian publik dan mendukung sekolah kami.
"Ini hanya acting, Daddy. Rilex." katanya begitu tenang. Sementara bayang-bayang Rinjani terus berputar di kepalaku. Setiap langkah tak terelakkan; semua harus menjalankan peranan masing-masing. Seperti halnya keadaan ini, tak bisa aku elakkan dari tanggungjawabku.
"Jika ini hanya acting, kamu jangan berlebihan!" tukas ku. Masalah bukan itu saja, perlombaan ini diadakan secara live streaming dan bisa di akses di seluruh dunia. Aku tidak mau Rinjani melihatku menari di depan Anne---gadis yang membuatnya cemburu---meski sebenarnya Rinjani pasti tahu, karena waktu pentas teaterikal dulu, Rinjani sudah tahu Anne adalah pemeran Shinta.
"Anne tahu, Daddy." Matanya mengedip sebelah. Aku mendengus muak.
Minggu-minggu musim semi dihiasi dengan langit yang cerah. Kuntum-kuntum bunga berwarna putih, merah, ungu, kuning bermekaran saat tertempa sinar matahari. Warna-warninya begitu indah, aromanya menumbuhkan rasa kebahagiaan yang hakiki. Namun, di dalam sini rasanya... Sunyi.
Terus terang, aku kelihatannya biasa-biasa menghadapi situasi ini. Tapi nyatanya aku berang sendiri dengan diriku. Aku melatih Anne menari selama berminggu-minggu, membiarkannya intens berdekatan denganku . Hingga hari ini tiba. Aku mendesah khawatir.
Aku sudah memberikan seluruh waktuku untuk anak didikku, mengkhianati kepercayaan diri dan kepercayaan Rinjani yang ia titipkan.
Sandiwara kisah cinta Rama dan Shinta menceritakan tentang seorang Rama yang tidak percaya pada kesucian Shinta saat di culik oleh Rahwana. Hingga Shinta diselamatkan oleh dewa api, saat Rama memintanya untuk menceburkan diri ke dalam kobaran api sebagai bukti kesuciannya yang masih utuh.
Cerita ini sungguh banyak intrik 'kepercayaan' dan keintiman antara Rama dan Shinta. Hingga diakhir pementasan, Rama dan Shinta akan mengakhirinya dengan tarian yang diiringi instrumental gamelan Jawa.
Tiba di bangku penonton yang sudah di siapkan pihak panitia. Kami menunggu giliran nomer urut untuk pentas. Anne berada di sebelahku, ia berkali-kali mengambil potret dirinya. Dan, dengan percaya diri menyebutkan seperti bidadari.
"Daddy, aku mau kostum seperti ini, dan kebaya seperti milik Grandma Laura." ujar Anne. Rasanya ingin sekali aku menggantungnya di jemuran, atau di tiang bendera agar badannya yang kerempeng semakin kering dan mudah tertiup angin.
Aku tak acuh. Namun, bukan Anne yang tidak punya akal. Ia meracau dalam Do'a,
Suara tepuk tangan menggema seisi ruangan, menenggelamkan suara Anne dan keinginannya. Mendadak, ia memasang air muka cemberut.
"Daddy mengacuhkan ku seperti papa."
__ADS_1
"Anne, ini di muka umum. Dan, aku gurumu. Berlagaklah seperti seorang murid yang menghormati gurunya. Ingat, baik-baik!" Anne mengangguk pasra, tapi dengan mudah ia mengembalikan moodnya dengan mengajak teman-temannya untuk berswafoto.
Ku hampiri guru-guru lain yang ikut memeriahkan acara perlombaan. Kami membicarakan tentang pertunjukan yang dipentaskan oleh SMA lain. Beberapa mengusung budaya suku aborigin, selebihnya mengusung tema cerita cinta remaja dan segala permasalahannya.
Sehari sebelum pementasan dimulai, kami sudah melakukan gladi resik dengan penata sound dan lighting. Tinggal menunggu satu lagi nomer urut, kami akan menggebrak panggung Sydney opera house dengan pementasan spektakuler.
POV Rinjani.
"Mbak..." panggil Nakula.
"Apa?" tanyaku setelah mencuci alat pemompa ASI.
"Keenan ada di Sydney opera house. Katanya hari ini mas Kaysan akan pentas." Ku angguki penjelasan Nakula.
"Bisa live streaming, Mbak. Kalau-kalau Mbak pengen lihat mas." Nakula menanti jawabanku. Sejujurnya aku malas melihat Kaysan menari, namun jika aku tidak melihatnya. Otakku hanya akan diisi dengan berbagai pertanyaan. Meskipun demikian, kami sudah menyerahkan janji dan aku hanya berharap laki-laki itu tidak mengingkari janjinya juga. Jadi dengan sabar aku meneruskan untuk menunggu.
"Jam berapa mulainya?"
Aku menarik kursi, menunggu.
"Apa yang kalian lakukan?" Aku menoleh, Santosa berdiri sambil menunjukkan gelagat bingung.
"Mau lihat sandiwara kisah cinta Rama dan Shinta." jawabku.
"Boleh saya ikut? Sepertinya bagus."
"Dalilah dengan siapa?" Hei, tidak mungkin kita asyik melihat Kaysan menari. Sedangkan Dalilah di kamar sendirian, meratap gamang langit-langit kamar.
"Dalilah tidur, ditemani Mbok Narsih."
Aku mengangguk, ku tunjuk kursi yang berbeda denganku. Santoso duduk disebelah Nakula.
__ADS_1
Layar televisi mulai menunjukkan keramaian di dalam gedung sydney opera house. Semua kursi tampak penuh berisi penonton dan siswa-siswi yang memadati area pertunjukan. Mataku langsung tertuju pada satu deret bangku penonton yang mengenakan baju yang berbeda dan tampak menonjol dari lainnya. Aku mengamati baik-baik gerak-geriknya.
"Gusti pangeran haryo Kaysan slalu gagah dimana pun berada."
Aku menyingungkan senyum kecil, "Itu memang suamiku." Suamiku yang sangat akrab dengan anak didiknya.
Ku cengkeram pegangan kursi.
"Belum mulai pertunjukkannya, ndoro ayu."
"Aku sudah malas. Menari mengingatkanku pada yang sudah-sudah." Aku tak bisa memikirkan dirinya yang kadang membuatku lemah, sedangkan aku di tuntut untuk berdiri tegak dengan kelembutan wajah. Ketika aku memikirkan hal itu lagi, seketika aku terkesima pada keironisan sebelum aku pergi mencari kost dengan Nakula. Saat mataku dengan terang-terangan menyaksikan kemesraan Kaysan dan Nurmala Sari menari kala itu. Dan, kejadian ini terulang lagi. Rasanya aku ingin mengenyahkan pandanganku. Namun, yang aku lakukan justru semakin melekatkan mataku pada layar televisi.
"Ada Keenan yang menjaga mas Kaysan." sela Nakula, mencoba menenangkan pikiranku.
Aku berdehem. Santoso kembali menunjukkan wajah bingung.
"Kalau GPH bisa menari, apa ndoro ayu juga bisa menari?"
"Ssttt... aku lagi fokus ini."
Santoso mengangguk.
Kami bertiga mulai fokus melihat epos sandiwara yang di kemas dengan begitu keren. Aku akui, apa yang Kaysan lakukan terlebih mengenai tanggung jawabnya, ia slalu menyiapkannya dengan sempurna.
Standing applaus yang terjadi di dalam gedung itu, di iringi tepuk tangan yang menggema seisi gedung membuatku merinding. Ku usap lenganku, kakiku bergetar. Dan, seketika air mataku menyeruak memenuhi pelupuk mataku. Kaysan dan Anne pasti berlatih dengan giat, terlihat chemistry yang terjadi diantara mereka berdua.
Dalam benakku disergap perasaan tidak nyaman. Aku beranjak dari kursi.
"Sudah lama aku meninggalkan Dalilah." kataku sambil lalu, menghindari tatapan kasian dari Santosa dan Nakula. Nakula memanggilku berkali-kali, aku tak peduli.
Harusnya aku menolak ajakannya dan semua yang aku lihat berakibat menunggu terlalu sulit sekarang.
__ADS_1
Happy reading ๐