Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Anne vs Kaysan ]


__ADS_3

POV Kaysan.


Ada terlalu banyak kejutan yang harus ku adang dalam hitungan Minggu. Aku tak pernah menyiapkan diri untuk menghadapi situasi ini. Dimana Anne terus menatapku penuh dengan rasa dendam.


Empat hari mengambil cuti rasanya tidak cukup membuat Anne meluruhkan rasa bencinya. Bahkan dia juga mengembalikan kado yang aku berikan. Rasanya aku geram. Terlebih menghadapi remaja labil yang patah hati.


Ada-ada saja tingkah dan ulahnya.


Dari mulai mengempeskan ban mobilku. Membuat ruang kerjaku dipenuhi dengan potongan kertas. Ditambah lagi yang paling membuatku geram adalah Anne memberiku foto dirinya yang sedang memakai monokini yang mempertontonkan auratnya dan tubuhnya yang langsing.


Anne memang tinggi, hampir sama denganku. Rambutnya pirang lurus dan panjang. Bibirnya mungil namun penuh, rahangnya runcing. Ia di gadang-gadang menjadi selebgram terkenal asal Australia dan akan di rekrut menjadi model majalah dari salah satu agensi internasional.


Entah, apa yang dia cari dariku yang sudah akan menjadi papa muda satu anak ini. Hmm... Berkat Nakula aku bisa melihat prosesi mitoni yang diadakan di rumah utama. Rinjani cantik dan slalu cantik. Tapi pasti ia curiga denganku yang tak pernah mau mengangkat telepon atau membalas pesannya. Ada perasaan sesak yang memenuhi rongga dadaku, dan itu sulit aku tepikan.


Hari ini sebenarnya aku tidak ada lagi jadwal mengajar. Tapi, cuaca memburuk. Angin sedaritadi berhembus kencang, membuat pihak sekolah menunda kepulangan para siswa dan memberikan kelas bebas yang disukai para siswa.


Aku memilih berjalan-jalan di koridor sekolah, menikmati tempat dimana aku bisa mencari rezeki untuk istriku dan keluarga ku. Beberapa siswa yang mengetahui kejadian malam itu ada yang memperingatkan bahwa keluarga Anne bukan keluarga sembarangan dan cukup disegani di sini.


Ternyata menjadi tampan tak selalu mendapat hal baik. Dalam tanda kutip, untuk masalah percintaan. Dan, entah kenapa aku ingin terlihat tua jika jauh dari Rinjani, dan terlihat muda saat berdekatan dengannya. Terdengar aneh keinginanku satu ini. Tapi percayalah menjadi laki-laki yang berwibawa dan berkharisma tidak slalu mudah.


Aku sampai di ruangan bernuansa retro klasik, ruangan dimana jarang ada siswa yang memasukinya.


Namun, gadis itu... Ada disini. Belum juga langkah ku keluar dari ruangan ini, pupil mata itu menangkap bayanganku. Aku memejamkan mata singkat. Mungkin aku memang harus menghadapi Anne dengan baik dan tanpa-tanpa kata yang menyinggungnya. Sungguh memusingkan kepala.


Aku urung keluar dan lebih memilih duduk di bangku kira-kira berjarak tiga meter darinya.


Anne hanya melihatku dan tak acuh.


Aku berusaha tersenyum, "Masih marah?" tanyaku basa-basi. Demi Tuhan! Aku tidak suka keadaan ini.


Anne mendongkak, ia menatap lamat-lamat wajah ku. Seperti saat aku menatap wajah Rinjani penuh cinta dan damba.

__ADS_1


"Umurmu masih muda, Anne. Banyak cita-cita dan perjalanan hidup yang menarik untuk kamu lalui. Banyak hal nyata yang lebih indah dari sebuah cinta monyet."


Anne menggeleng, wajahnya masam tak seperti biasanya yang selalu ceria dan centil. Kemana..., Apa karena aku. Sungguh Rinjani, aku butuh bantuanmu kali ini. Tolong suamimu yang tidak bisa menghadapi gadis labil yang jatuh cinta dengan suamimu.


"Enam Minggu lagi istriku melahirkan."


Ekspresi datar Anne menyulitkan ku untuk 'membaca' pikiran yang berkecamuk di kepala gadis itu.


Entahlah, memang harusnya aku mencairkan uang dan membayar semua denda karena tidak memenuhi kontrak kerja. Ini lebih pusing dibanding menghadapi Nurmala Sari.


Aku beranjak berdiri, tak ingin sia-sia membuang waktu menghadapi Anne yang masih bergeming di tempat duduknya.


Rasanya tidak pengaruh apapun jika aku menjelaskan sebabnya aku tak mau menghianati wanitaku. Aku lalu...,


"Apalagi, Anne?" Aku berhenti di ambang pintu saat Anne memanggil namaku dengan suara serak yang tercekat di tenggorokannya.


Anne menunjukkan bangku yang kosong di sampingnya.


Boleh aku katakan, jika seragam di sekolah ini sedikit berbeda dengan yang ada di Indonesia. Disini semua siswa perempuan memakai rok rample di atas lutut. Dengan kaos kaki yang panjang sampai menutupi betisnya.


Anne mengibaskan rambutnya sesaat. Sebelum ia benar-benar menatapku dengan tatapan menilai dari atas ke bawah.


"Saya tahu siapa Mr.Kay."


Aku masih diam, masih menyimak setiap kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya yang kata teman laki-lakinya sensual.


"Prince Kaysan Adiguna Pangarep. Maafkan sikapku dan kedua orangtuaku. Tapi, tak akan ku biarkan Mr.Kay menolakku. Aku bisa menjadi istri kedua Mr.Kay dan aku masih perawan."


Anne masih terus mengutarakan rentetan argumentasinya menggunakan bahasa Inggris.


Aku mengeluarkan dompet dan memberinya foto USG Dalilah.

__ADS_1


"Wanita tak akan menyakiti wanita, dan besok anakku akan menjadi wanita. Cantik sepertimu."


Anne kembali menatapku.


Maafkan aku Rinjani, kali ini saja mulutku memuji wanita lain, cantik. batinku sambil memikirkan bagaimana solusi terbaik untuk membuat Anne mengurung niatnya.


"Aku cantik?" tanya Anne, menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, kamu cantik. Kamu memiliki kesempurnaan sebagai wanita. Kamu harus beruntung, dan menggunakan kecantikan mu untuk hal-hal baik. Baik dari paras dan hati."


Ampun..., Rinjani akan menghunuskan pedang ke tubuhku jika ia tahu aku berkata seperti ini.


Anne memaksakan tawa kecil yang sumbang, "Itu bukan alasan untuk Mr.Kay menolakku."


"Maaf Anne, laki-laki dipegang teguh oleh kesetiaan. Dan, aku laki-laki yang setia hanya untuk istriku."


"Cukup! Jangan melebihi batas. Aku memang hanya menjadi gurumu dan tidak memiliki kuasa disini. Tapi, jika kamu mengusikku dan keluarga kecilku, aku tidak bisa tinggal diam, Anne."


Terserah, aku muak dengan kondisi ini.


Aku memang diam dan tak melaporkan kejadian pengeroyokan yang dilakukan bodyguard keluarga Anne. Aku pikir, itu akan menyita waktuku. Lagipula, Bapak sudah meminta suami Sheila untuk memberikan pengawasan untukku.


Lebih baik Sadewa berpacaran dengan Anne daripada Irene. Dan, dia bisa menikah muda dan menikmati malam pertama. Dan, aku bisa terbebas dari kejaran anak SMA yang ingin nikah muda dan menjadi istri kedua.


Bodoh sekali, ia tidak tahu menjadi istriku harus siap dengan semua peraturan dan paugeran yang ada. Belum lagi, ia harus menanggalkan kebebasan.


"Kamu pikir mudah dan menikah hanya persoalan perkawinan dua anak manusia berlain jenis karena atas dasar cinta. Tidak semudah itu, Anne. Tidak semudah itu." Aku mengulang kalimatku. Sudah hilang kesabaran ku saat Anne masih berargumentasi tentang keinginannya untuk menjadi kekasih gelap ku. "Pernikahan jika hanya karena cinta sesaat tak akan cukup untuk bertahan jika ada badai menerjang. Cukup, jika kamu masih ingin aku bekerja disini. Jadilah selayaknya murid lainnya." Aku berusaha meredam emosiku saat Anne ketakutanku mendengar suaraku yang menggelegar dan membuat siswa lainnya menoleh ke arah kami berdua.


Aku lari ke sini untuk mengendurkan ketegangan di bahuku. Namun, sebagai gantinya, kini justru ada beban baru yang ku sandang. Beban melumpuhkan tingkah liar Anne.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2