
Malam harinya di meja makan, semua keluarga sudah berkumpul termasuk Tuniang Dewi.
Ayahanda menatapku dan Kaysan dengan tajam. Aku hanya berani menunduk, sedangkan Kaysan memegang tangan kiriku.
"Sepertinya masih terjadi genderang perang. Sul, dengan anak mantu jangan galak-galak. Jangan terlalu menekannya."
"Wi, saya tidak butuh nasihatmu." Ayahanda membantah.
"Sul, jika terlalu menekan kedua bocah yang sedang kasmaran justru akan membuat kedua bocah ini semakin membangkang. Justru kamu akan kehilangan pewaris tahta dan penerusmu. Kamu tidak ingin,'kan kehilangan Kaysan. Dia sudah jauh-jauh menjemputku untuk mengajari anak mantumu belajar menari. Kamu tidak tahu,'kan, Sul. Jika cinta bisa membuat manusia bertindak semaunya. Ora waras, koyo sliramu."
"Dewi Sekartaji! Berapa banyak uang yang putraku keluarkan untuk membayarmu?" tanya Ayahanda sembari menunjukkan wajah yang sudah merah padam.
"5 are²."
"Rinjani putriku, 5 are² ditanah Bali sama dengan 1M. Kamu tahu itu bukan uang sedikit untuk membayar guru penari seperti Sekartaji. Tabiatnya kurang ajar, hanya dia wanita tua yang kau sebut Tuniang Dewi yang berani melawanku. Putriku Rinjani, jangan sampai uang yang dikeluarkan putraku hanya kau buat sia-sia."
"Baik Ayahanda." ucapku sedikit tergagap karena gemetar. Bahkan Kaysan juga merasakan tanganku yang sudah dingin.
"Habiskan apa yang sudah kalian ambil ke dalam piring, selamat makan malam istriku, anak-anakku, dan kau Sekartaji."
"Sul, Sul. Sudah tua sensi amat." Tuniang Dewi tersenyum jenaka. Siapa sebenarnya Tuniang Dewi Sekartaji ini, kenapa Tuniang begitu berani menasihati Ayahanda yang notabene adalah orang yang dihormati kekuasaannya.
Makam malam selesai, Ibunda dan Ayahanda mudah bergandengan tangan menuju rumahnya. Kini tinggallah aku, Kaysan, si kembar dan Tuniang Dewi di meja makan.
"Kalian berdua pergilah." titah Tuniang Dewi kepada si kembar.
Sadewa yang asik memainkan HPnya hanya mengangguk, "Sadewa!" pekik Tuniang Dewi.
Sadewa gelagapan, dengan sigap menyembunyikan Hpnya dikantong celananya.
"Tuniang mengagetkan saja, Sadewa pergi jika Sadewa menganggu."
"Besok Tuniang ingin melihatmu menari, begitu juga Nakula. Sudah dewasa seperti ini apa kalian masih begajulan seperti dulu. Tuniang akan menilai."
Sadewa dan Nakula tampak saling bertukar pandang lalu mengangguk pasrah.
"Baik Tuniang. Besok selepas kuliah kami menemui Tuniang."
"Ajak juga kakakmu."
Kini giliran Kaysan yang angkat bicara, seperti ada yang disembunyikan diantara kakak beradik yang saling menatap penuh tanda tanya.
"Kakak Nakula dan Sadewa sedang diluar kota. Tuniang Dewi saya jemput hanya untuk mengajari Rinjani menari." kata Kaysan mengebu-gebu.
Tuniang Dewi hanya tersenyum simpul, "Ada apa, Kaysan? Ada yang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada Tuniang."
"Baiklah, kalian bertiga istirahatlah. Dan, kamu Kaysan ada yang mau Tuniang bicarakan."
Kaysan mengiyakan, "Jani, pergilah ke kamar dulu."
"Baik, Mas."
Aku tersenyum pada Tuniang sekaligus pamitan untuk ke kamar. Begitu juga si kembar. Kami bertiga menuju kamar.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, aku menatap Nakula dan Sadewa, "Kalian juga menari?"
"Iya, Mbak. Kami sudah berpengalaman, sudah di gembleng sejak lama." kata Sadewa sudah dengan HP ditangannya.
"Jadi besok aku melihat kalian menari? Tapi aku malu."
"Kenapa malu, Mbak?"
__ADS_1
Aku mengangkat bahu, "Entah, untuk berjalan dengan jarik saja aku kesusahan."
"Pesimis!"
Nakula yang berjalan di belakangku menyeletuk dengan senangnya.
"Baru juga sehari berlatih, udah Nyerah. Inget Mbak, 1M."
Tiba-tiba aku lunglai, 1 miliyar terngiang-ngiang dikepalaku. Untuk melihat jumlahnya saja aku tak pernah, apalagi memegang uangnya.
"1M uang dari mana saja ya, banyak banget."
"Mbak gaktau jumlah uang yang dimiliki mas Kaysan?" Sadewa menggeleng heran.
"Enggak, Mbak gak pernah tanya-tanya keuangan mas Kaysan, yang penting uang jajan sama bensin lancar udah cukup."
Nakula berdehem, aku menoleh.
"Apa?" kataku sambil menajamkan mata.
"Hmm."
Cukup kata 'Hmm' saja aku sudah paham jika ia sudah menyelesaikan misinya. Aku mengangguk, hingga kami berpisah dikamar masing-masing.
Dikamar, aku membuka laptopku untuk mengerjakan beberapa tugas terabaikan karena latihan menari tadi. Dimeja belajar ini aku sudah sibuk mengetik jawaban sampai aku tidak menyadari jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar, memelukku dari belakang. Sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Mas?"
"Iya."
"Kenapa?" tanyaku menyudahi mengetik di keyboard.
"Lihat telapak tanganmu." Minta Kaysan sambil menarik tanganku, aku sedikit mendongkak melihat Kaysan yang melihat kedua telapak tanganku.
"Mana lagi yang sakit, Hmm? Kakimu tidak apa-apa?" tanyanya masih khawatir.
"Aku baik-baik saja, Mas. Tidak ada yang lecet dari tubuhku." kataku menenangkan.
"Yakin?"
"Hmm."
Kaysan menurunkan tanganku, lalu memelukku lagi. "Sedang apa?"
"Ngerjain tugas, mas sendiri sedang apa?" tanyaku pura-pura.
"Aku sedang belajar kesungguhan."
"Kesungguhan apa?"
"Kesungguhan hati."
Aku tersenyum, "Mas, jangan merayu."
"Salah?"
"Tidak, bukan begitu."
"Lalu?"
"Hentikan kebiasaan berlebihan untuk ku, Mas. Aku tidak pantas menerimanya."
"Kamu pantas."
__ADS_1
"Harus bagaimana aku membalasnya, Mas. Jani gak punya apa-apa, sedangkan mas dengan mudah mengeluarkan uang segitu banyaknya untuk ku."
"Mencintaimu bukan masalah materi, dan kamu tidak perlu membalasnya. Hanya perlu kamu ada untukku."
"Aku jadi tidak enak hati."
"Maka enaknya kita harus bagaimana, Hmm." Kaysan sudah mengecup ceruk leherku, "Aku sibuk, Mas."
"Kamu hanya perlu diam."
"Mas, sebel ih." Aku sudah menahan tangan Kaysan saat pelukannya sudah beralih ke Cherry kembarku.
"Bukannya tidak enak hati, jadi begini cara membalasmu."
"Mas ini bicaranya suka begitu, suka bikin Jani semakin tidak enak hati."
"Aku sudah bilang, diam saja, aku yang main."
"Jamunya,'kan baru bisa diminum besok pagi, kenapa sekarang mas sudah nakal?"
"Jamunya untuk besok, sekarang mode santai saja."
Aku sudah kegelian saat Kaysan sudah mencium cuping telingaku, sedangkan tangannya sudah menyusup masuk ke dalam bajuku.
"Cium, Mas." Aku dilanda gelisah.
Kaysan dengan senang hati mencium bibirku, menyalurkan rasa hangat. Sehari saja aku tak merasakan bibirnya, rasanya ada yang kurang.
Tangannya tak berhenti diam. Aku semakin meremang. Tapi Kaysan masih asik mencium bibirku, cukup lama mendongkak akhirnya aku merasakan pegal melanda leherku.
Aku menahan tangan Kaysan, dia melihatku. Belum cukup katanya terlihat dari sorot matanya. Namun, ia juga melepas ciumannya.
"Kenapa?" tanyanya mengusap bibirku yang ranum.
"Pegel, nanti tengeng."
Kaysan mengulas senyum, "Aku pangku. Berdirilah."
Aku menurut, kini berganti posisi. Aku sudah duduk dipangkuan Kaysan.
"Hanya ingin bermain, jadi jangan minta lebih."
"Mas, curang."
"Lalu mau bagaimana?"
"Biasanya."
Kaysan sumringah.
"Hmm."
"Mas, Mau itu."
"Itu apa?"
"Pisang Ambon."
Kaysan tergelak, dia menciumku lagi sebelum akhirnya menurunkan celananya.
Kursi belajar bunyinya terus berderit diatas lantai. Sedangkan Kaysan dibawah sana asik menerimanya dengan senyum yang mengembang.
Revisi lagi 🤭
__ADS_1