Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 31. [ semut ]


__ADS_3

Aku melangkahkan kakiku menjauhi Kaysan, saat ia tak bergeming dari tempatnya dan mengejarku. Jika dia marah lebih seperti sebuah batu. Entah kenapa aku lebih suka banteng yang mengamuk.


Suasana malam ini cukup terlihat ramai, banyak remaja yang masih bersenda gurau di emperan toko, sambil bersiul kearahku. Aku tak peduli. Ku langkahkan kakiku menuju ojek online yang masih duduk menunggu pelanggan.


Kaysan masih diam, apa dia tak menyadari kalau aku sudah menjauhinya? Apa mungkin pertanyaanku salah, atau telah ku buka luka lama laki-laki berusia 34tahun itu. Sayang sekali, kejujuranku tidak dibalas dengan kejujuran. Menyesal aku menceritakan kisah masa laluku, mungkin sekarang dia berpikir aku bukanlah gadis baik-baik.


Aku sudah membonceng motor bapak ojek online, sengaja setelah melakukan pemesanan aku mematikan HPku.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Pikiranku melayang pada Kaysan. Sedang apa laki-laki itu.


Tak terasa hingga aku sampai ke depan toko Bu Rosmini.


"Mbak, sudah sampai."


"Eh, iya pak.


Aku turun dari motor dan membayar ongkosnya.


Sambil berjalan, aku merogoh tasku untuk mencari kunci rolling door. Jika malam aku memang sengaja mematikan lampu depan untuk menghemat listrik. Aku membuka gembok dan menaikkan rolling door, hingga pantulan cahaya dari pintu kaca membuatku berbalik.


Mobil Kaysan berhenti tepat di parkiran toko. Ia berjalan cepat kearahku. Baru satu minggu berpacaran dengan anak Ningrat, sudah membuat hatiku senewen.


"Kenapa mas kesini, Aneh." kataku sambil membuka pintu.


"Jani, aku khawatir. Aku pikir kamu hilang."


Aku menyilangkan jariku di depan kening, Sinting.


"Mas pulang ini sudah larut. Aku tidak mau di gerebek warga." Aku mendorong tubuh kaysan dengan sekuat tenaga.


"Aku jelaskan Rinjani."


"Tidak perlu dipaksakan jika mas belum nyaman untuk menceritakan. Sekarang mas pulang. Atau aku teriak jika mas mau memperkosaku."


"Rinjani!"


Aku menghela nafas, memilih duduk di anak tangga. Diikuti Kaysan yang ikut duduk disampingku.


"Ayo katakan, sejujurnya!" Desak ku lagi, karena sejujurnya aku sudah ngantuk, ku pincingkan baik-baik gendang telingaku untuk mendengarkan dongeng sebelum tidur.


"Perjodohan! Aku dan Nurmala Sari sempat dijodohkan oleh kedua orang tua kami, untuk melebarkan sayap kerajaan dan kekuasaan."


"Lalu, putus?"


"Banyak hal yang tidak kamu ketahui di dunia kami, Jani. Banyak hal yang menjadi perdebatan diantara aku dan Nurmala Sari." jelas Kaysan mengebu-gebu.


Aku mengangguk, "Sudah cukup sepertinya mas, pulanglah. Rinjani mau tidur."


"Besok aku kesini lagi. Tidurlah, sebab rindu juga butuh istirahat."


"Memang siapa yang rindu, mas gak usah ngawur." Aku sudah menarik rolling door ke bawah dan mengulas senyum.


"Aku rindu, Rinjani. Tunggu besok pagi." Dia sedikit berteriak. Mau kesini jam berapa besok pagi, yang benar saja bahkan ini sudah dini hari. Bahkan besok saja aku tidak libur, jangan bilang jika dia mau merusak hari-hariku. Dasar pengacau hatiku, batinku menggerutu.


Malam ini aku menghempaskan tubuhku diatas kasur, entah kenapa perasaanku tiba-tiba jengkel.


Nurmala Sari adalah mantan calon istri Kaysan. Ya! Itu kebenaran yang baru saja aku dapat. Tiba-tiba hatiku sesak. Memang apa yang membuat mereka berpisah, segitunya ia menutupi kisah masa lalunya.


Aku mencoba berpikir, tapi jangkauan otak ku tidak sampai, ya sudahlah! Toh ini baru seminggu juga jalan bersama, entah apa yang terjadi besok pagi. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu.


Aku sudah lelah dengan keadaan, aku tidak mau lelah dengan perasaan. Biarkan saja, jika jodoh tak kemana. Jodoh sejati tidak akan pergi, kalaupun pergi pasti ada yang mengganti.


*


Masih sepagi ini aku sudah merasa geram. Dia benar-benar datang ke toko, menggedor pintu rolling door berkali-kali.


Mataku masih menyipit, ku langkah kakiku dengan terduyun-duyun ke arah pintu. Aku tidak peduli dengan penampilanku, rambutku berantakan dan tai mata yang menghiasi wajahku.

__ADS_1


Aku buka pintu satu persatu. Ku dapati ia memakai baju training olahraga. Apa dia mau olah raga, he-yyy, bahkan mentari belum muncul menghiasi bumi. Mau apa dia sepagi ini,


"Mas?"


"Jani belum siap?"


"Siap apanya mas? Aku masih ngantuk."


Aku mengusap wajahku berkali-kali. Mataku masih berat untuk ku buka lebar-lebar.


"Tidak baca pesan yang aku kirim?" katanya sambil mengusap kepalaku.


"HPnya aku matiin dari tadi malam."


"Temani aku jogging." titahnya yang teramat membuatku semakin malas untuk beranjak dari anak tangga.


"Mas, aku hanya tidur 4 jam. Apa semalam mas tidak tidur?" tanyaku dengan nada malas.


"Nanti tidur di mobil."


Dia sama sekali tidak mengindahkan ucapanku, baginya omonganku seperti angin lalu. Bahkan dia tidak membahas masalah semalam. Sungguh luar biasa perangainya.


"Mas, aku ngantuk dan harus kerja!" sanggahku cepat.


Penolakanku sia-sia, dia mengunci pintu kaca dan menutup rolling door. "Mas ayolah, Jani ngantuk. Gak mau berkompromi..."


Kaysan membopong tubuhku dan membawaku masuk ke dalam mobil.


Dia menaruh tubuhku diatas kursi dengan hati-hati, memasangku sabuk pengaman.


"Sudah dibilang, aku tidak pernah mendapat penolakan."


Aku menyilangkan tanganku. Sungguh ironis sekali, pacaran dengan mas-mas berumur matang memang menyebalkan.


Mobil melaju entah kemana tujuannya, slalu saja ada kebisuan diantara kita.


Ia mencari sesuatu di bangku penumpang, "Pakailah." Kaysan menyelimutkan jaket hitam dibahuku, mengelus pipiku. "Maaf..."


"Maaf untuk apa?"


"Membuatmu membalas rinduku."


Eh... hatiku sudah ingin melompat dari tempatnya. "Bisa aja kamu mas." Pipiku mengembang.


"Senyummu adalah obat rinduku, Rinjani."


Aku menutup wajahku dengan jaketnya. Sudah tidak tahu lagi dengan wajahku yang semerah kulit Cherry.


Dia kembali fokus mengemudi. Aku memperhatikan dia diam-diam dari balik jaket. Sial! Dia tahu aku melihatnya.


"Kenapa?" Dia hanya menoleh dan kembali fokus mengemudi.


"Gak... gak papa." ucapku sambil tersenyum.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


Mobil berhenti di tengah rambu lalu lintas, 120 detik menuju lampu hijau. Begitu lama menurutku untuk menjawab pertanyaannya. Matanya memberikan tatapan yang membuat hatiku berdebar untuk pertama kalinya.


"Mas gak tidur?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.


"Jawab pertanyaan tadi, baru tanya lagi."


Aku menghela nafas, rasanya percuma berkelit dengan laki-laki berumur. Aku mendapatkan kenyataan lagi bahwa tidak boleh membantah laki-laki ini. Akhirnya aku menyampaikan pendapatku tentang tatapanku, "Aku rasa mas gak tidur karena masalah semalam. Jadi pagi-pagi sudah menemuiku. Apa ada yang perlu mas bicarakan?"


Aku menatap Kaysan, matanya merah mungkin karena dia juga menahan kantuk.


Dia memegang bahuku, mengelusnya dua kali, "Beri aku waktu."

__ADS_1


Aku mengangguk, 120 detik akan menjadi hal yang tidak aku lupakan.


Mobil kembali melaju. Aku lebih memilih untuk tak menatapnya, lebih takut lagi jika dia bertanya kenapa?


Tidak mungkin aku bilang, jika dia adalah laki-laki batu yang bicara diwaktu yang hanya dia mau. Sungguh egois...


Dua puluh menit kemudian, kami sampai ditaman kota. Cahaya mentari tampak malu-malu untuk memancarkan cahayanya, padahal aku butuh sedikit kehangatan darinya.


Kami berdua keluar dari mobil, dia menghampiriku, menggengam tanganku, tangannya begitu berotot, aku bagi adik yang ia jaga dengan baik.


Dia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata. Akupun ikut membisu, ku ikuti setiap langkahnya. Andai langkah ini akan selaras dengan keadaan. Aku rasa aku adalah wanita yang bahagia dengan takdir yang begitu indah.


Kami berjalan melalui jalan bebatuan yang ditata rapi. Melewati bunga-bunga dengan embun yang masih menghiasi daunnya. Udara begitu segar, kicauan burung mengiringi langkah kami. Aku dan Kaysan tiba dibangku taman, "Duduklah." Ia melepas genggaman tangannya, wajahnya terlihat datar. Astaga, aku bingung harus berbuat apa. Jika dia tak sekaku ini, mungkin kami bisa bercanda atau hanya membicarakan hal-hal sepele yang membuat kita saling tertawa.


"Katanya mau jogging?"


"Jogging hanya alasanku untuk mengajakmu berduaan."


"Baik, lalu mau apa kita di taman? Mas gak takut ada orang yang mengenali mas?"


"Taman milik keluarga, hanya akan dibuka setelah jam tujuh."


Fakta apa lagi ini, dulu dia menawariku bukit. Kini ia mengajaknku ke taman milik keluarganya. Jika dilihat taman ini cukup luas, ada sebuah kolam buatan dengan air mancur dan taman bermain disampingnya.


Ku lihat ia menguap, "Mas beneran gak tidur?"


Jawabnya hanyalah anggukan, "Sini, tidurlah." Ku tepuk pahaku. Matanya mendelik, mungkin ia butuh keyakinan untuk melakukannya.


"Tidurlah, sebab rindu butuh istirahat." kataku mengingat ucapannya semalam. Ia tersenyum sambil mengangguk, seperti bebek yang sudah ketemu keong emas.


Kakinya ia tekuk ke atas kursi taman, dengan ragu-ragu menyandarkan kepalanya di pahaku.


"Rilex mas. Kamu seperti sapu ijuk tahu. Jarang senyum, jarang bicara. Jani, 'kan bingung harus gimana. Jani gak tau mas gimana, jadi terbukalah dengan banyak hal mas. Termasuk hal-hal kecil, mas suka apa?" Ku tepuk berkali-kali bahunya.


"Suka kamu Rinjani."


Aku terkekeh mendengar jawabannya.


"Apa yang mas suka dariku?" Ku elus bahunya, karena aku tidak berani mengelus kepalanya. Rasanya tidak sopan.


Kaysan mengubah posisi kepalanya, kini ia menengadah ke arahku. Sorot matanya sungguh melelehkan jiwa ragaku. Rasanya jiwaku bergejolak, ada sesuatu yang sedang merayap ke tubuhku.


"Kamu ingat saat pertama kali kita bertemu."


Aku mengangguk.


"Senyumlah seperti saat itu."


"Kenapa?"


"Kamu manis."


"Jadi mas sekarang sedang menjadi semut?"


"Semut tak selalu mencari yang manis Rinjani. Semut juga mencari tempat yang nyaman untuk singgah."


"Lalu..."


"Jika esok aku menjadi raja, aku adalah raja dari ribuan semut dan kamu adalah ratu semut. Seorang ratu semut mendapatkan kedudukan tinggi, memiliki semut penjaga, semut pekerja dan sem...


"Gak, gak mau! Jangan samakan dengan semut!" Aku mencekat ucapannya, "Dalam satu koloni semut bisa memiliki 2-3 ratu semut. Aku tidak mau. Bahkan ratu semut akan mati setelah menetaskan telur-telurnya."


"Hanya kiasan. Aku menyukaimu tanpa syarat."


Kaysan merengkuh tubuhku dan menyembunyikan wajahnya di depan pusarku. Ini posisi paling ekstrim yang pernah aku rasakan.


*

__ADS_1


Happy Reading πŸ’šπŸ€—


__ADS_2