
Wajah dan kupingku bersemu merah, terlebih hatiku berlonjak girang. Aku tersenyum malu-malu, dan hanya bisa menunduk melihat ujung jari kakiku. Kejutan yang dibuat Kaysan semakin membuatku terharu. Tenderloin steak ala hotel bintang lima tersaji dengan mewah diatas piring, ditambah lilin yang menari diatas meja menambah kesan romantis dan dilematis. Si kuning tulip di dalam vas kaca berisi air dan dua ikan Betta yang sedang bermain kejar-kejaran menambah kesan nyeleneh dinner hari ini.
"Dapet ikan Betta dari mana, Mas?"
"Dari penjual ikan."
"Oh, emang mau ternak ikan Betta."
Kaysan menarik mundur kursi dekatku. Kursi yang sudah berhias pita dan diselipi bunga baby birth berwarna putih.
"Silahkan duduk tuan putri."
"Ah, terimakasih." ucapku menekuk salah satu lutut dan melebarkan gaun putihku.
Kaysan beralih ke tempat duduknya, badannya tegap menampilkan wibawanya. Seulas senyum ia berikan.
"Makanlah."
"Nakula mengadu?"
"Sapi ini lebih mahal dari sapi yang kamu makan dengan Nakula. Jadi nikmatilah."
"Daripada ternak ikan Betta, lebih baik kita ternak sapi metal saja mas. Lebih menguntungkan."
Kaysan menarik salah satu sudut bibirnya, "Boleh, nanti aku siapkan kandangnya dulu."
Mataku melotot, "Hanya bercanda. Jangan apa-apa yang aku bilang kamu turuti, Mas."
"Bagus juga idemu, nanti anak-anak, kita suruh minum susu dari sumbernya. Lebih fresh."
"Ngawur!" Aku melempar serbet kearah Kaysan, namun berhasil ia tangkis.
"Karena itu hanya milikku." Kekehnya sudah diselimuti gelombang nafsu.
"Makan yuk, Mas. Kasian sapi mahal ini, mubasir kalau hanya sebagai pelengkap ide nyelenehmu untuk makan malam romantis hari ini."
"Baik, aku juga butuh energi. Karena kamu akan habis malam ini."
"Tadi aku sudah pegang, kecil." Aku menggenggam tanganku, menggambarkan bagaimana bentuknya saat tidak bergejolak.
"Namanya juga lemes, sedang istirahat. Tapi bukankah kalau sudah tegang besarnya seperti pisang Ambon?"
Aku terbahak-bahak, "Betul, betul, betul." Sambil mengangguk menyetujui kejujuran Kaysan.
"Selamat makan, Mas. Terimakasih untuk hari ini. Saranghae, Mas."
"Saranghae? Sarang burung apa, Rinjani? Burung beo?"
__ADS_1
Belum juga slice tenderloin sapi ini mendarat di bibirku, aku malah dibuat terpingkal-pingkal dengan pertanyaan Kaysan.
"Mas emang kejawa-jawaan, tapi calon raja harus memiliki wawasan yang luas. Saranghaeyo itu 'aku cinta kamu'." jelasku sambil melahap daging sapi.
"Aku suka Girls Generation."
Aku menaruh garpu, ku lihat Kaysan yang tersenyum lebar.
"Berat juga sainganku, Mas. Mereka lebih putih dan mulus-mulus. Lebih mengemaskan, dan menggoda."
"Hmm, tapi aku lebih suka kamu."
Kalau dibanding personil Girls Generation, aku kalah jauh, bahkan kalah telak. Genit tak bisa, nyanyipun tak merdu, menaripun belum yakin. Lalu, apa yang bisa aku banggakan? Jika yang ku punya hanya sepotong tubuh yang kapan saja bisa berubah bentuknya, berubah warnanya bahkan berubah rasanya.
"Tiffany memang cantik, rahangnya memiliki ketegasan saat bernyanyi. Tapi usianya selisih tiga tahun lebih muda dariku. Aku ingin yang muda-muda. Agar saat tua nanti masih bisa menikmati wajahmu yang ayu tak lekang oleh waktu."
Aku sudah memundurkan kursiku, memberi jarak pada meja dan ingin beranjak berdiri, bermaksud untuk mengecup pipi Kaysan.
"Makan dan habiskan, belum tentu aku bisa mengajakmu seperti ini."
Ku daratkan pantatku lagi di kursi. Sambil menikmati semua hidangan makan malam sampai hidangan pencuci mulut. Aku suka, campuran cocktails yang baru aku rasakan.
"Jangan banyak-banyak."
"Kenapa?"
"Rasanya aneh, ada pait-paitnya, ada juga asamnya, kalau makan buahnya sedikit ada rasa manisnya. Rasanya begitu campur aduk seperti hatiku saat tahu jika adik-adikmu bukan adik kandungmu."
"Jangan melantur."
"Aku tahu, Mas."
"Sebentar."
Aku menghela nafas, aku tak menyalahkan tembakau yang digulung mesin. Aku tak menyalahkan jika ia masih setia menikmati seputung rokok. Karena bagi laki-laki rokok adalah candu. Itu sih kata teman-temanku, jadi aku tak perlu memperkeruh suasana hanya masalah rokok, karena laki-laki diuji dengan kesetiaannya, tanggung jawabnya dan ehm... keperkasaannya.
"Sudah?" tanyaku setelah Kaysan sudah membuang puntung rokok ke dalam asbak.
Kaysan tak menjawab dan hanya duduk di sampingku, "Mas tahu, aku begitu takut saat nantinya aku tak bisa memuaskan hasratmu. Tubuhku kecil, tidak aduhai seperti gitar spanyol. Sedangkan hasratmu begitu tinggi."
"Aku nyaman denganmu, dan rasa yang tumbuh di dalam hatiku bukan hanya sebatas mencintai fisikmu saja. Ada yang lebih dari sekedar hasrat saat denganmu."
"Apa?"
"Kamu adalah getaran pertama yang meruntuhkan tembok keangkuhanku. Demi bersamamu aku sudah melakukan berbagai cara, meskipun terkadang kamu bilang slalu tergesa-gesa."
"Mas?"
__ADS_1
"Hmm."
"Ayo, lakukan."
Kaysan menyeringai, ia berjalan membelakangiku. Tangannya senantiasa memberiku pelukan hangat.
"Yakin? Kali ini aku benar-benar sudah tidak sabar."
Aku mengangguk setuju.
Udara dingin menyusup masuk ke dalam kamar, membiarkan gorden terombang-ambing dilalui angin.
Terpaan udara dingin mengajakku untuk semakin melekatkan kulit tubuhku dengan kulit tubuhnya. Rengkuhannya semakin mengerat, dengan ritme yang sama seperti bermain dansa tadi siang. Aku sudah terkapar di atas ranjang, "Jika kamu kuat diatas ranjang. Kamu juga akan kuat di mana saja."
"Istilah darimana, Mas?"
"Dariku." Kaysan tersenyum penuh maksud, aku menganguk saja, asal selamat sampai pagi menjelang.
Ku lihat wajah Kaysan yang sudah merah menahan diri.
Malam semakin larut, menyisakan suara-suara mengemaskan dari mulut kita berdua. Saat nikmat bercinta adalah surga dunia. Hingga waktu tak terasa sudah begitu banyak gaya yang tercipta.
"Tahan lama memang, oke."
"Sebentar lagi... Masih kurang."
Bisa aku pastikan, jika room servis besok pagi akan terkejut dengan seprai yang sudah berantakan. Aku yang sudah lelah akhirnya mengambil alih permainan. Bukannya dia mengalah, dia semakin beringas. Tapi itu yang aku inginkan, semakin cepat pacuannya semakin cepat keluarnya. Dan itu benar-benar terjadi.
"Terimakasih untuk hari ini, My sunshine. Tidurlah, sebab rindu butuh istirahat."
"Aku masih rindu, dan aku masih mau."
"Kasihanilah binimu ini, mas."
"Sudah beberapa hari aku merindukanmu."
"Rinjani juga rindu, tapi Rinjani juga tahu waktu."
"Makanya kita gunakan waktu kita sebaik mungkin." Mataku melotot, dengan cepat mencubit hidung Kaysan, "Gemes, kamu memang suamiku yang tahan lama."
"Sering-seringlah minum jamu Mbok Darmi, biar kamu bisa menandingi kekuatan ku."
"Kamu pikir kita sedang perang mas?" Bibirku mengerucut.
Kaysan menutup tubuhku dengan selimut, "Perang akan dimulai lagi dalam waktu satu jam mendatang. Istirahatlah."
Kaysan mencium kening ku, "Lebih baik Rinjani tidur mas, dan mimpi indah."
__ADS_1
Happy Reading & Merry Christmas untuk pembaca yang merayakan. Much love & berkah dalem ๐