Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ calon keluarga ]


__ADS_3

Kaysan termenung menatap jalan raya yang tertutup oleh salju. Kepulangannya dari universitas tempatnya mengenyam pendidikan di Australia membuahkan hasil yang tidak sesuai dengan harapannya. Kedua tangannya terkepal erat memegang kemudi. Beban untuk menghidupi keluarganya harus membuatnya memutar otak agar bisa hidup di perantauan dengan baik.


Pihak universitas yang mengetahui pemecatannya sebagai putra mahkota berimbas pada memburuknya Identitas diri Kaysan. Bagi pihak tertentu, kini Kaysan hanya dianggap manusia biasa. Tanpa gelar ataupun kedudukan yang tinggi.


Menggunakan mantel tebal dan sepatu boot, Kaysan turun dari mobil dan berlari kecil menuju pintu rumah. Atap rumah yang sebagian tertutup oleh salju membuat Kaysan harus berhati-hati agar tidak membuat tumpukan salju itu menimpa dirinya.


Kaysan mengetuk pintu rumah, selang beberapa menit Rinjani keluar dengan menggunakan jaket tebal.


"Cepat banget interviewnya, mas?" tanya Rinjani serius. Ia pun juga harap-harap cemas menanti hasil interview kerja Kaysan.


"Buatan aku kopi." Kaysan melepas jaket mantelnya dan menyampirkan pada gantungan baju. Rinjani mengangguk, lantas ia menuju coffee maker.


Dhanangjaya dan Mbah Atmoe ikut menghampiri Kaysan, dari raut wajah Kaysan yang menegang dan ditambah dengan mengerutkan keningnya, dua sesepuh ini paham jika Kaysan sedang berada dibawah tekanan.


"Memang sudah waktunya untuk pulang. Jangan dipaksa dan bicarakan dengan istrimu baik-baik." Dhanangjaya yang memiliki 'ilmu' sangat paham dengan keadaan seperti ini.


Kaysan memejamkan matanya, dengan helaan nafas panjang. "Eyang dan Mbah Atmoe akan pulang ke tanah Jawa. Sedangkan aku dan Rinjani akan menetap disini."


Dhanangjaya menggeleng kilat, "Pulang satu, pulang semuanya!"


Rinjani yang melihat keadaan yang tidak beres akhirnya bertanya, "Ada apa mas?" Tangannya menaruh tiga cangkir kopi di atas meja. "Mbah, mas, diminum." Rinjani memeluk nampan, ia masih enggan beranjak dari tempat duduknya sebelum pertanyaannya dijawab oleh Kaysan.


"Apa-apa harus dikatakan, entah hasilnya bagaimana yang penting saling menguatkan." Mbah Atmoe tersenyum, "Gak lolos ya?" Tebak Rinjani. Kaysan tersenyum sambil mengangguk.


"Rinjani bawa perhiasan yang mas hadiahkan saat pernikahan dulu. Kita bisa menjualnya untuk hidup disini."


Rinjani menaruh nampan dan memegang lengan Kaysan saat Kaysan menjawabnya dengan sergahan. "Nanti kita pikirkan lagi. Sekarang waktu makan siang." Rinjani tersenyum. Tak ketinggalan kopi hitam sudah dia anggut lagi menuju meja makan.


Dimeja makan, mereka berempat duduk bersama. Tidak punya pembantu, mengharuskan Rinjani membereskan rumah sendiri termasuk hal dalam memasak.


"Jangan protes kalau makanannya gak enak." Rinjani tersenyum, ia mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piring Kaysan. "Apa karena disini gak ada micin?" seru Kaysan.


Rinjani terkekeh, "Tau gak mas, tempe disini mahal banget. Lebih murah daging sapi dan ayam." jelas Rinjani yang kaget saat ikut Bapaknya pergi ke pasar. Herman, yang sudah memiliki kekasih hati seorang janda Australia lebih sering terlihat keluar rumah.


Ada banyak pekerjaan dan kebutuhan biologis yang harus dilakukan. "Sebentar lagi kamu akan memiliki saudara tiri, bule lagi." Kaysan tersenyum riang dibalas Rinjani yang menggerutu.


"Ruwet mas, ruwet. Rinjani masih harus belajar jadi seorang Ningrat, ditambah harus belajar budaya dari negeri orang. Pusing." Rinjani menepuk-nepuk jidatnya.


"Sudah ayo makan, kata bapakmu nanti malam ceweknya datang untuk ikut merayakan ulang tahun pernikahan kalian." Eyang Dhanangjaya mencegah terjadinya perdebatan tentang antara Rinjani dan Kaysan.


"Jadi aku harus masak lagi?" tanya Rinjani yang menghela nafas panjang. Baginya terlalu sering menikmati sajian sedap tanpa harus memasak terlebih dahulu adalah anugerah terenak yang ia rasakan.


"Baru juga satu bulan membuat masakan untuk suami. Sekarang sudah protes. Hmm... tidak ingat kewajibanmu?" Kaysan memandang Rinjani dengan mata yang tajam.

__ADS_1


"Duh Gusti, wetengku kencot." [ perutku lapar ] Dhanangjaya memainkan sendok dan garpu diatas piringnya.


Kaysan dan Rinjani tersenyum lebar, mereka menyadari jika ada perut lain yang harus di perhatikan.


*


Sore harinya, Rinjani sudah memakai celemek dan tangannya berkutat dengan spatula. Ia sibuk membuat sajian yang akan dihidangkan untuk pacar Bapaknya.


"Salah banget dulu aku minta bapak buat cari istri, sekarang aku kena batunya!" Gerutu Rinjani. Kaysan yang mendengar ocehan istrinya tersenyum simpul sambil memeluk pinggangnya.


"Ah!" Rinjani tersentak, "Mas bikin aku kaget." seru Rinjani.


"Perkataan adalah Do'a. Bisa menjadi karma positif, bisa menjadi karma negatif, atau nama bekennya karma instan." Kaysan menaruh dagunya di bahu Rinjani, "Masak apa?"


"Soto ayam, perkedel kentang, sambel goreng, sama mendoan. Rinjani bingung mau masak apa." kata Rinjani yang masih sibuk berkutat dengan alat penggorengan.


"Mau aku bantu?" Rinjani menoleh ke arah Kaysan. Bertepatan dengan itu Kaysan mengecup bibir Rinjani, mengulum lembut sambil mengeratkan pelukannya.


Rinjani hanya bisa pasrah, saat-saat seperti inilah kehangatan dapat tercipta tanpa rencana.


Mereka saling berbalas kecupan, hingga akhirnya bau gosong terendus oleh indera penciuman mereka.


"Yah..." keluh Rinjani, ia mendapati perkedelnya gosong. "Ini semua gara-gara kamu mas!" Kaysan justru menyeringai senang.


"Dasar!" Rinjani mematikan kompor dan berbalik, ia terkaget melihat Dhanangjaya dan Mbah Atmoe berdiri sambil tersenyum lebar.


"Simbah senang melihat kemesraan kalian. Tapi sayang jatah makan malam berkurang." Ejek Mbah Atmoe.


*


Perapian sudah dinyalakan, ditemani botol wine dan kue-kue kering dalam toples. Kaysan dan Rinjani duduk di atas permadani, saling berpelukan. Meski sebenarnya tangan mereka sibuk melihat gadget yang mereka pegang. Kaysan sibuk mencari lowongan pekerjaan, Rinjani sibuk melihat tempat yang ingin ia kunjungi di sekitaran kompleks perumahan.


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Hidangan sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Keempat penghuni rumah sudah bersiap menyambut tamu yang tak tahu kapan datangnya. Hingga suara ketukan pintu membuat Kaysan dan Rinjani beranjak berdiri.


Kaysan membuka pintu. Herman berdiri dengan tiga orang dibelakang mereka. Satu wanita berusia 43 tahun, satu wanita dewasa dan satu remaja tampan berambut pirang.


Mereka masuk ke dalam rumah. Kaysan menyapa satu persatu 'calon' keluarga barunya. Diikuti Rinjani yang gagu melihat wanita yang dipilih Bapaknya menjadi calon istri. Ia tersenyum simpul dan bersembunyi di belakang Kaysan.


"Nice to meet you, prince." [ senang bertemu denganmu, pangeran ]


Sheila anak tertua ibu Laura tersenyum manis dihadapan Kaysan. Sedangkan remaja laki-laki bernama Keenan sudah asik bergabung dengan Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya.


Rinjani berkali-kali menatap Bapaknya. Berbagai macam pertanyaan sudah ingin sekali di panahkan. Herman yang menyadari putrinya sedang gelisah membalasnya dengan anggukan. "Nanti kita bicara." Bisiknya lirih.

__ADS_1


"Ajak makan malam, Pak." kata Rinjani.


Herman mengangguk.


Laura membawa satu kue tart ulang tahun pernikahan Kaysan dan Rinjani. Buatannya sendiri.


Di meja makan, ketiga warga asli Australia itu tersenyum senang mendapatkan hidangan khas tanah air yang slalu dibicarakan Herman. Laki-laki yang ditemui Laura di kedai bakery shop miliknya. Dengan sifat keibuan, Laura membantu Rinjani memotong kue dan dibagikan kepada seluruh penghuni rumah sebagai makanan penutup. Begitu pula ia membantu Rinjani mencuci piring kotor.


Masih banyak kecanggungan diantara mereka, pertemuan pertama bukankah slalu begitu? Biarkan waktu yang menjadi perantara.


Kaysan dan Rinjani kembali duduk di atas permadani. Membiarkan Bapaknya dan Laura mengobrol dengan eyang Dhanangjaya. Mereka berpelukan saling menghantarkan rasa hangat. Mbah Atmoe menggeleng,"ora jeleh kelonan terus?" [ tidak bosan berpelukan terus?]


Kaysan dan Rinjani menggeleng. Hingga Sheila datang membawa gelas sampanye. "Wine is a good friend." [ Anggur merah adalah teman baik ] Ia tersenyum sambil menuangkan ke dalam gelas.


Kaysan acuh, ia memilih sibuk mencari lowongan pekerjaan.


"Can you speak, English?" [ Bisakah kamu berbicara, bahasa Inggris?" ] tanya Sheila sambil menyerahkan satu gelas wine ke hadapan Rinjani.


"Hmm... Just little." [ hanya sedikit ] Rinjani mencubit udara. Sheila mengangguk, "at least you know what I'm saying." [ paling tidak kamu tahu apa yang aku katakan ]


Rinjani membalasnya dengan anggukan. Sheila mengangkat gelas sampanye, bermaksud untuk mendentingkan dengan gelas Rinjani.


"Mas, minum." Rinjani mengguncang lutut Kaysan.


"Hmm..." Kaysan menaruh ponselnya.


Sheila tak sengaja melihat layar ponsel Kaysan. Ia berpikir, jika laki-laki yang menjadi suami adiknya 'kelak' sedang membutuhkan pekerjaan.


Mereka berempat mendentingkan gelas sampanye. Kaysan langsung menghabiskan anggur merah digelasnya.


Sedangkan Mbah Atmoe menaruhnya kembali. Ia lebih suka jika anggur itu dicampur dengan jamu.


Kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Laura sudah memanggil anak-anaknya untuk pulang. Keenan mendesah kesal, baru saja ia menghabiskan soto ayam yang katanya rasanya gurih-gurih mantap. Entah berapa sendok sambel yang ia makan. Wajahnya yang putih terlihat memerah karena kepedasan.


"We'll come here again." Laura menggeleng melihat tingkah laku putranya. Sedangkan Sheila menatap Kaysan sejenak, "I'll help you find a job." [ Aku akan membantumu mencari pekerjaan ]


Kaysan terhenyak, diam-diam wanita yang memiliki usia jauh lebih tua dari Rinjani itu melihat ponselnya, "don't bother." [ tidak perlu repot-repot ]


"your wife needs to eat." [ istrimu butuh makan. ]


Kaysan menghela nafas. Sedangkan Rinjani tak mau menaruh curiga kepada 'calon' saudaranya.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2