
Suara sirine polisi terus berputar-putar, membuat kegaduhan yang menyebabkan para tetangga Kaysan berjejal mengitari kediaman mereka. Bisik-bisik bergaung diantara penonton yang penasaran dengan apa yang terjadi, mereka berasumsi jika sesuatu telah terjadi.
"Gawat iki urusane, mo. Gawat." bisik Eyang Dhanangjaya saat mengintip dari cela gorden yang tersibak angin. Eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe membeku di balik tembok seperti penjahat yang sudah di kepung polisi. [ Iki urusane \= ini urusannya ]
Ketukan pintu terus meneror mereka berdua, "Paduka raja ada di depan rumah, dengan Juwita Ningrat dan si kembar. Gawat iki, mo. Kaysan pasti murka."
Polisi Melbourne yang sudah kedinginan akhirnya mendobrak pintu. Kedua lansia itu terlonjak kaget. Angin dingin berhembus, membekukan apa saja yang ada di dalamnya, termasuk membekukan eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe. Mereka terdiam, bersembunyi di dalam dapur kotor.
Ayahanda masuk, meneliti setiap ruang yang ditempati Kaysan dan Rinjani selama ini. Pikirannya melayang sendiri, membayangkan bagaimana Kaysan dan Rinjani hidup disini, di luar dari kebiasaan Kaysan yang memiliki segalanya sejak lahir.
Ibunda bergegas menuju kamar Rinjani, tak ada siapapun.
"Dimana Kaysan dan Rinjani?" Teriak Ibunda Ratu.
"Ibunda sabar, biar aku hubungi Keenan." ujar Sadewa.
"Cepat! Tanyakan kepada siapa saja yang mengetahui keberadaan mereka!"
Ibunda mondar-mandir, gelisah. Takut jika Rinjani dan Kaysan pergi dari rumah karena mengetahui kedatangan mereka.
Ibunda kembali masuk ke dalam kamar Kaysan, ia membuka almari dan nakas untuk mencari sesuatu.
"Semua pakaian masih utuh, tandanya mereka tidak pergi." Gumam Ibunda. Ia mengamati sekeliling, belum lama Ibunda berkunjung, sudah banyak perubahan yang terjadi di kamar Kaysan. Banyak boneka yang tergeletak di atas permadani.
Belum lagi sebuah lingerie tergantung di dinding. Ibunda memincingkan matanya, "Sejak kapan putriku memakai pakaian seperti ini, apa tidak masuk angin? Pasti ini akal-akalan bocah gendeng, Kaysan!" Ibunda menggeleng, putranya sudah tergila-gila dengan istrinya.
Sadewa masuk ke dalam kamar, "Keenan tidak tahu Ibunda." jelas Sadewa dengan nada kecewa.
"Suruh pihak polisi untuk menjauh dari rumah. Dan, mematikan sirinenya. Buat keadaan seperti tidak ada kita disini." pinta Ibunda, dahi Sadewa mengernyit. "Pintunya saja copot, Ibunda."
Polisi yang sudah menangkap kedua lansia itu menyerahkan mereka dihadapan Ayahanda.
Ayahanda tidak menggubris, beliau masih asyik mengamati berlembar-lembar foto yang di berikan Ibunda, foto USG yang ditemukan di dalam laci.
"Cucuku." Ayahanda mengecupnya. Matanya berbinar-binar senang.
Sadewa dan Nakula berusaha membetulkan pintu setelah menyuruh polisi untuk menjauh dari kediaman Kaysan. Bukan menjauh, tapi sedang melakukan penjagaan di jalan keluar masuk wilayah itu, berjaga-jaga jika Kaysan memilih kabur.
*
Hari memang sudah malam, dan udara semakin dingin. Kaysan dan Rinjani masih di perjalanan menuju rumah setelah perjalanan panjang penuh dengan perdebatan.
Berkali-kali Rinjani meminta Kaysan untuk berhenti di toilet umum. Berkali-kali juga Kaysan memukul stir kemudi. Ia sudah tidak sabar untuk segera pulang dan meregangkan otot-ototnya yang lelah.
"Tahanlah sebentar saja, sebentar lagi sampai rumah." seru Kaysan, saat Rinjani sudah mengadu ingin pipis.
Rinjani melengos, kantong kemih yang sudah tertekan oleh rahim yang membesar membuatnya sering mengalami buang air kecil.
"Jani lapar!"
"Makan!"
"Jani mau nasi goreng kambing!"
Kaysan mengeram.
"Apa yang kamu inginkan lagi, katakan sekalian!"
Rinjani memukul dashboard.
"Rinjani mau pulang, Rinjani mau ketemu ibu!!!"
Pelupuk matanya sudah dipenuhi air. Ia menangis terisak, sedangkan Kaysan membiarkannya.
Sampai di depan rumah, suasana tampak seperti biasanya. Hanya saja tanaman yang berada di depan rumah banyak yang terinjak-injak.
Mata Kaysan mengedar mengamati sekeliling, hanya rumahnya saja yang mengalami kejadian itu.
Seorang tetangga yang mengetahui mobil Kaysan sudah terparkir, menghampirinya.
Ia menjelaskan bahwa ada banyak polisi yang sempat mengepung rumahnya.
__ADS_1
Kaysan panik, ia membuka pintu rumah dan naasnya pintu itu copot.
Darah Kaysan mendidih, ia naik pitam saat mengetahui bahwa halusinasinya berubah menjadi kenyataan.
Ia melihat Ayahanda sedang duduk dan memegang sesuatu yang sangat berharga baginya.
"Taruh dan jangan sentuh itu lagi!" kata Kaysan telak.
"Ibunda yang mengambilnya." Ibunda keluar dari dalam kamar. Mendapati putranya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, rahangnya mengeras.
"Kalian berdua!!!" Mata Kaysan terarah pada Nakula dan Sadewa yang menunduk. Benar saja, ketakutan mereka benar-benar terjadi. Mata Kaysan merah menahan amarah.
Rinjani yang baru saja masuk, menjatuhkan barang bawaannya. Ia semakin terisak melihat kemarahan Kaysan, dan kedatangan Ayahanda.
"Sudah aku katakan, jangan sampai Ayahanda mengetahui tempat ini." Suara Kaysan masih tenang, tapi disitulah letak menakutkan dirinya.
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan mengusikku!"
Berkali-kali terdengar kata maaf dari si kembar, tapi itupun tak menyurutkan emosi Kaysan. Tangannya mengepal kuat hingga terlihat baku-baku tangannya memutih.
Ayahanda diam, ia hanya terus menatap perut buncit Rinjani.
"Apalagi yang kalian inginkan dariku, kehancuran rumah tanggaku atas dasar perluasan kekuasaan?"
Ibunda menggeleng. Beliau menghampiri Kaysan dan menarik tangannya, membuat kepalan tangan itu merenggang. "Kami datang baik-baik anakku, sambutlah kami layaknya kamu menyambut orangtuamu, bukan musuh."
Hening sejenak...
Kaysan keluar dari rumah untuk meredam emosinya. Di taman belakang, Eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe menemaninya. Udara dingin seakan lenyap, saat suasana hati dipenuhi oleh amarah.
Melihat Rinjani yang masih menangis, membuat Ibunda mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar. Ayahanda masih bergeming, keadaan masih sama seperti saat Kaysan pergi meninggalkannya.
Nakula dan Sadewa kembali memperbaiki pintu. Mereka menahannya dengan sofa agar tidak terjatuh saat diterpa angin. Hati mereka menyesal telah ikut serta dalam penjemputan paksa Kaysan dan Rinjani.
Rinjani terisak pelan seakan tak memperdulikan keadaan itu. Dimana Kaysan dan Ayahanda masih beradu argumentasi tentang kedatangan mereka.
Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya tak berkutik, mereka hanya menjadi pendengar sementara.
"Tadi mas Kaysan membentak ku."
Ibunda tersenyum, sepertinya kedatangan mereka kesini sudah dirasakan oleh Kaysan hingga membuatnya diluar kendali.
"Maafkanlah putraku, cah ayu."
Rinjani menggeleng, "Mas Kaysan tidak salah, yang salah Jani yang slalu merepotkan mas Kaysan." ucap Rinjani dengan nada terbata-bata.
"Sudah jangan menyalahkan diri sendiri, ibu hamil memang sensitif. Harusnya Kaysan bisa memaklumi, karena istrinya masih muda, masih labil kalau orang bilang." Ibunda tersenyum.
"Ibunda bawa makanan dari rumah, sudah makan malam?"
Rinjani menggeleng, ia teringat nasi goreng kambing yang hanya dapat ia bayangkan.
"Makan dulu, cucu Ibunda harus makan yang banyak. Biar kuat, seperti kita."
Ibunda menaikkan salah satu alisnya. Membuat Rinjani tersenyum tipis.
"Ibunda suapi mau?"
Rinjani mengangguk, sejujurnya ia juga merindukan kasih sayang seorang ibu.
Ibunda keluar dari kamar, ia mendekati suaminya dan anaknya.
"Lebih baik malam ini kita istirahat, kita bicarakan besok pagi. Rinjani sedang hamil besar, dan pertengkaran kalian dapat mempengaruhi kesehatan janinnya."
Ucapan Ibunda sukses membuat Kaysan berlari ke kamar, ia melihat Rinjani sedang berbaring dengan mata yang sembab.
"Dik..." panggil Kaysan, ia mengelus bahu Rinjani.
Rinjani enggan berbicara dengan Kaysan,
Bibirnya terkatup rapat.
__ADS_1
Kaysan mengubah posisinya, ia berjongkok di depan Rinjani.
"Maaf." ucap Kaysan, dengan bibir yang mendarat di kening Rinjani.
"Maafin baba ya sayang, baba khilaf." Kaysan mengecup perut Rinjani dan mengusapnya.
Di depan perapian, Ayahanda mulai meneror kedua lansia itu dengan berbagai pertanyaan. Dan pertanyaannya hanya berpusat pada kehamilan Rinjani dan calon cucunya.
Mbah Atmoe dan Eyang Dhanangjaya menanggapinya dengan santai. Malah terkesan memancing Ayahanda untuk slalu penasaran.
Ibunda yang tahu gelagat kedua abdi dalem itu menggeleng, "Sudah ayo makan dulu, jangan sampai di sini kita kelaparan karena hanya marah, marah, dan marah." Sindir Ibunda, sambil menaruh beberapa piring dengan masakan yang sudah di panaskan.
"Kalian berdua mau jaga pintu sampai pagi?"
Nakula dan Sadewa benar-benar terjebak di situasi yang memusingkan. Bukan mereka yang membocorkan rahasia, tapi kakaknya Nanang!
"Iki sing jeneng'e, gupak pulut nanging ora mangan nangkane." [ ini yang dinamakan, kena getahnya tapi tidak makan nangkanya, maksudnya terkena imbasnya, tapi tidak merasakan kenikmatannya. ' bahasa perumpamaan' ]
"Jangan diambil hati perkataan mas Kaysan, seperti tidak tahu saja kalau dia marah. Apalagi yang di usik bojone."
"Bojo galak." ujar Sadewa.
"Ssstttt..." Ibunda menyuruh Sadewa menurunkan nada suaranya.
"Mereka baru marahan, ditambah lagi kita kesini, jadi tambah marah. Sudah-sudah, makan dan istirahat. Biar Ibunda membujuk mereka untuk berbaikan."
Ibunda berdiri, tangannya membawa sepiring nasi dengan lauk rendang dan sayur lodeh.
"Ehmm..." Ibunda berdehem, membuat Kaysan berdiri dengan canggung.
"Sudah makan, Kay?" tanya Ibunda, pura-pura tidak tahu dengan kejadian yang baru saja Kaysan lakukan.
"Belum." jawab Kaysan. Ia menunduk malu. Tepat setelah Kaysan menciumi perut Rinjani dan wajahnya, Ibunda masuk dengan mata yang menghadap ke atas plafon.
"Yasudah, ayo kalian berdua Ibunda suapi."
Di atas permadani, Ibunda menyuapi Kaysan dan Rinjani secara bergantian. Tapi Jani yang memiliki porsi makan lebih banyak lebih sering meminta Ibunda untuk menyuapinya.
"Mas sudah besar, makan sendiri!"
"Tapi dia ibuku, aku juga berhak meminta Ibunda untuk menyuapiku."
"Mas tidak malu? Siapa sekarang yang seperti anak kecil?"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!!!"
Ibunda menaruh piringnya, "Coba jelaskan, itu baju apa?" Ibunda menunjuk lingerie yang baru saja Kaysan dan Rinjani beli.
"Lingerie." jawab mereka secara bersamaan.
"Untuk apa?" tanya Ibunda sambil tersenyum lebar.
Rinjani dan Kaysan tersenyum kikuk.
"Untuk di pakai, semua itu pilihan mas Kaysan. Jani disuruh memakainya saat tidur."
Mata Kaysan menajam, jelas yang memulai dengan baju tidur seksi itu adalah Rinjani.
"Aku tidak pernah menyuruhmu memakai lingerie, kamu dulu yang memulainya dan menggodaku!"
"Tapi suka, kan."
Kini Kaysan yang tersenyum lebar.
"Suka banget."
Ibunda tertawa, dan membiarkan kedua manusia di depannya berdebat tentang lingerie hingga tak terasa waktu berputar membawa pergi amarah yang sempat membuncah.
__ADS_1
Happy Reading ๐โ๏ธ