
Ayahanda meminta aku dan Kaysan berkumpul dengannya. Hanya bertiga, tak ada Ibunda.
Ini sangat menggetarkan hati. Ayahanda pasti akan membicarakan sesuatu yang serius.
"Mas ada apa, Jani takut." Bisikku di telinga Kaysan. Ia menarik tanganku dan menggenggamnya.
"Ada aku, tenanglah."
Kaysan terus menggenggam tanganku, erat, saat tanganku begitu dingin.
"Tenanglah sayang." Kaysan mengecup keningku.
Ayahanda menggeleng.
"Kalian berdua mengingat Ayahanda saat muda. Saat cinta begitu menggoyahkan segalanya."
Ucapan Ayahanda membuatku terpancing untuk mendengarnya. Baru kali ini Ayahanda mengatakan masa mudanya, masa-masa dimana darah muda slalu membuat kita terbuai suasana, dan terkadang sedih untuk di kenang. Sedih karena saat muda, hanya ada keegoisan yang menggiurkan apa saja untuk dilakukan, termasuk dalam membangkang peraturan.
"Tidak perlu basa-basi Ayahanda, katakan saja tujuan Ayahanda kemari. Bukankan Ayahanda membenciku dan Rinjani?" ucap Kaysan, seperti biasa nadanya tenang tapi begitu menghanyutkan.
Sekarang aku yang panik, panik jika Kaysan di luar kendali. Karena akhir-akhir ini hatinya teramat mudah meledak. Dan, itu membuatku takut.
"Pulanglah, Ayahanda tidak akan memaksamu untuk meneruskan kedudukanku, Ayahanda akan menunggu kamu dan Rinjani siap."
Kaysan tertawa, begitu getir hingga menggetarkan hati.
"Rinjani memang akan pulang, tapi aku tidak!!!" kata-kata Kaysan begitu telak di telingaku.
"Apa maksudnya mas? Mas tidak ingin pulang, bukannya mas juga rindu rumah dan kampung halaman?" ucapku menggebu-gebu.
Kaysan menghela nafas, "Aku akan pulang saat tugasku sudah selesai, maaf Rinjani."
"Aku tidak mau pulang!!! Aku tidak mau jika tidak dengan mas Kaysan..." ucapku histeris.
"DIAM!"
__ADS_1
Begitulah kira-kira ucapan Ayahanda yang membuatku tersentak.
Aku menunduk dengan air mata yang membanjir wajahku, tanganku bergetar. Kaysan membiarkan aku pergi begitu saja, tanpa rasa bersalah, tanpa rindu yang mengikat, apalagi tanpa beban. Kaysan begitu mudah mengizinkan aku pulang. Tidakkah ia kesepian jika tidak bersamaku, atau Kaysan memang berniat menjauh dariku karena selama ini aku hanya merepotkannya. Pikiran-pikiran buruk ini berkubang di kepalaku. Aku hanyalah seorang istri naif, yang menginginkan semua baik-baik saja.
"Katakan alasannya?" ucap Ayahanda.
Aku bersembunyi di balik lengan Kaysan sambil terisak-isak. Tanganku memeluk perut Kaysan.
"Ada kontrak pekerjaan dan aku tidak bisa meninggalkannya. Maaf."
"Sampai kapan?" tanya Ayahanda.
"Lima bulan lagi, tepat satu tahun masa kontrak kerja berakhir."
Aku menghapus air mataku, "Lima bulan itu lama mas, lama buat aku yang gak pernah jauh-jauh darimu." Ini bukan kata-kata romantis, apalagi rayuan. Inilah aku dengan segala ketamakan yang hanya menginginkan Kaysan ada di dekatku.
Air mataku mengalir lagi, lebih deras dari tadi. Sehari saja berjauhan dengan Kaysan itu sudah membuatku kesepian, apalagi lima bulan, itu rasanya seperti lima tahun. Lama sekali, bahkan aku sulit membayangkan lima bulan tanpa Kaysan.
"Ini juga sulit untukku, Jani. Mengertilah, ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Pulanglah ke tanah Jawa, disana kamu tidak akan kesepian." ucap Kaysan, ia mengecup puncak kepalaku berkali-kali, "Aku akan pulang jika sudah waktunya. Percayalah, aku hanya untukmu."
"Mas bohong, mas ingkar janji." Suaraku terdengar pilu. Namun saat aku mendongak dan melihat wajahnya Kaysan juga terlihat menderita.
Dalam dekapan Kaysan, aku merasakan kehangatan saat ia menyanyikan lagu kesukaanku. Nadanya terbata-bata, dengan tangan yang terus mengelus rambutku.
"Nanti baba datang waktu lahiran. Baba janji, tapi jangan menangis lagi. Itu semakin membuatku terluka karena tidak bisa menemanimu disaat tersulitmu mengandung anak kita. Maafin baba... Ini semua diluar kendaliku."
Aku masih terisak di dada Kaysan, "Mas ingat HPL anak kita, kan. Mas sudah harus di rumah sebelum tanggal lahir anak kita. Baba harus janji untuk datang. Jika tidak, bubu akan marah."
Kaysan tersenyum, dan mengangguk.
Aku mengusap sudut mata Kaysan.
"Besok sebelum Jani pulang, Jani akan membuatkan kue untuk mas Kaysan."
Kaysan tetap tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang masuklah kedalam. Biar aku dan Ayahanda berbicara empat mata."
Ku lirik Ayahanda dengan ekor mataku, Ayahanda hanya terdiam menyaksikan drama suami istri yang enggan berpisah.
"Tapi Jani tidak mau tinggal di rumah utama, Jani takut sendirian."
"Masuklah ke dalam kamar." titah Kaysan lagi yang harus aku patuhi.
Di dalam kamar sudah ada Ibunda.
"Ibunda belum tidur?" tanyaku setelah membasuh muka di wastafel kamar.
"Bagaimana Ibunda bisa tidur jika anak-anakku masih di sidang oleh Ayahanda." Ibunda tersenyum, "Ayahanda memang memulainya dengan tidak baik dan Ayahanda ingin memperbaikinya. Cah ayu, terkadang orangtua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi kadang caranya salah. Maafkanlah suamiku cah ayu, Ayahanda tidak akan mengusik kebahagiaan kalian lagi."
Tenggorokanku tercekat, apa itu artinya Ayahanda sudah merestuiku sebagai anak mantu. Dan tidak ada tedeng aling-aling lagi untuk memisahkan aku dan Kaysan setelah ini. Tuhan, bisakah aku berharap jika ini adalah buah manis dari kaburnya aku dan Kaysan. Atau, memang ada hal buruk yang terjadi hingga Ayahanda menurunkan egonya untuk menerimaku. Tuhan, aku serasa di permainkan.
"Besok kita pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kandunganmu aman untuk melakukan penerbangan."
Aku mengangguk pasrah, memang ini yang aku inginkan. Kembali ke tanah Jawa dengan dua musim yang membuatku nyaman. Namun, tanpa Kaysan hidupku hambar, bagai ikan asin lupa di beri garam.
Ibunda masih banyak bercerita tentang apa saja yang membuatku senang. Masa mudanya, dan saat-saat pertama kali bertemu Ayahanda.
"Ibunda bukan seorang Ningrat cah ayu, tapi orangtua Ibunda memiliki kekuasaan. Jadi yang Ibunda alami tidak separah dirimu." Ibunda tertawa kecil.
"Ibunda hanya perlu mematuhi peraturan istana dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh nenekmu. Ibunda dulu juga belajar membuat ubo rempe, belajar menari, yang mengajari nenekmu. Galak, Ibunda sering di cubit, makanya Ibunda juga sering mencubit Kaysan." Ibunda tertawa, pedih. Ternyata banyak luka yang tertanam di hati Ibunda, belum luka berbagi suami.
"Tapi kamu beruntung cah ayu, Kaysan tidak berniat memiliki istri lagi. Karena Kaysan tahu, betapa hancurnya hidup Ibunda saat Ayahanda meminta izin untuk menikah lagi. Waktu itu Kaysan masih kecil, nakal, tapi dalam hatinya, ialah yang paling memahami ibunda." Ibunda tersenyum getir, matanya berkaca-kaca, "Ibunda kecewa, Ibunda marah, tapi Ibunda tidak bisa berbuat apa-apa. Ibunda hanya bisa pasrah, karena waktu itu orangtua Ayahanda masih ada. Masih hidup dengan pedoman kuno yang di pegang teguh oleh Ayahanda." Ibunda menghela nafas dan menyeka air matanya.
"Ibunda bisa legowo seperti ini memerlukan waktu dan proses panjang. Tidak mudah, bahkan dalam titik terendah dalam hidup Ibunda, Ibunda pernah berniat untuk pergi dan menyerah." Ibunda tersenyum, ia menatapku. Aku rapuh.
Aku memeluk Ibunda, dan detik kemudian aku dan Ibunda terisak bersama.
Ini tidak mudah untukku, begitu juga dengan Ibunda. Apakah hanya perempuan saja yang menjadi pihak yang tersakiti dalam megahnya singgahan kerajaan.
Adakah syarat untuk bahagia, selain mengorbankan perasaan.
__ADS_1
Katakan... biar aku bisa merasakan hal itu.
Happy Reading ๐