
Instagram : skavivi selfish.
POV author.
Pagi telah datang membawa cahaya yang berpendar, mengusir sisa-sisa malam.
Meski bertengkar, Rinjani dan Kaysan tetap tidur sekamar. Rinjani menaruh Dalilah untuk menjadi pemisah diantara mereka. Sedangkan, Kaysan tidur membelakanginya.
Mulut Rinjani kaku, rasanya ia lebih suka mengajak Kaysan beradu mulut. Beruntung, sekarang ada Dalilah yang menjadi pelampiasan cintanya dan mulut cerewetnya. Ia mengabaikan Kaysan, meski ada rindu untuk mendekap Kaysan dari belakang.
Sama halnya Kaysan, ia kikuk harus memulainya dengan cara apa. Sejak pertengkaran semalam, Kaysan di gelayuti perasaan cemburu. Mencoba menghindari Rinjani, namun tak ada tempat lain selain harus berada disisinya.
Dalilah berguling, ia sedang aktif-aktifnya melakukan hal itu, walau kadang-kadang ia masih kesusahan mengangkat kepalanya.
Rinjani terkekeh, ia menoleh melihat wajah Dalilah. "Angkat wajahmu, cantik. Nanti kamu pesek kalau hidungmu terus kamu benturkan di ranjang." kata Rinjani sembari mengusap puncak kepala Dalilah.
Dalilah meracau dengan bahasa bayi. Rinjani mengangguk sambil menunjuk Kaysan.
"Bangunkan ayahmu, dan ajaklah dia jalan-jalan." bujuk Rinjani di telinga Dalilah.
Bersusah payah Dalilah berguling dan kini ia tepat di dekat sekali dengan Kaysan. Tangan mungilnya menepuk-nepuk punggung Kaysan.
Kaysan tersenyum, ia merasa itu adalah panggilan jiwa.
Kaysan berbalik dengan senyuman yang merekah indah, namun matanya gelap---terlalu banyak begadang. Dalilah kaget, ia menangis. Membuat Rinjani tertawa, "Kenapa sayang, kamu melihat monster?" ujar Rinjani sembari menatap sekilas Kaysan, "Lebih baik kita mandi dan sarapan, setelah itu kita jalan-jalan dengan om Santosa."
"Aku ikut!" kata Kaysan, seolah-olah untuk memperjelas bahwa ia tak akan membuat Rinjani dan Santosa pergi berdua.
Rinjani berbalik, ia menahan senyum.
Aku akan mempermainkanmu, mas! Sebelum aku akan kembali ke pelukanmu.
Rinjani lalu keluar kamar untuk mencari Mbok Narsih. Dalilah dimandikan oleh Mbok Narsih. Sedangkan Rinjani sendiri memilih untuk berada di dapur, membuat kopi hitam untuk Santosa.
"Mbak..."
Rinjani berbalik, Nakula berdiri mematung di tempatnya.
"Apa? Mau kopi juga?" tawar Rinjani.
Nakula menggeleng, "Mbak marahan dengan mas Kaysan?"
Isu panas dengan cepat beredar hingga ke telinga anak dan istri Ayahanda yang lainnya.
"Kenapa memangnya? Apa Keenan menceritakan tentang Anne kepadamu?" tanya Rinjani. Ia menaruh kopinya di atas meja dan mendekati Nakula.
Pagi ini harusnya Nakula berangkat kuliah, tapi mengingat semalam Keenan memintanya untuk menjelaskan tentang Anne dan Kaysan saat di hotel. Membuat Nakula harus bertindak sebagai penengah antara dua hati yang sama-sama terbakar rindu dan cemburu.
"Mbak masih marah?" tanya Nakula.
"Kelihatannya bagaimana?" Rinjani melipat kedua tangannya dan menaik-turunkan alisnya.
"Dasar." Nakula menyaut tas ranselnya, "Membuang waktuku saja." cela Nakula.
__ADS_1
Rinjani terkekeh, ia menahan Nakula dan memintanya untuk bercerita.
"Kalau sudah tidak marah kenapa masih menginginkan penjelasan!"
"Aku mau mendengar versi lainnya. Apa benar Anne hanya mencium pipi mas Kaysan? Waktu itu kan mas mabuk parah, bisa saja Anne melakukan lebih dari mencium pipi?" Rinjani mengangkat pundaknya tinggi.
"Jadi Mbak berharap mas dan Anne melakukan itu?" Suara Nakula terdengar memekik.
"Sembarang!!!" sergah Rinjani dengan cepat.
"Keenan melihat semua kejadiannya, karena waktu itu dia hanya jalan-jalan keluar hotel. Malamnya dia ingin mencari mas Kaysan, secara kebetulan mas Kaysan dan Anne sedang memasuki kamar hotel. Ia membututinya. Mbak tahu gak? Anne tidak berani menemui mas Kaysan karena waktu itu, Keenan mengancamnya."
Nakula tertawa.
Dahi Rinjani berkerut tipis, "Apanya yang lucu?" tanya Rinjani.
"Keenan membawa Anne ke markas orangtuanya. Dan, mengancamnya akan menembak salah satu kaki Anne."
Mata Rinjani membelalak, "Gila! Mana Keenan?"
"Dirumah, baru les private bahasa dengan Bunda."
Rinjani berdecih, "Kuliah nanti selesai jam berapa? Ikutan pergi ke mall ya, bareng-bareng. Kita buat mas Kaysan dongkol." bisik Rinjani.
"Sukanya menambah masalah!"
"Coba saja kak Rahma dicium Sadewa, kamu marah gak? Apa kamu juga gak butuh waktu untuk memaafkan dan menerimanya lagi?" cecar Rinjani dengan tatapan menantang.
Nakula menggeleng, "Tapi kami tidak dianjurkan untuk mencium pacar kami saat masih pacaran. Mbak lupa?" Rinjani kesal dengan jawaban Nakula.
"Pagi-pagi sudah bikin kesal." gerutu Rinjani sembari mengambil secangkir kopi yang sudah berubah dingin.
*
Dalam setiap ujian, kejutan, pelukan dan ciuman yang dihadirkan tamat oleh cemburu yang meredupkan segalanya. Rinjani dan Kaysan masih membisu meskipun mereka terlihat bersama dalam jarak yang begitu dekat.
Butik-butik pakaian bayi dan anak, silih berganti mereka masuki. Rinjani memilih baju bayi yang nyaman untuk Dalilah. Sedangkan Kaysan mengawal di belakangnya, menandai jika wanita di depannya adalah miliknya.
Dalilah berada di gendongan Santosa, ia tampak asyik melihat pemandangan baru yang ia lihat untuk pertama kali di hidupnya. Hingga Santosa menyerah, punggungnya pegal-pegal, "Saya lelah ndoro ayu, lebih baik kita makan siang dulu. Lagipula, sudah waktunya Dalilah minum susu."
Dengan sigap Kaysan mengambil alih Dalilah, "Ini baba, ayah kandungmu, Nak." ujar Kaysan, ia menggendong Dalilah dengan posisi berdiri. Wajah mereka saling bertatapan. Dalilah fokus melihat kumis Kaysan, ia menepuk kumisnya yang justru malah menepuk bibir Kaysan.
Rinjani yang melihatnya tersenyum, "Pak Santosa, biarkan mereka berdua mengakrabkan diri. Lebih baik kita makan siang bersama." Santosa mengambil barang belanjaan Rinjani.
Mereka berjalan dengan santai di antara pengunjung Mall lainnya. Membiarkan para mata menerka-nerka apa yang mereka lihat adalah seseorang yang nyata dan pernah menggemparkan rakyatnya. Seorang pangeran yang sempat terbuang dan kini sudah kembali ke tanah Jawa. Bisik-bisik bersambut, terlebih saat Kaysan menggendong bayi yang sangat mirip dengan dirinya.
Kaysan tak acuh, ia tetap menggendong Dalilah dengan senang. Sesekali mencium pipi Dalilah dengan gemas. Perasaannya mulai tenang saat ia sudah mengatakan sejujurnya. Kini, hanya satu lagi yang harus Kaysan lakukan. Memperbaiki keadaan agar mesra seperti sediakala.
Tiba di restoran cepat saji, Rinjani memilih beberapa menu utama. Ia menatap Kaysan yang belum jera menggendong Dalilah. Bahkan Kaysan terlihat lucu saat ia juga membawa tas bayi berwarna merah muda.
"Mas mau makan apa?" tanya Rinjani.
"Makan berdua saja." jawab Kaysan.
__ADS_1
"Kalau berdua aku gak kenyang!" tukas Rinjani. Kaysan tersenyum, "Seperti pesanan mu."
"Kamu mau pesan apa, pak Santosa?"
"Sama seperti ndoro ayu dan gusti pangeran."
Karyawan yang bekerja sebagai kasir dan penerima pesanan tersebut bingung mendengar percakapan pengunjung restoran di depannya.
Yang tua dipanggil mas, yang muda di panggil pak. Sebenarnya suaminya yang mana? Mana dua-duanya tampan semua, beruntung ibu-ibu muda satu ini dikelilingi laki-laki tampan. Sedangkan aku, setiap hari tersenyum ramah, pun tak ada pengunjung yang minta berkenalan denganku.
"Mbak..." panggil Rinjani.
Karyawan disebelahnya menyenggol lengan teman kerjanya, "Kerja... jangan ngelamun!"
"Mbak terpesona dengan pak Santosa ya? Dia jomlo, kenalan aja daripada kepikiran." seru Rinjani. Santosa tersenyum kikuk saat Rinjani menarik tangannya untuk menjabat tangan karyawan tersebut.
"Samudera." ucap Santosa memperkenalkan dirinya.
"Melati." balas karyawan yang bernama Melati. Kedua manusia di depan Rinjani tersenyum kaku, malu-malu.
"Sudah-sudah, kenalannya nanti lagi. Aku lapar, tolong buatkan pesanan yang sama." ujar Rinjani sambil mengambil uang dari dompetnya.
Melati mengangguk, ia menjumlah total penjualan. Dan, memberinya meja pemesanan.
Namanya juga makanan cepat saji, secepat mungkin bisa tersaji di atas meja.
"Makanlah terlebih dahulu, biar Dalilah bersamaku."
"Baguslah kalau begitu, itu yang dinamakan suami pengertian." balas Rinjani, ia menyantap cheese burger dengan lahap. Sesekali ia menggoda Dalilah dengan mengulurkan burger ke depan mulut mungil Dalilah.
"Jangan menggodanya ndoro ayu, jika Dalilah ngambek itu akan membuatnya rewel." seru Santosa.
"Gitu ya? Kamu memang sudah cocok menjadi seorang ayah pak Santosa. Sayang sekali, kamu harus menjadi ajudan ku yang berarti kamu hanya akan dirumah, menjagaku dan Dalilah."
Santosa mengangguk dan tersenyum meskipun dalam hatinya was-was.
Selama beberapa saat kelihatannya Santosa-lah yang memegang kendali situasi. Ia menanggapi ocehan tidak penting Rinjani dengan sopan. Santosa tidak sembrono, ia tahu perangai Kaysan jika sudah marah besar.
Rinjani sudah menyelesaikan makan siangnya, ia mengambil alih Dalilah.
"Jani mau mengganti popok Dalilah dan menyusuinya di ruang khusus. Jika Rinjani lama, mas tunggu saja di mobil."
Rinjani mengambil tas bayi yang menggantung di lengan Kaysan.
"Pak Santosa tolong awasi suamiku. Aku takut nanti ada gadis yang lancang menciumnya lagi." kata Rinjani.
Kaysan justru berbunga-bunga mendengar ocehan Rinjani.
"Dengarkan baik-baik itu pak Santosa. Rinjani masih peduli denganku. Dan, ia hanya menganggap anda sebagai ajudannya." Sepertinya tidak punya malu, tingkah Kaysan membuat Santosa tersenyum.
"Lebih baik gusti pangeran lekas menghabiskan makan siangnya. Kasian jika nanti ndoro ayu harus menunggu lama."
Santosa menatap Kaysan seolah-olah Kaysan sudah kehilangan akal sehat. Ia merasa dirinya sangat berarti untuk Rinjani, sehingga ia harus dijaga dengan ketat. Sedangkan Santosa memikirkan Rinjani yang jauh dari pengawasannya.
__ADS_1
Happy reading ๐
[ Semua akan dibahas satu persatu, siapa Santosa, intrik kerajaan, dll, akan ada waktunya sendiri untuk di up. Jadi nikmati saja dulu alurnya ]