Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 79. [ Berdansa diatas gelisah ]


__ADS_3

Iringan lagu ballet semakin kesini temponya semakin tak beraturan. Gerak yang abstrak menjadikanku dan Kaysan malah seperti berdansa diatas kegelisahan, menari diatas ketidakpastian. Atau kita malah seperti sedang senam Poco-Poco.


Buliran peluh membasahi dahinya, sedikit lagi menyentuh pelipis matanya. Jantungnya terdengar tak beraturan, berdegup kencang. Nafas kami ngos-ngosan, saat iringan lagu itu selesai kami sama-sama terkapar diatas ranjang. Menghela nafas, lalu terkekeh bersamaan.


"Aku suka." kataku sambil menggenggam tangannya. Hari ini aku mendapatkan gambaran lain dari diri Kaysan. Kaysan yang bisa berdansa dengan baik dan membuatku terkesan.


Ku pikir laki-laki berotot ini hanya suka barbel. Ternyata dia juga menyukai berdansa, roman-romannya aku harus mulai belajar berdansa. Agar langkah kami bisa selaras dan terlihat indah berirama.


"Kakiku nyaris krem." Keluhnya masih dengan nafas yang memburu. Dadanya basah dengan keringat, aroma tubuhnya menarikku untuk mengendusnya dalam-dalam.


"Anggap saja pemanasan, Mas."


"Izinkan kakiku untuk beristirahat sebentar, Rinjani. Aku tidak kuat."


"Mau Jani pijit?"


Sorot matanya berpikir sebelum akhirnya mengangguk pelan. Kaysan memindah posisi tidurnya menjadi tengkurap.


"Berapa biaya sewa hotel semalam, Mas?" tanyaku sambil memijit betisnya, sedikit berbulu dan aku suka mengusapnya dengan telapak kaki saat sedang menggodanya dibalik selimut.


"Gratis."


"Mana ada nginep hotel gratis. Emang punya nenek moyang?"


"Iya."


"Beneran milik nenek moyang? Bukankah nenek moyang kita seorang pelaut, Mas?"


"Tahu dari mana?"


"Memang dulu waktu kecil mas tidak diajari guru TK bernyanyi?"


"Bernyanyi?"


"Iya. Nenek moyangku seorang pelaut 


gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa." Dengan suara yang pas-pasan aku bernyanyi layaknya dulu waktu TK.


Tak terdengar sahutan dari mulut Kaysan. Justru malah dengkuran halus yang tercipta. Duh, Gusti. Seperti dia terlena dengan suaraku yang merdu alias merusak dunia. Dia memilih terlelap, mengistirahatkan tubuhnya dari penatnya dunia.


Aku tersenyum simpul, masih ku pijit kakinya hingga ujung pangkal pahanya. Tak ada yang bergerak, telalai gajah itu masih terkulai lemas.


*


"Bangun, Rinjani."


"Hmm..."


"Bangun, mandi."


Aku menggeliat, dengan malas aku duduk meski mataku masih terpejam. Setelah lelah memijit kaki Kaysan. Aku memilih ikut tidur siang.


"Jam berapa, Mas?" tanyaku memastikan.


"Sudah hampir petang. Mandilah, lalu ikut denganku."


"Kemana?"


"Roof top."


Aku membaringkan tubuhku lagi diatas ranjang.


"Aku gak bawa baju ganti."


"Buka matamu!"


Kelopak mataku mulai terbuka, satu gaun berwarna putih tergantung di dinding kamar.


Aku mulai merangkak turun dari ranjang. Mendekati Kaysan yang sudah rapi dengan kemeja putih, rambut klimis dan sepatu fantofel yang mengkilap.

__ADS_1


"Kamu mau kencan, atau mau meeting sih mas?" tanyaku heran.


"Diam, temani aku jalan-jalan."


"Oh, tidak bisa Ferguso. Kalau paparazi tahu, kita dalam keadaan gawat darurat."


"Pura-pura saja jadi klienku."


Aku berdecih, "Klien-klien, sembarangan!"


Dia pikir aku beneran ayam kampus, seenaknya bilang klien.


"Aku tuh Garwa Padmi pilihan, bukan klien!" [ garwa padmi : permaisuri ]


"Godain 'Om' dong, cantik."


Aku bergidik ngeri, saat Kaysan sudah memainkan rambutku dan mengendusnya, "Edan, edan. Mas sepertinya minta di ruqyah."


"Sudah mandi sana, dandan yang cantik."


"Gak bawa alat make up. Citra natural saja ya, Mas."


"Sudah aku siapkan semua, kamu tinggal mandi dan menuruti perintah suami."


"Siap suami, laksanakan."


Berkat kamar mandi yang transparan, aku mandi seperti dikejar anjing galak sedangkan laki-laki itu asik berdiri menungguku diambang pintu. Mesumnya semakin parah.


"Kamu kenapa sih mas, mandi aja ditungguin."


"Aku sedang meneliti tubuhmu."


"Apanya yang diteliti, bukan bahan praktek ya."


"Semua masih terlihat sama."


"Lah iya, memangnya mau diapain lagi. Sudah dari sananya seperti ini. Mau protes?"


"Nanti sakit mata, jangan seperti itu."


"Aku sudah kangen."


"Katanya mau kencan. Nanti keringetan lagi."


"Baik, aku akan menahannya. Pergilah bersiap, aku tunggu di roof top."


Kaysan mengecup bahuku, sebelum akhirnya dia berjalan menuju pintu kamar dan menghilang.


Satu set alat make up sudah berada di meja rias. Hatiku berdesir, Kaysan benar-benar pengen aku jitak. Kenapa dia romantis sekali, membuatku merasa menjadi seorang putri.


Belajar dari tutorial make up di YouTube, aku mulai belajar memoles wajahku. Sedikit genit dengan warna lipstik yang agak mencolok dari biasanya.


Sibuk berkutat dengan alat make up, tak terasa sudah satu jam aku menghabiskan waktu di depan meja rias. Semoga laki-laki mesum itu tidak marah karena lama menungguku.


Dengan langkah bringas aku keluar dari kamar, menuju lift. Benda berbentuk kubik ini membawaku ke lantai paling atas dengan cepat.


Sepatu berhak tahu menggema di lorong tangga. Sebelum akhirnya aku sampai di roof top dengan pemandangan lampu kota dibawahnya, termasuk hamparan sawah luas yang menjadikan hotel ini istimewa meski berada ditengah perkotaan.


Langkahku sedikit berlari menghampiri laki-laki yang memunggungiku. Kepulan asap rokok menemaninya, bergelung lalu memudar di terpa angin malam.


"Maaf mas." kataku sambil duduk di depannya.


Kaysan mematikan putung rokoknya, lalu menelisik wajahku dari atas ke bawah.


"Untung cantik, jika tidak sudah ku lempar kamu ke bawah."


Bibirku mengerucut, "Yakin gak nyesel? Kecantikan ku hanya untukmu, mas."


"Kamu memang cantik, dan cocok untuk ibu dari anak-anakku."

__ADS_1


Pipiku merona, "Yakin gak papa disini, berduaan?" Mataku mengedar, mencari celah dimana paparazi bisa bersembunyi.


"Kamu klienku, anggap saja kita sedang melakukan pemotretan."


"Klien plus-plus." Lanjutnya lagi.


Aku terkekeh.


"Terimakasih, Mas. Sudah membuatku istimewa."


"Hmm... Sayang."


"Aku jantungan, jika mas memanggilku seperti itu."


"Sayang?"


"Apa?"


"Sayang?"


"Apa sih, Mas?"


"Foto yuk. Pumpung kamu lagi cantik."


Runtuh hatiku seketika.


"Jadi aku jelek kalau gak pake make-up?"


Kaysan menarik tanganku.


"Tak pakai bedak pun kamu sudah cantik. Apalagi bibirmu yang mengerucut seperti ini. Hmm, ingin sekali aku kecup saat ini."


Aku cemberut, "Tidak romantis!"


"Kamu cantik apa adanya, itu yang membuatku suka."


"Lagi yang manis."


Semakin malam semakin tidak tahu diri, bahkan tak perlu bilang seperti itu hatiku sudah menghambur ke seluruh jiwanya.


"Dan, jangan berdandan seperti ini jika tidak denganku."


"Kenapa?"


"Kamu cantik banyak orang yang melirik."


"Cemburu?"


"Tidak!"


"Jadi gak cinta, ayo bilang I love you."


"I love you, Rinjani."


"I love you too, Mas. Jaga hatimu untuk aku saja. Memang aku egois, tapi tak mengapa. Karena cinta hanya butuh dua hati, tak butuh hati-hati yang lainnya. Kamu paham, Mas?"


"Bersabarlah, Rinjani. Kita bahkan baru mendayung perahu kita berlayar. Akan banyak badai yang kita lalui, akan banyak sesuatu yang mengejutkan lagi di tengah bahtera rumah tangga kita, sekalipun kapal kita terbalik. Berjanjilah untuk bertahan."


"Tapi aku tidak bisa berenang, Mas. Kalau aku tenggelam gimana?"


"Ada aku, aku bisa memberimu nafas buatan."


"Mesum terus!"


Bugh... Ku tinju perutnya, ia terkekeh sambil mencubit pipiku, "Gemes."


Sebuah kamera DSLR dan perlengkapan untuk berfoto ria sudah ia siapkan. Malam ini aku habiskan dengannya sambil berpose ria, tanpa ada nafsu yang membara.


Di dalam sana, ada sesuatu yang menghangat. Keyakinan yang perlahan melekat untuk percaya, jika Kaysan memang tulang punggung yang tercipta untukku. Dan, aku semakin yakin jika tulang rusukku adalah salah satu tulang rusuknya yang menghilang.

__ADS_1



__ADS_2