
Ayahanda memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening akibat perdebatan kedua istrinya yang bingung harus berbuat apa untuk menenangkan Rinjani.
Rinjani akhir-akhir ini terus menangis cengeng, merengek minta maaf, dan terus di hantui perasaan menakutkan saat melahirkan nanti.
"Rinjani cemas, ia takut Kaysan tidak datang. Dia terus ketakutan jika harus melahirkan sendiri."
Bunda Sasmita menghela nafas panjang, berat untuk meloloskan kelegaan di benaknya.
"Terus gimana, Sas? Kaysan baru akan pulang satu hari sebelum melahirkan. Itupun jika Rinjani benar-benar akan melahirkan tepat hari perkiraan lahir, jika tidak." Juwita Ningrat menggeleng cepat. "Bakal kacau seisi rumah sakit." tukasnya.
Ayahanda semakin pening, "Kalian berdua seharusnya jangan ikut-ikutan wanita 21 tahun panik pra melahirkan. Seperti tidak pernah melahirkan anak."
Juwita dan Sasmita saling melempar pandangntak terima mendengar penuturan Ayahanda. "Melahirkan tak semudah saat membuatnya Ayahanda tercinta kesayangan ndoro ayu Rinjani."
Kedua wanita di depan Ayahanda tersenyum penuh maksud.
"Maaf istri-istriku, melahirkan memang tidak mudah, dan maafkan kangmas jika istri-istriku tersinggung." Ayahanda menyugar rambutnya dengan tangan kanan seraya menunjuk sikap wibawanya.
Juwita dan Sasmita saling melempar senyum, "Semar Nusantara sedang ada produk terbaru kangmas."
"Belilah, asal nanti saat ndoro ayu melahirkan kalian bisa membuatnya tenang."
"Dimengerti suamiku. Tenanglah, Dalilah cucu tercinta Ayahanda akan terlahir selamat jika Ayahanda yang menemani ndoro ayu melahirkan. Karena ndoro ayu Rinjani pasti ketakutan dan segan untuk menangis di depan Ayahanda."
Ide Sasmita selalu kocak, Juwita pun mengangguk setuju.
__ADS_1
"Iya kangmas, jika Rinjani nanti rewel, memang sebaiknya kangmas yang turun tangan."
"Sudah-sudah, jangan lupa belikan giwang dan perhiasan lainnya untuk Dalilah."
"Bagaimana dengan istri kangmas yang lain, Sekar Tanjung akhir-akhir ini aku perhatikan dia sedikit senewen dengan aku dan Sasmita. Apa kangmas tidak memperlakukannya dengan baik?" tanya Juwita Ningrat.
"Benar, maaf jika Sasmita lancang kangmas, apa sebaiknya Rinjani tidak dibawa ke rumah utama sampai Kaysan benar-benar kembali. Saya hanya khawatir, Sekar Tanjung akan berbuat nekat jika kangmas tidak menuruti keinginannya. Terlebih kangmas terlalu over protective menjaga Rinjani dan memanjakan Dalilah."
"Bagaimana menurut kalian berdua, apa Sekar Tanjung harus aku jadikan permaisuri kedua. Juwita?"
Ibunda Juwita menyunggingkan senyum pahitnya.
"Putraku jelas yang akan meneruskan kedudukan kangmas. Itu sudah cukup menjadi jawaban." ujar Juwita mantap.
"Sasmita?"
"Katakan keinginanmu sebelum kangmas berubah pikiran." Sasmita menggeleng cepat, menolak untuk menyuarakan isi hatinya yang terdalam. Akhirnya Juwita yang menyuarakan pendapatnya,
"25 tahun Sasmita mengabdi kepada kangmas, tidak adakah niatan kangmas menjadikan Sasmita istri resmi?"
"Kalian ingin menambah konflik internal diantara istri-istriku yang lain. Urusan Kaysan belum selesai sampai ia kembali. Jadi sabarlah Sasmita, kamu tetap yang terbaik." ujar Ayahanda seraya melepas senyum manisnya.
"Lalu bagaimana denganku, kangmas?"
Juwita tak mau kalah, ia menatap Sasmita penuh permusuhan. Sasmita tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kamu yang terindah, Juwita. Istri paling tua dan galak." Ayahanda bergurau, jarang-jarang kedua istrinya saling berbagi koneksi ide untuk membuat Rinjani tersenyum. Sasmita menahan tawa.
"Kalau tidak galak, kangmas akan memiliki istri lebih dari lima. Sedangkan seminggu hanya tercipta tujuh hari. Semakin banyak istri semakin lama menunggu giliran." Juwita melangkah mendekati Ayahanda.
"Alangkah baiknya kangmas banyak-banyak istirahat. Karena kami takut, saat Dalilah nanti lahir, kangmas yang akan begadang, sedangkan Kaysan dan Rinjani asyik berduaan."
Sasmita mengangguk setuju, "Ibarat burung, mereka adalah sepasang love bird. Cinta mati."
Ayahanda mencoba berpikir, jika Rinjani dan Kaysan terpisahkan saat itu. Lebih banyak hal-hal gila yang terjadi di hidupnya. Panji yang akan merebut singgasana istana, Sekar Tanjung yang menginginkan putranya menjadi putra mahkota---the next king, dan Juwita yang pasti akan memilih pergi. Ayahanda runyam sendiri, ternyata menurunkan ego tidak seburuk yang ia rasakan dibanding dengan kehilangan semuanya.
"Kalian pergilah sekarang, dan bersenang-senang. Sebelum kalian juga akan di repot kan untuk membantu ndoro ayu mengasuh Dalilah. Belilah yang adil dan rata. Belikan juga untuk Nindy, sudah lama dia tidak aku perhatikan."
"Terimakasih calon Grandpa." ucap kedua istri Ayahanda dengan gemas. Ayahanda menggeleng, "Sudah tua, tidak pantas berlaku seperti itu."
Dalam lubuk hati Ayahanda, Ayahanda senang istrinya masih bisa bergurau diatas keluh kesahnya menghadapi Rinjani...anak preman pasar.
Tak ku sangka. Aku akan memiliki seorang menantu anak preman. Jauh dari pengharapan wanita terpandang untuk mendampingi Kaysan, putra mahkota yang akan mewarisi takhta istana. Kehadiran anak preman pasar, telah membuat putraku mabuk cinta dan gelap hati, tapi nyatanya titik kebahagiaan hadir dari sesuatu yang sederhana dan diluar keinginan. Seperti Sasmita yang aku jadikan pelabuhan terakhir. Sasmita adalah Dermaga yang mampu menampung kapal besar sepertiku.
Setiap lelah dan beban berat yang aku pikirkan, seakan terurai dengan sifatnya yang ceria dan centil. Mungkinkah seperti ini yang dirasakan Kaysan? Tersadar dari semua tabiat ku untuk memisahkan mereka. Sasmita dan Rinjani adalah wanita berbeda generasi yang mendapat tempat 'lain' yang tak semua orang melihatnya. Mereka istimewa mesti derajatnya lebih rendah dari yang pernah ada. Karena sejatinya, semua orang memiliki sifat Ningrat yang terhormat. Terhormat karena attitudenya, terhormat karena budi pekertinya dan terhormat karena kepandaiannya.
*
Saat ini kami berada di ruang Obgyn di salah satu rumah sakit swasta yang akanmenjadi tempatku melahirkan.
Kurang seminggu lagi aku akan melahirkan, dan kali ini adalah USG terakhir sebelum aku resmi menjadi seorang ibu. Putriku Dalilah sudah mempunyai berat badan ideal untuk lahir, hanya perlu menunggu waktu 'Tuhan' memberi isyarat kepada Dalilah untuk keluar dan berjuang bersamaku. Seperti halnya malam pertama, melahirkan adalah pengalaman pertama untukku. Dan, yang pertama akan slalu membuatku penasaran dan gugup. Aku menanti kedua orang yang aku cintai dengan harap-harap cemas. Dalilah yang jelas akan terlahir dalam hitungan hari, dan Kaysan yang tak pasti. Kata dokter aku bisa melahirkan kapan saja tergantung kontraksi rahim yang terjadi. Semakin sering terjadi, semakin besar kemungkinan aku melahirkan tanpa Kaysan.
__ADS_1
Seseorang pernah berkata padaku, "Akan slalu ada masalah saat kita sudah menjadi orangtua, saat hal yang biasanya kita anggap remeh-temeh akan terasa luar biasa jika sudah berurusan dengan anak. Ada tanggung jawab besar setelah seorang bayi terlahir di bumi. Jadi jangan kaget, jika nanti kamu dan Kaysan memiliki masalah dalam mengurus anak. Karena anak adalah cerminan kalian berdua. Dan, yakinlah bahwa masalah-masalah itu akan menguatkan cinta kalian."
Happy Reading ๐