
Nama saya Samudera Adinoto Salahudin Rumi, memiliki panggilan singkat Santosa. Saya berumur 30 tahun, status sendiri.
Saya terlahir dari keluarga bangsawan. Meski bukan dari kerajaan besar seperti keluarga Kanjeng Sultan Adiguna Pangarep. Kerajaan yang Ayahanda dirikan, hanyalah kerajaan kecil dibawah naungan istana Kanjeng Sultan Adiguna Pangarep.
*
Keterlibatan saya dalam keluarga Sultan Adiguna Pangarep sudah berjalan cukup lama. Saya Samudera, lelahku bukan tanpa arti. Berusaha tetap konsisten dengan mengucapkan kalimat Sendiko dhawuh.
Saya mengerti, awal kehadiran saya di rumah Kanjeng Sultan adalah untuk menguji cinta ndoro ayu Rinjani dan Gusti pangeran Haryo Kaysan.
Tapi saya. Dengan berat hati mengatakan bahwasanya menjadi orang ketiga menjadikan saya laki-laki pengecut.
Saya mundur teratur namun tak menghilangkan rasa kekaguman saya terhadap ndoro ayu Rinjani. Saya sering melihatnya. Tak kurang-kurang, setiap hari bertemu dengan ndoro ayu Rinjani saat menemani suaminya di pelataran parkir rumah sebelum berangkat kerja.
Pekerjaan saya sekarang adalah menjadi ajudan GPH Kaysan. Saya akan berada di dekatnya sepanjang hari sesuai jam kerja.
Saya jugalah yang dijadikan tameng pelindung GPH dari wanita-wanita yang menggodanya.
Diluar rumah. Mati-matian saya menghalau gadis-gadis yang mengagumi suami ndoro ayu Rinjani. Entah ikut pegawai, relasi bisnis keluarga, ataupun wanita dengan kebangsawanan yang tak pernah berani muncul di rumah utama atau istana.
Wanita-wanita itu adalah wanita yang menggunakan kesempatan untuk menjadi istri kedua atau selir GPH Kaysan nanti saat di jadikan Raja.
Desas desus memang sudah beredar luas jika pergantian pemimpin kerajaan akan dilakukan. Pastinya masih belum jelas kapan, karena hal itu masih menjadi rahasia.
Saya khawatir dengan ndoro ayu Rinjani. Perjuangan sewaktu melahirkan Raden Ayu Dalilah dan Suryawijaya masih terngiang-ngiang di kepala saya. Bahkan sampai putri mereka menginjak PAUD.
Dalilah tidak diistimewakan dengan murid lainnya, hanya saja ada abdi dalem yang menjaganya selama di sekolah. Bukan apa-apa, semua menghormati keluarga istana, juga sangat paham apa yang harus pihak sekolah lakukan. Hanya saja, putri calon raja dan ratu ini kelewat aktif.
Dia adalah Bendoro Raden Ayu Nindy, penjaga dan baby sitter Raden Ayu Dalilah.
Semua yang terjadi di rumah utama saya tahu, termasuk skandal yang BRAy Nindy lakukan.
Kedekatan kami hanya sebatas pekerjaan yang sama-sama mengabdikan diri kepada GPH Kaysan dan Ndoro ayu Rinjani.
Saya menghormatinya, tapi lama-lama saya dibuat pusing dengan tingkahnya.
Terlalu sering menghabiskan waktu bersama dikala jeda mengurus pekerjaan, membuatnya menyimpulkan bahwa dirinya mencintai saya.
Saya tidak kaget. Gelagat seorang wanita yang jatuh cinta dan nyaman dengan seseorang mudah untuk saya tebak.
__ADS_1
Dan, sekarang. Saya sendiri yang terjebak dalam situasi yang sulit untuk saya hindari.
Hari-hari saya bertemu dengan Nindy, hari-hari itu pula saya harus menghadapinya karena rasa hormat saya kepada ayahnya.
Termasuk kali ini. Saya harus menemaninya membeli bunga sedap malam untuk hiasan meja yang wajib ada dirumah utama ataupun istana.
Bunga sedap malam tidak bisa di pisahkan dari istana sama seperti bunga melati dan mawar.
"Mas... Habis ini mau kemana?" tanyanya padaku.
Saya menggeleng, "Pulang. Meskipun hari ini libur, saya harus siap sedia di rumah utama."
"Mas Kaysan lagi, mas Kaysan lagi. Lalu kapan waktunya untukku? Lelahnya menunggu jawaban yang pasti." gumam Nindy, wajahnya kusut, slalu begitu jika membicarakan perasaannya.
"Saya mengerti." jawabku.
"Kalau mengerti kenapa tidak jawab... Sudah berapa tahun, kita begini-begini saja. Dekat tanpa status dan kepastian."
"Tanggungjawab saya akan terbagi jika saya memiliki pasangan."
"Lalu? Kamu mau jadi perjaka tua? Aku akan membicarakannya dengan mas Kaysan dan Ayahanda!" Nindy menerima buket bunga dan berjalan menuju parkiran. Kami berdua hanya membawa motor, karena Nindy memang tidak diizinkan untuk membawa mobil. Ia masih dalam tahap hukuman atas kasus yang ia lakukan.
"Sudah ayo pulang. Mas Kaysan sudah menunggumu!!!" katanya dengan nada tinggi.
Aku menghela nafas.
"Hanya satu jam saja. Kamu mau kemana? Saya turuti." Akhirnya saya mengalah.
"Gak jadi. Aku sudah kecewa!" jawabnya bersungut-sungut.
Saya memakai helm, kemudian membantunya juga memakai helm. Setelah mengucapkan terimakasih dia membuang muka, cemberut lagi.
"Jangan marah. Tambah keliatan tua nanti." Goda saya. Ia memukul pundak saya lalu menggerutu.
"Iya... iya. Aku memang bukan gadis lagi. Tapi kamu juga sudah terlalu tua untuk menikah!"
Saya tertawa singkat sambil melajukan motor ke arah rumah.
"Saya memang sudah tua. Usia saya sudah 34 tahun. Tapi lihat, masih mirip seperti anak SMA bukan. Bergaul dengan adik-adikmu juga masih pantas."
__ADS_1
Nindy mendengus tak terima.
"Dasar perjaka tua. Gak kasian sama organ reproduksimu?" desisnya tajam.
Wanita itu memang blak-blakan. Hal yang dianggap saru ia bicarakan dengan mudah dan gamblang.
"Saya tidak kasian. Biarkan saja, toh inikan milik saya. Kenapa kamu yang repot memikirkan." jelas saya sambil fokus mengemudi.
Nindy lagi-lagi memukul pundak saya.
"Pulang saja ke istanamu! Heran, ada manusia yang rela mengabdi hingga menunda pernikahan. Mas Kaysan juga tidak akan membiarkanmu seperti ini!"
Saya tersenyum. GPH Kaysan memang berkali-kali mengajak saya untuk membicarakan perihal kedekatan saya dengan Nindy. Tapi saya lebih suka seperti ini. Saya bisa mengawasinya, menerima segala keluh kesahnya, begitu juga membebaskannya karena saya lebih suka hubungan yang tidak terikat tapi slalu ada.
"Saya tidak bisa pulang. Nanti kamu akan kebingungan mencari saya, karena saya pastikan. Anda tidak tahu alamat istana saya." kata saya jujur.
Nindy kembali mendengus kesal.
"Sudah ah. Ngobrol sama kamu slalu gak ada solusi terbaik untuk hubungan kita."
Setibanya di rumah utama. Nindy langsung melengos pergi.
Ia sebenarnya cukup kasian. Perceraian Ayahanda dengan istri keduanya membuat Nindy merasa kesepian dirumah ini. Ia jarang menemui ibunya, karena waktunya hanya tersita untuk mengurus Dalilah.
Saya menuju rumah belakang. Tempat dimana ia menata bunga sedap malam dalam vas bunga sebelum di pajang di atas meja.
Di rumah belakang juga, selama hampir empat tahun saya tinggal di rumah utama.
"Mau saya bantu?" tanya saya pada Nindy.
Gadis itu memotong tangkai bunga lalu menyusunnya ke dalam vas bunga. Ia sama sekali tidak buka suara. Ngambeknya suka berlebihan seperti tidak ingat berapa umurnya sekarang.
"Memang betul. Tidak tersenyum membuat wajah terhindar dari kerutan, seperti Victoria Beckham. Tapi kalau kamu tidak senyum, kamu terlihat sangat galak. Pantas Dalilah suka kabur-kaburan karena wajahmu mena...."
Nindy mencipratkan air ke wajahku.
"Suka banget ngeledek!" Bibirnya terlihat melengkung ke atas.
Saya tertawa kecil, "Begitukah bagus."
__ADS_1
Happy reading ๐