Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 116. [ Satu permintaan ]


__ADS_3

Aku memaksa untuk memakai gincu tebal dan dress cantik yang Kaysan siapkan diatas ranjang, belum lagi high heels sepuluh centimeter dengan warna senada juga Kaysan siapkan. Ah, suamiku! Tapi kenapa kamu berangkat terlebih dulu, meninggalkan ku dengan Nanang dan Nakula.


Selesai! Aku berkata pada diriku sendiri saat sentuhan terakhir mendarat di bibirku. Sebelumnya aku sudah menaruh sepuluh macam kado ulang tahun di dalam mobil Nakula.


Aku menyaut tas selempang ku dan bergegas keluar dari kamar. Bunyi high heels ini menyita perhatian Nakula dan Nanang, hingga mereka berbalik menatapku. Matanya menajam dan melihat penampilanku dari atas ke bawah, "Aneh ya? Atau bedaknya ketebalan?" Aku meraba wajahku dan mencari kaca.


Nanang menggeleng dan mendekatiku, "Mantan kekasih ku." ucapnya.


"Nang, kamu..." Aku terpaku saat Nanang berada di belakangku, ini jarak teramat dekat. Bersusah payah aku menelan salivaku saat Nanang hanya diam dengan tangan terulur merapikan rambutku.


"Nang, aku istri orang!" Tangan Nanang mendadak mengepal, hembusan nafas kasar membuatnya berbalik arah, "Maaf."


Nanang keluar terlebih dahulu, menyisakan aku dan Nakula. "Cantik sayang sudah jadi istri mas Kaysan."


"Nakul, kenapa? Apa cantiknya aku ini kebangetan?" tanyaku penasaran, rasanya aku hanya berdandan ala kadarnya, tidak berlebihan.


"Setiap perempuan slalu memiliki kecantikan sendiri, apa lagi..." Nakula menatapku sejenak, "Bagi mas Nanang, Mbak Jani adalah bagian kisah-kisahnya yang belum hilang."


"Apa perlu Nanang juga menjadi pasien dokter psikiatermu? Nanti yang ada kamu yang cemburu, adik iparku." Aku menyenggol lengan Nakula dan menaik-turunkan alisku.


"Mas Nanang hanya perlu waktu. Ingat Mbak, nanti disana juga ada Mbak Nurmala Sari. Mbak harus bisa menjaga sikap." Nasihat Nakula yang aku angguki,


"Memang ulang tahun mas Kaysan dirayakan besar-besaran ya, apa dari dulu juga begitu?"


"Kadang-kadang."


Sesampainya di pelataran parkir, Nanang sudah siap dengan kemudi mobil di tangannya. Wajahnya mendadak masam tak seperti barusan.


"Galau ya?" tanyaku padanya setelah aku menutup pintu mobil. Nakula, dengan bodohnya menyuruhku duduk di depan menemani Nanang.


"Aku menyesal dulu tak membuatmu menjadi istimewa seperti sekarang." ucap Nanang dengan lirih.


"Kenapa?"


"Karena aku tahu, semakin kamu merawat wajahmu, kamu akan semakin cantik dan banyak orang yang mengagumimu." lanjut Nanang tanpa menoleh ke arahku, "Akan semakin banyak orang yang bersedia membuka hatinya meskipun kamu dulu apa adanya."


"Aku beri kamu satu permintaan." Andai Nanang tak menyebutkan permintaan, aku akan mengabulkan satu permintaannya yang tak pernah aku tepati sejak dulu. Bagaikan jin dalam lampu ajaib yang di gosok perlahan, mungkin inilah yang bisa aku lakukan untuk Nanang sebagai bentuk permintaan maaf ku.


"Aku tidak ikut-ikutan rencana kalian!" Sergah Nakula dari bangku penumpang.


"Diam saja, jangan ikut campur. Ini masalah hati, jadi harus hati-hati." kataku sambil menaruh jari telunjukku di depan mulut.


"Nang..." panggilku.


"Kamu tahu apa yang aku mau."


Aku berdecih, benar sekali dugaanku.


"Baiklah, tapi setelah itu kamu harus berjanji padaku dan mas Kaysan, untuk terus berada di pihak kami dan mulai membasahi hatimu yang gersang itu dengan benih cinta yang baru."


"Baik."

__ADS_1


Mobil melesat cepat menuju cafe yang sudah Kaysan booking secara pribadi.


*


Cafe Brick.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ya! waktu yang tepat untuk memulai pesta. Terlihat banyaknya kendaraan yang sudah terparkir di halaman cafe.


"Bantu bawain kado-kadonya." pintuku setelah Nanang membuka bagasi mobil.


"Ya kali Mbak! Sudah nanti saja di berikan saat di rumah."


"Tidak bisa, ini surprise buat mas Kaysan!"


"Benar-benar mau jadi pusat perhatian!" celetuk Nakula sambil turun dari mobil. Sedangkan Nanang tanpa aku suruh ia sudah mengambil beberapa kado yang semalam sudah aku bungkus dan aku beri pita warna putih.


"Kemarin mas Dimas yang membantuku mencari kado untuk mas Kaysan." kataku saat kami bertiga berjalan menuju pintu masuk.


"Dimas?" tanya Nanang.


"Iya mas Dimas, kenapa?"


"Kamu tahu, dia ba-ha-ya." ucap Nanang tanpa merubah ekspresi wajahnya."


Tiba di dalam cafe, aku terkagum-kagum dengan dekorasi yang Kaysan siapkan.


"Nakul, bagus banget, lucu." bisikku mendekati daun telinganya.


"Kenapa selalu sapi yang berada di antara kalian, tidak romantis!" celetuk Nakula setelah kami bertiga menaruh hadiah di meja yang sudah disiapkan. Bagaimana tidak, dekorasi cafe ini di hiasi dengan jerami-jerami dan boneka sapi, ditambah lagi musik klasik membuat kami seperti berada di gurun Nevada.


Mataku mengedar mencari Kaysan, tentu saja ia sedang di antara teman-teman kerjanya termasuk Nurmala Sari.


Aku hanya mengulum senyum saat mataku dan mata Kaysan bertemu. Ia beranjak dari tempat duduknya, membuat teman di sekelilingnya ikut mengarahkan pandangannya padaku.


"Nakul, mas Kaysan kesini."


"Aku mau makan, Mbak." Nakula meninggalkan ku, sedangkan Nanang sudah bergabung dengan adik-adik Kaysan yang lainnya. Terlihat Dimas juga ada disana, dia hanya menarik salah satu sudut bibirnya saat melihat ku.


"You're so pretty, Rinjani." Kaysan menarik tanganku dan menciumnya.


"Mas, malu ih." Aku berusaha menarik tanganku, tapi riuh tepuk tangan itu membuatku dan Kaysan menjadi pusat perhatian.


"Sesuai janjiku padamu kemarin, aku akan mengenalkan mu dengan teman-teman kerjaku, tapi sebelumnya temani aku untuk meniup lilin dulu."


"Mas yakin? Tidakkah ini terlalu berlebihan, bagaimana jika ada pihak yang membuat kabar buruk tentang kedekatan kita."


"Aku tahu siapa saja yang aku undang, jadi jika ada kabar buruk yang beredar, itu sudah tentu salah satu dari mereka. So, biarkan aku menikmati malam ini." Aku mengangguk.


Setelah semua tamu undangan hadir, MC meminta kami semua untuk berkumpul di meja bundar dengan kue tart berbentuk sapi di atasnya. Terdapat juga nasi kuning dan kue-kue lainnya, mataku tertuju pada kue tiramisu dan stroberi cake dengan keju parut diatasnya.


Keberadaanku sedikit membuat Nurmala Sari terguncang. Pasalnya, sebelum acara meniup lilin bersama, Kaysan sudah mengenalkan ku sebagai kekasihnya. Banyak teman-teman kerjanya yang menyebut Kaysan beruntung karena bisa mendapatkan gadis belia seperti ku, cantik lagi. Ha-ha-ha.

__ADS_1


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to you."


"Happy birthday dear Kaysan, happy birthday to you."


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga."


Sungguh hatiku ingin terkekeh saat lagu tiup lilin ini dinyanyikan oleh kami-kami yang sudah berumur. Bak sedang merayakan ulang tahun anak TK, kami juga memakai topi kerucut bermotif sapi.


"Ayo tiup lilin bersamaan." Ajak Kaysan.


"Buat permintaan dulu mas." Mata Kaysan terpejam sesaat, lalu kepalanya mengangguk.


"Semoga terkabulan doa-doa baiknya." Kami berdua meniup lilin secara bersamaan, di ikuti tepuk tangan meriah diantara tamu undangan.


Kaysan mulai memotong kuenya, karena yang aku tahu Kaysan tidak bisa memakannya, maka kue itu akan menjadi milikku.


"Terimakasih mas, tapi Rinjani tidak cukup kalau hanya sepotong." ucapku saat Kaysan sudah menyuruh teman-teman yang lainnya untuk menikmati pesta semalam.


"Ambillah yang banyak, biar badanmu semakin berisi." Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, beberapa potong kue sudah aku bawa menuju sofa paling ujung.


"Mas ini ulang tahun tapi hanya minum air putih kan, kalau tahu gini tadi perayaan ulang tahunnya diadakan di rumah saja, berdua." kataku setelah duduk di depan Kaysan. Kami memilih tempat duduk paling ujung, sedangkan Nurmala Sari bergabung dengan adik-adik Kaysan yang lain. Nanang, sudah tak bisa diam. Ia sudah berada di panggung mini untuk menyanyikan lagu sendu patah hati.


Sadewa, dia. Astaga, seseorang yang mengenakan kostum sapi tadi dan membawa balon aneka warna dalah dirinya. Aku tergelak saat ia duduk bersimpuh di atas jerami ditemani Nakula yang menyuapinya.


"Rinjani bawa 10 kado dengan pita putih, nanti mas Kaysan buka ya."


"Nanti kita buka kado sama-sama." kata Kaysan, "Banyak orang yang sudah mengenalmu sebagai kekasihku, aku harap kedepannya kamu bisa menjaga diri saat di luar rumah. Mengerti?"


"Terimakasih sudah membuat pengakuan mas, Rinjani akan berusaha dengan baik." Aku tersenyum, hingga tangan Kaysan terulur sambil membersihkan bibirku.


"Hmm... makan saja masih belepotan, beginikah cara makan seorang calon Ratu."


"Enak sekali stoberi cake ini. Rinjani mau lagi."


"Itu spesial buatan Nurmala Sari." Tenggorokanku tercekik, mendadak stoberi cake ini pahit rasanya.


"Untung saja mas puasa, kalau tidak, pasti mas juga akan merasakan pelet cinta di stoberi cake ini." Bibirku mengerucut.


"Ha-ha-ha, bersenang-senang lah. Aku harus menemui teman yang lain. Oke." Kaysan mencium keningku, sebelum akhirnya ia kembali bergabung dengan teman-teman lainnya. Sedangkan aku, masih asyik menikmati kue-kue yang lainnya, hingga Dimas datang membawa segelas soft drink untukku.


"Bagaimana kabarmu, Mbak?"


"Baik. Tumben sekali menyapaku terlebih dahulu. Lagi bolong ya? Bolong niatnya." Aku tersenyum jenaka. Dari kejauhan Nakula menatapku tajam, seperti mengisyaratkan untuk berhati-hati.


"Minumlah, aku lihat dari tadi kamu hanya makan kue saja."


"Ah, ya. Terimakasih, tapi aku tidak haus mas." Dimas tampak mengeraskan rahangnya, "Ini hanya sebagai bentuk terimakasih ku tadi malam kamu sudah mentraktirku makan malam."


Karena tidak enak hati, akhirnya aku menenggaknya juga.

__ADS_1


Happy reading πŸ’š


Rahayu kersaning Gusti πŸ™


__ADS_2