
Dengan semua kerinduan, rahasia, dan tanggungjawabnya yang tak berkesudahan, Kaysan senang berada di dekat Rinjani. Kali ini ia berharap waktu membiarkannya untuk berdua saja, menikmati setiap detik sentuhan-sentuhan yang mampu membakar gairah.
Kaysan mengelus lembut pinggang Rinjani, naik menuju payudaranya... Bulu-bulu halus Rinjani meremang. Rinjani sendiri tidak munafik jika ia memang merindukan sentuhan Kaysan yang memabukkan.
Rinjani mengalungkan tangannya di leher Kaysan. Melabuhkan kecupan mesra di bibir Kaysan yang sangat ia rindukan. Kaysan merasa sangat bahagia, ada wanita hebat yang sedang duduk diatasnya. Wanita yang kini kembali menghadirkan suara dan desahan untuk dirinya.
Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi ciuman yang mendesak. Kaysan takjub dengan cara Rinjani mengurai rindunya, ia mengelus punggung Rinjani dan melepas ciumannya.
Kaysan menempelkan dahinya ke dahi Rinjani, sesaat mereka membiarkan senyuman menghiasi wajah mereka.
"Izinkanlah aku menyentuhmu." ujar Kaysan, Rinjani mengangguk malu-malu.
"Astaga, sayang. Aku lebih suka jika kamu agresif seperti saat hamil dulu. Lakukanlah."
Rinjani mengangguk pelan, ia mengurai rangkulan tangannya dan merangkak turun dari pangkuan Kaysan.
Tangannya mulai menyelinap masuk ke dalam celana Kaysan. Memegang kejantanan Kaysan yang terasa hangat dan mengeras.
Kaysan membuka mulutnya saat Rinjani mulai memainkan tangannya. Membuat getaran-getaran mengalir di tubuh Kaysan.
Suara Kaysan terdengar serak, bercampur dengan erangannya.
"Pemanasan sepertinya sudah cukup. Kini giliran aku yang memanjakanmu."
Kaysan menarik tangan Rinjani, dan membuatnya telentang di atas ranjang. Dengan gerakan pelan, Kaysan merangkak naik ke atas tubuh Rinjani.
Rinjani menutup wajahnya, saat Kaysan begitu lapar menatapnya. Sedangkan Kaysan sendiri sudah sangat bergairah, ia membuka kancing piyama Rinjani dengan gerakan seperti bocah membuka kado.
"Hati-hati, jangan meremasnya terlalu lama." saran Rinjani dengan nada terbata-bata.
"Hmm..." Kaysan tak acuh, ia tetap melanjutkan niatnya.
Rinjani mulai bergairah saat sentuhan dan ciuman yang mereka hadirkan telah membuat semuanya lenyap. Keegoisan, cemburu, dan kecurigaan sirna saat keduanya mencapai klimaks yang optimal.
__ADS_1
Kaysan dan Rinjani benar-benar menikmati malam panjang yang mereka lakukan berdua. Tanpa Dalilah yang mengganggunya dengan tangisan. Karena Dalilah sudah Rinjani serahkan kepada Laura, malam itu malam dimana mereka berjanji untuk kembali.
Kaysan membungkukkan badannya, untuk mencium kening Rinjani saat mereka sudah menyelesaikan ritual yang membuat keduanya tersenyum puas.
Kaysan menggendong Rinjani menuju kamar mandi, "Mandi bersama?"
Rinjani mengangguk.
"Boleh, sudah lama kita tidak mandi berdua." Rinjani mengalungkan tangannya di leher Kaysan. Mereka tertawa kecil, mengingat penyatuan keduanya setelah sekian lama kedua organ intim mereka tidak berjumpa.
Siapa sangka, diluar kamar mereka ada Santosa yang mendengar semuanya. Santosa mengepalkan tangannya, ia berlalu pergi saat suara-suara yang menjijikkan dan kejam itu mulai menghilang. Ia menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Wajahnya menegang, bukan karena ia mupeng. Tapi ia geram dengan dirinya sendiri.
Nama saya Samudera Adinoto Salahudin Rumi, memiliki panggilan singkat Santosa. Saya berumur 30 tahun, status sendiri.
Saya terlahir dari keluarga bangsawan. Meski bukan dari kerajaan besar seperti keluarga Kanjeng Sultan Adiguna Pangarep. Kerajaan yang Ayahanda dirikan, hanyalah kerajaan kecil dibawah naungan istana Kanjeng Sultan Adiguna Pangarep. Kami selalu bersedia untuk membantu jika Kanjeng Sultan menginginkan sesuatu.
Pada suatu hari, Ayahanda memanggilku untuk bertemu dengan Kanjeng Sultan untuk membahas kerjasama antar kerajaan. Siapa sangka dan tak saya duga. Saya diminta untuk menjadi ajudan seorang wanita bernama Rinjani Alianda Putri. Calon ratu yang kelak akan memimpin kerajaan---termasuk kerajaan kami.
Saya dibawa dari kota kelahiran saya yang berada di wilayah barat, jauh sekali dari istana dan jarang terendus keberadaannya. Bisa dibilang keberadaan kami tersembunyi.
Pertama kali saya berjumpa dengan ndoro ayu Rinjani. Mula-mula saya tidak menyadari bahwa ndoro ayu cantik. Waktu itu pipinya masih tembam, perutnya buncit. Kalau bicara seperti kereta api. Panjang..... sampai terkadang saya kesulitan menanggapi obrolannya.
Semakin lama saya tinggal dikediaman Kanjeng Sultan, saya semakin terikat pada ndoro ayu. Meskipun demikian, saya tidak bisa mengatakan itu dengan sebutan apa. Mustahil jika saya mencintai seorang wanita yang memiliki suami, terlebih saya disini hanya berpura-pura menjadi ajudan.
Ada alasan lain kenapa saya dihadirkan diantara ndoro ayu Rinjani dan Gusti pangeran Kaysan. Ayahanda ingin melihat seberapa besar cinta seorang tuan putri terhadap Gusti pangeran Kaysan.
Saya tidak ingin terlibat terlalu dalam dengan tuan putri Rinjani, saat mengetahui bahwa tuan putri Rinjani sangat mencintai suaminya.
Tapi saya tetap akan mengabdi kepada Kanjeng Sultan, sekalipun berpura-pura menjadi ajudan. Saya mengerti batasannya, karena saya paham, menjadi tuan putri dan istri seorang calon raja akan berat langkahnya. Sebagai ganjarannya justru saya terjebak dalam situasi cinta terlarang. Saya Samudera Adinoto Salahuddin Rumi, saya akui telah lancang!
*
__ADS_1
Suara ayam kintan lelah berkokok membangunkan orang-orang yang juga lelah melakukan kegiatan semalam.
Kaysan masih mendengkur halus, ketika Rinjani membuka matanya dengan badan yang terasa remuk redam. Ia menggeliat pelan, merenggangkan otot-ototnya.
Ia menatap sejenak wajah Kaysan, mengusap bibir Kaysan dengan ibu jarinya, "Mas bangun, sudah siang." Rinjani mengguncang bahu Kaysan.
"Mas, ayo bangun. Kita harus menemui Dalilah. Mama dan Bapak harus kerja." Rinjani menyingkap selimut yang menutupi kaki Kaysan.
Ia mengusap tonjolan yang tampak penuh, "Apa harus begini untuk membangunkan tuannya?" kata Rinjani.
Kaysan tersenyum kecil, namun mulutnya berkata terus untuk melakukannya. Rinjani menjentikkan jarinya ke tonjolan itu. Kaysan berlonjak kaget dan lantas menegakkan badannya.
Rinjani menyeringai jail, "Aku sudah capek, mas. Jadi tahan dulu. Kita harus mandi dan menemui Dalilah. ASI ku juga sudah penuh."
"Sini aku perah." Suara Kaysan terdengar serak khas orang baru bangun tidur.
"Kumat lagi mesumnya! Dasar kucing garong." Rinjani melempar bantal ke arah Kaysan, membuat Kaysan terkekeh. Ia mengekori langkah Rinjani yang sedang mencari baju ganti.
"Hari ini aku tidak kerja." kata Kaysan sembari menaruh dagunya di bahu Rinjani.
"Terus mau apa dirumah?" tanya Rinjani.
"Buat kue? Aku rindu kue buatanmu."
Rinjani mengangguk, ia menepuk pipi Kaysan pelan.
"Mandi dulu, terus sarapan. Setelahnya kita membuat kue yang bersama."
Hari yang sangat indah, saat Kaysan menemani Rinjani membuat kue dan bercanda bersama di dapur. Hingga membuat dapur yang tadinya bersih berantakan karena tepung-tepung yang berserakan di atas lantai dan meja.
"Ini salahmu, mas!" seru Rinjani.
"Bukan, ini bukan salahku. Tapi kelakuanmu yang membuatku gemas untuk mengodamu."
__ADS_1
Mereka berdua tertawa, saat wajah mereka sudah berbalut tepung. Terlebih wajah Kaysan yang coklat manis malah terlihat seperti memedi. [ memedi : mahluk halus ]
Happy Reading ππ