
Ada banyak hal dalam hidupku yang berubah dalam satu hari. Biasanya aku bisa leluasanya tidur di kasurku atau bangun sesuka hatiku. Namun sekarang aku harus berbagi dengan seorang wanita yang sudah mengambil keperjakaanku semalam dan harus bangun lebih awal.
Sejujurnya aku masih malu ketika harus menampilkan tubuhku tanpa sehelai benangpun dihadapan kak Rahma. Bahkan masih teringat jelas dalam ingatanku, saat tubuhku dan kak Rahma saling menyatu. Itu semakin membuatku merinding.
Aku mulai menyadari, jika apa yang dilakukan oleh mas Kaysan dan Mbak Jani adalah sesuatu yang menyenangkan dan penuh tantangan. Pantas saja, mereka sering menghabiskan waktu berdua di dalam kamar, berjam-jam.
Sejak saat itu, pikiranku hanya terfokus pada Kak Rahma. Squisy miliknya, dan semua lekuk tubuhnya. Itu sudah seperti racun yang terkandung dalam otakku.
"Kakak..." Ragu-ragu aku memeluk tubuhnya dari belakang. Mencium rambutnya yang masih wangi sejak semalam.
"Kakak..." Kak Rahma berdehem, ia masih memejamkan matanya. Mungkin lelah karena seharian kemarin kami melewati hari yang sangat penting dan mendebarkan hati. Hingga membuat energi habis terkuras karena kegugupan dan ketegangan yang bercampur menjadi satu.
Biasanya setiap pagi aku memang horny. Namun, gejolak itu akan menurun dengan sendirinya.
Berbeda dengan sekarang, aku bisa saja meminta jatah sebelum kami siap untuk melewati kegiatan di siang hari yang sudah menampakkan cahayanya yang benderang.
"Kakak... ayo bangun. Kita harus keluar kamar." Aku mengguncang bahunya pelan.
"Sayang, kakak capek banget. Kata bunda kita dibebaskan dari kegiatan hari ini. Jadi kakak mau istirahat." ujar kak Rahma, sembari merubah posisi tidurnya.
Kini kak Rahma berada di hadapanku. Rambutnya acak-acakan yang malah menambah kesan natural.
"Kakak capek banget? Perlu aku panggilkan Mbok Darmi?" tanyaku memastikan.
"Maunya kamu yang pijitin kakak. Bisa?"
"Kakak!"
"Kakiku capek banget sayang. Badanku rasanya remuk redam."
"Makanya kakak bangun dulu, mandi, makan, terus nanti di pijit Mbok Darmi." kataku bersikukuh.
"Ya sudah, kakak bangun. Tapi setelah ini, kita honeymoon. Mas Kaysan dan Mbak Jani memberi voucher menginap di hotel Ambarukmo."
"Kenapa harus honeymoon kak, dikamar saja bisa."
"Sayang!"
"Iya-iya..."
Aku mengalah akhirnya, ketika kak Rahma mengerucutkan bibirnya.
"Jangan ngambek." rayuku.
"Enggak, asal kita mandi berdua."
"Kakak, itu memalukan!"
"Aku sudah lihat semuanya, Nakula."
"Kakak jangan genit!"
"Mau pegang?"
"Gak!"
"Ayolah sayang."
Aku merinding saat kak Rahma meraba tubuhku.
"Tadi malam sudah, kak!"
"Itu baru percobaan sayang."
"Kakak bikin aku takut."
"Hahaha... kakak pengen cepet-cepet hamil. Jadi nanti waktu honeymoon kamu harus bekerja lebih giat."
"Kakak mesum!" Aku menyingkap selimut dan duduk di tepi ranjang. Mengusap wajahku, berusaha mengenyahkan rasa kantukku.
__ADS_1
"Sayang..."
"Hmm..."
"Gitu aja marah."
"Aku enggak marah, kak. Tapi tingkah kakak membuatku geli."
"Coba jelaskan, bagaimana rasanya semalam?"
"Ya, enak... Tapi aku masih malu, aku belum terbiasa bertelanjang bulat dihadapan kakak."
"Dasar, lagaknya sudah berani menikahi kakak. Giliran malam pertama sudah seperti kerupuk melempem."
"Sekarang aku tanya, bagaimana malam pertama kakak?"
Kak Rahma menatapku. Ia berpikir sejenak, lalu menghela nafas panjang.
"Biasa aja."
"Yakin?" tanyaku memastikan. Sebagai laki-laki yang baru mencoba hal itu untuk pertama kalinya, aku merasa sedikit gagal. Masih sedikit, nanti kalaupun sudah ahli, kak Rahma yang bakal kelimpungan menghadapi berahi ku.
"Kakak butuh lebih banyak gerakan cepat? Atau gaya baru?" tanyaku sembari mengangkat kasur dan mengambil buku kamasutra pemberian mas Kaysan.
Kak Rahma melihatku, ia memincingkan matanya. Ketika aku sibuk membuka lembaran kertas yang menunjukkan gaya-gaya erotis dan sensual.
"Kakak pilih saja mana gaya yang mau kakak coba? Setelah itu biar aku pikirkan caranya." Aku memberi buku itu ke tangan kak Rahma.
Kak Rahma terbelalak, "Sayang!" pekiknya, "Dapat buku kayak gini darimana!" tukasnya lagi.
"Dari mas Kaysan." jawabku jujur.
"Astaga, kakak mau yang ini. Terus yang ini, ini juga..."
"Buang saja buku itu! Nanti lama-lama kakak mesumnya melebihi mas Kaysan!" ucapku telak.
"Mana aku tahu, Kak! Itu gak penting buatku!!!"
"Nanti kakak tanya sendiri. Lagipula, kakak harus berguru kepada Mbak Jani untuk memuaskan suamiku."
"Kalian sama-sama mesum. Sudah aku mau mandi dulu. Menghadapi kakak sangat memusingkan."
"Sayang..."
"Iya-iya..."
Aku menghormati kak Rahma, selain usianya yang lebih tua. Namun juga karena perangainya. Menyebalkan sekali.
"Itu kakak masih sakit gak?" tanyaku.
"Itu apa sayang?" tanyanya pura-pura gak paham.
"Kalau masih sakit lebih baik kakak istirahat. Jangan banyak gerak!"
"Kalau kamu begitu, itu sama saja kamu meragukan elastisitas tulang kakak. Mentang-mentang kakak sudah kepala tiga terus kakak disuruh diam saja. Padahal kakak masih energik." Kak Rahma menekuk wajahnya.
"Astaga. Terserah kakak! Kalau begini aku serba salah!"
Aku mandi, dan setelahnya. Kak Rahma menghilang dari kamar.
Baru satu hari menjadi suami-istri dia sudah keluyuran. Jangan-jangan dia...
Aku bergegas keluar dengan cepat. Mencari keberadaan mereka. Mbak Jani, kak Rahma dan Mas Kaysan.
Dari kejauhan, terdengar suara gelak tawa yang membumbung tinggi memenuhi ruangan.
Ku lihat Mbak Jani tertawa berbahak-bahak, bahkan tubuhnya bersimpuh di atas lantai.
"Kakak!" panggilku.
__ADS_1
Mbak Jani menudingku, sembari masih tertawa terbahak-bahak.
"Nakula lucu sekali mas. Aduh... perutku sakit mas." ujarnya saat mas Kaysan membantunya berdiri.
"Sudah... jangan meledeknya, nanti dia semakin minder." kata mas Kaysan meredakan suasana.
"Kakak ngapain disini? Mandi!"
"Kakak hanya menanyakan sesuatu. Iya kakak mandi." Kak Rahma menggandeng tanganku.
Mas Kaysan dan Mbak Jani menatapku dengan tatapan penuh arti.
"Selamat ya, Dik." ujar mas Kaysan.
"Kakak!" Aku menarik tangan kak Rahma, menjauh dari kedua manusia yang siap mengodaku dengan ocehan-ocehan konyolnya.
"Kakak bilang-bilang ya?" tanyaku sambil mengajaknya ke dalam kamar.
"Enggak... kakak hanya tanya sejak kapan mas Kaysan memberimu buku kamasutra."
"Bohong!"
"Enggak kok, kakak gak bohong. Cuma tadi kakak harus menjawab pertanyaan Mbak Jani dengan jujur soal malam pertama kita."
Aku menepuk jidatku, "Yang benar saja kakak membicarakan hal itu sama Mbak Jani. Mulutnya pasti bocor kemana-mana."
"Kakak mau mandi, setelah itu kita harus bersiap untuk pergi ke hotel. Sayang, packing bajunya ya?"
"Hmm..."
"Jangan lupa bukunya dibawa, biar kamu pintar." celoteh kak Rahma membuatku kesal.
*
Sore harinya, kami berkumpul di pendopo belakang untuk berpamitan dengan Ayahanda dan Bunda.
Ayahanda tersenyum, seperti senyumnya mas Kaysan.
"Bagaimana rasanya setelah menikah putraku?" tanya Ayahanda.
"Apa Nakula harus menjelaskan juga Ayahanda?"
Ayahanda mengangguk paham, "Pergilah dan bersenang-senanglah. Bawa kabar baik untuk Ayahanda."
Bunda Sasmita tersenyum, ia mengelus bahuku. "Jangan lupa sama Bunda."
Aku mengangguk. Bunda kini mendekati kak Rahma.
"Titip Nakula ya sayang. Dan, harap maklum jika Nakula belum ahli dalam bidang percintaan."
"Bunda!" tukas ku.
Semua tertawa seakan tahu apa yang terjadi tadi malam di kamarku.
"Pasti putri jadi-jadian yang membocorkan rahasia ini!"
"Ndoro ayu Rinjani..." bela Ayahanda.
"Terserah Ayahanda."
Bunda dan kak Rahma saling berpelukan, "Bunda, izinkan Rahma untuk menaikan berat badan."
"Bunda tidak sabar memiliki cucu kembar dari kalian berdua. Pergilah, pimpin Nakula dengan baik. Dia hanya butuh terbiasa."
Kak Rahma mengangguk, ia mencium punggung tangan Ayahanda dan Bunda.
"Kami berdua pamit dulu Ayahanda, Bunda. Do'a kan, aku sanggup menghadapi malam-malam panjang dan mendebarkan jiwa."
...TAMAT....
__ADS_1