Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 118. [ Aku, kau dan kenangan ]


__ADS_3

Sesuai janjiku dengan Nanang. Aku menuruti kemauannya untuk melakukan hal yang dulu sering aku tolak.


Disini diatas hamparan pasir putih, aku dan Nanang duduk bersama. Tak ada Kaysan atau pengacau lainnya. Hanya ada kami berdua dan kenangan.


"Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidup ku." Nanang memulai percakapan setelah beberapa menit hanya ada desir ombak yang mengisi kecanggungan di antara kami.


"Aku bosan mendengar kalimat itu, katakan yang lainnya."


Nanang merebahkan tubuhnya diatas pasir, matanya terpejam menikmati sentuhan cahaya matahari yang menerpa wajahnya.


Kami diam cukup lama, membiarkan jarak di antara kami lengang sejenak.


"Apa bagimu mudah melupakan aku, Jani?" seru Nanang sesaat setelah ia membersihkan kepalanya dari pasir pantai. Aku menoleh dan memincingkan mata, "Harusnya aku yang bertanya atas kebohongan yang kamu lakukan, kenapa?" kataku seraya mendekati Nanang.


"Aku hanya ingin memilikimu tanpa jarak." Ransel yang sedaritadi tergeletak di atas pasir, akhirnya Nanang saut dan buka.


"Ada puluhan alasan kenapa aku menyembunyikan statusku dulu, bahkan teman-teman kita satu tongkrongan tidak ada yang tahu kalau aku ini anak seorang selir, seseorang yang dianggap sebelah mata untuk zaman sekarang."


"Tapi Ayahanda begitu mencintai bunda Sasmita, dan siapa yang berani menganggap selir sebelah mata. Tidak ada bukan?"


Menyadari perubahan di wajah Nanang, aku tak ingin melanjutkan niatku mengintrogasi perihal kebohongan Nanang selama dua tahun.


"Kembali ke niat awal. Jangan seperti mas Kaysan yang mengajakku ke pantai hanya ingin bertengkar."


"Aku membawa Snack kesukaanmu, makanlah." Nanang mengulur beng-beng dan satu susu coklat uht.


"Terimakasih." jawabku singkat sambil membuka pembungkus makanan dengan empat kelezatan dalam sekali gigitan.


Nanang mengedarkan pandangannya, lantas ia mengambil vape dari kantong celananya, "Sana, jangan dekat-dekat." Aku mengusirnya.


"Jangan kemana-mana, kalau hilang aku yang dimarahi mas Kaysan."


Sebenarnya, logika melarangku untuk pergi berdua dengan Nanang. Tapi janji tinggallah janji, aku tidak mau dianggap menipunya. Jika memang ini bisa membuat hati Nanang yang gersang bersemi kembali, apa salahnya. Aku bisa melangkah dengan tenang bersama kehidupan ku sekarang.


Perasaan bersalah merayap dan hinggap di hatiku. Aku cemas jika Kaysan mengetahui aku pergi berdua dengan Nanang.


Tak lama Nanang datang, ia tersenyum menjengkelkan. Aku tahu maksud dari senyuman itu, ia menagih janjiku.


Aku beranjak berdiri bersama wajahku yang seperti kerupuk melempem.


Sebuah kamera DSLR Nanang keluarkan dari dalam tas ranselnya. Dulu Nanang suka sekali menyuruhku menjadi talent model brand clothing store yang ia miliki.


Ya, Nanang memiliki usaha konveksi pribadi. Dari situlah Nanang menafkahiku saat pacaran. Tapi aku slalu menolaknya, karena wajahku tidak pantas di pampang di media sosial ataupun flyer promosi.

__ADS_1


"Apa kamu tidak dibelikan mas Kaysan alat make up?" tanya Nanang setelah ia menyiapkan beberapa model baju keluaran terbaru.


"Mau make up yang gimana?" Aku kesal, tahu begini tidak perlu ke pantai, ke studio foto saja bisa. Sudah menempuh perjalanan jauh, masih harus make up sendiri. Aku malas sejujurnya memakai make up di bawah terik matahari yang terang benderang


"Temanya natural, kalau bisa kelopak matamu di beri warna biru biar seperti air laut."


"Yakin warna biru? Tidak hijau saja?" tanyaku heran, mau bagaimana bentuk wajahku nanti dengan eyeshadow warna biru. Apa Nanang ingin membuatku seperti Avatar.


"Kamu harus menurutiku, bukankah hari ini kamu menjadi milikku."


"Aku tetap punya mas Kaysan, aku hanya memberimu waktu bersama ku untuk menebus kesalahanku dan mas Kaysan. Itu saya tidak lebih!" ucapku mengebu-gebu.


Nanang semakin tersenyum, semakin membuatku mengingat saat pertama kali ia mengatakan cinta.


*


Dua jam berakhir, aku sudah lelah, sudah banyak pose yang aku lakukan. Entah sudah berapa kali aku keluar masuk kamar mandi untuk mengganti baju. Tubuhku luruh ke atas pasir, "Nang, capek banget."


"Bakso mau?" Aku mengangguk cepat. "Tempat biasanya." kataku ikut membantu membereskan barang bawaannya.


Perjalanan menuju rumah adalah perjalanan menyenangkan, ditambah pemandangan sore hari dengan matahari senja, membuat hati siapa saja di rundung bahagia. Tapi, di dalam mobil aku memilih untuk terpejam. Sinar matahari tadi sangat membuat mataku lelah.


*


"Bangun, Mbak." Aku menoleh ke arah Nanang, ia sudah membuka pintu mobilku dan duduk menggunakan kursi plastik, ditangannya sudah ada semangkok bakso jumbo.


"Mana baksoku?" tanyaku sambil menegakan punggung.


"Sama?" Aku mengangguk, sama artinya semangkok bakso jumbo dengan sambal dan kecap, begitu juga minumannya, teh manis hangat.


Nanang pergi mendekati penjual bakso dan memesankan menu makan ku. Selang sepuluh menit, nampan berisi bakso jumbo dan teh manis hangat menghampiriku, tentunya tidak berjalan sendiri. Ada Nanang yang membawanya.


"Terimakasih adik."


Nanang hanya tersenyum, ia kembali melanjutkan makan malamnya. Begitu juga aku yang mulai melahap bakso jumbo beserta kuah-kuahnya.


Kenyang membuat kami berdua tertawa. Ini menyenangkan dari yang aku duga. Nanang masih sama dan tak berubah.


Mobil kembali melesat menuju rumah, tempat dimana aku dan Nanang menjadi satu keluarga. Ada rasa getir yang masih tertanam di hati ku. Melihat Nanang dengan legowo menerimaku, aku rasa Nanang sudah bisa melangkah maju menuju cinta yang lainnya.


"Kenapa?" tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku sedikit terperanjat. "Melamunkan apa?"


Mobil berhenti di persimpangan jalan. Jangan sekarang, aku memaki diriku sendiri saat sudut mataku berair.

__ADS_1


"Jangan menangis, nanti mas Kaysan pikir aku menyakitimu." Tangan Nanang bergetar terulur ke arah wajahku.


Aku mulai tersedu-sedu, "Maafkan aku, Nang. Maafkan aku." Aku menahan tangan Nanang, membiarkan ia mengelus pipiku yang basah dengan air mata, "Banyak cinta yang menantimu, bukalah... hatimu..."


Nanang berusaha tersenyum, "Terimakasih untuk hari ini, Rinjani. Setelah dari sini aku akan kembali ke rumah Bunda. Datanglah, jika kamu merindukan aku." Mataku melotot, "Bercanda... Tentu sekarang hanya ada mas Kaysan di hatimu, bagiku, aku hanyalah kisah lalu yang sering menyusahkan hari-harimu."


Aku menepis tangan Nanang, "Ayo pulang, kita berdua bisa dihukum mas Kaysan jika pulang larut malam."


Nanang mengacak-acak rambutku, "Kalau sudah jadi Ratu, jangan lupakan aku."


Aku tak peduli dengan ucapan Nanang, kalaupun hari ini menjadi perpisahan antara dua hati yang mulai legowo menerima kenyataan, esok hari akan menjadi lebih baik dan indah.


Kondisi berubah menjadi lengang, tak ada suara dari mulut kita berdua. Semua terdiam dengan pikiran yang melayang sendiri.


*


Mobil tiba di pelataran parkir rumah. Kaysan, suamiku sudah melipat kedua tangannya sambil bersandar di tembok. Wajahnya mengeras, seakan-akan ia sedang ingin memarahi pegawainya saat ketahuan bolos kerja.


Aku menatap Nanang mencari alasan yang tepat untuk berkelit nanti, Nanang dengan tak acuhnya hanya mengangkat bahunya.


"Nang, mau bilang apa sama mas Kaysan?" tanyaku khawatir.


"Berusaha jujur, itulah yang terbaik." jawabnya sambil turun dari mobil.


Aku menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya ikut turun dari mobil.


Kaysan bergeming, ia hanya menggeleng tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Mas..." Aku menggapai tangan Kaysan, mencium punggung tangannya. Begitu juga Nanang. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun, selesai menyapa Kaysan, Nanang pergi begitu saja meninggalkan ku yang di rundung cemas.


"Mas, maaf. Tapi bisakah Rinjani mandi dulu, setelahnya Rinjani jelaskan habis darimana aku dan Nanang." pintaku sambil tersenyum kaku.


"Baiklah." Kaysan berbalik arah, "Jangan marah mas, Rinjani tidak macam-macam." jelasku sembari mengekorinya.


"Mandilah, kamu bau matahari."


Aku mengendus rambut dan ketiakku,


"Jani bau ya mas?" tanyaku memastikan.


"Sudah bau masih ditanya. Mandi dan keramas, aku tunggu di pendopo belakang." Aku mengangguk mantap. Tak ada masalah besar hari ini, itu tandanya aku bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak.


Happy Reading n Happy weekend ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2