
Instagram : skavivi selfish.
POV author.
Perjalanan pulang di gunakan Kaysan dan keluarganya untuk istirahat, tanpa membahas kejadian di hotel kala itu. Semua diam, bungkam, dan malas untuk membicarakannya. Mengingat sejak semalam Kaysan hanya memilih untuk menepi.
Rumah terjual bersama kepergian Kaysan pagi tadi, pihak agen properti mendatangi rumah tersebut untuk menyerahkan uang penjualan dengan nominal lumayan untuk mengoperasikan kembali pabrik gula.
Seperti menghampiri keraguan. Beragam pertanyaan berkubang di kepala ke empat manusia yang hendak pulang ke tanah Jawa.
Kaysan sengaja tak memberi kabar keluarganya jika akan kembali lebih awal.
Kepulangannya menjadi permulaan dari sebuah kisah awal yang lebih baru dari sebelumnya. Itulah yang Kaysan inginkan dan harapkan. Ia berdoa semoga godaan-godaan menjauh darinya saat berada di dekat Rinjani. Wanita yang menjadi titik nadir hidupnya. Titik kelemahannya.
Tidak mudah meyakinkan Laura untuk tinggal bersama di rumah utama. Kaysan harus menjawab semua kegelisahan Laura dengan gagasan-gagasan yang masuk akal.
Perjalanan yang di tempuh lebih cepat dari biasanya, membuat Kaysan mendesah lega. Pesawat jet sudah mendarat di landasan pacu bandara udara.
Herman berbisik di telinga Kaysan. Hingga kerutan di dahi Kaysan terlihat bergelombang.
Mereka berempat melepas sabuk pengaman dan Kaysan lantas berlutut di hadapan Laura.
"Jadilah dirimu sendiri, Mama. Jangan takut." ujarnya menyemangati Laura.
Pelukan mata Laura berair, "Sialan kamu, Kay. Aku benar-benar ada di rumahmu dan kamu akan lebih berkuasa disini. Mama tidak bisa berkutik."
Kaysan terkekeh kecil, "Bukan aku yang berkuasa disini---belum. Tenanglah, kalian tetap boleh sarapan dengan roti atau semacamnya seperti saat kalian di Melbourne. Dan, kamu, Pak?"
Kaysan menatap Herman dengan tatapan mengancam, "Jangan pernah mendekati pasar karang gayam dan berulah lagi. Ini peringatan pertamaku untukmu, pak."
Lucunya Herman justru mengelus puncak kepala Kaysan. "Kami memegang rahasiamu, jadi jangan semena-mena dengan keluarga ku."
Emosi-emosi yang saling bertentangan bertarung dalam batin Kaysan.
"Itu saja terus yang kalian gaung-gaungkan! Tanpa kalian minta, aku tidak akan semena-mena kecuali jika kalian tidak mematuhiku. Termasuk kamu, Keen!"
Keenan mengangguk saja, ia punya pikiran-pikiran sendiri dan rencana lain yang sudah ia atur sedemikian rupa untuk dirinya sendiri.
Sesuai fasilitas yang disediakan oleh pesawat jet pribadi, Kaysan dan keluarganya mendapatkan pelayanan istimewa, mereka langsung menaiki bus yang akan langsung mengantar mereka ke rumah Kaysan.
Kaysan duduk tertegun mengamati jalanan beraspal yang akan akan membawanya sampai ke rumah.
__ADS_1
Kaysan tak ingin terlihat dalam melodrama yang akan membuat Rinjani curiga dan berharap Rinjani tak pernah mengetahuinya. Sekuat mungkin ia menepis rasa bersalahnya dengan rasa bahagia tatkala ia sudah mendapati bus sudah berada di depan gerbang kediamannya.
"Ini rumahmu, Kay?" Laura berdecak kagum.
"Rumah Ayahanda." jawab Kaysan.
"Ini luar biasa, Kay. Kenapa kamu meninggalkan kemewahan dan memilih untuk pergi dan menjadi guru?"
"Ma, jangan membahasnya lagi." tukas Keenan, ia sendiri sedaritadi gugup.
"Di dalam ada si kembar, jadi tenanglah."
Laura menggengam tangan Keenan. Kemudian, mereka saling menguatkan dengan berpelukan. Herman melihatnya, cukup terharu, batinnya teriris. Ia membawa istri dan anak sambungnya ke dalam dunia yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Tanpa persiapan dan perencanaan sebelumnya. Herman berpikir pasti beginilah yang dirasakan anak perempuannya, gugup, gelisah, seperti habis menenggak ramuan ajaib yang harus sanggup melewati pintu ke dunia lain. Herman pun merasa dia ikut berubah, disesuaikan, dan harus siap menghadapi situasi-situasi yang menanti di depan.
Parto membuka pintu gerbang setelah Kaysan keluar dari bus untuk memberitahu kedatangannya. Parto terkejut bukan main, ia membelalakkan matanya sebelum akhirnya tersadar dari lamunannya. "Perang segera dimulai..." batinnya, harap-harap cemas. Mengingat Santosa masih intens berada di belakang Rinjani, mengasuh Dalilah dengan sikap kebapakannya.
Bus terparkir di halaman rumah. Penantiannya telah usai. Ia kembali dengan selamat. Parto dan sopir bus mengeluarkan banyak koper dan perabotan dapur milik Laura. Ia sayang jika harus meninggalkan koleksi piring antik yang ia kumpulkan dari berbagai negara.
Kaysan mengajak keluarganya untuk memasuki rumah utama kedua. Ia mengisyaratkan agar tidak membuat kehebohan. Ia ingin mengejutkan Rinjani di kamarnya.
Pada waktu bersama, Kaysan merasa seolah badai ****** beliung menerjangnya. Kaysan memundurkan langkahnya saat ia menangkap kedua wanita yang ia rindukan berada di dekat Santosa dengan nyaman.
Rinjani sedang bermain ayunan di taman belakang, dengan Santosa yang menggendong Dalilah. Rinjani sesekali tertawa mendengar ocehan Santosa yang terdengar kaku tapi lucu.
"Saya juga kapok, perut saya mulas sampai Kanjeng Sultan menegur saya untuk tidak ikut-ikutan kekonyolan anak BRay Sasmita."
Rinjani terkekeh, sepulang dari warung bakso kemarin. Mereka berbondong-bondong ke apotek untuk membeli satu pack obat diare. Nanang sang pencetus ide gila, tertawa diatas penderitaannya sendiri.
...sumpah, kita harus sering melakukan hal-hal gila untuk memeriahkan suasana. Hidup terlalu normal itu membosankan.
Serbuan bantal sofa menghujaninya malam itu. Ketika mereka melanjutkan lagi malam Minggu dengan menonton film di ruang keluarga.
"Apa yang kalian lakukan di belakangku?"
Mata Rinjani membulat saat suara yang ia rindukan menggelegar di telinganya. Buru-buru Rinjani turun dari ayunan dan mencari dimana suara itu berasal.
"Apa aku berhalusinasi dan mendengar suara mas Kaysan?" tanya Rinjani.
Santosa tersenyum, "Berbaliklah suami ndoro ayu sudah kembali."
"Kamu yakin? Mas Kaysan pulang?"
__ADS_1
Secepat cahaya Rinjani berbalik, ia terpana melihat suaminya berdiri diantara keluarganya.
"Bapak, Mama, Keenan. Mas..." Rinjani berlari kecil, menghampiri mereka berempat.
Laura dan Herman merentangkan kedua tangannya. Rinjani merengkuh mereka dengan pelukan besar, hingga ia dihadapkan pada Keenan yang menahan bahunya. "Hallo Mbak." sapa Keenan dengan senyuman manis, "Mbak punya adik bule..." seru Rinjani dengan riang gembira. Mereka berpelukan erat dan mengayun-ayunkan tubuh mereka layaknya seorang adik dan kakak.
"Nanti kita jalan-jalan ke mall." bisik Rinjani. Keenan mengangguk.
Kaysan mendekati Santosa, "Apa yang kamu lakukan dengan putriku?"
Santosa tersenyum, "Saya hanya menjalankan tugas sebagai baby sitter tuan putri Dalilah." jawab Santosa dengan santai dan sopan.
"Dimana Mbok Narsih?"
Rinjani yang puas bercakap-cakap dengan keluarganya kini berjalan mendekati Kaysan dan memeluknya dengan hangat.
"Ini benar-benar baba. Punggungnya terasa seperti biasanya." ucap Rinjani dengan menyandarkan kepalanya di punggung Kaysan.
Bukan balasan pelukan yang Rinjani dapatkan, Kaysan justru mengurai tangan Rinjani dan memalingkan wajahnya dengan muram.
"Sudah aku katakan padamu untuk menjaga jarak dengan Santosa. Apa beginikah yang kalian lakukan selama aku tidak ada di sisimu?" ujar Kaysan begitu dingin, ia mencengkram bahu Rinjani dengan erat.
Rinjani menatap Kaysan dan menggeleng cepat, "Mbok Narsih sedang di istana, sedang ada acara penting, jadi Santosa yang membantuku mengasuh Dalilah." jawab Rinjani ketakutan.
Santosa tercengang mendengar keegoisan perbuatan Kaysan, "Jangan kasar-kasar dengan ndoro ayu, gusti pangeran." tukas Santosa.
"Tutup mulutmu! Kemarin putriku." Kaysan lupa, jika ia harus membersihkan diri setelah perjalanan jauh sebelum ia menggendong bayi.
Dalilah tersentak kaget, seketika ia menangis di gendongan Kaysan.
"Urus keluargamu." ucap Kaysan.
Rinjani terbengong melihat tingkah Kaysan yang membawa Dalilah pergi menjauhi dirinya.
Santosa mendekati Rinjani, "Ndoro ayu tidak apa-apa?" tanya Santosa. Rinjani menggeleng, ia tak acuh terhadap Santosa. Rinjani memilih mengejar Kaysan yang tentunya menuju kamar mereka. Dalilah menangis kejer, membuat Rinjani tidak tenang.
"Mas, kenapa?" tanya Rinjani, "Kalau mas capek istirahat dulu. Biar Jani gendong Dalilah dan menyusuinya." lanjut Rinjani sembari mengambil Dalilah dari gendongan Kaysan. Kaysan diam, membuat Rinjani tak mengerti kenapa suaminya justru menunjukkan wajah menyebalkan. Mendengar Dalilah yang semakin menangis, membuat Rinjani geram, "MAS!!! Kamu membuat Dalilah ketakutan! Kemarikan Dalilah!"
Buru-buru Rinjani mengambil alih Dalilah dan menggendongnya dengan jarik. Ia menyembulkan payudaranya dan menyusui Dalilah keluar kamar.
Kaysan mengacak-acak rambutnya, ia frustasi melihat Rinjani terlihat bahagia meski jauh dari dirinya. Otaknya serasa terpilin, pikirannya kacau, jungkir balik Kaysan memikirkan bagaimana hubungannya. Cintanya kepada Rinjani luhur, tapi cinta itu sekaligus kutukan yang lebih pahit, pahit dari kenyataan yang terpampang jelas di matanya. Santosa dan Rinjani seperti membalas kelakuannya saat bersama Anne.
__ADS_1
Kaysan mengerti, ia harus mencari cara untuk mengontrol emosinya di depan Dalilah. Putrinya yang sudah melihat sifat alaminya, pemarah.
Happy reading ๐