Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Kaysan vs Santosa ]


__ADS_3

Instagram : skavivi selfish.


POV author.


Usai sudah pertengkaran Kaysan dan Rinjani. Kini mereka berdua kembali menjadi pasangan yang membuat siapa saja merasa iri dengan kemesraan yang mereka tunjukkan.


Setiap hari, Rinjani akan membawakan Kaysan bekal makan siang untuk dibawanya ke tempat kerja. Kaysan pun dengan suka hati menghabiskan masakan Rinjani, meski sebenarnya rasanya biasa-biasa saja. Namun, Rinjani slalu berkata ia membuatnya dengan senang dan tentu rasanya akan enak. Kaysan hanya akan tersenyum lebar ketika rasa yang muncul tanpa ia duga. Seperti halnya saat ini, dahi Kaysan mengernyit heran ketika satu suapan pertama mendarat di mulutnya.


"Ada apa gusti pangeran?" tanya Santosa.


Satu tahun berlalu, Santosa dipilih Kaysan untuk menjadi ajudannya. Sedangkan Rinjani memilih untuk mencari ajudan lain yang seorang wanita.


Terjadi perdebatan alot dengan Ayahanda, sebelum Ayahanda memutuskan Santosa menjadi ajudan Kaysan. Kaysan menerima dengan hati yang kusut, berniat mengusir Santosa dari kehidupannya. Justru sekarang Santosa harus terus berada di belakangnya, mengekorinya dan melaporkan setiap kegiatannya kepada Rinjani.


Santosa patuh, karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Terlebih memang Rinjani juga menginginkan dirinya memiliki kekasih lain dan melupakan dirinya... Seolah-olah pernyataan Bu Rosmini waktu itu telah mengubah semuanya yang Rinjani lakukan untuk Santosa. Rinjani menjadi ndoro ayu yang galak dan tidak cengengesan lagi di hadapan Santosa. Pun, sekarang Santosa memilih tinggal di rumah belakang, bersama abdi dalem lainnya.


"Rasanya asin, habiskan ini makan siang yang dibawakan istriku." Buru-buru Kaysan mengambil air putih di meja kerjanya.


Pabrik gula yang kini sudah beroperasi kembali, membuat Kaysan sibuk dengan pekerjaannya, terlebih bulan-bulan ini adalah musim panen tebu. Kaysan sangat sibuk, dan bersemangat untuk itu.


"Maaf Gusti, tapi ndoro ayu membuatkan makan siang untuk Gusti pangeran. Bukan untuk saya." jawab Santosa sopan, dengan batin yang menggerutu.


Giliran gak enak gusti pangeran bagi-bagi, giliran yang enak-enak, di nikmati sendiri.


"Kamu tidak patuh? Tidak mau saya gaji?" ujar Kaysan sambil menggeser kotak makannya, "Ayo makanlah, jika tidak ndoro ayu akan marah padaku. Karena setelah ini saya harus mengirim bukti foto saat isi bekal makan siang itu sudah kosong."


Itu urusan gusti pangeran, bukan urusan saya.


Santosa dengan kesal mengambil alih kotak makan siang Kaysan yang berwarna merah muda, kotak makan milik Dalilah yang bergambar unicorn.


"Apa saya juga harus memakannya dengan sendok bekas gusti pangeran?" tanya Santosa.


"Kalau kamu mau, boleh, itu bekas calon raja. Harusnya kamu bersyukur, jarang-jarang ada ajudan yang bisa merasakan masakan buatan istri saya." ujar Kaysan tanpa merasa bersalah, dan begitu bangga memuji istrinya, Rinjani.


Kenapa harus aku yang slalu menjadi korban atas kekejaman cinta mereka. Biarkan aku pergi Kanjeng Gusti, saya menyerah, saya harus mencari wanita yang mau saya jadikan istri, dengan begitu saya punya alasan untuk keluar dari titah gusti pangeran yang tidak punya hati nurani.


Santosa melahap makanan di depannya dengan cepat-cepat, tidak mau peduli dan tidak mau tahu bagaimana rasanya yang jelas-jelas sangat asin.


Habis ini saya harus fitness, jika tidak darahku akan berubah menjadi darah tinggi dan sering marah-marah seperti manusia di depan saya yang hobinya membuat keputusan sepihak.


Santosa menggeser kembali kotak makan tersebut, Kaysan mengangguk.


"Terimakasih, bagaimana?"


"Lebih enak nasi kucing di depan pabrik, sungguh saya jujur saja." Santosa beranjak, ia sedikit berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


Kaysan terkekeh kecil saat mendengar Santosa muntah-muntah.


Ada apa dengan Rinjani, tumben sekali masakannya tidak layak dimakan. Apa dia hamil lagi?


Kaysan beranjak berdiri. Ia memanggil Santosa untuk segera mengikutinya.


"Ada apa gusti? Besok saya mau minta libur, saya mau ke tempat gym." Santosa keluar dari kamar mandi dengan mata yang berair, perut yang melilit.


"Beres, besok kita nge gym berdua. Sekarang kita pulang ke rumah. Ada yang mencurigakan dari Rinjani."


"Ada apa dengan ndoro ayu, Gusti? Apa ndoro ayu sakit?" ucapan Santosa membuat Kaysan memegang kedua bahunya.


"Sepertinya kita akan berduel lagi diatas ring tinju jika kamu masih mengkhawatirkan istriku." Kaysan menusuk-nusuk dada Santosa dengan jari telunjuknya, "Rinjani milikku, dan lupakan dia."


"Baik gusti, tapi saya tidak bisa melupakan ndoro ayu. Karena saya tidak hilang ingatan."


"Baiklah, kamu sudah membuat keputusan besar. Kamu ingin saya membuatmu lupa ingatan." Santosa menelan ludah yang terasa bergetah.


Ya, siapa sangka ternyata diam-diam Kaysan mengamati gerak-gerik Santosa saat bersama Rinjani. Hingga Kaysan harus menyewa ring tinju dan membuat duel maut dengan Santosa. Santosa kalah, karena ia pikir menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan akan membuat integritasnya buruk dan berdampak pada kerajaan ayahnya. Dengan demikian, Ayahanda memang mengubur niatnya menjadikan Santosa ajudan Rinjani. Apalagi kebahagiaan Dalilah bersama Kaysan membuat Dalilah tumbuh menjadi bayi yang ceria.


Tiba di pelataran parkir, Kaysan buru-buru menghampiri Rinjani di taman belakang, tempatnya mengasuh Dalilah bersama Nindy. Ajudan Rinjani sekarang.


"Mas sudah pulang?" tanya Nindy.


"Mana Rinjani, kenapa Dalilah hanya berdua denganmu?" tanya bertanya kembali.


"Ba... ba..." panggil Dalilah.


"Putriku." Kaysan tersenyum, ia mengangkat Dalilah.


"Dimana bubu?" tanya Kaysan pada putri kecilnya.


"Bu... bu..." Dalilah menunjuk ke dalam rumah.


"Ayo kita temui bubu."


Kaysan berbalik sebentar, "Kalian berdua istirahatlah. Terimakasih untuk hari ini."


Santosa dan Nindy saling menoleh dan melempar pandang.


"Pusing sendiri aku mengurus Mbak Jani."


keluh Nindy dengan jujurnya, "Bagaimana denganmu, mas?"


Santosa mengangkat bahunya, "Saya tadi muntah sebelum kesini. Masakan ndoro ayu terlalu asin. Saya mual."

__ADS_1


Nindy tergelak.


Nasib keduanya sama-sama di ujung tanduk. Yang satu sial karena harus memperbaiki keadaan dan yang satunya lagi karena memang sudah memasrahkan diri untuk mengabdi kepada keluarga. Nindy, harus membuktikan bahwa dirinya masih layak berada di tanah keluarga kerajaan, setelah mati-matian ia mengubur skandalnya.


"Sudahlah, lebih baik kita istirahat. Besok masih banyak yang harus kita lakukan. Biarkan ketiga manusia itu bertindak semaunya." ujar Nindy. Ia menepuk-nepuk tangannya setelah tadi Dalilah mengajaknya untuk memetik bunga.


"Baiklah, saya akan kembali ke rumah belakang."


"Lebih baik kita jalan-jalan ke luar rumah, jika tidak kita tetap harus bersedia sewaktu-waktu mereka butuhkan." ujar Nindy.


"Maksudnya, kita kabur dari rumah dan jalan-jalan berdua?" tanya Santosa memastikan.


"Kenapa? Kamu tidak pernah jalan-jalan dengan seorang wanita?"


Santosa menggeleng, membuat Nindy terkikik sendiri.


"Duh Gusti, sayang sekali kamu tidak menggunakan ketampanan mu untuk mencari seorang wanita. Gantilah bajumu dengan baju santai, satu jam lagi aku tunggu di parkiran. Kita akan bersenang-senang" ujar Nindy dengan mata yang berbinar.


Santosa mengangguk, ia memang harus patuh dengan anak Ayahanda yang lainnya.


Didalam kamar, Kaysan mendapati Rinjani sedang bersembunyi di bawah selimut.


"Bubu, kenapa? Sakit?" tanya Kaysan sembari memeriksa suhu tubuh Rinjani.


"Jani masuk angin, Mas." ujar Rinjani.


Kaysan menurunkan Dalilah dan tetap dalam pengawasan.


"Jangan-jangan bubu hamil, lebih baik kita periksa kandungan." Ajak Kaysan, Rinjani langsung menutupi wajahnya dengan selimut.


"Kenapa?" tanya Kaysan.


"Jani malu, Dalilah baru berusia satu tahun. Tapi udah mau punya adik lagi."


Tangan Rinjani keluar dari selimut, ia menunjukkan amplop di dalam laci meja.


Kaysan buru-buru mengambilnya. Ia membuka amplop putih dengan label rumah sakit milik Tirtohadiningrat.


Kaysan membukanya dan membacanya dengan teliti, lantas ia menarik selimut yang menutupi tubuh Rinjani.


"Jadi kamu beneran hamil? Dalilah akan memiliki adik?" ucap Kaysan penuh semangat. Rinjani mengangguk malu, "Setelah anak ini lahir, Jani mau pakai KB."


Kaysan menarik tubuh Rinjani dan Dalilah secara bergantian. Mereka berpelukan erat.


"Terimakasih. Rumah ini akan ramai dengan suara-suara bayi yang dilahirkan dari wanita-wanita hebat, sepertimu dan Laura." Kaysan bersyukur dalam pelukannya.

__ADS_1


Happy reading ๐Ÿ’š


__ADS_2