
Rasanya seolah iblis sedang berbisik di telingaku, membisikkan sesuatu yang membuat masalah percintaan ini semakin terlihat runyam. Satu dua hati ingin aku miliki, satu dua hati aku lepas. Hingga aku sulit untuk berkata-kata. Aku butuh pencerahan.
Aku menjaga agar kedua tanganku terbenam dalam-dalam di saku, melekat rapat di sisi tubuh sampai perasaan itu berlalu, sampai aku yakin takkan melakukan sesuatu yang akan kusesali di kemudian hari.
Isabelle dan Irene sama-sama memiliki daya juang tinggi. Aku mencoba menghindar, hingga aku butuh telinga yang sanggup mendengar keluh kesah ku, memberiku solusi yang tepat untuk permasalahan yang aku hadapi. Dan, kak Rahma adalah tujuanku sekarang.
Aku memohon-mohon kepadanya untuk mendengar curhatku.
Kak Rahma mendengus kesal, ia menyuruhku menjelaskan perkara batin yang menyiksaku.
Rentetan peristiwa aku jabarkan dengan detail, kejadian-kejadian antara diriku dan kedua mantan kekasihku, hingga keinginan-keinginan mereka berdua untuk menungguku.
Kak Rahma terkesiap, "Kamu yang membuat ribet semuanya. Untung aku jatuh cintanya dengan Nakula, bagaimana jika denganmu. Kakak ikutan ribet!" cetus kak Rahma.
"Kak! Aku butuh solusi, bukan ceramah!"
Kak Rahma menjelaskan hal itu sebagai hukuman atas pengkhianatan yang aku lakukan. Banyak rasa yang tamat oleh khianat dan meninggalkan rasa cinta yang berbalut kecewa.
Hingga terbesit dalam benakku untuk menghapus jejak ku yang dulu telah ku tapaki bersama keduanya.
"Terus aku harus gimana, Kak?" tanyaku.
Kak Rahma mengedikkan bahu, "Nanti aku tanyakan dulu pada Nakula, solusi apa yang tepat untukmu." kak Rahma tertawa kecil.
"Kak!"
"Ada seribu satu cara untuk membuat alasan yang terbilang rasional untuk mereka berdua. Satu, mantapkan hatimu dulu. Dua, kembali dengan orang yang sama setelah putus artinya rasa tidak lagi sama. Tiga, perselingkuhan yang dilakukan satu kali, bisa saja terulang kembali entah kamu sengaja atau memang sudah mendarah daging dalam urat nadimu dan itu akan memicu kecurigaan yang berujung pertengkaran lagi."
"Ribet banget sih, Kak. Tapi aku masih ada janji besok Minggu ketemu lagi dengan Isabelle dan Irene, kita mau ke panti asuhan. Menurut kakak ada ide bagus gak?"
"Gak usah terlalu banyak ide. Kelakuanmu saja sudah membuat seisi rumah ikutan pusing."
"Mana Nakula? Kenapa kakak sendiri?" tanyaku.
"Kalian kembar, tapi kenapa aneh kalau kamu memanggilku dengan sebutan kakak."
"Kalau sama, Nakula bisa membunuhku. Dasar!!!"
Psikiater somplak, gini nih kalau pasiennya cuma dianggap sebelah mata, yang ada bukan sembuh malah tambah akut. gumamku sambil menjauhi kak Rahma.
Setelah jomblo, aku lebih sering pulang ke rumah setelah selesai kuliah. Kesibukan merevisi skripsi banyak menyita waktuku, pikiranku.
__ADS_1
"Om Wawa..."
Aishhhhh... Baru saja mau menenangkan diri. Bocah ini sudah berjalan lenggak-lenggok di depanku.
"Apa? Om sibuk!" ucapku telak.
"Om Wawa..."
"Apa?" Aku menggendong Dalilah, karena dari kejauhan ibunya sudah berkacak pinggang. Calon ratu dengan segala kecerewetannya sedang dibuat kewalahan menghadapi Suryawijaya yang slalu ingin berada di dekat ibunya. Pada akhirnya Mbak Jani harus menghadapi dua laki-laki bucin dalam hidupnya, mas Kaysan yang slalu minta jatah malam, Suryawijaya yang tidak mau jauh darinya. Ala hasil, Mbak Jani sekarang benar-benar hidup dalam penjara cinta yang membuatnya sering merengek minta keluar dari rumah, sekedar me time ke mall bersama kak Rahma, Irene, dan Keenan.
Secara emosional, Mbak Jani memang lebih dekat dengan Irene, karena awal pertemuannya dengan Isabelle, Mbak Jani disambut dengan buruk oleh Isabelle. Irene pun banyak belajar tentang kisah tanah Jawa dengan Mbak Jani.
"Om Wawa... ayo beli belgel sama spageti."
"Gayanya makan fast food, kamu tu orang lokal bukan bule seperti tantemu Kylie."
"Ayo Om, Dalilah lapal."
Aku menghampiri Mbak Jani di kamarnya dan meminta izin untuk membawa Dalilah ke restoran cepat saji.
Setelah Mbak Jani mengganti pakaian Dalilah dan aku sudah mengganti bajuku. Aku menaruh Dalilah di car seat, kali ini aku membawa mobil milik Mbak Jani yang sengaja di sediakan Ayahanda untuk keperluan Mbak Jani ketika mas Kaysan tidak ada rumah.
Sebagai Om, aku cukup beruntung. Dalilah tidak rewel meskipun jauh dari orangtuanya. Itu karena mas Kaysan sering mengajak Dalilah berbaur dengan keluarga besar. Tak heran, dengan siapa saja Dalilah pasti nempel, sifatnya ceria, berbanding terbalik saat Mbak Jani mengandungnya. Banyak pengorbanan yang mereka lewati yang belum sanggup aku lalui sendiri, beruntung bukan aku yang menjadi calon Raja.
"Papa muda."
"Anaknya gemes banget, pasti ibunya juga gemesin sampai rela nikah muda."
Aku menatap Dalilah. Duh Gusti... aku ini jomblo belum genap seminggu sudah dianggap sebagai ayah dari keponakanku sendiri. Citra ku tercoreng, semakin sulit mencari pengganti Irene dan Isabelle.
Dalilah semakin mengeratkan pelukannya di leherku, "Om Wawa..."
"Bicara yang keras biar mereka menganggap aku ini Om-mu, bukan Bapakmu!" kataku lirih.
"Ba-pak!"
Dasar bocah! Kenapa malah memanggilku Bapak!
Aku tersenyum kecut, kemudian memesan burger dan spageti. Belum lagi Dalilah malah kepengen makan es krim karena melihat iklan di layar LED TV.
Setelah membayar, aku memilih untuk mendudukkan tubuhnya di bangku khusus anak kecil. Membiarkan Dalilah memakan makanannya sendiri.
__ADS_1
"Om Wawa, suapin."
Dalilah hanya menepuk-nepuk burger yang baru saja tersaji di mejanya.
"Makanya gak usah gaya-gayaan makan burger."
Aku meninggalkan Dalilah sendiri untuk meminta pisau dan garpu di meja pesanan. Namun, mataku tetap awas mengamati Dalilah dari kejauhan.
"Om potongin, terus nanti Dalilah makan sendiri. Oke." kataku sembari memotong burger menjadi bagian-bagian kecil yang muat di mulut Dalilah.
"Om Wawa suapin Dalilah."
Mbak Jani! Darahmu mengalir dalam darah Dalilah. Menyebalkan. batinku sambil menyuapi Dalilah. Anggap saja ini uji coba sebelum mempunyai anak sendiri.
"Sudah Om, Dalilah mau es krim."
Aku menatap burger yang baru habis seperempatnya, "Mubasir ini kalau gak di habiskan." kataku membujuknya.
Dalilah menggeleng, ia mengambil sendiri gelas yang berisi eskrim sundae rasa stroberi.
"Oke-oke, kamu habiskan es krimnya. Om habiskan burgernya. Ngomong-ngomong Om lapar juga."
Dalilah asyik menyantap es krimnya.
Aku sibuk mengunyah burger sembari mengedarkan pandanganku ke meja-meja pengunjung lain. Fast food slalu di kunjungi remaja belia hingga mahasiswa, atau jika tidak satu keluarga. Kali ini aku beruntung, banyak remaja putri yang berkumpul di sini.
Aku tersenyum sekilas saat ada yang menangkap sorot mataku. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke Dalilah.
Betapa terkejutnya aku saat wajah Dalilah dan baju-bajunya sudah belepotan dengan es krim. Tapi raut wajahnya terlihat tak berdosa dan justru tersenyum lebar.
"Habiskan es krimnya, lalu basuh muka ke kamar mandi." kataku.
"Spagetinya belum Dalilah makan om." Ia tunjuk-tunjuk spagetinya yang masih utuh.
"Om suapin!"
Sebelum menyuapi Dalilah aku menuju meja pemesanan dan meminta tissue basah, ternyata tidak ada. Akhirnya aku meminta tissue yang banyak dan membasahi dengan air.
Kembali ke meja, Dalilah asyik menyantap spagetinya sendiri, hingga wajahnya dan bajunya sudah tak karuan.
Aku mendesah panjang, bocah ini menyita perhatian pengunjung lainnya. Sedangkan aku awam dalam dunia pengasuhan anak. Lama-lama aku membiarkan Dalilah memakan semuanya. Berharap tidak ada yang mengenaliku, dan kelak bocah ini tidak menggemparkan rakyatnya dengan tingkah lakunya.
__ADS_1
Happy reading ππ