
POV Kaysan.
Aku berjalan di sepanjang sungai untuk menenangkan pikiranku. Aku menemukan bangku kosong yang memusatkan perhatianku pada kenangan indah bersama Rinjani. Saat kita menghabiskan waktu bersama dengan menghabiskan es krim berdua.
Aku terlalu gelisah untuk duduk tenang. Alih-alih aku pulang ke rumah untuk berkemas, aku lebih memilih untuk merenungkan kesalahanku.
Dalam hidupku yang panjang ini, sudah pasti ada kesempatan-kesempatan untuk berlari, bersembunyi, dan menutupi. Aku merasa tak berdaya menghadapi situasiku dan terus berjuang melawannya sungguh melelahkan.
Hidup kami disini dimulai dengan menyenangkan, namun jika akhirnya aku pulang dengan membawa luka untuk Rinjani itu rasanya tidak adil. Aku sudah menaruh banyak luka di benaknya, yang slalu ia tutupi dengan tingkah lakunya. Tapi, adakah yang tahan dengan kerumitan-kerumitan yang kelihatannya slalu mengikuti kehidupan rumah tanggaku dan Rinjani.
Alih-alih pikiranku membaik, aku semakin dibuat bingung dengan perasaan kacau yang berkecamuk di dadaku. Bimbang dengan langkah mana yang harus aku pilih. Berkata jujur yang berarti Rinjani semakin tersakiti, atau menyembunyikannya agar semua baik-baik saja. Aku berang. Apa aku harus menutupi kejadian semalam waktu aku sempoyongan dan berakhir pada pelukan Anne. Ia mengecup pipiku, sebelum akhirnya ia memapah tubuhku dengan kesusahan.
Aku tiba di rumah saat hari sudah gelap.
"Baru pulang, Kay?" tanya Bapak yang sedang membereskan perkakas kotor.
"Hmm..." Aku sedang malas berdebat atau menyanggupi pertanyaan Bapak.
"Keenan dimana? Kenapa dia belum pulang?"
"Aku hanya bertemu Keenan malam hari, pak. Setelahnya ia pergi untuk menemui teman-temannya."
"Kamu baik-baik saja, Kay? Wajahmu berantakan." ujar Bapak.
"Lebih baik Bapak istirahat atau jika tidak segera berkemas untuk pulang ke tanah Jawa. Kita akan kembali seminggu lagi."
Aku masuk ke dalam kamar. menghembuskan nafas panjang sebelum ada kekuatan untuk menghadapi sesuatu yang menjengkelkan bagiku. Urusanku dengan Anne tidak akan kelar, sebelum aku benar-benar menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa memiliki tempat dihatiku. Sekarang atau nanti!!!
Hari-hari berikutnya, aku menyelesaikan tugas terakhirku di sekolah dan mengurus penjualan rumah ke agen jual-beli properti. Aku akan menjual kenangan yang pernah aku lalui disini bersama rumah yang akan menjadi milik orang lain. Kelak, jika ada masanya aku kembali ke Australia---lagi, aku dan keluarga kecilku akan menempati rumah baru dan kenangan baru.
Aku sama sekali tidak mengambil komisi dari kemenangan lomba kemarin. Aku melimpahkan semua keuntungan kepada pihak sekolah. Setelah rapat bersama guru-guru selesai. Dan, perpisahan dengan Jonathan, Lucas, dan Edward, meninggalkan kesan negatif, aku menonjok dada mereka satu persatu. "Sialan kalian semua." Ketiga guru mata pelajaran olahraga itu tertawa.
"Cemen kamu, Bro." cela Lucas. Ia tertawa kecil.
Jonathan dan Edward menepuk kedua bahuku, "Jika ada waktu luang, kami akan mendatangimu dan meminta gadis-gadis manis yang sering kamu bicarakan."
"Hadapi istriku dulu sebelum aku menyajikan gadis-gadis manis untuk kalian."
__ADS_1
Tawa mereka meledak, "Terimakasih, sudah memberi pengetahuan baru tentang keluargamu dan budayamu. Hati-hatilah dan sampai bertemu lagi dengan istrimu yang galak." Aku tersenyum, ku peluk mereka satu persatu dan mengucapkan selamat tinggal.
Ini adalah hari terakhirku berada di sekolah. Aku kewalahan saat siswa-siswi memadati ruang teater untuk mengucapkan salam perpisahan. Banyak hadiah yang aku dapatkan dari keluarga anak didikku. Termasuk penerbangan ke tanah Jawa menggunakan pesawat jet pribadi. Aku bisa menggunakan keberuntungan ini untuk cepat-cepat tiba tanah Jawa.
"Thankyou very much for coming, Mr. Kay. We love you." Sorak siswa-siswi sembari melambaikan tangan. Ada tangis haru yang mengiringi kepergianku. Aku bangga, pernah menjadi bagian dari sekolah ini dan membawanya pada kemenangan telak atas budaya yang aku kenalkan pada mereka.
Aku langsung berkendara keluar dari area parkir sekolah. Meninggalkan siswa-siswi yang masih melambaikan tangannya. Tujuanku sekarang adalah rumah. Sejak pagi tadi, aku sudah menyuruh Bapak, Laura, dan Keenan untuk mengumpulkan semua barang yang hendak dibawa ke tanah Jawa.
Selama berkendara, pikiranku menerka-nerka dimana Anne berada. Dia menghindari ku, semenjak kejadian itu. Pikirku jika ia masih mendekatiku dengan kedok anak abal-abal, aku sudah menyiapkan siksaan yang tepat untuk menghancurkan masa depannya. Hingga ia memohon ampun dan menjauh dariku.
Setibanya di rumah, Bapak dan Laura mendekatiku.
"Kita mau berangkat jam berapa, Kay?" tanya Bapak.
"Secepatnya, jika kalian sudah siap. Laura dan Keen ada yang ingin aku bicarakan."
Laura dan Keenan mengangguk.
Berada di bawah pohon rindang, di taman belakang. Aku menatap Laura dan Keenan secara bergantian.
"Kalian akan tinggal bersamaku, dirumah utama bersama Ayahanda dan Ibunda." Laura dan Keenan saling melempar pandang.
Laura tersenyum, "Tidak apa-apa, Kay. Tenanglah, kami tidak mau merepotkanmu. Tapi jika itu keinginanmu dan baik untuk kami kedepannya. Apa boleh buat, lagipula Keenan butuh adaptasi." Laura menatap Keenan, "Adik-adikmu akan membantunya."
Aku mengangguk, lantas berdiri.
"Kay, mama bisa berbicara denganmu, berdua?"
"Ya, Laura."
"Keen, sepertinya kak Sheila sudah datang. Habiskan waktumu dengan Sheila, dia pasti akan kehilanganmu." ujar Sheila yang diangguki Keenan.
"Ada apa, Laura?" tanyaku setelah Keenan pergi.
"Biasakan memanggilku, mama!"
Aku tersenyum, "Maaf, ma... Aku belum terbiasa, aku lebih suka memanggil dengan sebutan Ibunda."
__ADS_1
"Terserah kamu. Yang penting jangan memanggilku 'Laura', tidak sopan." cecar Laura.
"Ya, Ibunda." Aku terkekeh kecil setelahnya.
"Tidak lucu, Kay!" seru Laura, ia menepis bahuku. Sungguh ibu tiri Rinjani ini memang sama seperti anak sambungnya.
"Ada apa, Ibunda. Katakan." pintaku tulus, meski sejujurnya aku menahan tawa.
"Kay, bagaimana jika kedatanganku justru membuat keadaan semakin pelik. Bagaimana jika orang-orang mengaitkan statusku dengan perbedaan suku dan ras?" Laura menatapku, meminta gagasan yang membuatnya tenang.
Aku tersenyum, "Kau sudah tua, Laura. Tidak sepatutnya kamu gelisah seperti seorang remaja yang mengalami pubertas."
"Serius, Kay!" Laura memukul pundakku. "Sekali lagi kamu memanggilku Laura, rahasia mu dan Anne aku beberkan pada Rinjani!" tukas Laura. Ia tersenyum penuh kemenangan.
"Satu hal yang biasa aku katakan untukmu dan Keenan. Adaptasi memang slalu butuh penyesuaian diri, dan itu pasti berat untukmu dan Keenan. Tapi percayalah, tidak ada yang berani mengusikku kecuali Ayahanda. Turuti saja peraturannya, itu bisa menyelamatkan diri dari hukumannya." Aku terkekeh kecil.
"Sungguh, wajahmu menyebalkan Laura. Kamu ketakutan seperti Rinjani saat pertama kali menapaki kehidupanku. Adaptasi tersulit bukanlah soal ketidakmampuan untuk menjalaninya, hanya saja ketakutan-ketakutan itu datang menghujani tanpa henti, hingga membuat keputusan tak ubahnya seperti berjudi. Banyak permainan yang bisa menguntungkan dan merugikan yang akibatnya akan berbalik pada diri sendiri."
"Masalahnya bukan itu, Kay. Aku orang luar yang tiba-tiba datang bersanding dengan mertuamu yang notabene besan seorang Raja. Itu menakutkan."
Aku semakin tergelak, "Sudahlah, mama. Besok Ibunda akan membantumu belajar mengenai budayaku dan segala embel-embelnya, dan mama juga bisa membantu Ibunda membuat kue dan lain-lainnya. Terserah kalian, asal jangan membuat kekacauan di istana dan rumah utama dengan membeberkan rahasiaku di depan Rinjani." ujarku menenangkan Laura, sekaligus mengancamnya. Aku bertekad untuk menyembunyikan rahasia skandal ciuman yang Anne lakukan. Agar hidupku dan Rinjani berjalan seperti sedia kala. Tanpa ada masalah-masalah baru yang menganggu keharmonisan rumah tanggaku.
"Kay, apa kamu mengizinkanku membuka bakery shop disana?"
"Lihat besok. Sekarang, ada baiknya kita bergabung dengan keluarga di dalam rumah. Sheila dan suaminya akan merindukanmu."
"Kay, Anne..."
"Ada apa lagi dengannya?" Mendadak, otakku mendidih jika membahas tentangnya.
"Dia takut menemuimu karena sudah lancang menciummu malam itu."
"Aku tak berdaya waktu itu, jika aku tahu. Anne sudah aku gulingkan dan membuatnya menyesal telah melakukan hal senonoh itu" sahutku, berusaha tak terdengar konyol dihadapan Laura.
"Maksudmu? Kamu akan menggulingkannya di ranjang?"
Aku kehilangan kesabaran. Bosan mendengar rentetan alasan Anne menghindariku. Lagipula aku tidak peduli. Urusanku di Melbourne akan berakhir malam ini. Besok pagi, aku sudah terbang menuju rumah, ruang ku untuk mencurahkan segala macam perasaan.
__ADS_1
Because, home is not a place, home is a feeling. [ Wisnu Hardana Quote ]
Happy reading ๐