Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Part spesial II


__ADS_3

Perayaan kelulusan wisudaku diadakan di rumah secara sederhana. Tidak ada topi toga yang di lempar bersama kawan-kawan, tidak ada kemeriahan pesta.


Hanya ada kalimat bersyukur atas pencapaian panjang yang aku lewati.


Tapi ada banyak kejutan, kebahagiaan, dan kebersamaan disini.


Nanang sudah kembali, begitu juga Ibunda meskipun harus duduk di kursi roda. Aku sudah sangat bahagia.


Pada akhirnya semua keluarga besar Ayahanda berkumpul lagi membawa cerita yang tidak ada habisnya untuk dibahas.


Nanang... Lama tidak melihatnya, dia sudah fasih berbicara bahasa Jerman. Senyumnya masih sama, merekah indah dengan giginya yang rapi.


Hanya saja dia sudah tidak menghiraukan aku sebagai mantan kekasihnya. Sekarang dia menghormatiku sebagai kakak iparnya, istri kakak tertuanya.


Semua telah berubah dan sanggup membuatku lega.


Kebahagiaan lain yang sanggup membuat kita saling tertawa adalah hari ini kami bersama-sama menghadiri pesta pernikahan sahabat kami tercinta, Nina binti Abdul Aziz.


Ijab Kabul sudah diadakan tadi pagi di masjid tempat Nina sering mengajar ngaji. Sekarang kami sedang menikmati acara resepsi.


Bukan hal yang mudah untuk Nanang dan Nina ketika mereka berjumpa kembali.


Ada kecanggungan yang terlihat kentara di netra keduanya. Nina menunduk sembari memberikan Nanang buket bunga pernikahannya.


"Aku dan Rinjani sudah bahagia, sekarang giliran kamu, Nang." kata Nina. Dalam tundukkan kepala, Nina tersenyum.


Aku menyenggol lengan mas Kaysan.


"Drama ya, Mas." kataku.


Mas Kaysan tersenyum, "Mau gabung dengan mereka?" tanyanya.


"Boleh?"


Mas Kaysan mengangguk sambil di angkatnya Suryawijaya dari pangkuanku.


Jangan ditanya Pandu dan Dalilah kemana. Kedua anak-anak itu sudah menjadi juri untuk semua hidangan yang disajikan secara prasmanan.


Sungguh aku tidak tahu harus marah atau malu atau bangga melihat anak-anakku seperti itu.


Tapi mas Kaysan membiarkannya sembari mengawasinya dari jauh. Sudah bisa aku simpulkan sendiri jika mas Kaysan memang tidak akan memarahi mereka. Hanya saja, kedua anakku itu masih bisa menjaga sopan santunnya di hadapan tamu lainnya dan membuatku tenang.


Aku menghampiri Nina dan Nanang. Mereka menoleh bersamaan dan tersenyum.


"Udah?" tanyaku.


"Kelar juga akhirnya." jawab Nina, ia bernafas lega.


"Selamat berbahagia kalian berdua." kata Nanang.


Aku dan Nina tersenyum getir, "Kami juga menunggu kabar bahagiamu, Nang."

__ADS_1


Nanang tertawa kecil, "Aku akan menjadi pangeran terakhir yang menikah. Kalian cukup berbahagia dengan keluarga kecil kalian karena itu sudah cukup membuatku senang. Nin... Jani... Terimakasih sudah menemani kisahku."


"Ini bukan saatnya untuk bersedih... Lebih baik kita makan!" ujarku menarik Nina dan Nanang menuju meja prasmanan.


Mau mati-matian diet pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap menjaga pola makan meski kadang-kadang kalap juga jika sudah menghadapi makanan enak.


"Rendangnya dua, sayur kreceknya yang banyak, jangan lupa kerupuk." ujarku menaruh semua hidangan tadi di atas piring.


Nina dan Nanang mengikutinya. Kami duduk di meja yang lengang, diikuti mas Kaysan dan Suryawijaya. Juga suaminya Nina.


"Selamat menikmati. Kalau tensinya tinggi nanti bisa saya periksa." kata Suami Nina bercanda.


Laki-laki itu bernama dokter Ridwan. Cukup berumur, tapi tidak setua mas Kaysan.


"Mas, mereka pasti sudah main dokter-dokteran." kataku pada mas Kaysan sebelum aku melanjutkan makan.


"Tanyakan sendiri dengan orangnya, Dik. Mas tidak tahu." balas mas Kaysan, tersenyum tipis seakan juga penasaran.


"Dokter Ridwan sudah main dokter-dokteran dengan Nina?" tanyaku seperti Dalilah kalau sedang penasaran.


"Sudah. Sudah saya periksa semua kondisi Nina dan suhu tubuhnya." jelas dokter Ridwan yang membuat Nanang tersedak rendang.


Aku dan mas Kaysan menahan tawa saat melihat wajah Nina yang bersemu merah.


"Sudah ayo makan dulu, setelah ini foto bersama. Jarang-jarang saya bertemu dengan seorang Ningrat yang akrab dengan istri saya. Saya beruntung sekali bisa menikahi Nina yang dikelilingi orang hebat." ujar dokter Ridwan yang membuat Nanang menghentikan makannya.


"Saya sudah kenyang, izinkan saya untuk merokok sebentar di luar." Nanang memundurkan kursinya. Ia membungkuk hormat seraya menatap Nina sebentar.


Nanang mengiyakan, "Baik, Mas."


Nina terlihat canggung di hadapan suaminya. Setelah kedapatan juga menatap Nanang sebentar.


"Bisa saya lanjutkan makannya? Maklum tiga anak butuh energi ekstra."


Dokter Ridwan mengangguk, "Silahkan dinikmati ndoro ayu Rinjani. Saya juga harus menghampiri tamu yang lain."


Aku mengangguk dan bernafas lega.


"Maaf ya, Nin." ujarku setelah suaminya pergi.


"Dia berbeda ya, Jan. Udah berubah."


Aku mengangguk sambil tersenyum kaku. Ditatapnya wajahku oleh mata mas Kaysan yang menajam.


"Tidak kasian sama Suryawijaya? Daritadi putramu sudah ingin duduk dengan bubu."


Aku menghela nafas, "Sebentar ya, Mas Surya. Bubu lapar."


Suryawijaya mengangguk... "Anak pintar." ujarku terus melanjutkan makan siang.


Setelah sibuk mencari Dalilah dan Pandu yang tidak tahu dimana batang hidungnya. Akhirnya aku dan mas Kaysan menemukan mereka berdua di dalam mobil dengan Nanang.

__ADS_1


"Katanya ngantuk dan kekenyangan. Jadi minta tidur sebentar." ujar Nanang menjelaskan.


"Yasudah kalau ketemu, kalau hilang repot lagi aku dan mas Kaysan harus melapor pada Ibunda kalau cucu kesayangannya hilang di kondangan."


Nanang tersenyum jenaka, "Memang ada baiknya aku tidak kembali ke Jerman. Disini sepertinya lebih menarik dari yang aku kira, Mbak."


"Maksudmu?" tanyaku menyelidiki.


"Anak-anakmu lucu-lucu apalagi Pandu. Dia mengingatkanku pada kelakuanmu dulu, Mbak. Pecicilan. Setelah ini aku akan mengabdi di kerajaan untuk membantu kalian."


Entah aku harus menjawab apa. Tidak , tidak mungkin Nanang hanya akan melajang dan merelakan kekasihnya.


"Lalu bagaimana dengan Elizabeth!?"


"Kita berbeda agama, berbeda culture, berbeda budaya. Melakukan pernikahan terlihat menakutkan ketimbang menerima kenyataan ini."


Aku memejamkan mata.


"Come on, Man. Kamu butuh seorang wanita untuk menemani hari-harimu, masa dewasa mu." sahut mas Kaysan.


"Itu mudah, Mas. Apalagi aku awet muda."


"Terserah kamu saja. Asal janji, kamu tidak cemburu melihat kemesraan kami dirumah, apalagi sebentar lagi Sadewa menikah. Hanya kamu yang melajang."


Nanang tertawa kecil, "Ich bin ok."¹


Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa Juni, 2021 akan menjadi titik balik yang mengejutkan.


Nanang kembali ke dalam lingkaran yang tidak akan terurai sampai kapanpun. Dia bahagia dengan dirinya dan keputusannya.


Dia bahagia melihatku, keluargaku, keluarga Nina, meski tersirat di benakku rasa khawatir tak bisa melihatnya mengarungi bahtera rumah tangganya sendiri dengan kapal yang masih ia biarkan berlayar tanpa arah.


Kami berjajar rapi mengikuti arahan dari fotografer profesional di panggung pengantin.


Aku berdiri di samping Dokter Ridwan, Mas Kaysan berdiri di samping Nina. Sedangkan Nanang memilih berada di tengah-tengah sang pengantin baru. Di depannya ada Suryawijaya yang terpaksa menjadi pendamping Omnya yang terlihat semringah bisa membatasi kedua pengantin untuk bergandengan tangan.


"Satu... Dua... Tiga..." kata sang fotografer.


Jepretan kamera berhasil memindai wajah-wajah kami berenam. Pose-pose bebas kami lakukan setelah pose serius yang membuat kami terlihat seperti patung manekin.


"Glückliche Ehe, mein heimlicher Verehrer."² kata Nanang kepada Nina.


"Vielen Dank, Prinz."³ balas dokter Ridwan.


Aku, Nina dan mas Kaysan hanya mengangkat bahu, tidak paham dengan pembicaraan kedua laki-laki yang tersenyum tipis.


...Happy reading 💚...


¹ aku baik-baik saja.


² selamat menikah, pengagum rahasiaku.

__ADS_1


³ terimakasih, pangeran.


__ADS_2