Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Ritme jentaka III ]


__ADS_3

Instagram : skavivi selfish.


POV author.


Kaysan mengira amarahnya akan menggelegak panas saat mendengar penolakan Rinjani. Nyatanya tidak. Kaysan akan menunggu Rinjani benar-benar siap membuka bajunya dan kembali bercinta seperti sedia kala. Kaysan tersenyum maklum, saat


Rinjani sering mengadu, jika ia malu bercinta karena badannya tak seperti dulu. Perutnya terlihat jelas gurat-gurat kehamilan yang sulit untuk dihilangkan, tapi Rinjani tidak berminat untuk menghilangkannya. Baginya gurat-gurat kehamilan slalu mengingatkannya tentang perjuangan menjadi seorang ibu.


Satu bulan berlalu, bahkan waktu terlihat berlari cepat menghindari hal-hal yang berbau kesedihan. Rinjani tak pernah curiga dengan gelagat Kaysan yang akhir-akhir ini sering termenung. Pikirnya, memang banyak hal yang dipikirkan oleh suaminya. Pun Rinjani enggan bertanya lebih lanjut mengenai hal itu. Pikiran Rinjani kini terbagi dengan banyak orang. Suaminya, anaknya, dan keluarga barunya. Laura mulai belajar menggunakan kain jarik, pun ia juga belajar bahasa Indonesia. Ibunda memberinya les privat di sela-sela jam santai. Atau jika tidak, Laura akan mengikuti Ibunda untuk bekerja. Begitu juga Herman, ejakulasi dini membuat Laura sering menunjukkan wajah masam. Hingga ia bertekad untuk rutin meminum jamu yang di buatkan Mbok Darmi, jamu tahan lama yang sering diminum Ayahanda dan Kaysan. Awalnya Herman merasa getir dan pedas yang berkepanjangan, namun berkat jamu mujarab itu, Herman kini sanggup memuaskan hasrat seksual dirinya dan Laura. Seolah ingin mematahkan gagasan yang sering beredar tentang usia setengah abad membuat sebagian pasutri enggan untuk bercinta. Herman mendapat secercah ide 'konyol' untuk menjual jamu kuat tersebut.


Santosa menjaga jarak aman di antara mereka, sementara Kaysan terus mendominasi Rinjani dan Dalilah. Ia mengerti keberadaannya hanya dibutuhkan saat Dalilah sedang rewel. Hingga suatu hari ia berkata kepada Kaysan, jika sepertinya ada sesuatu yang salah pada dirinya karena Dalilah tak juga nyaman berada di gendongan Kaysan.


Ibunda bertanya-tanya, dan pertanyaannya apakah Kaysan memendam sesuatu.


Kaysan gelagapan, tapi sebisa mungkin ia redam dengan senyuman manisnya.


"Sewaktu di Australia kemarin memang hari yang melelahkan. Belum lagi sekarang aku juga belum mendapat jatah malam dengan Rinjani."


Rinjani membulatkan matanya, "Mas gak punya malu!"


Dihadapan keluarga mereka, Kaysan masih saja membahas hal-hal yang dianggap tabu oleh Santosa, tapi Santosa mengerti yang Kaysan lakukan hanya untuk memanas-manasi dirinya.


Bodohnya, Kaysan tidak menyadari jika apa yang ia katanya dianggap Rinjani berlebihan. Seakan Kaysan menutupi sesuatu.


"Tidak biasanya mas cerewet, ada apa?"


Kaysan menggenggam tangan Rinjani, "Apa hanya kamu saja yang boleh cerewet?" Kaysan membalik pertanyaan.


Rinjani mendesis.


"Ibunda setuju. Semenjak kamu pulang justru kamu tidak sebahagia di Australia? Ada apa, Kay? Apa sebelum kamu pulang, masih ada yang belum kamu selesaikan?" tanya Ibunda menyelidiki.


Harusnya jika di telusuri lebih baik, Kaysan justru bahagia tak terkira karena bisa berkumpul bersama keluarganya, terlebih Dalilah butuh sosok seorang ayah---karena sejatinya 'ayah' adalah cinta pertama untuk seorang anak perempuan.


Firasat seorang ibu mengatakan, jika Kaysan tidak baik-baik saja.


"Kay, jawablah." Ibunda memaksa.


Wajah Kaysan merengut kesal, "Ibunda..."


"Ada yang kamu sembunyikan?"


Tidak ada jawaban yang bisa benar-benar mengungkapkan betapa salahnya Kaysan jika mengingat ada wanita lain yang menciumnya.


Kaysan menghela nafas, sebelum akhirnya ia menatap satu persatu keluarganya. Herman dan Laura menggeleng, mengisyaratkan untuk jangan mengatakan kejujurannya sekarang. Mereka masih ingin melihat Rinjani senang atas kedatangan mereka, terdengar egois memang. Tapi, siapa yang tidak bersedih hati melihat putrinya akan patah hati karena dikhianati.


Sebatas mencium pipi adalah hal biasa di luar negeri, tapi jika mencium menggunakan perasaan akan berbeda persepsinya.


"Ada apa sih? Kenapa tiba-tiba serius? Memang benar ada yang mas Kaysan sembunyikan, apa?" tanya Rinjani pemasaran.


Ibunda menghampiri Rinjani dan mengelus pundaknya, "Biarkan Kaysan mengatakannya."


"Kenapa Ibunda membuatku takut." ujar Rinjani dengan was-was. Ia mengedarkan pandangan dengan acak, "Mama..." Laura mengangguk.

__ADS_1


"Apa mas Kaysan selingkuh?" tanya Rinjani sambil menatap lekat wajah Kaysan.


"Kenapa diam? Kalau mas tidak selingkuh katakan saja. Biar Jani tidak curiga." bujuk Rinjani.


"Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk memutuskan ini perselingkuhan atau bukan. Malam hari setelah pengumuman kemenangan perlombaan, aku dan seluruh guru yang ikut menjaga siswa-siswi mengadakan pesta persiapan. Aku mabuk, dan Anne mencium pipiku saat aku tidak sadarkan diri." kata Kaysan pelan sambil menatap Rinjani.


Entah Rinjani harus menangis atau tertawa, tapi nyatanya Rinjani justru beranjak berdiri. Ia menghampiri orangtunya untuk meminta penjelasan.


Laura merentangkan kedua tangannya, untuk memeluk Rinjani.


"Maafkan mama sudah ikut menyembunyikan rahasia skandal ciuman Kaysan dan Anne. Tapi Mama bisa memastikan bahwa Anne hanya mencium pipi Kaysan, tidak lebih."


Ibunda mendekati Kaysan, "Sudah dari dulu Ibunda ingatkan untuk membatasi diri! Apa sifat liarmu kembali menjadi-jadi?"


Perkataan sifat liar itu membuat Kaysan malu, mengingat ia pernah terpuruk saat berpisah dengan Nurmala Sari.


"Aku hanya mabuk, Ibunda. Aku tidak main perempuan!" Kaysan membela diri.


"Tapi kamu membiarkan wanita lain mempunyai kesempatan untuk melakukan itu. Bukannya kamu tidak ingin Rinjani merasakan apa yang Ibunda rasakan? Buka matamu Kaysan!"


Rinjani menatap Kaysan, ia hanya menggeleng sambil menahan air matanya untuk terjatuh di hadapan Kaysan.


Ibunda mendekati Laura dan Herman, mengajak mereka untuk membicarakan kebenarannya.


Ayahanda menepuk bahu Kaysan, "Tanggungjawab tetaplah tanggungjawab. Tapi jika seseorang memanfaatkan peluang. Maka yang harus disalahkan adalah orang yang memberinya peluang. Kamu lalai dan mengkhianati dirimu sendiri dengan sesuatu yang kamu gaung-gaungkan selama ini. Putraku, pada dasarnya kamu memang memiliki hak untuk memiliki istri lagi, tapi ada baiknya kamu memperbaiki hubunganmu dengan Rinjani, sebelum ia benar-benar menyerah pada keadaan ini."


Kaysan menegakkan badan, menggertakkan rahangnya dengan frustasi, "Itu hanya sebatas ciuman pipi, Ayahanda. Itu bukan kesalahan fatal." Kaysan menghela nafas. Ayahanda menepuk bahu Kaysan, "Maka untuk apa kamu berbohong? Dan, karena ulahmu sendiri Dalilah tidak mau berada di sampingmu, kejujuran adalah kunci. Kelak jika kamu menjadi Raja, jangan ada yang kamu sembunyikan dari rakyatmu, sekalipun itu sesuatu yang pahit."


Sementara itu, Rinjani berlari dengan derai air mata yang membasahi pipinya. Kesalahan Kaysan bukan karena ia mendapat ciuman dari Anne, tapi Kaysan telah menyembunyikan kejujuran itu darinya.


Kebohongan Kaysan menyakitinya---tentu saja---namun tidak mudah terus-menerus menyalahkan orang lain ketika dia sendiri juga tidak sempurna. Rinjani kecewa, perlahan ia menyadari jika kecemburuan Kaysan terhadap Santosa adalah untuk menutupi kesalahannya yang tidak sepenuhnya murni kesalahan Kaysan. Godaan bisa saja terjadi, dimana saja tanpa kita tahu. Sekalipun kita berusaha menghindarinya.


Rinjani menggeleng dengan sedih. Energinya hilang bersamaan dengan matanya yang lelah berlinang, tubuhnya luruh menyentuh lantai.


Terisak-isak Rinjani. Hingga suaranya terdengar hingga kamar Santosa.


Santosa keluar kamar dan mencari sumber suara.


Matanya terbelalak mendapati ndoro ayu yang ia puja-puja menangis sesenggukan.


"Ndoro ayu..." panggil Santosa.


Lengang sejenak. Rinjani menyeka air matanya sebelum terlihat menyedihkan dihadapan Santosa.


"Maaf mengganggu istirahatmu." ujar Rinjani dengan tersendat-sendat.


Santosa menggeleng, "Saya belum tidur, ndoro ayu kenapa menangis, bertengkar dengan Gusti pangeran Kaysan?"


Rinjani membuang muka.


Santosa mengangguk paham, "Baiklah, mungkin ndoro ayu tidak mau cerita sekarang. Tapi, saya bisa menjadi tempat curhat. Meskipun saya jomlo, saya paham bahwa patah hati tidak enak."


"Siapa bilang patah hati enak!? Kalau enak, banyak orang dengan mudahnya memutuskan hubungan dengan alasan, bosan, tidak cocok, sudah ada yang baru, atau lebih menyakitinya lagi, sudah tidak percaya." ucap Rinjani menggebu-gebu.

__ADS_1


"Makanya saya tidak mau punya pacar, karena mengangumi saja sudah cukup buat saya."


Rinjani berdecih, "Jangan curhat!"


Santosa terkekeh kecil, "Ndoro ayu mau hot chocolate?" tanya Santosa.


"Aku sedang butuh yang dingin-dingin." ujar Rinjani.


"Mau pakai es?" Santosa pura-pura tidak tahu. Ia menunduk sambil tersenyum.


"Santosa!!!" pekik Rinjani.


Di dapur, Rinjani menunggu Santosa membuat es coklat. Ia menunggu dengan pikirannya yang berputar-putar seperti mesin blender yang mengaduk es batu dan coklat menjadi satu. Rinjani bingung setelah ini apa yang harus ia lakukan untuk Kaysan. Marah, ngambek, atau mengacuhkannya sementara. Mengingat lagi ada Dalilah yang butuh kedua orangtuanya.


Suara bising blender membuat suasana menjadi ramai.


Kaysan melongok ke dalam dapur. Ia menyaksikan Santosa mengulurkan segelas coklat dingin ke tangan Rinjani.


"Coklat akan membuatmu tenang." ujar Santosa. Ia sendiri menambahkan kopi ke dalam coklat yang akan diminumnya.


"Enak... Kamu bisa di rekrut menjadi koki istana saat aku menjabat sebagai ratu nanti." Rinjani tersenyum, ia menikmati es coklat buatan Santosa dengan perlahan.


"Nanti saya buatkan lagi jika ndoro ayu menginginkannya."


Sesaat kemudian Rinjani tertawa, "Aku tidak mau melihatmu jomlo seumur hidup, pak Samudera. Besok kita jalan-jalan ke mall yuk, aku ingin membeli beberapa baju untuk Dalilah. Aku juga bosan patah hati, lagipula kemarin kita gagal nonton Godzilla vs Kong."


Kaysan menghela nafas kasar, pikirannya runyam saat Rinjani justru ingin bersenang-senang diatas pelik yang menderanya. Rinjani sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda cemburu yang luar biasa seperti biasanya, bahkan sampai beberapa menit kemudian, Rinjani masih asyik mengobrol dengan Santosa.


Kaysan pura-pura terbatuk-batuk, ia menyelonong masuk ke dapur dan mengambil air putih. Rinjani dan Santosa saling melempar pandang. Mereka menahan tawa melihat kelakuan Kaysan yang menganggap dua manusia yang duduk di meja makan seperti tak terlihat.


"Gusti pangeran haus sekali?" tanya Santosa.


Kaysan menghentakkan gelas dengan kencang.


"Saya panas dalam!"


Santosa mengangguk, "Saya buatkan es jeruk nipis mau?"


Rinjani tergelak, "Lama-lama pak Samudera buka warung di dapur. Sudah ah, besok jangan lupa janji kita pak Samudera." Rinjani berkata sambil lalu.


Kaysan menyeletuk, "Namanya Santosa bukan samudera!"


Rinjani menjawab tanpa berbalik, "Namanya Samudera Adinoto Salahuddin Rumi. Status jomlo. Dan satu lagi, dia lebih tampan dari laki-laki yang aku banggakan selama ini."


Kaysan kebakaran jenggot. Ia menatap tajam ke arah Santosa, "Awas saja jika kamu merebut semua wanita yang aku miliki!!!" Ancam Kaysan.


Santosa mengangguk, "Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi gusti pangeran. Semua akan menjadi bumerang untuk Gusti pangeran nanti jika semua hal tidak dipikir matang-matang terlebih dahulu, nanti takutnya menyesal." ujar Santosa sopan.


Ingin sekali Kaysan mengajak Santosa berduel di ring tinju. Tapi, urusannya sekarang bukan dengan Santosa. Kaysan menghela nafas panjang, sebelum ia mencengkram kedua bahu Santosa, "Baiklah, kali ini kamu menang. Lain kali jangan harap, kamu bisa tersenyum lebar dihadapan ku. Rinjani dan Dalilah hanya milikku!!!"


Kaysan lalu, meninggalkan Santosa yang menghabiskan es coklat kopi miliknya, "Ndoro ayu Rinjani memang milik Gusti pangeran Kaysan, dan saya hanya ditakdirkan untuk mengaguminya." gumamnya lirih.


Happy reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2