Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Malam terakhir ]


__ADS_3

Aku tidak ingin lagi bertanya tentang perihal kenapa Kaysan begitu mudah mengizinkan aku pulang. Akupun juga tak ingin memaksa Kaysan untuk ikut.


Aku tahu, Kaysan dan segala permasalahannya sudah cukup membuatnya terbebani.


Biar saja aku kembali, sendiri. Aku ingin pergi tanpa beban, sekalipun dalam hatiku aku meronta-ronta. Menginginkan Kaysan slalu ada untukmu.


Dia candu yang begitu membuatku senang, dia candu yang begitu indah.


Malam semakin larut, udara semakin tenang. Aku tidak bisa tidur setelah tadi aku mendengar obrolan mereka. Bapak dan Ayahanda.


Bapak akan tetap tinggal di Australia, menunggu dan menjaga Kaysan.


Bapak juga berniat untuk menikahi Laura dan memboyong mereka untuk tinggal di tanah Jawa. Kecuali, Sheila dan suaminya. Mereka akan tetap disini, meneruskan usaha Laura dan menjaga rumah peninggalan Suami Laura.


Ku buka koper dan memasukan beberapa pakaian yang masih muat aku kenakan. Termasuk membawa kaos milik Kaysan dengan parfum miliknya yang sudah aku semprotkan. Dengan begitu, aku akan merasa di dekap olehnya---meskipun itu hanya sugesti ku saja.


Asyik memilih baju milik Kaysan, sebuah tangan melingkar di pinggangku. "Kamu membiarkan aku kedinginan jika semua bajuku kamu bawa, Rinjani." Kaysan menaruh dagunya di pundakku.


Aku tersenyum, "Apa sih mas, cuma sepuluh juga."


"Sepuluh itu banyak, Rinjani. Bisa aku gunakan lima hari."


Aku kegelian saat Kaysan mengusap-usap leherku dengan kumisnya.


"Jangan seperti ulat bulu mas, Jani geli." Aku terkekeh saat Kaysan mengecup leherku.


"Aku akan meninggalkan tanda kepemilikan di lehermu, biar semua orang tahu kamu sudah ada yang memiliki." katanya sambil menyesap leherku cukup lama. Aku terdiam menikmati sentuhannya.


"Lama-lama jadi vampire kamu mas. Haus darah."


"Haus darah perawan." kata Kaysan, ia mengusap leherku yang basah karena salivanya.


Deg... Jantungku rasanya berhenti berdetak, apa itu tandanya Kaysan menginginkan perawan.


"Benarkah? Mas mau darah perawan?"


Aku melepas pelukannya.


Kaysan mengecup puncak kepalaku dengan pelan.


"Tidak, sayang." Kaysan menyibakkan rambutku. Membiarkan leherku terlihat jelas.


"Sekali lagi boleh?" bisiknya di telingaku.


Aku tertawa kecil dan mengangguk. Kaysan tersenyum, ia melepas kaos yang masih ku genggam dan menggantinya dengan genggaman tangannya yang mengisi sela-sela jariku.


"Ada dua sebab kamu harus bersabar. Satu, sebentar lagi tanganku tidak hanya akan menggengammu. Dua, sebentar lagi bukan hanya ada kamu dihatiku. Jadilah ibu yang mampu bersabar dengan tingkah laku suamimu dan anakmu. Karena setelah bayi ini terlahir semua akan berbeda." Hatiku mendadak bertalu. Tapi aku hanya bisa mengangguk dan mengecup pipi Kaysan sebagai tanda jika aku mengerti.


Kaysan melepas genggaman tangannya, "Jangan sedih, itu semakin menyulitkan aku untuk melepasmu."


Kepalaku menengadah, berusaha menahan air mata yang siap meluncur di wajahku. Aku tak kuasa, kali ini saja aku meminta diri untuk tidak cengeng di hadapan Kaysan.


"Jani hanya sedih, itu saja." ujarku gusar. Tanganku kembali memilih baju Kaysan dan menaruhnya ke dalam koper.


"Semua kenangan kita dan perjuangan kita tak akan memudarkan rasa, meskipun lima bulan tidak bertemu. Berjanjilah, untuk slalu mawas diri. Kamu bukan Rinjani yang dulu, kamu sekarang adalah Rinjani keluarga Adiguna Pangarep."


"Iya mas." jawabku singkat.


"Cerewetlah, agar aku yakin kamu baik-baik saja."


Aku mendongak, jadi Kaysan pikir kalau aku cerewet itu tandanya aku baik-baik saja. Lucu sekali batinku. Ku balas dengan senyuman, "Mas sudah meminta eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe untuk berkemas?" tanyaku jika Kaysan memang menginginkan aku cerewet, padahal sebenarnya aku sedang sedih. Aku sedang tidak ingin banyak bicara atau meminta banyak hal.


"Sudah, kalian akan berangkat lusa saat udara stabil dan tidak ada badai."

__ADS_1


Lusa, itu artinya dua hari lagi. Hanya dua hari lagi waktuku dengan Kaysan. Sedangkan ia setiap hari masih sibuk mengajar.


Ku taruh koper di samping pintu, lalu menghampiri Kaysan yang terdiam di tepi ranjang. "Baba kenapa?"


Kaysan mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan paper bag.


"Gunakan ini besok, dandanlah yang cantik."


Aku membukanya, sebuah gaun berwarna broken white. Ini tampak mewah dan elegan. Tak seperti biasanya Kaysan membelikan aku gaun seperti ini, terlebih dulu Kaysan hanya sering membelikan aku kain jarik dan baju kebaya.


"Kita mau kemana, mas?"


Kaysan tersenyum, "Besok sebelum kamu pergi kita akan menginap di hotel sehari, dengan Ayahanda dan Ibunda."


"Biar jadi perpisahan yang indah ya mas?" Aku cekikikan, "Ini bagus mas, terimakasih." Aku mengecup pipi Kaysan.


Ku raba kumis Kaysan, "Cukurlah saat Rinjani tidak ada. Karena kumis ini membuat mas terlihat keren dan lebih muda."


"Rinjani." panggilnya begitu halus, begitu menyentuh hatiku. Aku mendongak, saat manik mata kita bertemu. Kaysan memejamkan matanya. Ku tangkap rahangnya, "Kami berdua mencintaimu, dan akan setia menunggu."


Aku ingin malam ini menjadi malam terakhir yang indah. Aku tahu Kaysan juga mengingatkannya, diapun tahu aku juga sama.


Aku mengusap bibir Kaysan, "Cium aku dan nikmati aku mas." Aku berdiri membuka piyama lingerie yang aku kenakan.


Gayung bersambut, Kaysan yang sedaritadi diam lantas membuka matanya. Ia menatapku penuh damba.


"Aku berjanji tidak akan menyakiti kalian berdua." Kaysan menarik tanganku, dengan pelan menjatuhkan aku di pangkuannya.


Aku terkekeh kecil, "Jangan bilang Rinjani berat."


"Tidak, benar kata dilan. Jika rindu itu berat. Setelah ini, setelah kamu pergi semua terasa berat."


"Termasuk suaramu yang sudah berat, mas."


"Heiii, baba hanya akan mampir sebentar. Jangan membuat bubu kesakitan dengan tingkah polah mu." seru Kaysan, ia mengusap perutku, membuat putrinya yang tadinya menendang keras perlahan mulai tenang.


"Dia belum lahir, tapi sudah pintar membuatku menjeda kenikmatan kita." ujar Kaysan, ia mengecup bahuku.


"Bisa kita memulainya lagi?"


Aku terkekeh sebentar, sambil memiringkan leherku. Lagi-lagi kumisnya membuatku geli, saat sentuhan dan kecupan itu sudah memercik api gairah.


Tangannya mengelus pahaku dengan sentuhan yang menggoda. Hingga akhirnya tangan itu berakhir di ujung pangkal pahaku.


Aku bergetar, saat Kaysan menjamah tubuhku dengan kalapnya.


Bibirnya sudah meninggalkan leherku dengan jejak yang cukup banyak. Aku tidak tahu, bahkan enggan untuk melihatnya.


Kaysan menarik tali lingerie yang aku kenakan, hingga tak tersisa benang yang menutupi tubuhku.


"Kiss me, more."


Bisiknya di telingaku, aku merangkulkan tanganku di lehernya. Kaysan menangkup payudaraku dan meremasnya, ia juga mencium bibirku penuh tuntutan.


Entah kenapa kali ini aku tidak mau melepas ciumannya, bahkan sentuhannya. Aku ingin waktu berhenti berputar dan memberikan aku dan Kaysan menikmati kemesraan ini. Aku tahu, setelah ini aku dan Kaysan akan menikmati rasa rindu yang pekat. Rindu untuk bertemu, bercumbu dan bercinta.


Dalam dinginnya malam, kedua tubuh bersatu dalam balutan desah dan nikmat.


Kaysan terus memacu tubuhnya, dengan erangan yang tak bisa ia tahan. Ku usap keringat di pelipis keningnya saat aku terus berkata untuk jangan berhenti jika belum puas. Seakan aku egois dan tak menghiraukan perutku yang mengeras, Kaysan tetap memuaskan hasratnya.


*


"Apa setiap hari seperti ini Mbah? Kacau."

__ADS_1


Mbah Atmoe dan Sadewa masih berada di depan perapian, tak jauh dari kamar yang ditempati Kaysan.


"Sepasang suami istri jika berhubungan intim akan mendapat pahala. Jadi, biarkan saja." Nasihat Mbah Atmoe yang membuat Sadewa melengos, "yang dapat pahala mereka Mbah, yang kacau pikiranku."


Mbah Atmoe tertawa, "Nikah saja kalau gitu, biar kamu tahu nikmatnya kawin."


Sadewa berdecih, "Nikah muda? Ha-ha-ha, Ayahanda akan pusing tujuh keliling jika tahu pacarku bule."


Sadewa mengumpat kesal saat suara desahan itu semakin menjadi-jadi.


"Aku gak kuat, Mbah. Suara itu seperti godaan setan yang terkutuk."


Sadewa menutup telinganya rapat-rapat, ia tahu Nakula memakai headphone sedaritadi agar tidak mendengar suara-suara kejam yang mampu meluluhlantakkan sebagian iman.


Selang beberapa waktu, Kaysan keluar dari kamar. Wajahnya terlihat panik.


"Mana Ibunda?"


"Tidur." jawab Sadewa. Ingin sekali ia bertawa keras melihat Kaysan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


"Ati-ati copot mas, nanti burungnya mabur." [ mabur : terbang ]


"Bukan waktunya bercanda!"


Kaysan bergegas menuju dapur, ia menghidupkan kompor untuk merebus air. Suhu dingin 6°c membuat alat pemanas air tak berfungsi, hingga Kaysan harus menunggu cukup lama sampai air mendidih.


"Carikan artikel yang memuat cara meredakan kontraksi palsu akibat berhubungan intim!"


Sadewa yang mendapat titah telak dari sang kakak hanya bisa menurut, "Duh Gusti, belum diangkat menjadi raja sudah bertindak semaunya. Menindas adik dengan suara-suara aneh, sekarang malah ikut-ikutan terkena imbasnya."


Wajah Kaysan benar-benar panik saat Rinjani mengalami pelepasan terakhir sebelum semburan hangat menghujani perutnya. Rinjani mengaduh saat perutnya mengalami kram yang cukup lama.


"Mandi air hangat, minum air, dan membuat hal yang menyenangkan, atau jika tidak membuat afirmasi positif." jelas Sadewa yang membuat Kaysan dengan cekatan mengambil gelas dan membuat segelas susu coklat.


"Bukannya habis bersenang-senang, kok malah apes. Ini pasti balasan dari Do'a kami orang teraniaya." Sadewa tersenyum lebar. Kaysan melempar serbet ke arah Sadewa, "Jaga bicaramu!"


Sadewa mengangguk sambil menahan tawa, Mbah Atmoe bukan lagi.


"Itulah akibatnya jika nafsu menguasai."


Kaysan tak ambil pusing, ia tahu jika sudah berurusan dengan ranjang, ia akan lupa diri. Apalagi Rinjani tadi terus menginginkan lebih.


*


Suara ceret berbunyi, menandakan air sudah mendidih. Kaysan dengan hati-hati membawanya ke dalam kamar.


"Baba lama." kata Rinjani masih belum memakai sehelai baju.


"Bagaimana perutmu?" tanya Kaysan khawatir.


"Sudah mendingan." Kaysan mendesah lega, ia menuangkan air ke dalam ember. Tangannya mengulur suhu agar tidak kepanasan ataupun kedinginan.


"Mandi bebek ya, dik. Airnya hanya sedikit."


Kaysan membantu Rinjani berdiri dan memandikannya tanpa menutup pintu kamar mandi.


Melihat segelas susu yang masih tertinggal di atas meja makan membuat Sadewa berpikir jika Kaysan melupakannya. Ia berniat membawanya ke kamar mereka.


Hati nuraninya masih bekerja meski sebenarnya ia kesal.


Sesaat kemudian, ia menyesal melakukannya. Di depan kamar yang tak tertutup rapat. Suara gemericik air dan kata-kata nakal dari pasutri yang sedang mandi berdua semakin meracuni otaknya untuk menikah muda.


Happy Reading 😂

__ADS_1


__ADS_2