Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Menyurat yang tersirat ]


__ADS_3

Awan kelabu membumbung tinggi di atas gedung bertingkat saat jam istirahat mahasiswa sudah di mulai. Banyak mahasiswa yang berlarian menuju koridor kampus saat gerimis mengundang hujan yang lebih lebat.


Nanang kembali menghampiri Anisa. Ia ingin membaca surat itu bersama. Apapun isinya. Ia masih ingin bersama Anisa. Nanang berpikir, Rinjani tak mungkin curang.


"Hujan, pasti vespanya mogok." kata Nanang. Anisa membalasnya dengan tersenyum, "Aku suka hujan, itu artinya ada banyak waktu bersamamu."


Nanang tersenyum, tangannya mengulur ingin mengandeng tangan Anisa.


"Ini masih di area kampus, mahasiswa tidak boleh menunjukkan kemesraan di depan umum." seru Anisa, ia berjalan mendahului Nanang.


"Makan siang di kantin, mau?" Ajak Nanang, ia berjalan beriringan dengan Anisa.


"Mau saja, asal di traktir." jawab Anisa.


Nanang terkekeh, "Mau minta apa? Bakso, soto, mie ayam, batagor, atau hatiku?"


Anisa mengentikan langkahnya, ia menatap Nanang sejenak.


"Gaya. Dulu saja ditanyain suka cuek, suka gak denger. Sekarang hati saja di obral."


Tenggorokan Nanang tercekat, ia tersenyum malu-malu. "Bukan di obral, tapi di jual!"


Nanang gengsi jika ia yang pertama kali mengakui jika memiliki rasa dengan Anisa. Sedangkan, Anisa mau mencobanya jika Rinjani mau menerima keberadaanmu sebagai kekasih Nanang sekaligus sahabatnya.


"Gitu aja ngambek." ejek Anisa.


Mereka berjalan di atas konblok yang basah, sambil berjinjit dan bergandengan tangan.


"Lihat mas Nanang. Nemplok terus kerjaannya." seru Sadewa. Nakula berdehem sambil mengingat kak Rahma yang tak membalas pesan singkatnya. Ia gelisah karena itu, begitu juga ingin ketemu.


"Kejebak hujan di Malioboro enak, bisa menyimpan kenangan terindah. Kejebak hujan di kampus, alamat tugas tambah banyak." keluh Sadewa.


"Diem aja, kenapa?" tanya Sadewa, ia melihat saudara kembarnya hanya memainkan gawainya.


"Kak Rahma sibuk? Kalau kangen dateng aja ke klinik tempatnya kerja. Laki-laki harus punya kemajuan, jangan gengsi bilang kangen."


Aneh, Sadewa seperti mahir saja dalam urusan percintaan, padahal hubungannya dengan bule blesteran Jawa-belanda itu tidak jelas. Mereka sama-sama sibuk liburan, hingga Irene-lah yang menjadi pelarian dari kesepian yang mendera Sadewa.


"Cerewet! Ngomong aja gampang."


Nakula pergi meninggalkan Sadewa, ide saudara kembarnya boleh juga di coba. Ia ingin sesekali memberi kejutan untuk kak Rahma. Kira-kira wanita dewasa suka apa ya? tanya Nakula dalam batinnya.


Bunga? itu sudah biasa.


Coklat? Apalagi. Terlalu mainstream.


Hmm... alat make-up. Sepertinya kak Rahma perlu itu untuk menunjang penampilannya. Eh, tapi kalau kak Rahma tambah cantik dan banyak yang naksir, aku sendiri yang repot. Nakula berhenti sejenak, ia membuka ponselnya.


Hallo, mas...

__ADS_1


Dari benua Australia, Kaysan mendapat panggilan dari Nakula. Tak seperti biasanya Nakula menelepon dengan pertanyaan yang menarik Kaysan untuk tertawa.


"Apa ada kabar gembira?" tanya Kaysan dari balik telepon. Rinjani mendengar tawa Kaysan, ia penasaran dengan obrolan yang membuat Kaysan tertawa.


"Siapa mas?" bisik Rinjani di telinga Kaysan.


"Nakula." jawab Kaysan.


"Loud speaker, mas."


Nakula terdiam sejenak, ia ragu mengatakan jika dirinya bingung untuk memberi kejutan untuk wanita dewasa.


"Hmm... gak jadi mas, maaf ganggu." ucap Nakula.


"Nakul, Mbak kangen. Ayo bicara yang banyak." pinta Rinjani, ia mengambil alih ponsel Kaysan.


Nakula mengumpat, ia semakin tidak mau bertanya tentang alasan menelpon Kaysan, "Tidak mau, aku sibuk!" jawab Nakula.


Rinjani merengek, ia duduk dipangkuan Kaysan sambil mengadu sebab Nakula menolak permintaannya. "Nakula, turuti saja. Jika tidak ia akan terus-menerus seperti ini. Mas pusing." kata Kaysan, ia tersenyum kaku saat Rinjani menatap tajam ke arahnya.


"Sudah bilang jangan protes, ini bawaan bayi." jelas Rinjani. Kaysan kalah jika Rinjani sudah beralasan bahwa sayang janin yang memintanya. Permintaan yang terkadang aneh dan diluar akal sehat laki-laki dewasa.


"Oke-oke. Mas, hadiah apa yang cocok untuk diberikan kepada wanita dewasa."


"Rahma ulangtahun?" tanya Kaysan.


Nakula menyandarkan punggungnya di tembok sambil menunggu jawaban Kaysan.


"Mas, kenapa diam? Mas ingat Mbak Nurmala. Apa yang pernah mas berikan untuknya."


Mendengar nama Nurmala Sari di sebut Nakula. Dada Rinjani mendadak sesak, ia jengkel tapi tak bisa marah dengan alasan yang tidak jelas. Kaysan mencoba berpikir, tapi wajah Rinjani yang mendadak cemberut membuat Kaysan merangkul pundak Rinjani.


"Berikan apa saja yang menurutmu bagus." Kaysan mencari aman, ia tidak akan terang-terangan menyatakan jika ia pernah memberikan Nurmala Sari sebuah cincin, baju tidur, sepatu wanita, peralatan makeup dan semua hal yang disukai wanita.


"Mas tidak memberi solusi, pasti takut jika yang disebelah mas Kaysan berubah menjadi monster." Cepat-cepat Nakula mematikan sambungan teleponnya. Kupingnya pasti berdenging mendengar suara Rinjani yang marah-marah.


Pasti mas Kaysan lagi repot menjinakkan mama Godzilla.


Nakula terkekeh, ia melanjutkan perjalanan saat hujan sudah mulai reda.


*


"Salah apa lagi aku, Dik?" Kaysan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Aku gak mau tidur dengan mas!" Rinjani marah sekaligus sedih, dia berlari menuju kamar dan menguncinya.


"Buka pintunya, Dik." Kaysan mengetuk pintu kamar. Berkali-kali.


"Mas tidur diluar, Jani mau sendiri."

__ADS_1


"Jangan lupa ada janin di rahimmu, jadi kamu tidak sendiri. Jangan biarkan kamu larut dalam kesedihan atau kemarahan. Katakan apa yang membuatmu kesal?" tanya Kaysan. Ia masih berdiri, menunggu Rinjani membuka pintu kamar.


"Buka pintunya, Dik. Atau, dik Jani mau mas menjadi superhero yang mendobrak pintu dan menyelamatkan ibu hamil yang sedang lapar. Mas ingat, tadi di kulkas masih ada puding coklat."


Rinjani diam, ia mendadak ingat puding coklat yang dibuat oleh Laura masih utuh di dalam kulkas. Rinjani membuka pintu kamar. Ia mendapati Kaysan tersenyum lebar.


"Mas suapi, mau? Ditambah vla vanila lebih enak." Rayu Kaysan, makanan slalu membuat Rinjani lemah dan mudah terperdaya terbukti saat Rinjani mengangguk dan berjalan menuju dapur.


*


Dua mangkok bakso kini hanya menyisakan kuah dan biji cabe yang masih tertinggal di dalamnya. Begitu juga gelas es teh yang masih ditemani sedotannya.


"Kamu masih ada kelas?" tanya Nanang, setelah ia membayar jamuan makan siang bersama Anisa.


"Ada. Kamu?"


"Sama, jadi kita berpisah lagi setelah kamu kenyang. Ini balasannya." Nanang mengambil tas ranselnya dan menggendongnya. Anisa berdiri.


"Ha-ha-ha. Lagian bukannya ini sebagai salah satu cara untuk meyakinkan diri jika kamu memang laki-laki yang bertanggung jawab." kata Anisa.


"Ngomongin tanggung jawab, emang sudah siap di sunting?"


Anisa memukul bahu Nanang, "Bukan tanggung jawab menafkahi keluarga, tapi tanggung jawab berpacaran. Dasar..."


"Lah, terus kasian yang jomlo dong, gak punya pacar terus kelaparan." Anisa diam, ia kalah jika harus berdebat dengan Nanang.


"Terserah. Nanti pulang duluan, tidak usah menungguku."


"Hei! kamu masih utang janji. Keluarkan suratnya." pinta Nanang.


Jam pergantian mata kuliah masih lama, Nanang dan Anisa duduk di kursi sambil membuka surat yang di tulis Rinjani.


Mereka diam dengan batin yang membaca kalimat demi kalimat yang tidak dapat membendung perasaan kedua sejoli itu.


Dear Anisa.


Seharusnya tidak perlu repot-repot mengirimku surat itu, apalagi hanya meminta izin untuk berpacaran dengan Nanang. Memang siapa aku? Harusnya kamu minta izin dengan Ayahanda. Beliaulah yang memiliki hak penuh atas anaknya. ^_^


Benar, Nanang memang cinta pertamaku dan begitu juga dengan Nanang. Orang bilang cinta pertama sulit dilupakan, tapi tidak untukku. Bagiku Nanang bukanlah kisah yang harus dikenang sepanjang masa. Ada cinta kedua yang membuatku semakin mengerti, bahwa banyak cinta yang tak terduga. Begitu juga jalan kisahnya. Hei, seandainya dunia selebar daun kelor dan kamu menjadi adik iparku. Aku akan senang sekali. Aku senang, akhirnya aku ada teman. Tapi aku ingin tertawa. Melihatmu malu-malu berpacaran dengan Nanang, itu membuatku merasa jika Nanang akan mendominasi kisah cinta kalian. Terimakasih sudah membuka hati untuk adik kami, aku dan mas Kaysan disini baik-baik saja. Semoga di lain kesempatan, ada waktu yang mengizinkan kami melihat kalian bahagia. Seperti kami disini.


Selamat bergabung dengan kami, semoga kamu betah berlama-lama dengan Nanang. Karena dia... hmm, suka sekali main tarik-ulur.


Oh iya, Nanang suka musik metal. Jangan sungkan untuk bergabung menjadi salah satu Metalhead perempuan. Ada temanku bernama Nina, kamu bisa menjadikannya sahabat. Dia teman baik kami berdua. Sampaikan salam ku untuk Nina.


Tidak ada yang membahagiakan, selain melihat orang-orang di sekeliling kita bahagia. I'm happy for you both.


^^^Love, Jani.^^^


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2