
Jarak yang ditempuh untuk sampai ke Sydney Airport dari kotaku adalah 5.083 km dan membutuhkan waktu 5 - 7jam menggunakan Garuda Airlines.
Aku dan Kaysan menggunakan penerbangan yang berbeda. Kaysan sudah berangkat sejak tadi malam dan akan menjemputku setelah sampai disana. Sedangkan aku masih menunggu dirumah, bukan Kaysan yang tak mengizinkanku untuk pergi sendiri, dua kembar sialan itu ikut andil dalam piknik safari liar nanti.
"Mbak, pernah naik pesawat?" tanya Sadewa yang sibuk menyeret dua koper besarnya.
"Pernah dulu waktu study tour di museum dirgantara."
"Pesawat terbangggggg..., bukan pesawat yang lagi parkir. Apalagi dimuseumkan."
Aku terkekeh kecil, "yang penting naik pesawat."
"Ra ndeso, Ra katrok. Kalau gak tau apa-apa, tanya!" cibir Nakula.
"Siap adik-adikku, terimakasih."
"Mbak, ada denganmu? Akhir-akhir ini aku lihat Mbak seperti sapu ijuk, lempeng aja."
"Mbak sedang menjalankan rencana."
"Rencana tikus lagi?"
Aku mengangguk, sopir yang mengantar kami bertiga ke bandar udara internasional, sudah membawa kami di jalanan perkotaan.
"Mbak phobia ketinggian?"
"Enggak." jawabku malas, karena sesungguhnya sedaritadi aku sudah di rundung ketakutan naik pesawat. Di pusarku sudah aku tempel koyo, setelah sarapan pagi 'pun sudah minum tolak angin. Tapi rasanya sama saja, belum apa-apa aku sudah mual.
Ini adalah kali pertama untukku naik pesawat beneran, rasanya dadaku mau meledak, jantungku berdetak acak, tanganku sudah penuh dengan keringat dingin. Tapi wajahku aku usahakan untuk terlihat baik-baik saja.
Piknik kali ini bukannya senang aku malah ketakutan. Belum lagi safari alam liar yang Kaysan inginkan, dua kembar sialan ini bukan lagi. Katanya mau ketemu buaya air asin, mau membelah gurun sahara, mau menjelajah hutan rimba, lagaknya sudah seperti petulangan sejati. Barang bawaan merekapun terlalu over, sepatunya harus matching dengan bajunya, tak lupa Nike Air Jordan sudah Nakula kenakan. Dia menginjak sepatuku yang harganya hanya 10% dari harga sepatunya, "jare kenalan."
Beruntung cuaca di Sydney saat bulan Desember adalah musim panas. Jadi aku tak perlu membawa mantel tebal yang akan menambah berat koper yang aku bawa.
Nakula sedari tadi hanya diam sambil mendengarkan musik dari headphone yang ia kenakan. Sadewa, sibuk menelepon kekasih bulenya yang katanya mau nyusul untuk liburan musim panas. Sudah ku duga, rencana liburan kali ini sudah mereka atur dari jauh-jauh hari.
Selang satu jam lebih, kami tiba di bandara udara internasional. Penerbangan kami akan lepas landas 1 jam lagi, sedangkan sekarang masih menunjukkan pukul 08.15, masih ada waktu untuk bersemedi di kamar mandi. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Ilmu meditasi yang diajarkan 'mbah Atmoe tidak berlaku untuk saat ini, semua diluar kendaliku.
Setelah masuk ke dalam bandara dan melewati banyaknya pemeriksaan petugas. Aku dan si kembar sudah berada di ruang tunggu. Wajahku pias, berkali-kali aku menghela nafas dan akhirnya, aku kebelet pipis.
__ADS_1
"Nakul, anterin Mbak ke toilet." Aku menguncang bahu Nakula, saat ia hanya bersandar di tembok sambil memejamkan matanya, seakan dia ini malas untuk melakukan perjalanan 5 - 7 jam diatas pesawat.
"Mbak kebelet pipis, ayo, nanti Mbak bisa ngompol." kataku lagi sambil melepas headphone yang Nakula pakai. Dia menghela nafas kasar dan menarik tanganku menuju toilet.
"Nakul, Mbak lapar." Sepanjang koridor menuju toilet banyak waralaba yang menjajakan makanannya, beberapa membuatku ingin membelinya.
"Tadi mau pipis, sekarang mau lapar. Mbak maunya yang mana?" tanya Nakula saat tangannya sudah melepas tanganku, sedangkan aku masih berdiri dibalik kaca sambil menunjuk roti beraneka bentuk dan rasa.
"Nakul, yang coklat enak yang keju juga." Senyumku cerah penuh harapan.
"Mbak pipis, sebentar lagi kita take off. Mas Kaysan bisa marah kalau kita sampai ketinggalan pesawat."
"Nakul, terimakasih. Tunggu Mbak disini." Ku langkahkan kaki menjauhi Nakula.
Di toilet aku terduduk cukup lama, sambil kakiku menghentak lantai berulang kali seakan kegelisahan ini sulit aku tepikan. Dalam tas selempangku ada beberapa minyak wangi, termasuk minyak kayu putih. Aku sudah mengusap perut dan punggungku dengan minyak kayu putih. Mungkin inilah alasan kenapa Kaysan tidak mengizinkanku pergi ke Sydney sendirian.
Kepanikan ternyata tidak bisa aku atasi sendiri, jiwa-jiwa ndesoku ternyata masih melekat dalam diriku. Aku bergegas keluar dari toilet wanita hingga tidak sadar aku menabrak bahu seseorang.
"Maaf, tidak sengaja. Saya terburu-buru." Aku mengikuti langkah laki-laki yang memakai jaket Hoodie bertuliskan IDDM [ Indonesian Death Metal ], "Mas, mas. Jangan marah." kataku lagi sedikit berlari kearahnya.
"Mbak mau kemana, 15 menit lagi take off, ayo naik pesawat." Nakula mencekal tanganku.
"Itu, itu tadi seperti temen, Mbak." Mataku masih berkeliaran mencarinya di kerumunan banyak orang.
"Baiklah, aku hanya mau minta maaf tadi tidak sengaja menabraknya."
"Sudah dimaafkan." celetuk Nakula.
"Bukan kamu!"
Kami bertiga akhirnya naik ke pesawat, bunyi turbine sudah membabat habis nyaliku. Tubuhku semakin bergetar.
"Mbak jangan pingsan, jangan mabuk udara, jangan panic disorder!" Nakula berkali-kali mengingatkan.
"Takutkan hal wajar, apalagi ini untuk pertama kalinya Mbak naik pesawat. Ngertiin, Mbak dong."
"Hufh... ampun-ampun, udah berbulan-bulan jadi Ningrat kok masih Ndeso, Mbak."
"Gak ada hubungannya dengan Ningrat, takut ya takut, seperti kesan pertama saat malam pertama. Takut-takut tapi mau. ha-ha-ha."
__ADS_1
"Gendeng!" [ edan ; sinting ; gila ] ucap Nakula sambil menyilangkan jari telunjuk di keningnya.
Setelah mendengar instruksi dari pramugari untuk memasang sabuk pengaman dengan baik, aku melihat laki-laki yang aku tabrak tadi menyela pramugari yang berdiri di dekat pintu masuk, ternyata laki-laki tadi juga merupakan penumpang yang sama dengan tujuan Sydney Airport, yang terletak di New South Wales, Australia.
Beberapa menit lagi tubuhku sudah tidak berada di daratan, pintu pesawat sudah di tutup rapat. Berkali-kali aku menunduk dan mengatur nafas, kakiku terus aku gerakan untuk mengusir ketakutan.
"Berdoa agar selamat sampai tujuan. Jangan hanya mikirin bikin anak, bikin anak, dan bikin anak."
"Bikin anak itu juga ibadah, Mas Kaysan, 'kan surgaku."
"Banyak jalan menuju ke Roma. Tanpa harus dengan dalih bikin anak."
"Dimengerti." Aku membuang muka, ku lihat pesawat mulai menukik tajam ke udara.
Kami hanya menggunakan kelas bisnis, mau tidak mau perjalanan yang ditempuh hingga tujuh jam ini mengharuskan aku yang sudah kocar-kacir untuk terus beristighfar dalam diam, telingaku terus berdenging, sedangkan Sadewa sudah bablas ke alam mimpi. Seperti tadi malam ia rela main Mobile Legend sampai dini hari, sehingga sekarang yang dia lakukan hanyalah tertidur. Berbeda dengan Nakula, ia sibuk membaca beberapa komik detektif Conan dan novel sastra lainnya.
Sebenarnya sedari tadi mataku tertuju pada laki-laki yang memakai Hoodie IDDM. Aku sering curi pandang kepadanya, saat Nakula sedang asik membaca buku miliknya. Jika tidak, pasti mulutnya yang jujur itu akan mengadu pada Kaysan, kalau aku genit dengan orang lain. Padahal tidak, aku hanya penasaran, karena dia seperti Nanang. Rangkaian pertanyaan dan kecurigaan sambung - menyambung di kepalaku, dari postur tubuhnya, cara ia berjalan dan menutup kepalanya dengan tudung jaket, tapi sayang wajahnya ditutupi oleh masker. Jadi dari tempat dudukku ini aku hanya bisa menduga-duga.
"Perjalanan masih panjang, lebih baik Mbak tidur, jika tidak makan saja roti yang mbak mau tadi." Nakula membuyarkan lamunanku.
"Mbak takut muntah, nanti kamu jijik."
"Enggak, makan saja. Nanti masuk angin malah tambah repot. Disana tidak ada tukang kerik." [ kerik ; kerokan ]
Aku menahan tawa, sambil mengambil beberapa potong kue yang sengaja Nakula taruh di atas meja.
"Nakul, selfie yuk." ajakku sambil mengunyah roti rasa keju.
"Buat apa Mbak, jangan norak, please."
"Buat kenang-kenangan."
Aku sudah menyiapkan kamera analog yang aku beli diam-diam tanpa sepengetahuan Kaysan.
"Bilang cusssss..." Jepret! sorot lampu dari kamera ini membuat beberapa penumpang lainnya menoleh ke arah kami, aku menunduk sedangkan Nakula menutup wajahnya dengan komik miliknya.
Aku menahan tawa, sekaligus menahan malu.
Apalagi saat mata Nakula melirik tajam kearahku, "Ndesomu kebangetan, Mbak." ucapnya lirih sekaligus membuat tawaku meledak-ledak.
__ADS_1
Terimakasih sudah mendukung Suamiku seorang Ningrat sampai sejauh ini ya, kemarin revisi berkali-kali hanya untuk ikut rekomendasi pilihan editor, puji syukur terpilih, bonus update lagi nanti sore ๐