Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 128. [ Bersama kita bisa ]


__ADS_3

Hari-hari menjelang sayembara adalah hari yang menakutkan bagiku. Ketakutan merundungku dari segala macam penjuru, membuatku hanya terpaku tanpa tahu harus melakukan pergerakan macam pahlawan yang sedang berada di medan perang.


Berkali-kali aku hanya terduduk di bangku taman, melamun. Tak ada orang yang bisa aku mintai bocoran kisi-kisi sayembara nantinya. Semua orang membisu, tak mau mengambil risiko di marahi Ayahanda. Pun dengan Mbok Darmi memilih untuk menjauhiku. Aku sendiri ditempat ini.


*


Pukul 15.30


Hanya ada kami bertiga di pendopo belakang. Aku duduk bersimpuh. Kaysan duduk bersila. Ayahanda duduk di bangku kebesarannya.


"Sesuai permintaan putriku Rinjani. Sayembara akan dilakukan mulai besok di nDalem Istana. Rinjani akan dinilai oleh pinisepuh istana dan patih agung. Selama sayembara di lakukan, putraku Kaysan tidak diizinkan untuk melihat, membantu, ataupun menemui Rinjani. Mengerti?" Aku dan Kaysan mengatupkan tangan di depan wajah, "Mengerti Ayahanda."


"Ayahanda tidak ikut campur dalam keputusan penilaian. Semua kinerja Rinjani dinilai oleh pihak yang memiliki wewenang dan andil dalam keberhasilan kepemimpinan kalian. Karena tidak Ayahanda pungkiri, banyak pihak yang meragukan Rinjani menjadi calon Ratu. Ayahanda hanya menginginkan semua yang kamu pelajari dirumah ini kamu buktikan di nDalem Istana."


Aku mengangguk, suasana lengang sejenak. Bahkan Kaysan tak mengucap sepatah kata. Ia diam dan hanya menuruti semua perintah Ayahanda.


Ayahanda beranjak setelah kesepakatan bersama kami setujui.


Aku menatap Kaysan, lagi-lagi banyak urat pilu yang terlihat dari raut wajahnya. Kegetiran terpancar dari matanya. Aku berusaha tersenyum, meski hatiku berada di persimpangan dilema.


"Do'akan Rinjani mampu menjadi pendamping yang mumpuni. Do'akan Rinjani berhasil membuat kita berdua melenggang bersama tanpa ada lagi rasa takut yang slalu membuntuti kita mengarungi bahtera rumah tangga. Jikapun Rinjani tidak berhasil, Rinjani akan kalah secara elegan." Aku mengatupkan tanganku di depan Kaysan, sebagai penghormatan terakhir sebelum aku berperang.


Kelopak matanya yang menghitam karena terlalu sering begadang saat mendendangkan syair rukmeksa ing wengi, terlihat tergenang oleh air mata. Untuk kali pertama dalam hidupku, laki-laki yang slalu menunjukkan keangkuhan dan wibawanya mengeluarkan air matanya.


Tanganku terulur menyeka air matanya, "Cengeng!" kataku tersenyum.


"Maafkan aku sudah membawamu pada jurang pemisah. Maafkan karena ketergesaan yang aku lakukan. Maaf."


Aku masih tersenyum, "Aku yang memilih berada di tepian jurang, karena dulu ada seseorang yang gencar mendekati dan perlahan mencuri hatiku. Aku yang bersedia membuka hati." Aku menangkup Kaysan dengan kedua tanganku, "Aku mencintaimu, dan masih terus berlanjut."


Mata Kaysan terpejam menikmati sentuhan tangan saat aku menyapu bibirnya. "Aku sudah merindu selama dua purnama."

__ADS_1


"Masih ada beberapa menit sebelum senja, tapi kamu sudah menangis. Bukankah ini hari terakhir mas Kaysan berpuasa? Semoga Allah meridhoi kita dan semesta berpihak pada dua hati yang di rundung asmara."


Mata Kaysan terbuka, masih tersisa air mata disudut matanya, "Aku pernah mengharap kau mencintaiku, kini kau membalasnya. Dan kini sudah ku tautkan hatiku pada wanita pemberani sepertimu. Andai saja kau dulu tak membalas cintaku atau sekedar memberiku kesempatan untuk menyayangimu. Mungkin aku tidak tahu apa arti hakikat cinta itu sesungguhnya."


Mata kami saling bertemu, "Matamu menyiratkan keteduhan, hatimu menyiratkan kebahagiaan, meski mereka tidak memahami kita. Izinkan Rinjani menjadi istri yang berbakti, tapi jika Rinjani kalah. Relakan Rinjani untuk pergi." Aku membungkuk dihadapan Kaysan, seraya menghormati Kaysan sebagai pangeran.


"Bangunlah." Kaysan mengangkat bahuku, lalu ia mendekap ku erat. Aku yang sedaritadi menahan air mataku untuk tak terlihat lemah dihadapan Ayahanda dan Kaysan. Akhirnya tangisku pecah di pelukan Kaysan, "Aku takut, mas. Aku takut." Tubuhku bergetar, semua diluar kendaliku dan Kaysan. Harusnya semua ini menjadi awal yang indah bagiku.


*


Tak ada yang bersuara saat makan malam, hanya ada suara peralatan makan yang berdenting. Sedangkan Kaysan memilih untuk tidak ikut bergabung, ia bersembunyi di ruang pusakanya. Sesaat setelah senja berganti malam, ia meminta ubo rampe dan bunga sedap malam untuk melakukan ritual terakhir 40 hari puasanya.


Makan malam usai. Ibunda memintaku untuk menemaninya di rumah utama, rumah yang tak pernah aku masuki. Saat mengekori langkah Ibunda, pikiranku menerka-nerka apa yang ingin Ibunda katakan, karena tak seperti biasanya Ibunda memintaku bicara empat mata.


Tiba di ruang keluarga, Ibunda menyuruhku untuk duduk. Sedangkan Ibunda mengambil sebuah amplop coklat tua.


"Bacalah." Ibunda mengulur surat itu, aku menatap Ibunda sesaat. Ibunda mengangguk meyakinkan ku.


Satu persatu isi surat itu aku baca, sesekali mendongkak menatap Ibunda. Aku masih tak percaya sekaligus tak berdaya, "Ada kalanya menjadi wanita harus tegas demi menjaga banyak orang. Tapi pada dasarnya wanita itu lemah jika sudah berurusan dengan perkara hati. Hati-hati, Nak. Tapi jangan takut! Percayalah pada hati nuranimu." Ibunda duduk disampingku, memelukku sangat erat, "Keyakinan dan cinta tak ada apa-apanya jika tidak berusaha untuk saling menguatkan. Kalian berdua sama berjuang, percaya akan ada buah manis yang kalian ciptakan sendiri dengan cara cinta itu bekerja."


Aku masih diam tidak tahu harus berkata apa. "Ibunda tetap bangga padamu dan Kaysan. Kembalilah, kamu butuh istirahat sebelum esok hari. Semesta akan mengajakmu berjuang keras." Ibunda mencium pipiku.


Aku melangkah gontai melewati ruang pusaka dimana Kaysan masih sibuk merapal Do'a dan mantra. Di depan ruang itu aroma dupa menyeruak memberi ketenangan sendiri untuk Kaysan.


Ruang pusaka slalu mengingatkan ku pada selendang hijau. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk menggunakannya. Kepalaku menggeleng cepat, aku tidak boleh curang.


Akhirnya aku memilih untuk menuju kamar. Menyiapkan baju gantiku, karena malam ini menjadi malam terakhir aku tidur dengan Kaysan.


Malam semakin larut, aku tak jua bisa memejamkan mata. Aku gelisah, aku khawatir, bahkan Kaysan tak kunjung datang menemaniku. Berkali-kali aku hanya berguling diatas ranjang. Keresahan mengajakku untuk beranjak dari ranjang.


Dari sudut ini aku bisa melihat semua tempat-tempat dimana aku sering menghabiskan waktu bersama keluarga besar Kaysan. Tempat dimana aku diterima tanpa melihat masa laluku. Hanya saja cinta tak cukup meyakinkan semuanya.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur?"


Aku menoleh, Kaysan tersenyum.


"Tidak bisa tidur, mas."


"Menungguku?" tanya Kaysan.


Aku mengangguk.


"Maaf lama dan membuatmu menunggu."


"Tidak apa-apa." Aku kembali menatap sekeliling.


"Sebaiknya kita ke kamar, satu jam lagi. Aku kembali menjadi Kaysan yang kamu rindukan." Aku hanya tersenyum, lalu pergi mengikuti langkah Kaysan masuk ke dalam kamar.


Aku memeluk punggungnya dari belakang, "Sudah bisakah? Jika sudah, maka izinkanlah Rinjani memenuhi hasrat yang sempat meredup akhir-akhir ini."


Kaysan berbalik, menatapku sesaat.


Ia mengangguk, mataku terpejam.


Ku rasakan bibirnya yang hangat mulai berlabuh di bibir ranum ku.


Kadang aku merasa muak dengan keadaan yang kualami, namun slalu saja ada yang menemani perjalananku.


Canda, tawa, dan airmata membuat aku dan Kaysan bertahan hingga saat ini.


Hingga nantinya kami akan memiliki malaikat kecil yang membuat riak-riak kecil dalam hidup kami semakin berwarna.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2