Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab. 132 [ Asmaradana ]


__ADS_3

Hari inipun tiba, hari dimana sejarah baru akan terukir kembali.


Dengan sikap takut-takut aku mulai menjejakkan kaki di antara kerumunan orang-orang yang memadati bangsal kencana.


Sudah ku pasrahkan diri kepada sang pemilik semesta. Entah menjadi Ningrat ataupun pulang membawa kekalahan. Aku sudah siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi.


"In death we trust, In brutality we blast." [ dalam kematian kami percaya, dalam kebrutalan kami ledakan - slogan Indonesia death metal ]


Kerumunan massa yang mengenakannya kaos hitam dan celana doreng itu tersenyum kearah ku. Tangannya terangkat menunjukkan simbol metal🤘


"We proud you, Rinjani. Be the next queen." [ Kami bangga padamu, Rinjani. Jadilah ratu selanjutnya. ]


Ku beranikan diri untuk menatap satu persatu orang-orang itu. Nanang yang seharusnya berada di antara anak-anak Ayahanda, justru berada di barisan terdepan menjadi pemandu sorak, begitu juga Nina. Wajahnya kusut, ditambah keberadaan Aswin dan kekasihnya membuatnya ingin meluapkan emosi di antara duel Rinjani dan Nurmala Sari. Andai ini adalah arena konser metal. Sudah aku pastikan, teriakan-teriakan untuk meminta air pasti akan terdengar. Tapi sayang, ada tata krama yang harus ditaati oleh para pengunjung bangsal kencana untuk tidak berteriak ataupun membuat kegaduhan.


Berdekatan dengan mereka, ada segerombolan ibu-ibu yang memakai gamis dan khimar dengan motif seragam. Ketua Genk itu tak lain adalah Bu Rosmini. Matanya berkaca-kaca, bibirnya komat-kamit membaca Do'a. Namun, yang membuatku tersenyum manis adalah barang bawaan mereka. Sekantong tomat, timun, kentang dan mengkudu. Tapi untuk apa? Bukankah ini bukan sayembara memasak atau audisi mencari bakat MasterChef Indonesia. Terlebih peralatan dapur juga mereka bawa. Ya Tuhan, andai aku tak mematikan rasa dalam jiwaku, aku sudah tertawa sambil meledek mereka semua.


"Miss Jani...!"


"Miss Jani...!"


Anak-anak itu manis sekali, seperti warna kulit mereka. Memakai baju alakadarnya dan didampingi oleh orang tua mereka. Tian, dkk. Membawa satu tandan pisang, ubi kayu, kacang tanah dan hasil panen kebun di musim rendeng. Sungguh kolaborasi yang cocok dengan Genk Bu Rosmini. Andai aku kalah, aku akan membuat dapur umum dan memasak barang bawaan mereka. Apalagi di dukung dengan berkilo-kilo karung beras yang dibawa Broto dimejo. Bandot tua yang membawa preman-premannya ke bangsal kencana.


Kubu Rinjani tak ubahnya seperti kelompok begajulan yang membawa upeti untuk Raja.


Aku tersenyum. Mengenal mereka dalam rentang takdir dan kisah, membuat mereka membentuk sebuah keluarga untukk.


Berbeda dengan kubu Nurmala Sari. Kubu mereka antheng-antheng saja [ diam-diam ]. Tak ada yang bersuara atau membawa hasil panen yang berlimpah ruah. Namun, perangainya berwibawa dan penuh ambisi.


*


Memasuki bangsal kencana, bunga melati dan mawar merah sudah tersebar di seluruh lantai.


Di kursi singgasana. Raja dan Ratu, sudah duduk berdua, mereka tampak serasi dan istimewa.


Di sisi lain bangsal ini juga ada petinggi istana dan tim penilai yang duduk bersila. Begitu juga prajurit yang menjaga keberlangsungan acara.

__ADS_1


Tiba di hadapan Ayahanda. Aku melakukan laku dhodhok untuk menyerahkan sebuket bunga sedap malam, lili putih dan mawar putih.


"Niat ingsun melu sayembara." Aku mengatupkan kedua tanganku sebagai perilaku sembah hormat. Ayahanda tersenyum, "Sudah ku duga." Aku mengangguk, lantas memundurkan langkah. [ Niat saya ikut perlombaan ]


Duduk bersimpuh di hadapan Ayahanda. Seseorang yang menjadi rivalku datang. Mengenakan pakaian yang sama sepertiku. Rambutnya bersanggul polos dan terselip keris di belitan selendang hijau yang terikat di pinggangnya.


Ia melakukan hal yang sama dihadapan Ayahanda.


Ayahanda berdiri. Riuh rendah penonton yang hadir dalam sayembara menari ikut terdiam mendengar titah Raja.


Aku dan Nurmala Sari mengangguk. "Sendiko dhawuh, Sultan Agung Adiguna Pangarep."


Setelahnya abdi dalem menggebuk gamelan dan para sinden mulai menembangkan tembang-tembang Jawa kuno.


Aku dan Nurmala Sari beranjak berdiri. Kami melakukan salam hormat sebelum melakukan tarian sakral yang menghabiskan waktu lebih dari satu jam.


Sebelum hari ini tiba, aku sudah melakukan ritual khusus yang membuat Sukma dan jiwaku sudah siap. Tak ada ketakutan, tak ada kegetiran yang berkubang dari hatiku. Semua sudah aku ikhlaskan.


Untuk kali ini aku hanya mengharapkan dewa asmara turun dari langit dan mengatakan bahwa aku dan Kaysan sudah saling mencintai dalam ikatan janji suci diatas kertas.


Dendang gamelan terus mengalun merdu laksana nyanyian rindu. Entah sudah berapa menit waktu berlalu. Tapi rasanya semua baru saja dimulai. Tubuhku semakin nyawiji dengan irama gamelan. Senyumku dan Nurmala Sari saling berbalas, seakan tidak ada yang kami perebutan di sayembara ini. Sedangkan laki-laki yang menjadi hadiah, tak tampak batang hidungnya. Kemanakah Kaysan, apakah ia sudah kabur dari kota ini. Dan, memilih untuk bersembunyi.


Peluh mulai membasahi tubuh kami. Membuat ruang bangsal kencana ini semakin panas dan liar.


Harus aku akui, gerakan Nurmala Sari lebih luwes. Ia benar-benar melakukan pakem-pakem dalam menari.


*


Sorak-sorai dan tepuk tangan meriah terdengar memenuhi bangsal kencana. Tim penilai sibuk mencatat nilai-nilai yang aku dapatkan setelah menyelesaikan tarian penyambung kuatnya ego asmara. Mereka harap-harap cemas menunggu pengumuman siapakah yang akan menjadi pemenang. Pertarungan gengsi dan cinta tak pernah merebutkan satu kemenangan yang total, masih ada pertarungan-pertarungan lain yang harus di kalahkan. Seperti pertarungan antar ego dan nafsu yang semakin membuat manusia serakah dengan keadaan.


Aku dan Nurmala Sari duduk bersimpuh dihadapan Ayahanda dan mereka yang memegang keputusan besar. Jikapun aku menang, aku masih harus melalui perjalanan berat menuju singgasana kerajaan.


Kompromi dan diskusi besar benar-benar terjadi alot diatas sana. Bau-bau kekalahan mulai tercium aromanya. Aku mulai dirundung gugup. Sedangkan Nurmala Sari masih diam dengan sikap anggunnya.


Semua menoleh dan menatap tak percaya dengan kehadirannya. Suara laki-laki yang aku rindukan datang.

__ADS_1


Kaysan membawa Abdi dalem yang mengerti tentang kisah kami berdua. Mbok Darmi, Mbah Atmoe, dan Eyang Dhanangjaya. Mereka berdiri di belakang Kaysan.


"Aku akan mengatakan kebenaran sesungguhnya. Bahwa aku telah menikahi dan bercinta dengan gadis yang bernama Rinjani Alianda Putri." Kaysan menyerahkan surat-surat penting dihadapan petinggi istana dan awak media dengan gencar merekam dan memotret kejadian yang luar biasa menengangkan. Ayahanda berdiri, "Kau telah lancang anakku!"


Dadaku berdegub kencang. Apa yang kamu lakukan, mas. Batinku.


"Ada atau tidaknya sayembara yang Ayahanda lakukan. Aku dan Rinjani tetaplah suami istri yang tak bisa dipisahkan!" Kaysan menunjukkan foto-foto yang di potret Sadewa diam-diam saat kami berada di Australia.


Nurmala Sari tersenyum, "Aku sudah menduga. Keberadaanku disini bukanlah untuk menghalangi jalan kisah cinta kalian berdua. Keberadaan ku disini hanya untuk memenuhi permintaan Ayahanda. Bagiku kisah cinta kita sudah usai mas Kaysan. Akupun tidak mengharapkan apa-apa dengan kejadian ini, selain hanya menjadi tim penguji ketangguhan cinta kalian berdua." Nurmala Sari beranjak, ia membawa kudu pendukungnya untuk berlalu keluar dari kerumunan orang-orang yang tercekat tak percaya dengan kebenaran yang terjadi.


Ayahanda memberi titah kepada prajurit untuk membubarkan masa. Keadaan benar-benar genting, amarah sudah terpancar dari wajahnya.


"Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua, Sul. Biarkan anakmu bahagia. Dia sudah berkorban banyak untuk mempersunting Rinjani menjadi istri." Dhanangjaya angkat bicara, "Aku saksinya." lanjutnya lagi sambil menyerahkan berkas-berkas saat mencari informasi tentang ibu Lastri.


Kaysan mendekatiku, ia menarik tanganku untuk berdiri. Ku pikir Kaysan tak peduli dan memilih berlari. "Aku tetap menjadi milikmu." Bisiknya.


Aku menarik nafas. Dia benar-benar menjadi laki-laki seutuhnya, untukku, untuk anak-anak kami kelak.


Suasana sudah begitu lengang, hanya ada kami yang masih memiliki urusan.


Seorang petinggi istana menyerahkan


gulungan kertas. Ayahanda masih tampak geram, dengan berdiri dan menunjukkan sikap angkuhnya.


Ayahanda mengeluarkan titah telak atas keputusannya.


"Pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep. Dengan ini aku putuskan atas tindakan lancang yang kau lakukan. Tanggalkan gelar dan tinggalkan istana. Pergilah dengan cinta yang membutakan hatimu."


Kaysan mengangguk, ia menarik tanganku meninggalkan bangsal kencana. "Mas, kita mau kemana? Mas, jangan lakukan ini!" Aku menarik paksa tanganku dan berlari kecil menghadap Ayahanda. "Batalkan surat keputusan Ayahanda, Rinjani rela pergi dari sini dan bercerai dengan mas Kaysan. Asal mas Kaysan tidak dibuang dari istana."


Kaysan menarik nafas, disaksikan langsung oleh abdi dalem dan petinggi istana. Kaysan membopongku dan mengecup bibirku.


Next---->


Happy Reading 💚

__ADS_1


__ADS_2