Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Pergi untuk kembali ]


__ADS_3

Kami bertiga mengurung diri di dalam kamar. Dan, melakukan hal-hal yang menurut sebagian orang membosankan. Sampai-sampai Ibunda dan abdi dalem kebingungan membujuk kami untuk keluar kamar. Santosa bukan lagi, ia hampir mendobrak pintu kamar jika Kaysan malam itu tak membukanya. Sungguh, memilukan sekali, dua hati yang meninggalkan semua rasa yang berarti.


Aku mencoba untuk melepas pelukannya, berat.


Aku mencoba tegar, tapi tetap saja derai air mata membasahi pipi saat tiba waktunya Kaysan kembali untuk memenuhi tanggung jawabnya.


"Pergilah, dan jangan lupa untuk kembali." kataku terbata-bata diiringi senggukan tangis.


Kaysan menyeka air mataku, "Senyumlah, biar aku tenang meninggalkanmu."


"Aku titip kembali rasa percayaku, dan pulanglah dengan membawa rasa percaya yang masih utuh." Aku memeluk tubuhnya.


Kaysan menempelkan keningnya di keningku, "Biarlah seperti ini, agar mengingatkanmu pada saat pertama aku menyentuhmu. Dan, hanya kamu wanita yang aku miliki." Mata kami sama-sama terpejam. Kaysan mendekap erat tubuhku, lama sekali. Ku usap punggungnya dan memberinya pengertian jika aku baik-baik saja.


Kaysan melepas pelukannya dengan helaan nafas panjang.


Aku mencoba tersenyum manis, dan menangkup rahangnya.


"Kaysan, aku mencintaimu." Itu saja yang aku katakan, karena aku tak tahu lagi mengungkapkan perasaanku saat ini.


Bukan balasan cinta yang aku dapat dari suamiku. Namun, kecupan lembut hingga berakhir kecupan yang bergairah.


BRAKKKK!!! Kaysan memukul pintu kamar saat berkali-kali ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar.


Kecupan berakhir, "Benar-benar mengganggu!" katanya dengan nada kesal. Kaysan mengusap bibirku dan mengecup keningku.


"I love you too, Endut."


Aku berjinjit sambil mengecup bibir Kaysan sebentar, "Bonus."


Apa yang terjadi tiga bulan kedepan, aku akan menyerahkan pada takdir. Aku tak ingin mengira-ngira atau menduga hal-hal buruk yang justru menjadi do'aku dan berbuntut bumerang bagi kehidupan rumah tanggaku.


"Maaf, baba belum bisa menjagamu." Bisik Kaysan lembut di telinga Dalilah.


"Jangan nakal saat baba tidak ada, jika tidak. Bubu akan menjadi singa yang menggigit pipimu." Kaysan tersenyum usil dan menghadiahi ciuman selamat tinggal di pipi Dalilah. Siapa sangka, Dalilah tersenyum kecil seakan mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

__ADS_1


"Lihatlah, putriku pintar sekali, dia tidak cengeng sepertimu." Kaysan menaruh Dalilah ke atas ranjang.


Kaysan tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya. Buru-buru aku memeluknya.


"Sampaikan salam ku untuk keluarga di sana." Aku menyerap aroma tubuh Kaysan dalam-dalam, ingin sekali aku meminta di beri bonus waktu bersamanya. Tapi sayang, perjalanan menuju bandara membutuhkan waktu lama dan Kaysan sudah harus pergi sekarang.


"Aku titipkan kalian berdua pada Ayahanda. Mintalah bantuan dari Ibunda atau si kembar jika kamu kesusahan merawat Dalilah. Ingatlah, jangan mudah percaya dengan orang lain."


Aku mengangguk. "Jaga kesehatan. Satu lagi, ingat Anne adalah anak 'abal-abal' kita. Tidak ada anak yang mencintai Bapaknya, atau sebaliknya!" Aku menekan kata abal-abal dan lantas dibalas cubitan di hidungku.


"Iya bubu ku tersayang, bubu ku tercinta."


Kami kembali berpelukan, seakan tidak rela kemesraan ini cepat berlalu.


Sebelum Kaysan pamit ia memberi wejangan yang cukup konyol untuk Santosa. Santosa hanya boleh menjagaku dalam radius tiga meter, tidak boleh ada adegan bercanda atau tertawa bersama, karena Kaysan takut, berawal dari canda berubah menjadi candu, dan satu lagi, tidak boleh bertukar pandang secara langsung. Santosa menyetujuinya. Entah kenapa keduanya sama-sama konyol.


Kaysan pamit. Meninggalkan ku yang hanya bergeming menyaksikan raganya yang mulai lenyap dari pandangan mataku. Kembali lagi aku harus menabung rindu dan berharap waktu cepat berlalu.


*


Sepeninggal Kaysan, justru keluarga besar datang silih berganti. Dalilah bak bayi estafet yang menunggu giliran dipangku dan ditimang-timang oleh eyang utinya dan eyang buyutnya. Ayahanda menyerah, terus mengingat Dalilah akan membuat perkerjannya terbengkalai. Hanya sesekali Ayahanda menengok cucunya sebelum berangkat kerja. Meski begitu, Ayahanda sama sekali tak mengurangi pengawasan terhadap Dalilah. Ada abdi dalem yang menjadi pengasuh sekaligus penjaga untuk membantuku merawat Dalilah.


Tepatnya malam Minggu, bunda Desy Hapsari yang menemaniku dan Dalilah. Bunda Desy adalah ibu dari Dimas dan Arga. Dimas cukup dekat denganku meski kami jarang bertemu, berbeda dengan Arga yang belum pernah mengobrol denganku. Sifatnya sulit di tebak, dan agaknya cukuplah si kembar yang menjadi sahabatku. Karena akan memusingkan kepala jika semua anak Ayahanda harus dekat denganku, apalagi dengan sifat yang berbeda-beda dan cenderung misterius.


"Butuh waktu yang lama untuk dapat mengenalimu lebih dekat." Bunda Desy tersenyum.


Layaknya baru akrab meski sudah sering berjumpa. Ada kecanggungan diantara kami berdua.


"Yaah... tadinya Jani pikir tidak ada yang mau dekat-dekat dengan ku karena bukan berasal dari kalangan yang sama." jawabku jujur.


"Beberapa orang menyukai kehadiranmu, beberapa lainnya tidak."


"Termasuk bunda Desy?"


"Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


Aku mengangkat bahu.


"Ayahanda pasti menikahi wanita yang baik, sepertinya itu sudah cukup menjadi jawabannya."


Bunda Desy tertawa kecil.


"Pintar sekali jawabanmu. Jebakan akan slalu ada, dan berhati-hatilah dengan setiap langkah yang kamu pilih nanti."


"Maksud bunda?"


"Persaingan akan slalu ada, Rinjani. Termasuk persaingan merebutkan kedudukan, merebutkan perhatian, dan satu lagi yang paling berbahaya untukmu. Terkadang kita tak menyadari bahwa ada ksatria punya misi yang membuat kita melayang-layang dengan kata-katanya. Tapi ternyata berujung cabul dan rela untuk ia bodohi."


Dahiku berkerut. "Maksud Bunda?"


"Kamu dan Kaysan memiliki banyak keunggulan. Kaysan berkharisma, sedangkan kamu cantik. Kelak jika sudah memimpin istana, akan lebih banyak godaan yang menggangu rumah tangga kalian. Sekarang yang paling penting adalah menguatkan pondasinya."


Aku tersenyum kecut. Sekuat apapun pondasi yang kami cor dengan kepercayaan dan cinta kasih, tak akan cukup untuk bertahan jika takdir Tuhan sudah berkehendak.


"Sudah-sudah jangan dipikirkan, nanti kamu akan tahu sendiri maksud dari perkataan bunda."


"Bunda merestuiku?"


"Apa boleh buat, menjadi istri ketiga berada di tengah-tengah, yang berarti bunda menjadi penyeimbang."


"Dan, bunda mau menjalaninya?"


"Bunda harus kembali menghadap Ayahanda. Istirahatlah, berhubung Dalilah masih tidur." Bunda Desy beranjak, memastikan Dalilah terlelap dan kemudian mengelus rambutku.


"Bunda hanya sebentar, ada tanggung jawab dan diskusi yang harus bunda selesaikan dengan Ayahanda. Maklum bunda orang sibuk." Bunda Desy menaik-turunkan alisnya.


Aku cekikikan.


"Sibuk apa? Memanjakan Ayahanda?"


"Harus dong. Suami adalah ladang pahala dan ladang isi dompet." Bunda Desy mengacungkan jempolnya, "Bercanda."

__ADS_1


Bercanda atau tidak kenyataan memang seperti itu, sama seperti pikiranku.


Happy reading ๐Ÿ’š


__ADS_2