
Malam harinya diruang keluarga, kami bertiga berkumpul selepas makan malam. Aku masih membisu setelah siang tadi Indy banyak memberiku sebuah 'kejelasan'.
"Kenapa pada diem-diem'an sih? Marahan atau kurang makan?" Indy menatapku dan Kaysan secara bergantian, "Apa kalian sudah mau enak-enakan di dalam kamar?"
Pipiku memerah, sedangkan Kaysan menunjukkan wajah datarnya.
"Ingat ya, sebuah hubungan akan berjalan lebih baik jika dibicarakan. Memang kalau diem-diem'an akan kelar masalahnya. Masuk angin iya, sulit makan iya, kangen juga iya."
"Ndy, sepertinya kamu kebanyakan gula." kataku sambil mengambil beng-beng diatas meja. Membukanya lagi dan lagi.
"Mbak, laper apa baper sih. Nasi di dapur masih banyak loh kalau mau makan, jangan sungkan, habiskan saja biar bertenaga dan gak pingsan." Indy tertawa sambil menajamkan matanya kearah Kaysan. Kaysan mencubit hidung Indy, sambil tersenyum, "Ndy, besok mas pulang ke kota. Kamu mau pulang kapan?"
"Aku sebenarnya malas pulang ke rumah, tapi karena sekarang ada teman. Aku mau pulang kerumah Ayahanda."
"Pulanglah, Ibunda pasti senang."
"Aku yang gak senang, nanti ini itu gak boleh. Indy, 'kan sudah mengambil keputusan untuk keluar dari KK."
"Ndy!" Nada Kaysan meninggi, aku terkejut.
"Maaf mas." Indy menunduk, takut dengan gertakan Kaysan.
Aku yang sedang mengunyah beng-beng pun bersusah payah untuk menelannya.
"Pulanglah ke rumah, temani Rinjani."
Indy mengangguk, tangannya menyaut ponsel diatas meja. "Mas, Mbak, Indy ke kamar dulu."
Kaysan hanya berdehem tanpa melihat Indy pergi, sedangkan aku hanya mengiyakan saja sambil melihat Indy berjalan dengan tergesa.
"Jadi besok kita pulang ya mas?"
"Kemasi barang-barangmu, besok pagi-pagi betul kita berangkat ke kota."
"Jadi bulan madunya berakhir sampai disini saja mas? Hanya dirumah saja?"
"Memang mau kemana lagi? Mas sudah harus kembali bekerja."
Aku menghela nafas panjang, "Mas marah soal pesan-pesan tadi? Dulu nomernya memang aku block, tapi sebelum acara tahunan kemarin aku buka lagi untuk bahas rapat bersama."
"Aku tahu." Kaysan masih menunjukkan wajah murungnya, "Kenapa? Jani salah apa lagi, katakan jangan hanya diam?" Ku gelayuti lengannya, sambil memegang dadanya.
"Setelah pulang dari sini, kamu akan kuliah."
"Kuliah?" Dahiku mengerenyit, ku tatap kelopak matanya dalam-dalam.
"Kenapa harus kuliah mas, terus nanti kita gimana. Jani sama mas jadi jarang bertemu." Wajahku sudah ikut murung dibuatnya.
"Mas kerja, kamu kuliah."
"Massss..." Aku menggeretakan kakiku diatas lantai, "Mas kenapa sih suka buat keputusan sepihak. Kenapa mendadak dan habis bulan madu. Janikan masih mau sama mas, kalau gini Jani kayak jeruk, habis manis sepah dibuang."
Kaysan berdiri lalu memegang pinggangku, "Selamanya kamu akan tetap manis, tidak pernah berkurang sedikitpun. Mas hanya mau kamu memiliki pendidikan tinggi, memiliki lebih banyak wawasan. Kelak kamu yang akan membantu mas dalam segala hal, percayalah Rinjani. Kita sedang sama-sama berjuang."
__ADS_1
Kaysan mengelus rambutku, membawaku dalam pelukannya. "Jani mau kuliah, asal mas janji dulu."
"Apa?" katanya sambil menyelipkan anak rambutku.
"Jangan buat Jani pingsan lagi. Karena aku juga ingin melihat mas tersenyum puas." Aku mengeratkan pelukanku, "Mas..."
Kaysan mulai tersenyum. Sebelum akhirnya ia membopongku, masuk kedalam kamar dan menguncinya.
Entah kenapa aku suka sekali saat keningnya bertemu dengan keningku, hidung mancungnya yang menyentuh hidungku hingga membuat kedua nafas kami saling beradu.
"Mas, apa kita masih mendalami karakter?"
"Masih, selamanya."
"Mas, tetap akan diam-diam menyadap ponselku?"
"Aku hanya ingin mengawasimu dengan caraku."
"Lalu bagaimana caraku untuk mengawasi mas?"
"Tumbuhkan rasa percaya lebih dalam dihatimu."
"Mas..., andai Jani berbuat salah. Apa mas masih mau memaafkan Rinjani dan berdiri dibelakang Rinjani?"
"Pasti, asalkan kesalahanmu bukan kesalahan fatal."
"Contohnya?"
Kaysan mencium keningku, "Jangan ceritakan apa yang dirahasiakan sampai waktunya tiba."
"Dua tahun hidup bersama dalam sebuah ikatan dan harus berpura-pura itu adalah hal gila, Jani. Tapi percayalah waktu yang akan menguatkan kita."
"Tapi..."
"Ssst... Malam ini malam terakhir kita, buatlah kenangan terindah disini sebelum kita akan sibuk dengan kegiatan sepulang dari sini."
Aku mengangguk, "Mas ingat Jani slalu bilang mas seperti mangga tua?"
Kaysan mengangguk sambil menyelipkan anak rambutku, diatasku nafas kami beradu. Hidungnya masih menyentuh hidungku.
"Indy tadi bilang, aku menikahi om-om."
"Benarkah?" Wajahnya ditekuk tak terima disebut om-om.
Aku mengangguk, menggengam lengannya yang semakin kekar saat menahan tubuhnya.
"Kamu tahu Jani, senyumanmu, gelak tawamu, dan semua canda yang kamu buat akan membuatku awet muda. Terlebih melihat pipimu yang merah seperti Cherry, aku tahu kamu sedang tersipu."
"Mas..."
Kaysan mengusap pipiku, matanya terpejam. Bibirnya yang hangat menyentuh bibirku, mengecupnya pelan.
Kami larut seperti air yang mengalir perlahan, bergelombang, seraya menikmati alunan tubuh tak bersuara, menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang tercipta.
__ADS_1
Kaysan melepas sentuhan bibir kami, "Aku ingin menghabiskan malam bersamamu, berakhir dengan pelukan hangat sebelum mata kita terpejam. Mengindahkan mimpi-mimpi kita bersama dimasa depan. Jani, bersamaku tak akan mudah seperti yang kamu bayangkan. Akan banyak luka, liku, dan batu yang bergeronjal. Jani, apapun yang terjadi tetaplah menjadi karang yang tenang. Jadilah karang yang memiliki banyak lubang, simpanlah yang rapi rahasia yang kita miliki."
"Mas, stop. Astaga, kita mau enak-enak atau mau mendiskusikan impian-impian?"
"Jadikan aku rivalmu, Rinjani."
"Rival diatas ranjang?" tanyaku sambil mendorong bahu Kaysan.
"Rival yang menstimulus untuk bergerak maju."
"Maju mundur?"
Kaysan mencubit hidungku, terkekeh sambil membalikkan badannya.
"Jadilah matahariku mas."
"Kenapa harus matahari? Bukannya setrika saja sudah membuatmu pingsan."
Kami sama-sama bersandar di bahu ranjang, saling menggenggam tangan.
"Karena pendar matahari tak pernah pudar menghantarkan hangatnya meski lewat temaram bulan dan bintang. Mas tahu, kenapa malam ini bulan terlihat pucat?"
"Kenapa?" Wajahnya tampak serius, telinganya siap-siap mendengar penjelasanku.
"Karena mataharinya kini sedang bersamaku, bersembunyi dibalik pintu."
Aku terkekeh geli saat Kaysan sontak mengelitik perutku.
"Kamu sedang merayuku, My Cherry?"
"Bukankah malam ini mau kita habiskan waktu bersama, My Sunshine."
Aku menangkup rahang Kaysan dengan kedua tanganku.
Mata Kaysan terpejam, membiarkan aku menyentuh alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung. Ku usap matanya, mata yang slalu membuatku merasa ditelanjangi diam-diam. Menyentuh pipinya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Memainkan kumis tipisnya, hingga membuka sedikit demi sedikit bibirnya.
Kaysan memegang pergelangan tanganku, membuka kelopak matanya, "Jadilah rival yang sengit malam ini, diatas ranjang."
*
Keesokan paginya, setelah lepas sholat subuh berama. Aku dan Kaysan berada di dapur, Kaysan duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Aku sibuk dengan kompor yang menyala, merebus air untuk menyedu teh tawar pesanan tuan Raja.
Dari lorong dapur terlihat Indy keluar kamar. Rambutnya acak-acakan seperti surai-surai singa yang tak pernah ia sisiri, ia berjalan terduyun-duyun kearah kami.
"Ngapain aja sih kalian semalam, aku gak bisa tidur tahu!" Ocehnya sambil mendaratkan tubuhnya diatas kursi dengan malas, tak berselera, matanya sesekali masih ia pejamkan.
"Sholat dulu, Ndy." Kaysan menepuk bahu adiknya seakan tepukan itu mengisyaratkan untuk bertabah diri dengan kejadian semalam.
"Kalian tidur jam berapa coba, ingat? Di jam itu juga aku baru bisa tidur nyenyak." jawabnya sambil menguap.
Aku dan Kaysan saling melempar pandang dan tersenyum lebar. Semalam aku pemenangnya, aku benar-benar bisa melihat tubuh Kaysan yang bergetar hebat saat mengalami pelepasan. Mulutnya ternganga sambil mengerang, tangannya tak berhenti bermain dengan mainan barunya, ia menyebutkan Double Cherry.
Dia juga memanduku cara untuk memuaskannya, banyak hal gila yang kami lakukan semalam. Bahkan otakku mulai di isi dengan racun Kama Sutra. Jika aku tanya Kaysan tahu darimana, ia akan menjawab. 'Semakin dewasa, kamu akan semakin penasaran dengan hal-hal yang berbau saru.'
__ADS_1
*
Semoga sehat slalu reader... Terimakasih udah like n vote dan membaca cerita ini, Aku terharu, kalian baik sekali. Rahayu kersaning Gusti ๐